LOGINSenyum terkembang lebar di wajah Joana saat melangkah keluar dari pintu kaca gedung perkantoran tersebut. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibanding pagi tadi. Kali ini, ia benar-benar merasa puas; jawaban-jawaban yang ia berikan saat wawancara terasa berbobot, lugas, dan tidak asal bunyi seperti kesempatan-kesempatan sebelumnya. Harapan untuk segera melepas status pengangguran rasanya makin dekat di depan mata.Sebelum pulang ke rusunawa, Joana menyempatkan diri mampir ke minimarket dekat area tempat tinggalnya. Berhubung ia berniat merayakan keberhasilannya hari ini, ia membeli beberapa bahan pangan—sedikit sayuran segar, telur, dan bumbu dapur untuk memasak makan siang yang enak.Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Tepat saat ia keluar dari minimarket sembari menenteng kantong belanjaan, sosok pria bersuara familiar itu sudah berdiri di samping tiang kanopi, menyender santai sembari memegang segelas kopi dingin."Aduh, yang habis wawancara mukanya cerah banget. Gimana,
"Sebenarnya siapa kamu?" bisik Joana lirih. Tangan Joana sedikit gemetaran saat menarik lembaran kertas kecil bernoda bercak merah dari dalam dompet itu. Tatapannya terpaku pada tulisan berukuran besar yang tercetak tebal di sana. "Baskara.l.zx Suara Joana tercekat di tenggorokan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia mendongak, menatap sosok lelaki yang kini membeku di depan kulkas mini sambil memegang botol minuman. "Kamu... kamu siapa? Kalau kamu di sini, terus yang di kertas ini—" Belum sempat Joana menyelesaikan kalimatnya, Baskara mendadak menyemburkan tawa hingga batuk-batuk. Tawa lepas yang sangat familiar, sampai-sampai tubuhnya menunduk memegangi perut. "Aduh! Astaga, Jo! Muka kamu lucu banget, sumpah!" seru Baskara diselingi gelak tawa. Ia berjalan santai menghampiri Joana, lalu merebut dompet dan kertas itu dari tangannya. Joana terpaku, kedipan matanya cepat. "Maksud kamu apa?" "Itu prop drama panggung kampus adik sepupuku bulan lalu!" Baskara mengibas-ngibaskan kertas itu
Baskara! Gila! Jarang melihatnya, Joana merasa pria itu terlihat berbeda. Seperti aada aura-aura kejam dan dingin secara bersamaan sekaligus memikat. Saat Baskara masuk, ia juga memancarkan aura mengancam. Seketika Joana mendengus, memalingkan wajahnya dan teringat lagi bahwa ia harus menjauhi pria itu jika ingin hidup tenang. Namun, sesekali Joana mengamati Baskara dengan rasa penasaran yang akan di lakukannya. Kecuali Pak Bagas, seluruh ruangan mengikuti gerak-gerik Baskara. Pria itu melangkah ke depan meja Pak Rony dan berdiri di antara Pak Bagas dan Joana. Baskara meletakkan flashdisk berwarna putih di atas meja. "Apa ini?" Tanya Pak Rony dengan nada tidak ramah. "Coba buka di laptop Bapak, saya telah mengumpulkan banyak bukti tentang kelakuan Pak Bagas di rusunawa," Ujar Baskara sambil bersedekap dada. Mendengar hal itu, Pak Bagas pucat seketika. Ia bangkit ingin meraih flashdisk yang ada di atas meja, tetapi tangan Baskara lebih cepat meraihnya. Pria itu seperti telah
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Itulah yang kini Joana rasakan. Ia sibuk menggigiti kukunya sembari berjalan dengan kepala tertunduk. "Wah nggak nyangka, ternyata penghuni lantai lima unik semua." "Bukan unik, tapi berbahaya!" Timpal seorang wanita berumur ketika melihat Joana berjalan di lorong sendirian. Itulah yang mereka katakan saat Joana lewat. Sejak amarahnya tak terkendali tadi siang, semua orang kini menatapnya seperti orang yang menakutkan. Ia tidak suka dengan perasaan seperti itu. "Udah nggak usah di pikirin," ucap Bu Nita sambil merangkul lengan Joana. "Lagian wajar kok kamu marah sama Pak Bagas. Kalau aku di gituin juga, tuh orang nggak bakal cuma tak pukul, sudah tak jorokin dia sampai nggelinding di tangga!" Lanjutnya menggebu-gebu. Seketika Joana merasa lebih tenang setelah mendengar pembelaan dari Bu Nita. Joana menarik napas panjang sebelum masuk ke ruang pengelola. Di sana, beberapa penghuni lainnya berkumpul karena penasaran. "Yang nggak
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian pencekikan yang di alami Joana. Gadis itu telah menguatkan hatinya untuk selalu waspada. Setiap kali ia masuk unitnya, ia selalu mengecek kondisi kamarnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin ada kamera tersembunyi yang di letakkan oleh peneror. Selain itu Joana juga berusaha menghindari Baskara. Meskipun sesekali berpapasan, tetapi Joana bersikap cuek seperti orang asing yang tidak saling kenal. Kini fokusnya hanya untuk bertahan hidup dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia bahkan sudah tidak menggubris lagi suara desahan Pak Bagas dan Tina yang sudah berbaikan hingga suara percintaan mereka terdengar kemana-mana. Namun setiap kali Joana bertemu Pak Bagas, pria itu sering melayangkan tatapan menjijikkan kepadanya. Jikalau tidak, kata-kata frontal bersifat pelecehan verbal juga membuat Joana was-was. "Semoga pulang nggak papasan lagi sama orang-orang menyebalkan di gedung ini," gumam Joana selalu merasa takut. Gadis itu melangkah pelan
Joana terperanjat, matanya membelalak lebar dalam himpitan tubuh Baskara. Cengkeraman di lehernya tidak sepenuhnya mencekik sampai kehabisan napas, tapi cukup kuat untuk mengunci pergerakannya Joana. "Lepas! Kamu kenapa sih Bas?!" Pekik Joana memukuli lengan Baskara. Namun, pria itu tidak terpengaruh sama sekali. Malahan, ia menguatkan cengkeraman tangannya. "Jangan bohong, Joana! Katakan sejujurnya, siapa kamu sebenarnya?!" Bentak Baskara masih tidak mempercayai ucapan Joana. Tatapan pria itu memancarkan ancaman yang nyata. Joana akui, kini Baskara benar-benar menyeramkan. Ia belum pernah di cekik orang seperti ini. "Untuk apa aku bohong? A-aku bukan orang suruhan siapa-siapa!" cicit Joana gagap, kedua tangannya refleks memegangi pergelangan tangan Baskara. "Aku pernah bilang, kamu harus hati-hati terhadap Baskara, kan?" Baskara berkata dengan nada dinding. "Saat mengirim pesan itu, aku nggak main-main Joana. Seharusnya kamu tidak meremehkanku. Jadi sebelum aku b







