FAZER LOGIN“Sengaja dibakar?” tanya Alya dengan suara yang tiba-tiba melengking, tangannya yang memegang mangkuk sup langsung bergetar hebat.
Arga tidak menjawab lewat kata-kata, dia hanya mengangguk pelan dengan rahang yang mengeras. Tatapan mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Alya, seolah sedang menegaskan bahwa perkataannya beberapa detik lalu bukanlah sebuah lelucon siang bolong.
‘Siapa yang tega membakar rumahku? Apa ini akal-akalan rentenir yang mengejar Ayah?’ batin Alya dengan jantung yang berdegup. Rasa takut bercampur panik seketika merayap naik, merusak semua ketenangan yang baru saja dia rasakan.
“Ini pasti gara-gara rentenir berengsek yang mengejar ayah saya, Pak!” seru Alya dengan wajah pucat padam. “Kemarin sebelum kebakaran, mereka datang merusak pagar dan mengancam akan membuat perhitungan jika Ayah tidak bayar utang!”
“Kalau cuma masalah utang judi, rentenir tidak akan nekat membakar rumah di pemukiman padat sampai memicu kasus pembunuhan berencana,” potong Arga dengan nada suara yang berat dan berwibawa. “Pihak kepolisian baru saja mengabari sekretarisku. Kasus ini terlalu rapi. Aku menduga ada motif yang jauh lebih besar di balik semua ini, Alya.”
“Motif besar apa? Saya ini cuma staf biasa di lab, Pak! Saya tidak punya musuh!” kata Alya dengan suara yang mulai pecah karena frustrasi.
“Tapi kamu memegang buku resep premium yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah,” ujar Arga. “Dan di jajaran direksi PT Rasa Nusantara Food, tidak semua orang senang dengan rencanaku untuk menaikkan posisimu sebagai ketua proyek baru ini.”
Alya tertegun, monolog batinnya langsung berputar liar mengingat wajah-wajah petinggi kantor pusat yang dia temui saat acara penyambutan kemarin. Satu nama mendadak melintas di kepalanya. Pak Haryo, Direktur Pemasaran yang terkenal bertangan besi dan selalu menolak mentah-mentah setiap ide inovasi dari divisi R&D jika tidak menguntungkan kantong pribadinya.
Kemarin, pria paruh baya itu menatap Alya dengan pandangan yang sangat dingin dan tidak suka saat Arga menyebut namanya di atas podium.
‘Apa mungkin Pak Haryo nekat berbuat sejauh ini demi menjatuhkan rencana Pak Arga? Tapi bagaimana dia bisa tahu soal resep Nenek?’ pikir Alya, merasa kepalanya semakin pening karena terjebak di tengah lingkaran konspirasi korporat yang kejam.
“Saya … saya tidak tahu harus berbuat apa sekarang,” cicit Alya lemah, mendadak merasa sangat rapuh karena rumahnya sudah hangus dan dia tidak punya tempat berteduh lagi setelah keluar dari rumah sakit ini.
“Untuk sementara waktu, kamu harus—”
Ucapan Arga terputus saat dia mencoba menggeser posisi duduknya yang kaku di tepi ranjang. Namun karena gerakan tangan kirinya terlalu mendadak, nampan berisi sisa sup di atas meja dorong tersenggol dan mulai miring, siap tumpah ke atas selimut rumah sakit.
“Pak, awas!” pekik Alya panik.
Alya refleks merentangkan kedua tangannya untuk menangkap nampan tersebut. Di saat yang sama, Arga juga bergerak maju menggunakan seluruh bobot tubuh tegapnya untuk menahan nampan agar tidak jatuh. Pergerakan yang terlalu terburu-buru dan tidak terencana itu justru membuat tubuh mereka berdua kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Nampan itu berhasil tertahan di ujung meja, namun tubuh mungil Alya justru ambruk lurus ke atas dada bidang Arga. Mereka berdua jatuh berguling ke atas kasur VIP yang luas, dengan posisi Arga yang telentang di bawah sementara Alya menindihnya secara utuh dari atas.
