แชร์

16. Curahan hati

ผู้เขียน: Novita Sadewa
last update วันที่เผยแพร่: 2023-03-21 08:11:20

"Abang? Abang udah pulang?" tanyanya mendekat ke arahku. Aku masih terperangah, bahkan pandangan ini tak mau beralih dari sosok di hadapan meski otakku terus memerintahkan untuk segera menunduk atau mengalihkan pandangan ke arah lain.

Gendis, dalam bahasa Jawa artinya adalah gula dan gula itu rasanya manis. Sama seperti Gendis yang saat ini berdiri di hadapanku, wajahnya manis, tapi aku akui dia juga cantik bahkan malam ini semakin terlihat cantik karena wajahnya terlihat berseri, bersih, dan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   71. Kembalinya masa lalu

    "Gendis, Lana kelihatannya anak baik. Jangan merepotkan dan jangan membuatnya marah ya, Nduk. Kemarin saja dia sempat melarang Bunda dan Mbak Hanin untuk menemui kamu karena tidak mau kita mengungkit masa lalu yang bisa saja membuat kamu terluka lagi. Kamu juga dengar sendiri tadi, dia berubah pikiran hanya karena kamu ngigau. Itu berarti dia cukup peduli." Vivian mengusap pipi Gendis. "Lihat kamu dengan penampilan seperti ini, Bunda semakin yakin," lanjutnya dengan tatapan kagum ke arah putri yang kini berjilbab rapi.Gendis tersipu, mendengar penuturan sang ibu. Ada rasa hangat yang menelusup masuk ke dalam relung jiwa yang sempat membeku beberapa waktu lalu akibat cinta yang dia rasa bertepuk sebelah tangan itu, namun kini harapan itu seolah kembali setelah sang ibu mengatakan kalimat demi kalimat yang menghadirkan rasa tenang."Gendis, kamu dengar Bunda, 'kan?"Gendis tersadar dari perasaan yang kembali dipenuhi oleh bunga -bunga asmara."Iya, Bun.""Jadilah partner yang baik se

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   70. Tidak dapat dihubungi

    "Mbak, Bunda, aku bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kalian pikirin." Gendis meraih tangan ibu dan kakaknya yang terlihat begitu terkejut sekaligus terpukul.Hanin menghela napas dan menghembuskannya secara perlahan untuk menambah kesabaran. "Apa yang bisa kamu jelasin ke Mbak dan Bunda, jelasin," ujar Hanin, nadanya tak bersemangat.Gendis menarik tangannya kembali. "Di perusahaan ada acara, mahasiswa magang disuruh ikut serta. Di sana ada minuman, aku kira cola karena botolnya memang botol cola," ujar Gendis sembari menundukkan kepala, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan, berusaha terus menambah keberanian."Terus?" tanya Hanin."Terus aku minum cola karena Mbak sendiri tahu kalau aku suka cola dan nggak sampai beberapa menit aku pusing, akhirnya aku putuskan pulang ke tempat Hana karena tempat itu memang paling dekat daripada harus pulang ke rumah. Aku udah nggak kuat. Tapi begitu sampai di sana, aku malah salah masuk ke kamar Bang Lana yang juga kurang enak badan w

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   69. Keras kepala

    "Ssttt." Dengan jari telunjuk yang menempel di bibir, Hanin meminta Gendis untuk diam. Sebab, Lana terlihat sudah kembali masuk ke dalam restoran."Gendis, Abang ada urusan penting sebentar, masih ada waktu satu jam lebih sebelum jam kuliah kamu dimulai. Nanti Abang jemput lagi kesini. Gimana?" tanya Lana begitu sampai di dekat Gendis. "Nanti kita bisa antar, kok," sahut Hanin mengajukan diri. "Nggak usah, biar saya jemput saja. Kalau begitu saya permisi. Ndis, Abang pergi dulu," ujar Lana sebelum akhirnya melangkah pergi setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Gendis.Kepergian Lana menyisakan banyak tanya di benak Gendis. Raut wajah yang belum pernah dia lihat sebelumnya membuatnya sedikit kepikiran."Dasar, sombongnya," gerutu Hanin setelah Lana benar-benar menghilang dari pandangan."Itu namanya perhatian dan sayang, Hanin," jawab Vivian tersenyum."Apa dia selalu seperti itu, Ndis? Sepertinya dia orang baik dan bertanggung jawab.""Ya, Bang Lana memang baik dan ber

