Share

Kerjasama

Author: BWOLU KWETAN
last update publish date: 2026-07-14 23:32:27

Tatapan Joana mengganas saat melihat jam dinding. Satu jam lagi ia ada janji temu untuk interview pekerjaan. Namun gara-gara gangguan desahan semalam, sekarang ia bangun kesiangan. Ia bergegas dan berangkat secepat mungkin.

Gadis berambut hitam kebiruan itu bergegas mengikat rambutnya asal-asalan. Ia menyambar tas selempang di atas kasur, lalu berlari cepat menembus lorong rusunawa.

"Gila," sungut Joana setengah berbisik sambil menuruni tangga lantai lima dengan napas memburu.

Pikiran Joana teringat pada tawaran atau ide gila yang sempat dilontarkan pria tetangga sebelah rumahnya tadi malam.

Mana mau ia menuruti ide gila dari pria mesum yang bahkan belum jelas asal-usulnya itu?

Memikirkannya saja sudah membuat tengkuk Joana meremang risih.

Gadis itu menggeleng keras, berusaha menepis mimpi buruknya. Saat ini fokus utamanya adalah ia harus sampai di tempat interview tepat waktu dan menyelamatkan sisa dompetnya yang makin menipis. Lalu pindah sesegera mungkin!

Namun naas, keberuntungan masih enggan berpihak padanya. Untuk ketiga kalinya dalam bulan ini, Joana harus menelan pahitnya penolakan.

"Kami butuh orang yang begitu masuk bisa langsung dilepas kerja. Lamaran kamu sangat kami hargai, tapi untuk saat ini, kualifikasi kamu belum memenuhi syarat karena kurangnya pengalaman," pungkasi HRD di depannya dingin.

Kalimat itu bagai hantaman telak yang merontokkan sisa semangatnya. Tenggorokan Joana mendadak terasa kering, menyisakan rasa sesak yang menumpuk di dada.

"Tapi, Bu... kalau tidak ada perusahaan yang mau memberi saya kesempatan kerja, bagaimana saya bisa dapat pengalaman itu?" cicit Joana dengan nada tertahan.

Lucu sekali sistem di negeri ini. Orang-orang disuruh mencari kerja untuk mencari pengalaman, tetapi syarat melamar kerjanya sendiri harus sudah berpengalaman.

Joana berhenti di tangga dan duduk meratapi nasibnya. Hingga suara langkah kaki di anak tangga membuatnya menoleh. Namun, ia segera melengos setelah tahu siapa yang datang.

"Gimana tawaran saya semalam, sudah kamu pikirkan?" Tanya Baskara.

Suaranya terdengar renyah, kontras sekali dengan suasana hati Joana yang sedang berada di titik terendah.

"Belum mikir," sahut Joana malas. Ia mengibaskan tangannya, menyuruh Baskara segera pergi.

Pria itu tertawa pelan sambil menuruni dua anak tangga. Sesaat dia berhenti dan mendongak ke tempat Joana duduk. Sesaat dia memiringkan kepala, menatap Joana yang duduk selonjoran.

"Segera pikirkan, saya tunggu." Katanya sambil melayangkan kedipan nakal sebelum akhirnya melanjutkan turun ke bawah dengan bersiul kecil.

..

Joana memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Layar laptop di atas meja masih menyala, menunjukkan tumpukan email lamaran kerja yang tak kunjung mendapat balasan.

Seharian ini, energinya sudah terkuras habis. Di tolak HRD, mencari lowongan kerja, mengirim email lagi dan lagi membuatnya ingin segera beristirahat dan menghilang dari kehidupan orang dewasa yang melelahkan.

Namun, ketenangan yang sangat ia butuhkan mendadak hancur berkeping-keping.

Suara desahan menjijikkan itu terdengar lagi.

"Argh! Benar-benar enggak tahu diri!" geram Joana dengan napas memburu. Matanya menyipit menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.

Seketika ia teringat tawaran dari Baskara.

Pura-pura, kan?

Daripada dia jadi gila?

“Kenapa tak di coba aja?!" gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin sebelum keluar menuju unit sebelah.

