LOGIN“Wah, ide yang sangat bagus, Mbak Maya! Kebetulan aku tahu ada tempat makan yang sangat enak di dekat jalan protokol depan kantor!” timpal Sinta ikut menyetujui dengan nada suara yang melengking rendah.
Alya sempat terdiam sesaat. ‘Aduh, sebenarnya badanku masih agak lemas karena sisa datang bulan semalam. Lagian aku juga harus buru-buru pergi menemui agen properti untuk urusan deal apartemen baruk
“Karena situasi darurat itulah, aku terpaksa bertindak terus tegas dan menekan keras kepada kalian semua, khususnya anak buah di divisi R&D,” sambung Arga dengan helaan napas pendek. “Tolong sampaikan permohonan maafku ini juga kepada rekan-rekan divisi lain di bawah kubikel lantai empat jika tuntutan disiplinku dirasa terlalu kejam belakangan ini.”“Ah, tidak apa-apa, Pak Arga! Sungguh tidak ada masalah bagi kami!” potong Rian. “Memang sudah menjadi kewajiban kami untuk bekerja keras, lagipula kantor pusat kan juga membayar uang lembur dan tunjangan kami dengan sangat lumayan untuk ini.”“Iya, betul, Pak. Kami malah senang kalau proyeknya cepat jalan,” timpal Maya ikut mencairkan suasana kaku.Alya menurunkan gelasnya, lalu memberenikan diri menatap lu
“Bapak jangan berlebihan begitu,” jawab Alya sambil memundurkan tubuhnya setapak dari dinding marmer koridor restoran yang dingin.Napas Alya memburu kecil akibat kedekatan fisik mereka yang mendadak. Tatapan mata elang Arga terasa begitu mengunci, memojokkannya di dekat lorong tangga darurat yang sunyi.“Kan saya sudah bilang sebelumnya, Pak Arga juga sudah tahu sendiri alasan saya tidak mau lagi merepotkan Anda,” ketat Alya berkata seraya meremas ponsel retak di genggamannya.‘Sialan, kenapa dia terus mengikutiku,’ ratap Alya dalam batinnya yang didera cemas.Arga turut mendengus rendah, rahang tegasnya mengeras kokoh sebelum akhirnya dia menarik tubuh tegapnya mundur satu langkah. “Aku memang sudah tahu kalau karyawan kecilku ini sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku.”“Baguslah kalau Anda sudah paham, Pak,” jawab Alya pendek demi menjaga harga dirinya yang tersisa.“Kalau begitu, apartemen mana yang akan kamu tinggali, hm?” kejar Arga seraya menatap lurus ke dalam manik mata Alya
“Mbak Alya, ini beneran kita disetirin sama Pak Bos Besar?” bisik Sinta sambil memajukan kepalanya dari kursi belakang mobil sedan mewah Arga.Alya menahan napasnya, meremas tas kain di pangkuannya dengan tangan yang sedingin es. Suasana di dalam kabin mobil beraroma parfum tembakau mahal itu terasa sangat menekan ulu hatinya sejak mereka meninggalkan pelataran parkir kantor pusat PT Rasa Nusantara Food.“Iya, Al. Sumpah, seumur-umur kerja di lab, baru kali ini aku merasakan disupirin langsung sama CEO perusahaan,” sahut Rian ikut berbisik dari sudut kanan kursi belakang, wajahnya tampak kaku menahan panik.Maya ikut menimpali dengan suara yang teramat lirih. “Kalian berdua bisa diam tidak? Kalau Pak Arga dengar, bisa habis kita.”Alya melirik kaku ke arah Arga yang sedang fokus mengemudikan setir di sampingnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Rasa canggung yang teramat tebal membuat Alya harus segera memutar otak mencari kalimat akal-akalan agar teman-temannya tidak mencium hubunga
“Wah, ide yang sangat bagus, Mbak Maya! Kebetulan aku tahu ada tempat makan yang sangat enak di dekat jalan protokol depan kantor!” timpal Sinta ikut menyetujui dengan nada suara yang melengking rendah.Alya sempat terdiam sesaat. ‘Aduh, sebenarnya badanku masih agak lemas karena sisa datang bulan semalam. Lagian aku juga harus buru-buru pergi menemui agen properti untuk urusan deal apartemen baruku itu agar pelarianku dari Pak Arga berjalan lancar,’ keluh Alya dalam hati dengan dahi berkerut cemas.“Ayo dong, Al! Kamu kan ketua tim tugas kita, masa ketua timnya malah tidak ikut bergabung?” desak Rian seraya memelas.Melihat binar wajah penuh harapan dari ketiga rekan kerjanya yang sudah bersusah payah selalu membantunya, Alya akhirnya tidak tega untuk menolak. Dia menghela napas
“Dengan ini, draf rencana kerja dan hasil riset formula baru dari kelompok staf Alya Paramita resmi disetujui tanpa ada perubahan lagi,” suara ketukan palu dari pimpinan rapat di ujung meja oval terdengar sangat nyaring.Alya langsung mengembuskan napas panjang, meremas jemarinya yang semula sedingin es di bawah meja rapat direksi. Beban berat yang menghimpit dadanya sejak semalam seketika menguap habis.“Hasil uji ketahanan aroma dan takaran bumbu pasta dari tim Nusantara Premium ini sudah benar-benar matang dan memuaskan,” kata Arga seraya menutup dokumen laporan di depannya dengan gerakan tegap yang berwibawa. “Langkah selanjutnya, seluruh draf resep otentik ini bisa langsung dikirim ke bagian pabrik pusat produksi sore ini juga agar proses pembuatan pengemasan massal segera dimulai.”
“Saya sedang tidak butuh penjelasan apa-apa lagi sekarang, Pak Arga!” potong Alya tanpa bertele-tele lagi. Dia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah pintu keluar. “Saya sangat berterima kasih karena Anda sudah mau repot-repot membelikan obat herbal dan semua keperluan pribadi saya. Tapi sekarang, tolong Pak Arga segera pergi meninggalkan kamar hotel saya ini. Saya benar-benar butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran.”Arga mematung kaku di tepi kasur, memperhatikan gurat lelah dan lingkaran hitam di bawah kelopak mata bulat Alya yang tampak sangat kuyu.“Saya harus memulihkan kondisi fisik tubuh saya,” lanjut Alya dengan helaan napas pendek. “Sebab besok pagi saya harus sudah kembali masuk bekerja ke laboratorium R&D, dan saya harus bersiap untuk bekerja secara berkali-kali lipat lebih bersungguh-sungguh de







