LOGIN"Lau, yang benar saja. Ini sudah malam. " Reno menolak dengan cepat. Laura menundukkan kepalanya. Ia mengerucutkan bibirnya sambil mengelus perutnya. Melihat Laura, Reno tampak tak berdaya. Baru saja ia meminta maaf, sudah membuat hati Laura tersentak kembali. "Aku izin sama Ayah dan Ibu dulu. " Reno berkata dengan pasrah sebelum akhirnya berbalik dan mencari Johan dan Rina. Mata Laura berbinar. Ia menatap Keysa dengan senyuman yang merekah. Keysa ikut tersenyum, sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk menyentuh perut Laura. "Keponakanku ada-ada saja. " Reno kembali bersama Johan dan Rina. "Kalau itu kemauan Cucu Ayah, Ayah tak bisa menolaknya." Johan berkata dengan pasrah. "Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut. Bagaimanapun, tak baik bagi ibu hamil bepergian malam-malam begini. " Rina mengelus pundak Laura dengan lembut. "Jangan khawatir. Aku hanya ingin mencari angin segar. " Laura tersenyum sebelum akhirnya pergi dengan semangat. Laura dan Keysa baru saja mencapai ter
Malam telah tiba, Reno mengetuk pintu dengan sabar. Tangan kirinya tergantung di belakang memegangi sebuah buket bunga mawar merah. Ketika Johan membuka dan menyuruhnya masuk, tatapannya langsung tertuju pada Laura yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Reno berdehem pelan, lalu beranjak mendekati Laura yang tak bergeming. Melihat situasi itu, Keysa menyela dengan nada canggung. "Aku mau pinjam toiletnya, Om, Tante." Johan dan Rina saling bertukar pandang, lalu mengangguk paham. "Silakan, kami juga mau ke kamar dulu. " Keduanya melenggang meninggalkan dua insan yang tampak diam membisu. Reno mengangkat tangan kirinya, mengulurkan buket yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya. "Sebagai permintaan maaf." Laura mengerutkan keningnya, tatapannya tertuju pada setumpuk bunga mawar merah yang telah dirangkai rapi. "Maaf untuk apa?" "Untuk semua hal. Terutama yang terjadi akhir-akhir ini. " Reno menundukkan pandangannya. Matanya menyiratkan penyesalan yang menda
Laura dibantu Keysa untuk masuk ke dalam rumah. Penyerangan Arini masih menyisakan ketegangan. Membuat Laura yang masih sedikit syok berjalan dengan tatapan kosong. Setelah mereka duduk di ruang tamu, Keysa menggenggam tangan Laura. Ia tersenyum tulus sambil berkata dengan lembut. "Jangan terlalu banyak berfikir. Ada kami disini yang akan selalu berada dipihakmu." Laura tersenyum tipis dan tak mampu menjawabnya. Johan dan Rina menyaksikan apa yang terjadi diluar tadi. Rasa sedih dan tak berdaya membuat keduanya lemas melihat itu. Untungnya, Reno dapat dapat mencegahnya diwaktu yang tepat. Mereka akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Laura memalingkan wajah, kemudian memandangi wajah kedua orang tuanya yang tampak muram. Seketika ia merasa bersalah. Laura berkata dengan lirih. "Maaf, selalu membuat kalian khawatir. " Laura menunduk dan mengaitkan jari-jari tangannya. "Mana mungkin kami nggak khawatir. " Johan bergumam pelan, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Reno membawa Arini masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Raut wajahnya muram, matanya merah menahan emosi. Baru kali ini Arini melihat perubahan sikap suaminya yang sedang marah. Arini sampai bergidik dan berkali memohon ampun walau Reno tak menggubrisnya. Mobil berhenti di halaman rumah orangtuanya. Arini menghembuskan napas lega. Setidaknya, Reno tak membawanya ke kantor polisi sesuai ketakutannya. Namun belum sempat Arini merasakan tenang, Reno menyeretnya keluar dengan kasar. "Turun!" Selama lima tahun menikah, Arini baru melihat sifat arogan Reno. Ia tak pernah sekalipun mendapat perlakuan kasar seperti ini. "Reno, aku akan menjelaskan,," Belum sempat Arini berbicara, Reno dengan cepat menyelanya. "Cukup. Kita sudah bernegosiasi, namun kamu melewatkan kesempatan itu. " Mendengar ada keributan, Sofyan dan Feli bergegas keluar untuk memastikannya. "Ada apa ini?" Sofyan dengan tegas, mendekati mereka yang bertengkar di luar