Sesampainya di depan pintu, Joana menggedor sekali lagi. Persetan dengan penampilannya yang sudah urakan, ia harus membela keadilan.

Dengan daster tanpa lengan berbahan tipis, potongannya yang cukup longgar di bagian dada justru jatuh menggantung pas di tubuhnya, dan panjangnya yang hanya mencapai setengah paha mengekspos sepasang kaki jenjang yang mulus.

Rambutnya yang sedikit acak-acakan diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sekeliling leher jenjangnya.

“HALOOO?”

Dan saat pintu terbuka, ia hampir terjerembab kalau tidak tertahan pria itu.

“Jadi.. menerima tawaran saya?”

Joana mencengkeram pinggiran dasternya, tampak sangat gelisah di bawah tatapan intens Baskara.

Napasnya sedikit terengah-engah, seolah-olah butuh seluruh keberanian di dunia hanya untuk berdiri di depan kamar pria ini.

"Pura pura, kan?" tanya Joana gugup, suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara embusan angin koridor rusun.

Mendengar pertanyaan frontal yang meluncur dari bibir tipis Joana, sepasang mata Baskara membelalak kaget selama sedetik. Namun, dengan cepat ia menguasai diri.

Ekspresi terkejutnya berganti menjadi seringai jahil yang menjadi ciri khasnya.

"Masuk!"

Tanpa memberi kesempatan bagi Joana untuk mundur atau berubah pikiran, Baskara meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya masuk ke dalam kamar.

"Bagus. Pintar." ucap Baskara lega.

Sensasi hangat dari tangan Baskara yang menggenggam jemarinya membuat darah Joana makin mendidih. Wajahnya sudah terasa membara. Ia memejamkan mata sejenak, memantapkan hatinya untuk kepasrahan atau hal nekat apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, ucapan Baskara selanjutnya membuat Joana malu seketika.

"Saya sudah menyuruh orang mencarikan video plus-plusnya," ujar Baskara santai sambil melepas genggaman tangannya dan melangkah menuju meja kecil di sudut kamar untuk mengambil ponselnya.

Joana membeku di tempat. Matanya mengerjap beberapa kali, bingung dengan alur percakapan yang tiba-tiba melenceng jauh dari ekspektasinya.

"Video plus-plus? Buat apa?" tanya Joana bingung, mengernyitkan dahi.

Baskara menghentikan jemarinya di atas layar ponsel, lalu menoleh ke arah Joana. Ia menggaruk alisnya yang tidak gatal dengan raut wajah tanpa dosa.

"Ya, untuk pura-pura ‘main’, biar volumenya bisa dibesarin lewat speaker Bluetooth tanpa perlu teriak-teriak," katanya santai.

"Kalau kita paksain bikin suara sendiri, capeklah, Jo. Tenggorokan bisa serak besok pagi. Mending pakai rekaman audio video dewasa, kita setel yang kencang, lalu kita sambungin ke speaker, beres kan? Tetangga sebelah pasti langsung kebingungan dengar saingannya sekeras itu."

Wajah Joana yang tadinya memerah karena gugup bercampur hasrat mendadak makin memerah padam, kali ini murni karena rasa malu yang amat sangat. Hawa panas langsung menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubunnya.

Pikiran liar yang sempat memenuhi kepalanya beberapa menit lalu, tentang sentuhan fisik sungguhan dengan Baskara, ternyata cuma ada di dalam otak kotornya sendiri!

Memalukan, jerit Joana dalam hati.

"Y-ya mending pura-puralah," Ucap Joana sambil tertawa canggung.

Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, meremas ujung dasternya makin kencang hingga kainnya kusut. Rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi detik itu juga.

"Wajahmu merah begitu, kamu sakit?" Baskara menyadari perubahan raut wajah Joana yang semakin semerah tomat.

"Enggak! Tadi kelamaan di depan laptop, belum cuci muka," jawab Joana asal.

Baskara menyipitkan mata, menatap daster tipis yang dikenakan Joana, lalu mengingat kembali pertanyaan gugup gadis itu di depan pintu tadi.

