Share

8. Tempat itu?

Author: Hydragea
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-22 18:03:38

TRING!

Sebuah notifikasi video masuk dari nomor tidak dikenal. Jantung Citra seakan berhenti berdetak saat menekan tombol putar.

Di meja kerjanya yang penuh tumpukan dokumen, tubuhnya mendadak membeku.

Video berdurasi lima detik itu menampilkan adiknya yang masih berseragam sekolah, sedang duduk santai di teras rumah neneknya di kampung.

Sudut pengambilan gambar yang jauh dan sedikit bergoyang dari dalam mobil seberang jalan menandakan seseorang sedang mengintai.

Sebuah pesan teks m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   15. Kehangatan Pagi Hari

    "Citra, bagaimana tidurmu malam ini?" Suara lembut dan hangat masuk ke indera pendengaran Citra. Citra yang baru saja duduk di meja makan pun menoleh ke pemilik suara itu. Ibu mertuanya — Imelda. "Cukup nyenyak, Mom," ucap Citra, sambil tersenyum manis. "Syukurlah, Nak." balas Imelda sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti lalu menaruhnya di piring Citra. "Makanlah Citra." Citra melebarkan matanya, "Astaga Mom... Terimakasih." Imelda hanya mengangguk ringan sebagai jawabannya. Dan kembali memakan sarapannya. Citra pun memakannya. Matanya mengedarkan pandangannya, di meja makan hanya ada ibu dan ayah mertuanya saja. Andre melihat Citra menoleh kesana kemari berkata dengan suara tegas sekaligus hangat. "Devan sudah pergi 30 menit yang lalu.

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   14. Hasrat Dalam Batas Dingin (21+)

    Citra berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas ujung gaun tidur sutra marunnya. Tatapan lapar Devan yang menggelap membuat atmosfer kamar terasa begitu sesak. Hening. "Kemari, Citra." Suara Devan berat dan serak, memecah keheningan. Citra melangkah ragu-ragu mendekati ranjang king size. "Aku... aku bingung harus bagaimana. Kita... kita kan hanya kontrak, Devan," jawab Citra dengan suara yang bergetar halus. Devan bangkit berdiri, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah polos Citra yang bersih dari riasan. Ibu jarinya mengusap bibir ranum Citra. "Kontrak itu mewajibkanmu melahirkan anak laki-laki untukku dalam dua tahun. Dan malam ini... aku datang untuk menagih hak mutlakku yang sempat tertunda kemarin

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   13. Wejangan Imelda

    "Sebenarnya Mommy ingin kamu dan Devan tinggal di sini selama beberapa hari lagi," ucap Imelda saat berjalan menaiki tangga lantai dua. Di sampingnya Citra menoleh pelan, binggung ingin membalas ucapan Ibu Devan bagaimana. "Tapi mau bagaimana lagi, Devan ingin tinggal sendiri. Sepertinya dia memang ingin belajar membina rumah tangga yang baik," lanjut Imelda. "Maaf, Mom. Saat Devan sudah membuat keputusan, akan sulit untuk diperdebatkan. Bukan begitu kan, Mom?" Suara Citra penuh penyesalan. Saat hampir selesai makan malam tadi, Imelda memberi saran agar Devan dan Citra tinggal saja di mansion, akan tetapi Devan menolak. Alasannya karena Devan ingin tinggal berdua dengan Citra saja. Setelah mengatakan itu, Devan langsung beranjak pergi ke kamarnya, karena ada pekerjaan mendadak. Meninggalkan Citra di kemewahan meja makan sendiri. Imelda dan Andre terus meneman

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   12. Topeng Di Balik Meja Makan

    "Bersikaplah layaknya pasangan yang saling mencintai. Paham, Citra?" Mendengar perkataan Devan, Citra mengangguk patuh. Dirinya menghembuskan nafas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar — gugup. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan berhadapan langsung dengan orang tua pria yang kini sah menjadi suaminya. Pintu ganda mansion terbuka. Devan melangkah masuk sambil menggandeng tangan Citra secara formal. Citra kini mengenakan gaun malam kasual berwarna pastel yang anggun, rambutnya disanggul cantik, dengan beberapa helai menjuntai di samping wajahnya yang dirias tipis. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya berwajah lembut namun sangat berkelas sedang berdiri dengan senyum lebar yang tulus. Imelda — Ibu Devan. Imelda berjalan cepat menghampiri Citra, langsung memegang kedua tangan Citra dengan hangat. ""Oh, Tuhan... Devan tidak berbohong. Kau benar-benar cantik sekali, Citra. Wajahmu sangat teduh." Citra tersenyum canggung, dia sediki

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   11. Pernikahan Yang Terekspos

    "D-Devan... Apa-apaan ini?!" Citra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Devan. Di sana terpampang foto pemberkatan mereka yang baru saja diambil beberapa menit lalu, lengkap dengan rilis pers resmi dari humas Sovereign Tax and Audit. [ BREAKING NEWS: Devan Baskara, Pendiri & CEO Sovereign Tax and Audit, Resmi Menikahi Citra Larasati Pagi Ini ] Citra berdiri dari kursi dengan tubuh gemetar karena marah. "Kau gila?! Kenapa kau mengumumkannya ke media?! Perjanjian kita ini kontrak dua tahun! Ekspektasiku ini akan menjadi pernikahan rahasia yang tidak diketahui siapa pun!" Suaranya meninggi. Devan tetap duduk dengan tenang di sofanya, menyilangkan kaki, lalu menatap Citra dengan tatapan mata elang yang dingin namun penuh kepemilikan mutlak. "Aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini, Citra," Devan menjawab enteng.

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   10. Janji Suci Pengikat

    "Kenapa?" tanya Citra dengan tatapan sayu. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dengan tatapan lapar yang tertahan. "Kenapa?" ulangnya. "Bisakah aku menganggap pertanyaanmu itu, karena kau menginginkan sesuatu yang lebih dariku?" Citra tersadar, kenapa dirinya malah menanyakan alasannya? "Bu-bukan seperti itu, aku hanya mengira kau sedang mempermainkanku! Walaupun aku hanya istri kontrak, tapi aku tak suka diduakan dan tak suka dikhianati!" Penjelasan Citra justru membuat Devan bungkam. Sekelebat ingatan masalalu terlintas, kejadian yang tak ingin Devan ingat dan Devan benci seumur hidupnya. "Aku tak berniat menduakan, karena aku tak percaya akan adanya cinta!" ucapnya dengan suara dingin. "Aku tak melanjutkannya karena ingin menikmatimu secara utuh tanpa terburu-buru. Aku akan menagih hak mutlakku atas tubuhmu ini... saat malam pengantin kita nanti," lanjutnya. Citra ber-oh ria. Dia hanya mengangguk patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Tak perlu, kau bisa istir

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status