LOGIN
"Ahhh..."
Suara desahan membuat Joana terduduk. Padahal baru saja gadis berambut hitam panjang itu mencoba memejamkan mata. Namun suara itu membuatnya menahan sumpah serapah dan hanya bisa menghela nafas. "Argh, ngeselin," gerutunya dengan wajah mengantuk. Memang salah dirinya yang memilih rumah susun ini. Namun itu semua karena uang sisa tabungannya setelah dipecat dari pekerjaan hanya cukup untuk menyewa unit kecil di gedung tua ini. Ia pikir tempat ini akan menjadi tempat yang tenang karena lokasinya di pinggiran kota, tapi ternyata ia memiliki tetangga yang tidak punya tata krama. Gadis itu bangkit berdiri, berniat menutup rapat pintu kaca balkon demi mengusir suara mesum yang mengganggu pendengarannya. Tangannya baru saja menempel di gagang pintu saat matanya menangkap siluet di balik pagar pembatas unit sebelah. Cahaya redup dari layar ponsel menerangi wajah seorang pria yang sedang terbaring telentang di sana. "Ahhh... shh...." Erangan berat tertahan kembali lolos dari bibir pria itu, diikuti gerakan tangannya di area bawah perut. Joana seketika membeku di tempatnya berdiri dengan mata membelalak. Pemandangan tetangga yang sedang 'olahraga lima jari' secara terang-terangan membuat dadanya bergemuruh hebat. Ia tidak menyangka akan melihat hal mesum seperti ini. “Cowo gila," gumam Joana sarkas. Sensasi aneh sekaligus risih merayap ke seluruh tubuh Joana yang seketika meluap ke ubun-ubunnya. Ia tidak bisa bersabar lagi. Sudah seminggu ia menginjakkan kaki di rumah susun ini, tapi ia tak menyangka bahwa kalimat tentang ada harga, ada barang, itu benar nyata adanya. Gadis itu memutar kuncian pintu balkon, menariknya kencang, lalu melangkah lebar menuju lorong depan unit sebelah. Brak! Brak! Brak! Joana menggedor pintu kayu bernomor 506 itu tanpa ampun. "Halo! Bisa keluar sebentar enggak?!" teriak Joana, melipat kedua tangan di dada dengan napas naik turun. “Tolong kerja samanya!” pekiknya sekali lagi. Kesal tak kunjung ada jawaban ia menggebrak pintu tetangganya sekali lagi. Tangannya terkepal memukul angin, membayangkan bisa menghajar tetangganya yang belum pernah ia lihat. Setelah seminggu terakhir ia seringkali mendengar desahan yang tak kenal waktu, setidaknya malam ini saja, ia ingin tidur nyenyak tanpa gangguan. Perlahan pintu terbuka. Sosok jangkung melangkah keluar dengan pakaian kemeja hitam dengan kancing terbuka lebar menampakkan kulit dada bidangnya. Wajah tampannya memperlihatkan rahang tegas dengan guratan rambut tipis di sekitar dagu. Rambut pria itu sedikit berantakan jatuh menutupi dahi, sementara matanya yang tajam menatap Joana dingin. Tatapannya itu membuat emosi Joana yang tadinya meluap-luap mendadak tersendat karena begitu mengintimidasi. "Ada apa, ya?" tanya pria itu, suaranya bernada berat dan rada serak. Joana menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menguasai kesadarannya kembali. "Mas, bisa enggak kalau lagi enak-enak itu jangan ganggu kenyamanan orang?!" Pria di depannya berkedip sekali, menatap Joana heran. "Maksudnya?" "Kalau mau olahraga ya tolong di kondisikan, jangan pamer di balkon!" kata Joana kesal. Pria itu menyipitkan mata, raut bingung melintas singkat di wajah tampannya. "Olahraga?" "Enggak usah pura-pura polos deh, Mas!" seru Joana makin berani, matanya mendelik kesal. "Saya lihat sendiri Mas tiduran sambil pegang HP dan mendesah kencang banget sampai suara desahan Mas itu kedengaran dari unit saya tahu!" bentak Joana, menunjuk ke arah unitnya sendiri. Pria itu menghela napas panjang, hendak menyela tuduhan