Deg!
Suasana kamar rumah sakit yang sunyi mendadak terasa berganti menjadi ruang kaca yang sangat panas dan menekan. Wajah Alya berada tepat satu sentimeter di depan wajah tampan Arga, hingga napas mereka yang memburu saling berkejaran di udara. Wangi parfum tembakau mahal yang menguar dari kulit leher Arga langsung menguasai seluruh panca indra Alya, memicu sengatan gairah instan yang luar biasa dahsyat di bawah perutnya.
Sisi gila pria tampan di dalam kepala Alya seketika bergejolak hebat melihat bagaimana kemeja pasien Arga yang longgar tersingkap, menampilkan pahatan otot dada yang kokoh dan berpeluh tipis tepat di bawah telapak tangannya.
‘Sial, posisi ini … sentuhan ini …’ batin Alya menjerit histeris, seluruh tubuhnya mendadak meremang hebat karena rasa familier yang teramat kuat.
Detik itu juga, sebuah hantaman memori mendadak meledak di dalam kepala mereka berdua secara bersamaan. Ingatan abu-abu tentang malam di kamar hotel VIP yang semula terkunci rapat oleh kabut alkohol, tiba-tiba pulih setengah jalan seiring dengan kontak fisik mereka di atas kasur ini.
Alya mengingat sekelebat bayangan malam itu secara nyata, bagaimana dia dengan liar merobek kancing kemeja Arga di depan pintu kamar, bagaimana kulit dada pria ini terasa sangat hangat saat dia peluk dengan putus asa, dan bagaimana desahan nikmatnya sendiri lolos dari bibir saat tangan kekar Arga meremas pinggang rampingnya di bawah selimut tirai sutra.
‘Kami … kami berdua malam itu benar-benar sudah melangkah sejauh ini?’ ratap Alya di dalam batinnya dengan mata yang membelalak lebar karena syok setengah mati.
Arga pun tampak membeku di bawah tubuh Alya, sepasang mata elangnya mendadak menggelap pekat dipenuhi oleh gejolak obsesi dan gairah dewasa yang kian menegang. Tangan kiri Arga yang bebas perlahan bergerak naik, mencengkeram pinggang Alya dengan cengkeraman nakal yang sangat dominan, persis seperti gerakan yang dia lakukan di malam hotel itu.
“Kamu … sudah mengingatnya, Alya?” bisik Arga dengan suara baritonnya yang berubah menjadi sangat serak, berat, dan dipenuhi gairah terlarang yang membakar.
Alya menahan napasnya, dadanya yang naik-turun hebat bergesekan langsung dengan dada berotot Arga setiap kali pria itu berbicara. “Pak Arga … lepaskan saya … ini di rumah sakit.”
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu menjawab pertanyaanku,” ancam Arga dengan nada menekan yang sangat seksi, memajukan wajahnya hingga bibir tebalnya hampir bersentuhan dengan bibir Alya yang gemetar. “Malam itu kita hampir menyatu, Alya. Dan sekarang kamu tahu kalau aku tidak membohongimu.”
Wajah Alya memerah padam sempurna sampai ke lehernya. Sisi terliarnya menuntutnya untuk menyerah pada pesona gagah sang CEO yang sedang menguncinya dalam ketegangan seksual yang teramat panas ini. Namun, sebelum situasi di atas ranjang VIP itu melangkah semakin jauh melintasi batas kontrak kerja mereka, suara langkah kaki sepatu pantofel yang tegas mendadak terdengar mendekat dari balik lorong luar.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar VIP nomor 911 tiba-tiba didorong terbuka secara kasar tanpa menunggu izin dari dalam. Seorang pria paruh baya berbadan tambun dengan setelan jas kerja yang mewah melangkah masuk dengan senyuman sinis yang terukir jelas di wajahnya yang kaku. Itu adalah Pak Haryo, sang Direktur Pemasaran.
