LOGIN_"Apa yang kita lakukan, belum tentu orang lain menyukainnya."_
~~~Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi. Gafi sudah duduk di atas motornya. Motor pespa berwarna kream yang jarang ia gunakan. Akhirnya, hari ini ia gunakan.
Pandangan tajamnya tidak lepas dari siswa-siswi yang berlalu lalang. Laki-laki berbulu mata lentik itu terlihat sedang menunggu seseorang.
"Dia aman, ga ada yang b
"Bagian tersulit dalam hidup adalah berusaha terlihat baik-baik saja. Walaupun dunia terasa begitu menyakitkan." — Senja.~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Gafi berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh siswa-siswi yang baru datang. Tangannya sudah terbebas dari gips yang membelenggunya beberapa waktu lalu. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dan tidak pucat seperti sebelumnya. Rambutnya dipotong rapi, menonjolkan fitur wajahnya yang tegas. Tatapannya terlihat semakin dingin. Ia tahu, setelah kejadian itu, segalanya akan berubah. Terutama bagi gadis berhoodie hitam yang kini berjalan di depannya. Gadis itu melangkah dengan kepala menunduk. Laki-laki berkemeja putih rapi itu tahu betul bahwa gadis di depannya, yang berjarak sekitar sepuluh meter darinya, sangat membencinya. Namun, bagaimana pun keadaannya, Gafi akan tetap mengawasi gadis itu dari jarak jauh dan akan bergerak saat situasi mendesak. Langkah kaki Gafi melambat saat matanya menangkap sosok
"Fakta itu menyakitkan. Mau itu jujur atau kebohongan, ujungnya tetap sama."_Rahasia Senja. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Suasana rumah sakit begitu ramai. Ada yang sibuk berjalan sambil menenteng kresek putih berisi makanan, dari roti, minuman, dan lain-lain. Ada yang di dorong dengan kursi roda sambil membawa infusan di tangan kanan. Ada yang memakai oksigen besar yang digeret. Revan, Banu, Arya, dan Tama berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang luas itu. Bertanya kearah resepsionis. Ada gerombolan perawat yang mendorong pasien dengan keadaan yang mengenaskan. Berdarah-darah, dan teriakan kesakitan. Tama yang paling takut darah, hanya menunduk, langkah kakinya berjalan cepat. "Cepetan, kearah mana ini?" tanya Tama. "Masih lurus, nanti ada ruang radiologi nah belok kiri," jelas Revan. mereka berempat berjalan terburu-buru. Semakin dalam memasuki rumah sakit, semakin membuat mereka merasa takut, cemas, dan ya merasa kasihan. Apa lagi, tadi sempat meliha
'Orang yang kita anggap akan selalu berpihak pada kita, ternyata malah sebaliknya. Melukai secara diam-diam.' __________________________________ Udara malam semakin dingin. Senja masih saja terisak dalam tangisnya. Menyaksikan Gafi dihajar habis-habisan, membuat tubuhnya gemetar. Rasa takutnya begitu kuat. Tetapi, lelaki berkemeja lilac itu tidak peduli. Matanya yang sipit itu, sama sekali tidak melirik Senja di sampingnya. Tatapan matanya kosong, seakan semua yang terjadi tadi itu membuat pikirannya tertinggal. Senja juga hanya menunduk, atau sesekali menatap jalanan yang mulai sepi. Mobil itu masuk ke kompleks perumahan Senja. Semakin pelan. Dan rem itu diijak dengan kasar oleh Aldi. Laki-laki itu menolehkan kepalanya, tangannya meremas kuat setir mobil sampai kuku-kukunya memutih. Senja menatap Aldi dengan wajah yang berantakan, lelehan air mata di pipinya, hidungnya yang memerah, dan matanya yang terlihat sendu. Aldi mengeraskan rahangnya. "Masih mikirin cowok gila itu?"
