공유

Dua

작가: Bwolu Kwetan
last update 게시일: 2026-07-14 22:05:22

Joana meneguk ludah pahit. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Wajahnya dipastikan sudah semerah tomat matang, membakar kulit pipinya yang akibat rasa malunya yang melonjak tinggi. 

Suara desahan berat dari dalam kamar itu jelas-jelas masih terdengar ritmis, dan pria jangkung di depannya ini berada tepat di luar, menatapnya penuh kemenangan.

​"Sa-saya..." suara Joana mencicit, nyali bar-barnya yang tadi membara, menguap tanpa sisa. 

Tangannya yang semula berkacak pinggang, kini jatuh terkulai lemas di samping pinggul. "Saya pikir..."

“Kamu menuduh saya dengan menggedor seperti itu?" sambung pria itu. 

Suara beratnya terdengar sedikit meninggi, seperti egonya yang tergores akibat tuduhan Joana. Gadis itu mengangguk malu, membuat pria di depannya tertawa sarkas. 

“Ng–nggak!”

Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menyisakan jarak yang begitu tipis hingga Joana bisa mencium aroma samar kayu cendana dan sabun mandi dari tubuhnya. Joana mundur selangkah. Ia menatap wajah pria di depannya, menilai. 

"Kalau di lihat dari wajah Mas-nya, Mas-nya nggak kayak orang susah! Tapi— jelas orang susah karena tinggalnya di rusun kayak saya." jawab Joana sekenanya. 

Sudut bibir pria itu bergetar, emosi. Lalu ia berdecak. 

"Terserahlah. Lain kali, kalau mau nuduh, dipastikan dulu. Biar nggak salah nuduh orang begini," ucapnya sengit. 

"Maaf Mas," kata Joana dengan suara mencicit, nyaris tidak terdengar. 

​Gadis itu menggigit bibir bawahnya erat-erat, menatap lantai koridor tua yang berdebu. Rasanya ia ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon untuk langsung menghilang dari tempat itu. Memalukan sekali, batinnya menjerit. 

Gedung tua ini memang punya lorong yang saling terhubung dengan ventilasi balkon yang buruk, membuat pantulan suara bisa sangat menipu. Jadi, pria di depannya ini adalah... korban salah tangkap dari sudut pandang Joana yang sudah terlanjur kesal dan bukan orang yang telentang di balkon sambil melakukan aksi mesum. 

Pria itu menarik diri dan berdiri tegak. Jari telunjuknya mengorek telinga. "Kamu bilang apa? Saya tidak dengar."

​"Maaf, Mas!" kata Joana setengah berteriak. 

"Saya benar-benar minta maaf, Mas. Saya salah dengar dan salah mengira Mas-nya-" Ucapan Joana terpotong. 

"Mas-nya, Mas-nya, panggil saya Baskara," sela pria itu menyebutkan namanya. 

Joana mengangguk. "Iya Mas, maaf sudah salah mengira Mas Baskara yang sedang olahraga di balkon," lanjut Joana tidak berani melihat mata pria di depannya. 

​Pria itu mendengus, lalu mengacak rambutnya yang agak berantakan. Gara-gara gedoran pintu yang dilakukan gadis di depannya ini, ia terbangun dari mimpinya yang kurang sedikit lagi bisa menikah dengan model sexy yang sedang naik daun, Safira. Mana mungkin Baskara membiarkannya lolos begitu saja. 

"Nggak! Saya nggak maafin kamu!" tolak Baskara membuat Joana spontan mendongak kaget. 

"Kok gitu, Mas? Kan saya sudah minta maaf."

Baskara menggeleng. Jarinya terangkat dan digerakkan ke kiri dan ke kanan. Ia berniat memanfaatkan gadis di depannya untuk melakukan sesuatu. 

"Saya bakal maafin kamu, kalau kamu labrak tetangga yang lagi desah ah uh ah uh itu! Ayo!" 

Tanpa persetujuan, Baskara meraih tangan Joana dan menarik masuk ke unit pria itu. Joana berontak, tetapi tenaganya kalah jauh dengan tenaga Baskara. Gadis itu terseret dengan mudahnya. 

"Caranya?" Tanya Joana panik saat dirinya di tarik ke arah balkon. 

"Ahhh... ohhh!"

Suara desahan seorang pria semakin terdengar jelas. Joana meringis hampir menangis. Sementara Baskara tidak perduli sama sekali. 