“Wah, maaf mengganggu waktu istirahat Anda yang berharga, Pak CEO baru,” seru Pak Haryo dengan nada suara yang terdengar sangat mencurigakan dan penuh sindiran tajam saat matanya menangkap posisi canggung Arga dan Alya yang sedang terburu-buru memisahkan diri di atas kasur.
Alya langsung melompat turun dari ranjang dengan jantung yang berdegup gila-gilaan karena ketakutan, sementara Arga bangkit duduk dengan ekspresi wajah yang seketika berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan memancarkan wibawa pembunuh yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
“Ada perlu apa datang ke mari tanpa izin sekretaris saya, Paman Haryo?” tanya Arga dengan suara berat yang menekan.
Alya tersentak di posisinya, monolog batinnya mendadak berantakan mendengar panggilan itu. ‘Paman? Jadi Pak Haryo ini masih kerabat dekat Keluarga Mahendra?’
Haryo terkekeh rendah, melangkah maju mendekati ranjang Arga tanpa memedulikan tatapan membunuh dari keponakannya sendiri. “Kakekmu yang menyuruhku memeriksa keadaanmu, Arga. Beliau cemas mendengar cucu kesayangannya nekat menerobos api demi menyelamatkan seorang staf lab biasa … atau mungkin, ada hubungan rahasia yang sedang kalian sembunyikan dari keluarga besar Mahendra?”
“Aroma bawangnya jangan sampai terlalu gosong, Alya,” instruksi Arga dari ambang pintu dapur, suaranya terdengar datar.Alya yang sedang mengaduk ulekan bumbu pasta di atas wajan penggorengan hanya mendengus pelan tanpa menoleh. “Saya tahu, Pak. Saya sudah biasa bekerja di laboratorium riset, jadi takaran kematangan bumbu rumahan seperti ini sudah di luar kepala saya.”Begitu mereka tiba kembali di apartemen mewah pusat kota setelah drama belanja tadi, Arga langsung menaruh kantong belanjaan di atas meja marmer. Pria tegap itu tidak banyak bicara lagi. Aura dingin dan kaku yang sempat muncul akibat telepon misterius di parkiran bawah tanah tadi seolah masih melekat erat di wajah tegas sang CEO.‘Siapa sebenarnya pengganggu yang menelponnya tadi? Kenapa dia harus memasang wajah semenakutkan itu kalau itu cuma telepon iseng biasa?’ batin Alya seraya memasukkan potongan ayam filet ke dalam tumisan bumbu pasta yang mulai menguar wangi pekat.Rasa penasaran yang besar terus mengusik logika
“Pak Arga, kalau ada orang yang kita kenal ke tempat ini dan menemukan kita sedang bersama, bagaimana?” bisik Alya sambil celingukan menatap koridor supermarket yang cukup ramai.Sejak tadi memilih-milih kol dan daun bawang di area sayuran, Alya merasa ada sepasang mata yang terus mengikuti pergerakan mereka. Bulu kuduknya meremang pelan. Dia cemas setengah mati jika akal-akalan mereka untuk menyembunyikan hubungan ini dari anak-anak kantor mendadak gagal total malam ini.Arga mengambil sebotol kecap manis dari rak depan, lalu menaruhnya ke dalam troli dengan gerakan santai. “Tidak apa-apa. Di luar jam kantor, statusmu kan memang kekasihku.”“Tapi bagaimana kalau yang melihat itu teman sekantorku, sedivisiku?” kejar Alya lagi, suaranya naik satu nada karena merasa jawaban Arga ter