Sebuah tawa kecil meluncur dari mulut Baskara, diikuti oleh tawa renyah yang makin lama makin keras sampai ia harus memegang perutnya.

"Dih, ke-kenapa Mas? Ayo mana videonya biar saya yang edit!" Kata Joana sedikit membentak untuk menutupi rasa malunya.

Baskara masih tertawa. "Belum dikirim teman saya, paling besok."

"Lah terus kenapa nyuruh saya datang malam ini?" Tanya Joana sewot.

"Ya mana saya tahu, saya kira juga sekarang sudah di kirim tinggal di edit."

Baskara duduk dengan pancaran mata aneh yang membuat Joana punya firasat tidak mengenakkan.

"Karena videonya belum ada, sekarang kita pakai desahan manual yang keras saja."

"Desahan manual gimana maksudnya?" Tanya Joana bingung.

Baskara tersenyum kecil, “Coba kamu yang desah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Lengan Bertato

    Langkah kaki Joana terasa berat. Setiap kali tumitnya mendarat, rasa pegal merambat naik dari telapak kaki, menjalar ke betis, paha, hingga menumpuk di pinggangnya. Hari ini, menaiki tangga rusunawa serasa berjalan dua kali lebih panjang dari biasanya. "Capek," ucap Joana tak sanggup berjalan dan berakhir duduk di anakan tangga. Ia menyelonjorkan kakinya dan memijat betisnya pelan. Di hari pertama bekerja, ia telah menerima omelan dari atasan, serta teriakan untuk menyuruhnya lebih cepat saat mengantar dan mengambilkan barang. Ia berusaha menahan diri agar tenaganya tidak terkuras habis. "Pengen cepat rebahan, tapi malas banget naik tangganya." Joana mendesah berat. Ia bangkit dengan gontai sembari memikirkan satu fokus di kepalanya yaitu kasur. Ia tidak memikirkan makan malam, tidak memikirkan tumpukan pakaian kotor yang belum dicuci, apalagi memikirkan kerumitan hidup yang terus menghantuinya belakangan ini. Otaknya seakan mendoktrin dengan membisikkan kata "tidur" berulang-ul

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Day 1

    Pagi itu, suasana hati Joana secerah langit di atas rusunawa. Ia berdiri di depan cermin kecil unit Baskara, sembari merapikan celana kain hitam dan kerah kemejanya agar rapinya dengan teliti. Hari pertama bekerja di sebuah gedung perkantoran megah di kawasan Sudirman akhirnya tiba. Setelah berbagai kekacauan dan teror yang menimpanya, pekerjaan ini terasa bagai angin segar yang melenyapkan tumpukan beban di dada Joana. "Sempurna," bisik Joana pada pantulan dirinya, mengulas senyum terbaik sembari mengikat rambut panjangnya rapi ke belakang. Rasa bahagia yang membuncah membuat energi positif gadis itu meluap-luap. Begitu keluar dari unit dan melangkah menyusuri lorong rusunawa, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Setiap kali berpapasan dengan salah seorang penghuni rusunawa, ia menyapa mereka dengan sangat ramah dan ceria. "Pagi, Bu Sri!!" sapa Joana renyah sembari mengangguk sopan. Beberapa tetangga sempat mengedip bingung melihat perubahan sikap Joana yang biasanya agak p

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Di Terima Kerja

    Seperti ucapan Baskara, Joana kini menempati unit milik pria itu. Kini ia berbaring menatap langit-langit sembari berpikir mengapa Baskara baik dan mau bertukar unit dengannya. "Tukaran unit lho bukan tukar kado silang. Kok dia baik banget," gumam Joana heran. "Apa jangan-jangan dia punya maksud lain? Kayak... dia suka sama aku misalnya?" Joana menggeleng. "Dih jangan kepedean... Joana." Tapi... bukankah aneh? Mereka berdua kenal juga belum terlalu lama. Hubungannya juga aneh. Awal-awal dirinya dan Baskara adalah partner desah, tapi karena Pak Bagas sudah di usir, otomatis partner desah itu sudah bubar. Sedangkan beberapa waktu yang lalu mereka seperti orang asing yang tidak saling kenal, kemudian akur dan saling perhatian. "Tiba-tiba baik... apa dia siluman ya?" Seketika Joana mengingat sebuah kalimat yang di ucapkan kera sakti di salah satu episodenya. "Tau deh, pusing," ucap Joana sambil mematikan lampu. Sementara itu di unit samping, Baskara berguling-guling men