sepihak gadis di depannya. Namun sebelum kata-katanya keluar, suara erangan bas yang sangat dikenal keduanya kembali bersahutan dari arah samping kamar unit tersebut. "Ahhh... ahhh... ." Suara dari dalam kamar itu terdengar begitu jelas dan nyaring hingga menggema di lorong sepi. "Hah?" Joana mendadak ciut seketika. Matanya berkedip bingung, bergantian menatap ke dalam rumah dan ke arah pria jangkung di depannya. Pria tampan itu bersedekap dada. Sudut bibir pria itu terangkat tipis, Darah gadis itu serasa berdesir hebat ke seluruh tubuh, menyiagakan rasa malu yang luar biasa saat menyadari kesalahannya. Keheningan mendadak merayap di antara mereka berdua, menyisakan deru napas Joana yang tertahan akibat salah menuduh orang. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, mengamati perubahan ekspresi wajah Joana yang mendadak memerah pasrah. Pria yang menyilangkan tangan di dada itu lalu menyandarkan bahunya di bingkai pintu. "Suara desahannya masih ada dan sekarang Saya berdiri di depan mata kamu sendiri, masih mikir itu desahan saya?" tanya pria itu dengan nada suaranya yang terdengar sedang menahan emosi.Langkah kaki Joana terasa berat. Setiap kali tumitnya mendarat, rasa pegal merambat naik dari telapak kaki, menjalar ke betis, paha, hingga menumpuk di pinggangnya. Hari ini, menaiki tangga rusunawa serasa berjalan dua kali lebih panjang dari biasanya. "Capek," ucap Joana tak sanggup berjalan dan berakhir duduk di anakan tangga. Ia menyelonjorkan kakinya dan memijat betisnya pelan. Di hari pertama bekerja, ia telah menerima omelan dari atasan, serta teriakan untuk menyuruhnya lebih cepat saat mengantar dan mengambilkan barang. Ia berusaha menahan diri agar tenaganya tidak terkuras habis. "Pengen cepat rebahan, tapi malas banget naik tangganya." Joana mendesah berat. Ia bangkit dengan gontai sembari memikirkan satu fokus di kepalanya yaitu kasur. Ia tidak memikirkan makan malam, tidak memikirkan tumpukan pakaian kotor yang belum dicuci, apalagi memikirkan kerumitan hidup yang terus menghantuinya belakangan ini. Otaknya seakan mendoktrin dengan membisikkan kata "tidur" berulang-ul
Pagi itu, suasana hati Joana secerah langit di atas rusunawa. Ia berdiri di depan cermin kecil unit Baskara, sembari merapikan celana kain hitam dan kerah kemejanya agar rapinya dengan teliti. Hari pertama bekerja di sebuah gedung perkantoran megah di kawasan Sudirman akhirnya tiba. Setelah berbagai kekacauan dan teror yang menimpanya, pekerjaan ini terasa bagai angin segar yang melenyapkan tumpukan beban di dada Joana. "Sempurna," bisik Joana pada pantulan dirinya, mengulas senyum terbaik sembari mengikat rambut panjangnya rapi ke belakang. Rasa bahagia yang membuncah membuat energi positif gadis itu meluap-luap. Begitu keluar dari unit dan melangkah menyusuri lorong rusunawa, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Setiap kali berpapasan dengan salah seorang penghuni rusunawa, ia menyapa mereka dengan sangat ramah dan ceria. "Pagi, Bu Sri!!" sapa Joana renyah sembari mengangguk sopan. Beberapa tetangga sempat mengedip bingung melihat perubahan sikap Joana yang biasanya agak p