“Sepuluh tahun lalu? Memangnya Pak Arga masih ingat bagaimana rasanya? Warung Nenek kan hanya warung kecil pinggir jalan,” kata Alya sambil menatap sang CEO dengan dahi berkerut tidak percaya.Arga tidak langsung berbalik, tangan kirinya yang bebas mengambil sebuah mangkuk kosong dari rak atas dengan gerakan santai. “Apakah kau sedang meragukanku, Karyawan Kecil? Ingatanku ini sangat baik, terutama untuk rasa makanan yang belum pernah kutemui tandingannya di tempat lain.”‘Sombong sekali. Padahal dulu dia sendiri yang bilang kalau memori malam hotel kami saja dia tidak ingat bersih,’ gerutu Alya di dalam batinnya yang masih dirundung rasa canggung yang tebal.Alya menghela napas panjang, melangkah mendekati gantungan kain di sudut dapur marmer. “Baiklah, saya akan menuruti k
“Besok pagi kamu sudah harus mulai menjelaskan rencana kerja ke anggota tim tugasmu, Alya,” kata Arga seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja laboratorium baja yang bersih.Alya yang sedang mengelap sisa cairan tabung reaksi hanya mengangguk kaku tanpa menoleh. “Baik, Pak. Apakah besok saya juga harus menyeleksi staf dari divisi riset bumbu untuk masuk ke kelompok saya?”“Tidak perlu, anggota tim sudah kusiapkan,” jawab Arga dengan nada suara yang berat. “Kau tidak perlu repot-repot mencarinya lagi ke kubikel lain. Mereka semua sudah kuseleksi secara ketat dari berkas harian sebelumnya.”“Terima kasih, Pak,” cicit Alya pendek.Alya segera menyelesaikan catatan formula bumbu pasta di bukunya, lalu mulai bergerak cepat membersihkan meja laboratorium menggunakan kain lap basah. Rasa canggung yang teramat pekat akibat kejadian memalukan soal salah paham tadi masih membuat wajah Alya terasa hangat setiap kali mengingatnya. Dia memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat demi menjaga s
“Sedikit lagi selesai, aku harus cepat pulang sebelum dia datang,” gumam Alya seraya menuangkan ekstrak rempah pekat ke dalam tabung kaca laboratorium.Jarum jam di dinding laboratorium ekstraksi bumbu sudah melewati pukul lima sore. Suasana ruangan yang hangat karena mesin pemanas distilasi terasa begitu sunyi setelah seluruh staf riset pulang ke rumah masing-masing.Alya bergerak cekatan mencampur formula bumbu pasta dasar mi nyemek, memacu gerakannya agar seluruh jatah lembur hukumannya bersih sebelum siluet tegap sang CEO mendobrak pintu.‘Kalau formula ini selesai lebih awal, aku punya alasan masuk akal untuk segera kabur dari gedung ini,’ batin Alya sambil menutup tangki steril dengan terburu-buru.“Kamu terburu-buru sekali, Kary
“Lihat grafik merah ini, penjualan kita tertinggal dua puluh persen di bawah grup sebelah,” kata Arga seraya mengetuk layar proyektor dengan pulpen hitamnya.Alya mengambil posisi duduk di barisan kursi paling belakang aula kecil lantai satu. Suasana ruangan ber-AC dingin ini mendadak terasa pengap oleh kepanikan puluhan staf divisi riset. Di depan meja rapat, Arga berdiri tegap tanpa jas, hanya dengan kemeja hitamnya, memaparkan tumpukan angka kerugian dengan sepasang mata elang yang menatap tajam.‘Dia beneran kelihatan galak sekali siang ini,’ batin Alya sambil meremas ujung kemejanya.“Kalau terus begini, produk baru kita bulan depan tidak akan punya ruang di rak supermarket besar,” lanjut Arga dengan nada suara yang berat dan kembali berwibawa menekan. “Kali ini, kita harus mengambil alih posisi unggul. Tidak ada rencana cadangan.”Seorang staf pria di samping Alya tiba-tiba mendekatkan kepalanya, berbisik dengan nada sangat lirih. “Eh, logikanya, kalau jualan merosot, bukankah s







