Mag-log inPagi harinya, Joana memutuskan untuk tidak melarutkan diri dalam kesedihan soal ancaman pemecatan di kantor. Mengingat nasihat Baskara semalam untuk mengembangkan kontennya sendiri, gadis itu bangkit lebih awal. Ia mengenakan celana training dan kaos longgar yang di ikat sehingga membentuk pinggangnya yang ramping. Halaman belakang rusunawa yang beralaskan semen kasar dan dikelilingi rumput liar menjadi studio dadakannya pagi itu. Suasana masih cukup lengang dan udara terasa menyegarkan. Dengan sigap, Joana menyetting kamera ponselnya pada tripod kecil, menyesuaikan sudut pencahayaan matahari pagi agar gerakannya nanti terlihat jelas.Setelah menekan tombol rekam, Joana melangkah mundur beberapa meter, mengambil posisi tegak sambil menghembuskan napasnya kasar. Ia merasa sedikit gugup karena takut kemampuannya berkarat karena terlalu lama tidak berlatih. "Halo semuanya! Hari ini aku mau bagikan beberapa teknik tendangan dasar dalam taekwondo yang bisa kalian latih sendiri di rumah u
"Jo, beneran nanya nih, kamu lihat apa aja di dompetku?!" tanya Baskara masih terlihat panik, seakan-akan Joana melihat sesuatu yang tidak sepantasnya dilihat. Joana menompang dagu dan tersenyum miring. "Hehehe." cengir gadis itu membuat Baskara semakin berpikiran yang tidak-tidak. "Lihat apa?" Alis Baskara semakin menukik. Namun, Joana masih sok misterius seperti mengetahui sesuatu. "Joana..." panggil Baskara mulai geram. "Apa Bas? Kenapa?" tanya Joana dengan nada kalem. Jelas sekali kalau ia menggoda pertahanan emosi pria di depannya. Baskara menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya kembali menatap Joana. Raut wajahnya kini sepenuhnya serius, menyapu bersih sisa-sisa humor yang tadi sempat menghiasi bibirnya. "Terserah deh, palingan juga nggak ngerti," ujar Baskara membuat Joana melemparkan tisu ke pria itu. "Ah nggak asik," balas Joana. "Ajakin kerja deh, ya Bas?" bujuk Joana kembali menanyakan perihal pekerjaan. "Preman? Nggak bisa
Langit cerah tanpa awan dengan angin sepoi-sepoi yang terasa menyejukkan. Di balkon, Joana sedang makan keripik kentang tanpa selera. Tatapannya kosong mengarah pada deretan jemuran tetangga di bawah sana. Bayangan wajah garang Pak Yudi dan ancaman pemecatan masih memenuhi benaknya. Hal itu telah menghancurkan seluruh kebahagiaan yang sempat ia rasakan sejak pagi."Nasib-nasib." Gadis itu mendesah berat. Pintu kaca balkon sebelah tiba-tiba terbuka. Baskara melangkah keluar membawa sehelai handuk yang tersampir di bahunya. Pria itu sempat mengucek matanya, mengira pandangannya kabur karena kelelahan. Ia menduga Joana masih bekerja dengan alat pel dan tidak menyangka gadis itu malah melamun di balkon. "Woy, Jo! Kagak kerja?" panggil Baskara heran, menatap tetangganya yang duduk lemas bagai tanaman layu.Joana menoleh malas tak bersemangat. Bibirnya mencebik samar."SP 3," jawabnya lesu, lalu kembali menyuap keripik kentang dengan helaan napas berat.Baskara kaget setengah mati. Bola m
Joana memeras kain pelnya, lalu kembali mengusapkannya kembali ke atas lantai marmer di lantai 8. Suasana lantai itu cukup sibuk pagi ini. Dengan seragam petugas kebersihan yang terpasang rapi, Joana bekerja penuh konsentrasi, mencoba menyelesaikan jatah tugasnya sebelum jam makan siang. "Hei kamu! Mbak cleaning service!" panggil seorang staf wanita berblus biru dari arah koridor VIP. Joana menghentikan gerakannya dan menoleh, menyunggingkan senyum ramah. "Iya, Bu? Ada yang bisa dibantu?" "Tolong buatkan tiga cangkir kopi hitam tanpa gula ya, antar ke ruang rapat VIP sekarang. Staf yang biasa lagi izin sakit, nih. Penting banget, makasih ya!" ujar wanita itu terburu-buru tanpa menunggu jawaban, lalu langsung melangkah cepat kembali ke dalam koridor. Joana sempat terpaku sejenak. Tugasnya sebenarnya hanya menjaga kebersihan area lobi dan toilet, bukan menyiapkan konsumsi rapat. Namun, teringat pesan Siska untuk selalu bersikap kooperatif dan tidak memicu masalah di hari-hari pe
Joana menatap layar ponselnya dengan bibir mengerucut maju. Raut gembira yang tadi terpancar saat mau mukbanb makanan kini berganti total menjadi muka cemberut. Rentetan komentar di siaran langsungnya terus melesat bak aliran air bah, dan yang lebih menyebalkan, tidak ada satu pun penonton yang lagi peduli pada jajanan di depan mejanya."Kan aku sudah bilang, jika aku terekam, pengikutmu akan pindah menjadi pengikutku," ledek Baskara setelah Joana cemberut karena kini banyak komentar yang penasaran dengan pemilik lengan bertato. "Tadi itu siapa? spill dong.""Kak Joajoak ayo geser kameranya.""Apa itu pacarmu?" "Cuma suaranya saja bikin jantungku deg-degan.""Ada apa ini? Aku baru masuk, ketinggalan yang seru kah?" "Tunjukan keperkasaanmu Mas Tato, aku menantikanmu." "Joajoak aku bosan melihatmu makan, jadi biarkan pemilik tato tadi tampil di layar.""Suaranya berat banget, mana lengan tatonya kekar begitu. Pasti cakep ini mah!" "Ih, kok kalian malah pada fokus ke tangan dia sih?
Langkah kaki Joana terasa berat. Setiap kali tumitnya mendarat, rasa pegal merambat naik dari telapak kaki, menjalar ke betis, paha, hingga menumpuk di pinggangnya. Hari ini, menaiki tangga rusunawa serasa berjalan dua kali lebih panjang dari biasanya. "Capek," ucap Joana tak sanggup berjalan dan berakhir duduk di anakan tangga. Ia menyelonjorkan kakinya dan memijat betisnya pelan. Di hari pertama bekerja, ia telah menerima omelan dari atasan, serta teriakan untuk menyuruhnya lebih cepat saat mengantar dan mengambilkan barang. Ia berusaha menahan diri agar tenaganya tidak terkuras habis. "Pengen cepat rebahan, tapi malas banget naik tangganya." Joana mendesah berat. Ia bangkit dengan gontai sembari memikirkan satu fokus di kepalanya yaitu kasur. Ia tidak memikirkan makan malam, tidak memikirkan tumpukan pakaian kotor yang belum dicuci, apalagi memikirkan kerumitan hidup yang terus menghantuinya belakangan ini. Otaknya seakan mendoktrin dengan membisikkan kata "tidur" berulang







