LOGINDevan terdiam, akan tetapi ekspresi wajahnya berubah. Hanya sedetik, selanjutnya kembali tenang. Citra melangkah sedikit lebih dekat. "Benarkah?” Devan berdecih pelan. “Jangan terlalu percaya diri.” Citra mengerutkan dahinya, mendengar decakan mengejek dari mulut Devan. Seperti biasa laki-laki selalu seperti ini! “Jangan mengira semua keputusan yang kuambil ada hubungannya denganmu.” Nada suara Devan terdengar datar, tetapi cukup menusuk. Devan kembali mengarahkan pandangannya pada layar laptop. Membiarkan keheningan sesaat mengisi suara ruang kerjanya malam ini. “Bonus mereka dibatalkan karena mereka melanggar peraturan perusahaan.” Citra masih berdiri di tempatnya, menatap Devan dan akhirnya membuka suaranya. “Melanggar peraturan?” “Ya.” Devan menjawab singkat seraya mengetukkan jarinya pelan di atas meja. "Jam kerja digunakan untuk bekerja. Bukan bermain ponsel lalu bergosip di grup perusahaan.” Devan melanjutkan dengan nada dinginnya. “Kalau mereka punya waktu u
TING! Suara notifikasi pesan beruntun terdengar memenuhi keheningan kamar utama vila Devan. Citra yang sedang menyisir rambutnya seketika menoleh ke arah benda pipih di atas meja rias. Dia membuka dan melihat siapa pengirim pesan beruntun tersebut. Dan ternyata pesan itu dari grup divisi 2. "Gila! Bonus kita batal dicairin?" "Aku sih dengernya gitu dari Pak Johan tadi sore sebelum pulang." "Kenapa begitu? Padahal itu bonus yang ku tunggu loh." "Aku gtw alasannya apa. Tapi kayaknya ada hubungannya sama Citra deh." Citra mengerutkan dahinya membaca namanya kembali disebut. Karenanya? Padahal dia saja tidak tahu jika bonus staf divisi 2 dibatalkan. "Kayaknya Pak Devan tahu kita ngomongin istrinya, makanya bonus kita dibatalin." "Dasar pengadu!" "Lumayan itu 10juta per orang, duh jadi gak bisa shopping deh." Citra tak tahu pasti apa penyebabnya, tapi yang dia tangkap dari isi percakapan grup itu adalah Devan melakukan itu untuknya. Benarkah? Sampai segitunya dia me
“Baik, Kak. Kalau begitu a—” KLIK! Ucapan Kaila terpotong saat suara pintu ruangan Devan terbuka dari luar. Citra masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. Namun baru beberapa langkah, langkahnya langsung terhenti. Matanya tertuju pada Kaila yang masih berdiri di dalam ruangan Devan. Kaila? Kenapa dia masih berada di sini? Tidak! Lebih tepatnya, kenapa dia ada di ruangan Devan? Citra kemudian mengalihkan pandangannya kepada Devan. Dan seketika firasat buruk muncul dalam dirinya. Tatapan pria itu sangat dingin. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang membuat emosinya naik. Akan tetapi wajahnya masih terbalut topeng tenang. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu. Citra menelan ludah, menatap keduanya dengan bingung. “Ada apa?” Kaila menoleh kepada Devan, kemudian kepada Citra. Senyum manis kembali terpasang di wajahnya. "Kalau begitu aku pulang dulu, Kak.” Devan hanya mengangguk singkat. Tanpa menatap Kaila balik, sorot matanya masih tertuju pada Citra
Beberapa menit yang lalu... KLIK! "Kenapa lama sekali?" tanya Devan tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya. "Kak..." Devan mengernyit mendengar suara wanita, namun itu bukan suara Citra. Dia mendongak menatap pintu ruangannya, di sana berdiri seseorang– Adik sepupunya—Kaila. Kerutan di dahi Devan semakin dalam. Dia kira yang masuk ke dalam ruangannya adalah Citra, malah justru Kaila. "Kenapa kamu di sini? Bukankah seharusnya kamu di kampus?" tanyanya, matanya masih menatap Kaila intens. Kaila tersenyum manis, melangkah mendekat ke meja kerja Devan. "Aku mampir sebentar kak, sekalian makan siang di kantin perusahaan Kakak. Gak papa kan?" jawabnya setelah dia berhenti tepat di depan meja. "Gak masalah. Terserahmu saja." Devan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan serius. Ada Kaila di sini tak merubah keadaan apapun. Kaila sendiri menatap memuja Kakak sepupunya, saat-saat seperti ini yang membuat visual Devan semakin tampan. Tatapan serius dan rahang
Citra kembali ke ruangannya. Rasa lapar yang tadi sempat dia rasakan kini telah hilang sepenuhnya. Dia duduk diam di kursi kerjanya. Tatapannya kosong menatap layar komputer yang masih menyala. Rasa sesak di dadanya semakin terasa menyakitkan. Kenapa semuanya berubah begitu cepat? Kemarin mereka masih menyapanya. Masih tersenyum kepadanya dan mendukungnya. Sekarang? Mereka bahkan tak segan menyebutnya wanita gila harta. Dari mana datangnya gila harta? Dia sendiri kerja mati-matian hanya untuk menutup hutang almarhum orang tuanya. Dan dia juga terpaksa menerima tawaran pernikahan dari Devan, hanya karena dia memikirkan keselamatan adiknya. Bukan semata-mata karena harta yang dimiliki Devan. Terlepas dari itu... mahkota yang dia jaga selama ini, tak sengaja direnggut oleh Devan. Citra menggigit bibirnya. Merasa tidak ada siapa-siapa di sana, air matanya akhirnya jatuh. Satu tetes. Disusul tetes berikutnya. Di depan semua orang, Citra harus terlihat tegar. Namun ketika sendiri
"Kenapa? Kamu takut merindukanku?" Devan mendelik, "Omong kosong!" "Cih! Aku hanya ke kantin." ucap Citra. "Apa kamu akan membiarkan ku mati kelaparan di sini?" Ekspresi Devan melunak seketika. Lalu tatapannya kembali tertuju pada dokumen yang masih harus dia kerjakan. "Jangan lama." kata Devan sambil terus membolak balikan kertas dokumen. Astaga lihat! Bolehkah Citra sekarang merasa percaya diri bahwa Devan memang takut merindukannya? Atau tak ingin jauh-jauh darinya? Jangan terlalu berharap dan besar kepala! Citra mendengus, "iya... Tuan CEO!" Nada bicaranya seperti sedang mengejek. Citra langsung pergi sebelum pria itu menyemprotkan kata-kata mutiaranya dari mulut menyebalkan. Devan yang melihat itu, dari tatapannya saja sudah dipastikan jika dia sedang berpikir. Citra mulai berani ya? Begitu sampai di kantin, Citra langsung mengambil nampan. Dia memilih beberapa makanan sederhana, lalu mencari tempat duduk. Namun baru beberapa langkah, langkah Citra tiba-tiba







