Masuk“Uang sogokan ratusan juta itu sudah masuk ke rekening bank milikmu sejak kemarin, kan, Alya?” suara manja Ratih yang teramat dingin dan penuh keangkuhan seorang nyonya besar seketika menggema di seberang telepon, langsung merusak ketenangan malam Alya. “Sekarang, Ibu menagih bukti nyata malam ini juga. Jangan harap kamu bisa bersenang-senang di dalam gedung kantor pusat itu jika kamu belum memutuskan semua hubunganmu dan pergi menjauh dari si
Alya menahan jeritannya kuat-kuat saat punggung mungilnya tiba-tiba membentur lemari arsip kayu yang kokoh di balik barisan rak besi gantung. Dorongan tegap dari tubuh Arga mengunci pergerakannya sepenuhnya di sudut ruangan yang remang. Map draf laporan laboratorium yang sejak tadi didekapnya terlepas begitu saja, jatuh terhempas tanpa suara ke atas tumpukan berkas usang di lantai.“Pak Arga, lepas! Apa-apaan ini?!” bisik Alya setengah berteriak seraya mendorong dada bidang Arga dengan kedua telapak tangannya yang sedingin es.Arga tidak bergeming satu milimeter pun. Pria itu justru menumpu tangan kirinya ke dinding kayu di samping kepala Alya, memangkas habis ruang gerak wanita itu hingga aroma parfum tembakau mahalnya kembali mengurung panca indra Alya. Sepasang mata elangnya menatap tajam lurus ke dalam manik mata bulat Alya dengan
“Uang sogokan ratusan juta itu sudah masuk ke rekening bank milikmu sejak kemarin, kan, Alya?” suara manja Ratih yang teramat dingin dan penuh keangkuhan seorang nyonya besar seketika menggema di seberang telepon, langsung merusak ketenangan malam Alya. “Sekarang, Ibu menagih bukti nyata malam ini juga. Jangan harap kamu bisa bersenang-senang di dalam gedung kantor pusat itu jika kamu belum memutuskan semua hubunganmu dan pergi menjauh dari sisi Arga selamanya!”Alya mencengkeram ponselnya erat-erat, matanya menatap langit-langit kamar hotel yang temaram dengan kilat amarah yang tertahan. Rasa kesal kepada wanita yang melahirkannya itu membuat ulu hatinya terasa sangat panas.“Uang itu sudah kuterima, Ratih,” jawab Alya dengan nada ketat, sengaja memanggil nama ibunya tanpa embel-embel sebutan keluarga. “Aku memegang ka
Alya membeku kaku dalam kurungan sepasang lengan kokoh Arga. Kata-kata yang baru saja lolos dari bibir tebal pria itu berputar gila-gilaan di dalam kepalanya, membuat pasokan oksigen di dadanya mendadak menguap tanpa sisa. Aku mencintaimu. Kalimat itu terdengar begitu indah, namun di saat yang sama terasa seperti hantaman palu besar yang meremukkan seluruh benteng pertahanannya.‘Gila … ini beneran salah. Ini dosa besar,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika hancur lebur dirundung rasa takut yang luar biasa dahsyat.Rentetan kalimat ancaman Ratih di taman belakang rumah utama malam itu kembali berdenging kencang, menghancurkan sisa-sisa kebahagiaan yang sempat meletup di ulu hatinya. Status sebagai saudara tiri seperti belenggu tak kasat mata yang mencekik lehernya. Alya tahu, jika dia membalas perasaan pria di depannya ini, dia tidak hanya akan merusak harga dirinya sendiri, tetapi juga akan menyeret karier, nama baik, dan masa
“Saya hanya perlu waktu, Pak Arga!” jawab Alya setengah berteriak tepat di depan permukaan bibir tebal Arga yang mengunci ruang geraknya.Napas Alya memburu cepat, menerpa langsung rahang kokoh sang CEO yang berada terlampau dekat dengan wajahnya. “Kemarin malam saya sebenarnya berniat membalas pesan Anda dan menjelaskan semuanya. Tapi saya ketiduran saking capeknya setelah lembur dan membersihkan laboratorium R&D semalaman!”Alya memajukan sedikit wajahnya, menunjuk penampilannya sendiri dengan gerakan kesal. “Lihat penampilan saya sekarang! Rambut saya berantakan, baju saya kusut, bahkan kantung mata saya tebal sekali karena semalam hanya bisa tidur sebentar dan sangat lelah sekali! Saya bukan robot yang bisa Anda todong pekerjaan harian dan urusan pribadi sekaligus!”Arga t
Alya melangkah kaku melewati pintu jati besar ruang kerja CEO, memeluk erat map draf laporan laboratorium Nusantara Premium di depan dadanya. Begitu kakinya menapak di atas lantai karpet tebal, terdengar bunyi klik pelan dari luar. Sekretaris Doni benar-benar mengunci pintu itu sesuai perintah. Suasana ruangan luas ber-AC dingin ini mendadak terasa teramat sunyi sepi, menyergap seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Alya hingga kepalanya mendadak pening karena gugup.‘Sial, dia benar-benar mengunci pintunya dari luar. Ruangan ini kedap suara, apa pun yang terjadi di sini tidak akan ada orang luar yang tahu,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika didera rasa cemas yang teramat menghimpit ulu hati.Alya mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru ruangan, namun dia tidak melihat siluet tubuh tegap Arga di balik meja kerja marmer hitam. Tepa
Alya terbangun dengan rambut yang berantakan di atas bantal putih hote. Begitu kesadarannya terkumpul, hal pertama yang dia rasakan adalah getaran berulang kali dari gawai di samping kepalanya karena alarm. Dengan mata yang masih sepet, Alya menyalakan layar ponselnya yang semalam sempat mati total.Ada tiga buah pesan beruntun dari Arga Mahendra yang dikirim sejak pukul tiga subuh tadi.Pesan pertama:‘Alya, aku masih menunggu jawabanmu.’Pesan kedua:‘Kalau kamu memang membutuhkan waktu sendiri, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu untuk pulang ke apartemen.’Pesan ketiga:‘Tapi j