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   68. Cerai

    43. Cerai?"Gendis ...." Dengan suara yang tak kalah bergetar sang Ibu berujar. Kedua tangannya terbuka seolah siap menerima kedatangan sang putri. Lana melepas genggaman tangannya dan membiarkan Gendis menghambur ke pelukan ibunya. Setelah semalaman berpikir, akhirnya ego itu kalah dengan pemandangan menyedihkan di hadapan. Melihat betapa Gendis merindukan sang ibu, membuatnya terenyuh dan mengubah keputusan. "Bunda," ucap Gendis tersedu dalam dekapan sang ibu. Di sebelahnya, Hanin, tak kalah terharu. Tangannya pun terulur meraih pundak kedua wanita yang ada di dekatnya. Ketiganya saling memeluk, melepas kerinduan yang teramat menggebu. Namun, harus berakhir ketika ponsel di saku Lana berdering. Ketiganya mengurai pelukan. Lalu mengusap air matanya sendiri-sendiri. Sementara, di tempat yang masih sama, Lana terlihat menatap layar yang berpendar. Wajahnya terlihat tegang, seolah sedang menadapat telepon yang tidak menyenangkan."Kenapa, Bang? Apa ada masalah?" tanya Gendis begitu me

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   67. Nanti kalau kaya, beli mobil

    "Gendis, mandi, sholat. Setelah itu siap-siap. Abang mau ajak kamu ke suatu tempat sebelum kuliah." Gendis langsung tersadar. Kemudian cepat-cepat dia mengalihkan pandangan untuk mengatur debaran di dalam dada yang menggila. "Mau kemana? Aku belum selesai ngerjain tugas." "Abang sudah kerjain dan kirim ke email, Abang." Mata Gendis terbelalak lebar. "Serius?" tanyanya tak percaya. "Sekali ini saja, Gendis, dan itu juga karena Abang mau ngajak kamu ke suatu tempat. Jadi, kedepannya Abang nggak akan ngerjain tugasmu." "Oh ya, tapi perlu kamu tahu. Abang nggak ngerjain sesempurna mungkin, sesuai standar kamu aja supaya adil. Jadi jangan berharap lebih," lanjut Lana. Rahang Gendis mengetat, wajahnya berubah pucat. Kata-kata Lana jelas sedang membahas kemampuan dan penilaian. "Sekarang bersiaplah, Abang siapin sarapan," sambung Lana beranjak dari tempat duduknya dan bergegas ke dapur. "Tampilan udah alim, mulutnya masih nyakitin. Hih, nyebelin!" gerutu Gendis dengan nada k

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   66. Ada apa denganku?

    Malam terus merambat naik. Tetapi Lana masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan lampu temaram yang menyinari. Namun suasana yang seharusnya bisa membawanya ke alam mimpi nyatanya tak mampu membuat matanya terpejam barang sebentar. Kegelisahan menguasainya, bahkan membuatnya tak henti bergerak, mengubah posisi secara bergantian. Perdebatannya dengan Gendis di dalam mobil tadi benar-benar mengganggu hati dan pikiran."Ada apa denganku ini? Lagian gimana bisa seorang istri terang-terangan ngasih kesempatan buat laki-laki lain di depan suami?" Mulutnya terus bergumam, bertanya pada diri dan menjawabnya sendiri.Dia mendesah dan akhirnya terhenyak turun dari ranjang. Lampu dia nyalakan, lantas bergegas keluar.Perlahan Lana membuka pintu, meskipun pelan namun deritnya mampu memecah sunyi. Jam sudah menunjukkan pukul duabelas malam. Setelah sampai di rumah, keduanya memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing dan menutup perdebatan dengan mengunc

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   4. Perubahan sikap Gendis

    4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   3. Perdebatan tangah malam

    3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   2. Sama-sam dijebak

    2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   1. Gadis yang kau anggap gila itu istriku

    1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status