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Teror Lagi

    "Tamatlah sudah," gumam Joana saat dirinya, lagi-lagi menjadi pusat perhatian dan bahan gosip karena interaksinya dengan Baskara terlalu intens sejak kemarin. Baskara menyeringai. "Yah, selamat datang di duniaku, Joana. Perlu kubuatkan grup bersamaku?" Joana memasang wajah melas. Tangannya reflek menabok punggung Baskara yang tidak terpengaruh sama sekali. "Kuatkan mentalmu, karena mungkin... nanti sore atau besok pagi kamu akan mendengar rumor luar biasa aneh tentang dirimu," tambahnya lagi semakin membuat Joana menggeram rendah. "Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Joana sambil menggigiti kuku jarinya. "Hentikan!" ucap Baskara menarik tangan Joana. "Kotor, jangan sembarangan menggigiti kuku jari begitu? Mau cepet mati ya?" "Tapi aku di omongin orang, astaga!" erang Joana ke sana ke mari, karena gugup. "Ya bagus dong." "Bagus dari mana?" Erang Joana setengah berteriak. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Tenang sajalah, cuma di omongin doang. Anggap aja resiko j

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Perhatian

    "Bas, yang sakit kepalaku," ucap Joana seraya menatap tangan Baskara yang menggenggam lengannya. "Aku masih bisa jalan sendiri, enggak perlu di tuntun." "Aku tahu." Baskara tidak perduli. Ia tidak melepaskan tangannya di lengan Joana dan terus menuntun gadis itu seperti sedang membantu lansia berjalan. Bedanya, kali ini ia menuntun Joana keluar dari rumah sakit. Mau tidak mau, Joana merotasi matanya. Ia muak dengan tingkah Baskara yang tiba-tiba baik dan perhatian. Gejalanya terlihat sejak semalam, setelah pria itu menangis sambil memeluknya. "Tunggu, di sini sebentar," kata Baskara menyuruh Joana duduk di kursi tunggu depan rumah sakit. Pria itu lalu pergi ke parkiran. Joana hanya menunggu pasrah sambil membuka kamera ponsel Baskara yang sengaja di tinggalkan. Gadis itu mengambil beberapa foto random dan foto selfie. "Buset, bening banget kameranya," puji Joana saat melihat hasil jepretannya sangat jernih tidak seperti kamera ponselnya yang blur. Tak lama kemudi

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Rasa Bersalah

    "Hah? Serius Bu?" Joana spontan duduk, tetapi langsung meringis saat kepalanya berdenyut. "Aaaduh," gumamnya sambil memegang kepala. Bu Salma yang duduk sambil makan keripik, geleng-geleng. "Hati-hati kamu Jo, masih basah jahitannya." Joana nyengir, tapi wajahnya kembali serius. "Tapi beneran Bu? Baskara hampir ngelempar Tina dari lantai lima?" "Beneran Jo!" ucap Bu Salma kembali terpancing dengan pembahasan Baskara yang marah beberapa saat lalu. Joana duduk senyamannya. Ia menatap Bu Salma antusias. "Terus Bu?" Bu Salma meletakkan keripiknya kemudian minum. Setelahnya, ia menggebu-gebu menceritakan apa yang terjadi. "Wuuuh, heboh banget tadi Jo! Pak Rony aja sampai ke lempar, padahal niatnya mau nahan Baskara agar nggak mukul Tina. Suwer, Ibu nggak bohong, ramai parah pol!" "Ada yang mati nggak Bu?" Tak! "Sembarangan kalau ngomong," tukas Bu Salma reflek menyentil kening Joana. Gadis itu mengaduh. Mulutnya mendesis lirih. "Ya, kan cuma nanya Bu. Kok di sentil s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status