_"Kesepian paling menyakitkan adalah ketika kamu meninggalkan satu-satunya orang yang peduli, demi rasa aman yang semu."_ ~~~ "Kenapa?" Tanya Gadis berlesung pipi itu, dengan sorot mata yang sendu. Air matanya tidak keluar, ia benar-benar menahan itu semua agar tidak menetes sedikitpun. Laki-laki itu, menatap Senja dengan mata yang semakin menyipit, senyumnya muncul, "kamu tanya kenapa?" tanyanya dengan nada, seolah mencari pengakuan yang jujur. "Iya! Kenapa tarik aku keluar?" "Aku, ga suka. kalo Gafi jadi sok pahlawan kayak tadi. Muak liatnya, kamu juga kenapa punya masalah sama Viola?" Ujar Aldi sambil menatap Senja tajam. Senja tersenyum getir, entah kenapa Aldi malah memarahinya. Padahal laki-laki ini berada di sana, dan mengetahui apa yang terjadi. "Aku ga habis pikir sama kamu. Aku ga cari masalah, kok. Dia aja, yang selalu cari masalah sama aku." Jelas Senja yang mendongakkan kepalanya menatap kekasihnya itu. Aldi menaruh tangannya di saku celana kremnya, menata
_"Harusnya, kamu tidak ikut campur. Semua jadi runyam!"_ ~~~ Senja spontan menutup matanya, mengantisipasi siraman yang akan datang. Aroma manis dan lengket dari minuman itu sidah tercium. Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Mata indahnya itu membuka, perlahan, dan mengintip sedikit demi sedikit. Senyum itu, membuat mata Senja benar-benar terbuka lebar. Ia terkejut, laki-laki bertubuh tinggi itu sedang menghalangi siraman air. Gafi, dengan kemeja hitamnya kini basah dan lengket terkena cairan merah, menempel pada tubuh atletisnya. Senyumnya menampilkan gigi gingsulnya. Wajahnya yang tirus kini sedikit basah, namun mata almondnya yang tajam memancarkan campuran ketegasan dan kepedulian yang mendalam, membuat aura Gafi semakin kuat. Senja terdiam, ia ingin marah pada Gafi karena ikut campur. Merasa kesal karena Gafi justru membuatnya semakin menjadi sorotan. Tetapi ia juga tidak bisa. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menatap nyalang gadis itu—Viola. Ekspresi Gafi berubah dingin, r
_"Jika kamu dipandang tidak baik oleh semua orang. Aku tidak akan memandangmu sama seperti mereka."_ ~~~ Gadis berlesung pipi itu sudah berdiri di depan cermin, mematut diri dengan anggun. Gaun lilac selutut dengan potongan A-line yang anggun. Terbuat dari bahan sifon tipis yang jatuh lembut, sangat cocok dengan postur tubuhnya yang ramping. Detail lengan pendek berpotongan puff ringan dan kerah sweetheart yang manis. Rambutnya yang hitam legam ia kepang tipis di ujung sebelah kanan, lalu dililitkan melingkar hingga ke sisi kiri dan dijepit dengan jepit rambut perak berhias mutiara kecil yang elegan, membiarkan beberapa helai anak rambut membingkai wajahnya dengan lembut. Aroma parfum bunga dari tubuhnya samar tercium membuat Senja terlihat semakin manis. Bunyi bel yang nyaring menggema di rumah megah, namun terasa sepi itu. Suaranya memecah keheningan malam, menandakan kedatangan seseorang. Senja langsung meraih tas tangan kecil berwarna senada dengan gaunnya, terbuat dari b
_"Perlakuan sederhana terkadang membuat bahagia."_~~~Cuaca begitu mendukung untuk beraktivitas di hari libur. Termasuk gadis berambut cepol dengan setelan traningnya. Senja baru saja selesai melakukan yoga. Helaan
_"Hidup itu tidak selalu berjalan dengan mulus. Pasti, selalu ada masalah dalam hidup. Masalah ringan, sedang, hingga masalah yang begitu rumit. Tapi, semua itu punya jalan keluarnya."_~~~"Ikut gua!"
_"Apa yang kita pikirkan benar, belum tentu benar. Bahkan, bisa saja yang kita anggap tindakan yang benar ternyata malah sebaliknya. Sebuah kesalahan."_~~~Hujan sore di ibukota Jakarta terlihat begitu d
_"Orang yang kita anggap akan ada dipihak kita ternyata sama saja dengan yang lain. Rasa kecewa itu benar-benar terasa, menyakitkan."_~~~"Enggak perlu lu anter. Gua kesini sama supir," ujar gadis berambut hitam