"Buat negur begituan terlalu sopan kalau ketuk pintu, mending langsung samperin ke balkonnya!" Jawab Baskara.

"Tapi, Mas."

Pria itu memegang kedua bahu Joana. “Kamu keganggu, kan? Sama saya juga. Sudah dua tahun saya keberisikan.”

“Kenapa? Gak berani, Mbak?”

"Bu-bukannya nggak berani Mas," ucap Joana gugup. 

"Terus?"

Wajah Baskara mengeryit meminta penjelasan lebih. 

"Kita lapor pengelola saja Mas," jawab Joana cepat. 

Pria di depan Joana berdecak. Ia sudah pernah melapor ke pengelola, tetapi tidak ada tindakan tegas dan hanya di minta untuk memaklumi sebagai sesama pria. 

"Nggak di gubris! Saya sudah pernah lapor," katanya sambil berpikir keras. 

Lalu pria itu menoleh dengan tatapan aneh, membuat Joana melangkah mundur. 

"Kenapa Mas? Punya ide?"

"Daripada kita capek-capek emosi melabrak dia, gimana kalau kita bales ganggu balik?" bisik Baskara setengah bersandar pada dinding.

Joana mengerutkan dahi. "Bales ganggu pakai apa?"

"Bagaimana kalau kita lawan desahan tetangga dengan desahan juga?"

"Maksudnya?" Tanya Joana takut salah dengar dengan ucapan Baskara. 

Pria itu mencondongkan wajahnya ke depan dan sambil tersenyum licik, ia berkata, "Ayo Mbak. Kita pura-pura main."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Delapan

    "Baskara!" pekik Joana yang langsung di bungkam dengan bibir tebal pria itu. Joana membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bersamaan dengan hal itu, jantungnya juga berdegup kencang. Pikirannya kosong. Ia merasakan sensasi benda kenyal yang menempel di bibirnya. Untuk kali pertama, ia kehilangan ciuman pertamanya. Sebagai orang desa yang berpacaran saja bisa mendapatkan gunjingan, tentunya di cium bibir adalah sesuatu yang mengguncang perasaan Joana. Apalagi sentuhan pertama di bibirnya terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh tubuhnya. Kardigan yang sedikit tersingkap membuat kulit bahunya bersentuhan langsung dengan lengan kokoh Baskara yang menahannya agar tidak bergerak. Hal itu menambah sensasi panas untuk keduanya. Baskara menjauh. Sorot matanya yang tajam menatap mata bulat di depannya. "Tolong aku sebentar," katanya dengan suara serak. Napasnya terdengar berat. Joana mendapatkan kembali kesadarannya. Matanya melotot penuh permusu

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Tujuh

    Angin malam langsung menyapa bahu Joana yang tidak tertutup pakaian. Joana memejamkan mata, menghirup dalam-dalam udara malam, menikmati keheningan yang begitu ia dambakan. Namun, rasa damai itu hanya bertahan beberapa menit. Mendadak ia menangkap pergerakan di sisi kanannya. Joana menoleh ke arah balkon unit sebelah yang posisinya sangat dekat dan hanya terpisah jarak sekitar satu meter.Napas Joana tertahan di tenggorokan. Di seberang sana, Baskara sedang berdiri tegak, menyandarkan kedua lengannya pada pagar besi balkon. Pria itu bertelanjang dada, memamerkan lekuk tubuh atletis dengan otot-otot dada dan perut yang terpahat sempurna menambah kesan maskulin yang begitu kuat."Anjir, si Bos," gumam Joana. Suasana di sekitar Joana terasa semakin panas. Wajahnya memerah, setelah ia sadar sudah memperhatikan pria di sebelah tanpa berkedip. Apalagi ia mendadak mengingat kejadian memalukan kemarin. Joana menggelengkan kepalanya, berusaha menikmati pemandangan lampu jalanan. "Joana."Tib