Saat berjalan, Keysa menarik Laura agar duduk di kursi taman yang tak jauh sana. "Kakak tunggu disini, aku akan segera kembali. " Keysa berbalik meninggalkan Laura yang masih diam tanpa ekspresi. Setelah beberapa saat, dia kembali dengan membawa sebotol air mineral ditangannya. "Kak Laura, minumlah dulu. " Laura menerimanya dan meninum sedikit air itu. Setelah merasa lebih baik, Laura baru membuka mulutnya. "Mengapa kamu tiba-tiba bisa ada disini?" Keysa tersenyum. "Aku mau mengunjungimu ke rumah Pak Johan. Tapi nggak sengaja melihatmu berjalan keluar, jadi aku terpaksa mengikutimu. " Laura menghembuskan napas pasrah. "Jadi kamu sudah mendengar semuanya?" Keysa mengangguk tanpa ragu. "Aku tak menyangka hidupku begitu rumit. Orang yang kupercaya dan kusayangi selama ini menancapkan duri begitu dalam. " Laura tersenyum getir. Pada akhirnya ia meluapkan kekesalannya dan tak ingin memendam lagi. "Aku mengerti. Ini nggak mudah bagimu. Tapi, alangkah baiknya jika
Menjelang sore, Laura merasa bosan. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah teman lamanya, Dina. Rumah Dina tak jauh darisana. Hanya cukup berjalan kurang dari 100 meter dari rumah orangtuanya. Menimbang perut Dina terlihat sudah membesar beberapa waktu yang lalu, Laura mengira jika temannya pasti sudah menggunakan waktu cuti kerja. Atau paling tidak, hari Sabtu biasanya kantor Reno buka setengah hari. Laura lebih bersemangat, ia berjalan dengan wajah berseri, bersiap mendengar beberapa cerita yang telah ia lewatkan beberapa bulan ini. Baru saja Laura sampai di gerbang rumah Dina, ia melihat Lastri keluar dan menutup pintu rumahnya. Lastri mendongak saat menyadari ada seseorang yang memasuki gerbangnya. Ketika menyadari Laura yang berjalan ke arahnya, wajahnya menjadi menegang. Laura tersenyum, menyapa Lastri yang masih diam membeku. "Sore, Tante. Lama tidak bertemu." Laura mengulurkan tangannya, hendak menyalaminya. Lastri hanya diam dengan wajah yang masih d
Laura keluar dari kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu. Ia memasuki kamar mandi untuk membilas wajahnya setelah menangis sejadinya setelah meluapkan emosinya. Ia tak tahu kemana arah tujuan yang harus ia lakukan. Posisinya sungguh serba salah. Apa ia harus bertindak sebagai seorang sahabat
"Nak Reno, apa yang terjadi?" Tanya Rina khawatir saat melihat raut wajah Reno. Mata Reno semakin berkaca, ia tak sanggup untuk berkata. Rina semakin mendekat, pergerakannya sedikit gusar, ia mendekat ke arah Reno untuk mendapat tanggapan atas kekhawatirannya. "Reno, kamu baik-baik saja, k
"Apa Laura sudah cerita? Siapa yang telah melakukan penyekapan terhadapnya?" Tanya Johan setelah menyesap teh jahe hangat di meja makan. Rina tampak celingukkan, ia melihat ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup dan merasa aman jika ia katakan pada suaminya ketika Reno masih berada di kama
Keysa menghembuskan napas lega saat Tari telah melenggang pergi meninggalkan Villa. "Hem, jadi seperti ini rasanya berada dalam sebuah masalah yang ditutup-tutupi." Ujar Keysa dengan pelan. Laura tersenyum. " Hidup itu sebuah drama. Terkadang, tidak semua orang harus tahu apa yang sedang terj







