ログインSepertinya kamu akan sering pulang telat,” keluh Asyila dalam dekapan hangat Tara.Pria itu tak menjawab, dia sibuk memeluk, tangannya bergerak-gerak lembut mengusap punggung sang istri.“Mama bilang, aku harus mengerti keadaan ini.” Asyila menjeda, kentara sekali jika menghela napas berat. “Anak itu … butuh ayah yang perhatian, kata mama.” Asyila menyebut mama mertuanya dua kali, pertanda sebuah penekanan atau pemaksaan yang harus ditangkap oleh perasaan Tata.Gerakan pada punggung Asyila berhenti.“Kamu nggak harus mengerti, kamu hanya cukup menjalani, ini semua akan segera berakhir.” Tara mengecup kening Asyila sekilas, berharap mampu mengusir gundah yang tidak mudah.“Aku takut, Tara.”“Takut apa, Sayang?”Asyila diam, ragu melanjutkan kalimatnya.“Takut kamu akan benar-benar berubah. Aku takut kamu jatuh cinta sama wanita itu, apalagi … anak itu … pasti akan selalu mengingatkanmu padanya.”Tara mem
Kehamilan Alana sebenarnya cukup unik, dia tidak mengalami morning sickness atau mual muntah di pagi hari seperti pada umumnya, justru Alana merasa mual dan ingin muntah di malam hari, selepas senja, dia mulai merasa pusing dan mual dengan berbagai aroma yang mampir ke indra penciumannya.Pagi ini Alana tampak jauh lebih segar. Semalam infus juga sudah dilepas oleh perawat perintah dari dokter Azlan setelah sebelumnya kembali disuntikkan obat anti mual. Dengan secangkir susu cokelat hangat, Alana menikmati sinar matahari lembut di taman belakang rumah.“Rasanya … aku seperti mabuk kendaraan,” keluhnya pada Ema.“Semalam yang terparah, Nona. Kami sampai bingung, untung Tuan Tara datang.”Sesapan Alana berhenti. “Tara?”Ema menggigit bibir bawah, seperti orang yang salah bicara.“Jadi semalam itu benar dia yang bawa aku ke kamar?”Ema mengangguk ragu.“Aku kira mimpi, tapi aromanya familiar. Apa dia suka
Dengan langkah dan helaan napas berat Tara mendekat ke pintu masuk rumah yang kini dihuni Alana.Sesuai hasil perdebatan siang tadi, sekali lagi pria itu kalah dengan sang mama. Menjelang senja, setelah mengulur waktu beberapa saat, Tama berakhir disini, masih lengkap dengan setelan jas dan tak lupa menenteng paper bag yang tadi dibawa Ratri. Tara mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ada respon.Ema membuka pintu dengan raut panik. “Tuan Tara!” Matanya membola, terkejut. “Syukurlah Anda datang. Tolong, Nona Alana pingsan.”Kini Tara yang malah diberi kejutan. Tanpa menjawab, Pria itu bergegas berlari ke arah sumber suara yang terdengar terus-menerus memanggil nama Alana.“Ada apa?” tanyanya refleks setelah sampai di pintu kamar mandi kamar Alana.Santi pun turut terkejut dengan kehadiran Tara yang tiba-tiba. “Ini Tuan, Nona Alana muntah-muntah dari tadi, sampai badannya lemas.”Tanpa pikir panjang Tara mengangkat tubuh ringan Alana. Tubuh dalam dekapannya itu terasa dingin d
“Tenangkan dirimu, Asyila.”Langkah penuh amarah itu seketika berhenti. Sorot tajam yang seolah mampu membelah dunia itu tiba-tiba redup.“Mama,” sapanya lembut. Perubahan yang cukup drastis. Ternyata Ratri sudah menunggunya di ruang tengah sejak tadi. “Aku memahami ketidaknyamananmu mendengar kabar kehamilan Alana. Tapi tahan dirimu, ini tidak selamanya. Aku juga tegaskan berulang kali, gadis itu hanya dibayar sampai dia melahirkan.”Tak segera menjawab, Asyila malah tersenyum tipis. Dia yakin jika salah satu pelayan dirumah tadi menghubungi Ratri untuk melaporkannya.“Kamu juga tahu Tara tidak menyukainya. Lantas, kenapa kamu menjadi begitu khawatir? Biarkan dia hamil dengan tenang.”Sebenarnya baik Ratri maupun Asyila jarang sekali berdebat. Bisa dibilang menantu dan mertua itu cukup akrab.“Apa mama yakin semua akan berjalan mulus seperti yang mama katakan barusan?”Kening Ratri berkerut. Asyila menjawab dengan pertanyaan balik yang cukup mengejutkannya.“Apa mama nggak memikirka
“Selamat, Nona.”Alana tersenyum saat Ema menyambutnya dengan raut girang di ambang pintu. Entah harus bahagia atau bagaimana, Alana bingung mengekspresikan. Hamil memang menjadi tujuan dari segala kerjasama ini, tapi jujur Alana tak merasakan apapun.“Makasih, Ema. Aku mau langsung mandi.” Ajaibnya, beberapa saat setelah mengetahui jika hamil, sel-sel dalam tubuh Alana bereaksi aneh. Dia merasakan lelah yang teramat sangat. Padahal, sama sekali tidak melakukan aktivitas berat. Apa karena habis terpeleset tadi yang membuat Alana harus sedikit menahan sakit? Entahlah, semua terasa ambigu.“Hmm, Nona. Tapi ….”Alana mengernyit. “Ada apa, Ema?” tanyanya khawatir.Meski ragu akan berakhir baik, Ema tetap harus menyampaikan. “Hmm … itu … Nyonya Asyila menunggu di taman belakang.” Suara Ema mengecil di akhir.Napas Alana tertahan beberapa detik, lantas hembusan yang cukup berat mampu membuat Ema sadar jika Nona-nya ini jelas merasa tidak nyaman. Angan untuk segera merebahkan diri sirna. A
Ratri melangkah tak sabar, sepatu pantofelnya sibuk memberi irama riuh. Sampai pada tangan dinginnya meraih gagang pintu dengan semangat.“Alana!” pekiknya tak tertahan.“Bu Ratri.” Serta merta Alana bangkit dari duduknya.Kilat kemarahan yang menumpuk seketika luluh saat menatap mata Alana yang bening.Entah mendapat dorongan dari mana Ratri memeluk Alana dengan posesif.“Syukurlah kamu baik-baik aja.”Meski ragu, Alana membalas pelukan Ratri demi untuk menenangkan diri.“Dia baik-baik aja, hanya lututnya ada sedikit luka.” Dokter Harjito menepuk bahu Ratri, membuat wanita itu melepas pelukan lantas memeriksa bagian yang dimaksud sahabatnya itu.Ratri kembali menatap Alana. “Bagaimana bisa jatuh?”“Hmm, saya terpeleset. Maaf,” ucapannya lirih diakhir kalimat. Ya, dia yang jatuh dia juga yang harus meminta maaf. Alana sadar betul keselamatannya adalah diatas segalanya saat ini.“Ayo duduk,” ajak dokter Harjito pada keduanya.“Selamat Ratri.” Pria berjas putih rapi itu menyodorkan sele