Seperti ucapan Baskara, Joana kini menempati unit milik pria itu. Kini ia berbaring menatap langit-langit sembari berpikir mengapa Baskara baik dan mau bertukar unit dengannya. "Tukaran unit lho bukan tukar kado silang. Kok dia baik banget," gumam Joana heran. "Apa jangan-jangan dia punya maksud lain? Kayak... dia suka sama aku misalnya?" Joana menggeleng. "Dih jangan kepedean... Joana." Tapi... bukankah aneh? Mereka berdua kenal juga belum terlalu lama. Hubungannya juga aneh. Awal-awal dirinya dan Baskara adalah partner desah, tapi karena Pak Bagas sudah di usir, otomatis partner desah itu sudah bubar. Sedangkan beberapa waktu yang lalu mereka seperti orang asing yang tidak saling kenal, kemudian akur dan saling perhatian. "Tiba-tiba baik... apa dia siluman ya?" Seketika Joana mengingat sebuah kalimat yang di ucapkan kera sakti di salah satu episodenya. "Tau deh, pusing," ucap Joana sambil mematikan lampu. Sementara itu di unit samping, Baskara berguling-guling men
"Tamatlah sudah," gumam Joana saat dirinya, lagi-lagi menjadi pusat perhatian dan bahan gosip karena interaksinya dengan Baskara terlalu intens sejak kemarin. Baskara menyeringai. "Yah, selamat datang di duniaku, Joana. Perlu kubuatkan grup bersamaku?" Joana memasang wajah melas. Tangannya reflek menabok punggung Baskara yang tidak terpengaruh sama sekali. "Kuatkan mentalmu, karena mungkin... nanti sore atau besok pagi kamu akan mendengar rumor luar biasa aneh tentang dirimu," tambahnya lagi semakin membuat Joana menggeram rendah. "Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Joana sambil menggigiti kuku jarinya. "Hentikan!" ucap Baskara menarik tangan Joana. "Kotor, jangan sembarangan menggigiti kuku jari begitu? Mau cepet mati ya?" "Tapi aku di omongin orang, astaga!" erang Joana ke sana ke mari, karena gugup. "Ya bagus dong." "Bagus dari mana?" Erang Joana setengah berteriak. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Tenang sajalah, cuma di omongin doang. Anggap aja resiko j
"Bas, yang sakit kepalaku," ucap Joana seraya menatap tangan Baskara yang menggenggam lengannya. "Aku masih bisa jalan sendiri, enggak perlu di tuntun." "Aku tahu." Baskara tidak perduli. Ia tidak melepaskan tangannya di lengan Joana dan terus menuntun gadis itu seperti sedang membantu lansia berjalan. Bedanya, kali ini ia menuntun Joana keluar dari rumah sakit. Mau tidak mau, Joana merotasi matanya. Ia muak dengan tingkah Baskara yang tiba-tiba baik dan perhatian. Gejalanya terlihat sejak semalam, setelah pria itu menangis sambil memeluknya. "Tunggu, di sini sebentar," kata Baskara menyuruh Joana duduk di kursi tunggu depan rumah sakit. Pria itu lalu pergi ke parkiran. Joana hanya menunggu pasrah sambil membuka kamera ponsel Baskara yang sengaja di tinggalkan. Gadis itu mengambil beberapa foto random dan foto selfie. "Buset, bening banget kameranya," puji Joana saat melihat hasil jepretannya sangat jernih tidak seperti kamera ponselnya yang blur. Tak lama kemudi
"Hah? Serius Bu?" Joana spontan duduk, tetapi langsung meringis saat kepalanya berdenyut. "Aaaduh," gumamnya sambil memegang kepala. Bu Salma yang duduk sambil makan keripik, geleng-geleng. "Hati-hati kamu Jo, masih basah jahitannya." Joana nyengir, tapi wajahnya kembali serius. "Tapi beneran Bu? Baskara hampir ngelempar Tina dari lantai lima?" "Beneran Jo!" ucap Bu Salma kembali terpancing dengan pembahasan Baskara yang marah beberapa saat lalu. Joana duduk senyamannya. Ia menatap Bu Salma antusias. "Terus Bu?" Bu Salma meletakkan keripiknya kemudian minum. Setelahnya, ia menggebu-gebu menceritakan apa yang terjadi. "Wuuuh, heboh banget tadi Jo! Pak Rony aja sampai ke lempar, padahal niatnya mau nahan Baskara agar nggak mukul Tina. Suwer, Ibu nggak bohong, ramai parah pol!" "Ada yang mati nggak Bu?" Tak! "Sembarangan kalau ngomong," tukas Bu Salma reflek menyentil kening Joana. Gadis itu mengaduh. Mulutnya mendesis lirih. "Ya, kan cuma nanya Bu. Kok di sentil s