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Enam

    Joana menegang. Ia tidak berani bergerak sedikit pun saking takutnya jika ia bergerak akan membuat Baskara berbuat lebih dari sekedar memegang pinggangnya. Bahkan sekadar bernapas, Joana berhati-hati sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. "Apa aku sudah boleh bergerak?" tanya Joana lirih. Duduknya tidak nyaman. Ia merasa apa yang ia duduki terasa semakin panas dan mengganjal. Namun, Baskara tidak menjawab. Pria itu mencondongkan tubuhnya maju hingga tak berjarak. Dagunya ia letakkan di atas bahu Joana, sementara tangannya melingkar di perut dengan erat. "Joana.""Ya?" Joana menjawab dengan kaku. "Apa kamu mau membantuku? Milikku tegang sekali," ucap Baskara dengan suara parau dan berat. "Membantu, apa?"Pria itu menggerakkan tubuhnya sedikit tetapi sensasi yang di terima Joana berbeda. Ia tersentak kaget dengan sesuatu yang mengganjal di bawah tubuhnya. "Kamu merasakannya, kan?" tanya Baskara seakan ingin melanjutkan ke tahap yang lebih intens. "Kalau kamu mau membantuku, kam

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Lima

    "Ngawur! Lepas!" ujar Joana tertahan. Namun bukannya melepas, Baskara menyeringai tipis, mengusir rasa kebas di pipinya dengan ujung lidah. Pria itu merangkak maju, mengikis jarak hingga helaan napas hangatnya berembus tepat dipermukaan kulit leher Joana. "M-Mau ngapain?!" Sentuhan Baskara menelusuri pinggang Joana, menekan lembut kulit tipis di balik daster tipis yang sedikit terangkat. Joana membeku seketika, sensasi panas mendadak menjalar cepat hingga ke ujung kakinya. "Main... sama kamu? Boleh kan?" Tangannya yang bebas kini merayap naik, mengusap area dada Joana yang dibiarkan polos tanpa pelindung. Gesekan halus itu membuat Joana refleks membusungkan dada, meloloskan lenguhan kecil yang sangat tipis dari bibirnya. "Bukannya dari semalam kamu sibuk mikirin ini?" gumam Baskara tepat di depan bibir Joana. Pria itu meremas pelan puncak dadanya, membuat Joana makin memejamkan mata erat-erat menahan sensasi aneh yang menggetarkan tubuhnya. "Ahhh." "Lihat... Kamu

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Empat

    Tanpa aba-aba, Baskara melompat ke atas kasurnya. Ia memosisikan diri di tepi ranjang, lalu mulai melompat-lompat kecil dengan ritme konstan. Per-per kasur itu langsung berderit keras. "Plan B. Kita lakuin manual," kata Baskara sambil terus menggoyangkan kasur dengan kakinya. "Ayo, desah!"Mata Joana membelalak hampir keluar dari sarangnya. "Hah?! Kamu gila?!""Cepat, Jo! Keburu mereka selesai!" Baskara mulai memukul-mukul bantalan sandaran ranjang ke arah dinding yang berbatasan langsung dengan kamar tetangga mesum itu.Brak! Brak! Brak! Bunyinya menggelegar, sangat mirip dengan suara ranjang yang sedang dihantam secara brutal. "Ayo dong, pura-pura aja! Bikin mereka juga keberisikan!"Rasa malu luar biasa kembali menyerang Joana. Namun, suara tetangga di sebelah yang tak kunjung berhenti entah mengapa memicu adrenalin dan jiwa kompetitifnya yang sedang lelah. Ia pastikan tetangga kurang ajar itu ikut hancur dengan gangguan desahan yang tiap malam Ia dengar. Dengan wajah semerah

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Tiga

    Tatapan Joana mengganas saat melihat jam dinding. Satu jam lagi ia ada janji temu untuk interview pekerjaan. Namun gara-gara gangguan desahan semalam, sekarang ia bangun kesiangan. Ia bergegas dan berangkat secepat mungkin.Gadis berambut hitam kebiruan itu bergegas mengikat rambutnya asal-asalan. Ia menyambar tas selempang di atas kasur, lalu berlari cepat menembus lorong rusunawa."Gila," sungut Joana setengah berbisik sambil menuruni tangga lantai lima dengan napas memburu.Pikiran Joana teringat pada tawaran atau ide gila yang sempat dilontarkan pria tetangga sebelah rumahnya tadi malam. Mana mau ia menuruti ide gila dari pria mesum yang bahkan belum jelas asal-usulnya itu?Memikirkannya saja sudah membuat tengkuk Joana meremang risih.Gadis itu menggeleng keras, berusaha menepis mimpi buruknya. Saat ini fokus utamanya adalah ia harus sampai di tempat interview tepat waktu dan menyelamatkan sisa dompetnya yang makin menipis. Lalu pindah sesegera mungkin!Namun naas, keberuntungan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status