Share

CHAPTER 11

Author: syffftrly
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-19 14:39:54

"Dimana?” tanya Serena dengan penuh antusiasme. Ia condongkan tubuhnya ke depan, setelah membaca buku yang membosankan selama hampir dua jam. Akhirnya, ia menemukan seseorang yang tahu sesuatu, meskipun hanya tentang tempat penyimpanan buku.

Delara, pria elf itu, hanya mengangkat alis tipis dan berkata, “Heh.” Ia menyandarkan dagunya di tangan dan bertanya, “Kenapa aku harus memberitahumu?” Antusiasme Serena langsung turun setengah. Benar juga, kenapa dia berharap banyak pada pria menyebalkan i
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 15

    "Ayah masih di perbatasan, kan? Kenapa tiba-tiba dia mau ke akademi?” Serena bertanya pada Alisa sambil memegang surat itu. Alisa mengangkat bahu. “Hm? Saya juga kurang tahu. Apa isi suratnya?"Serena tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkannya pada Alisa. “Baca saja sendiri."Alisa menerima surat itu dengan hati-hati. Matanya bergerak mengikuti barisan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan milik Grand Duke Draven Ashworth memang selalu terlihat tegas dan rapi, hampir seperti laporan militer daripada surat untuk putrinya sendiri.Beberapa saat kemudian Alisa mulai membacanya dengan suara pelan. “Bagaimana sekolahmu? Kuharap kamu tidak membuat masalah dan mempermalukan nama Ashworth.” Serena langsung memutar matanya. “Nah kan. Baru kalimat kedua sudah mulai menyebalkan."Alisa mengabaikan komentar itu dan melanjutkan membaca. “Apa kamu sudah bertemu para pewaris keluarga Grand Duke? Secara pribadi aku menyaranka

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 14

    Suara sayap gagak membuat Serena kaget. Seekor gagak hitam baru saja hinggap di jendela perpustakaan yang terbuka sedikit. Burung itu memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan ruangan.Serena yang masih membeku karena ucapan Lucifer akhirnya menoleh ke arah jendela. Saat itu, dia menyadari sesuatu. Langit sudah mulai gelap. Cahaya jingga matahari sore hampir menghilang sepenuhnya, digantikan warna biru tua yang perlahan menyelimuti langit akademi.Jantung Serena berdegup tidak nyaman. Terlambat. Kalau dia tidak segera kembali, Alisa pasti khawatir. Memikirkan Alisa membuat Serena sedikit merasa bersalah. Alisa selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tidak peduli berapa kali Serena mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, Alisa tetap menganggapnya gadis kecil yang perlu dijaga.Serena segera menarik tangannya dari genggaman Lucifer. Gerakannya cukup mendadak hingga pria itu sedikit terdiam. “Aku harus segera kembali ke asrama,”

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 13

    "Tidak, bagaimana kamu tahu tentang bumi?” Serena bertanya dengan nada penasaran. Dia menatap Lucifer dengan serius, tanpa mempedulikan bahwa pria di depannya adalah raja iblis. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.Lucifer hanya bersandar santai di kursinya, tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Hm?” jawabnya dengan santai. "Aku membaca buku,” tambahnya, membuat Serena semakin penasaran."Buku apa?” Serena bertanya dengan antusias, mendekatkan tubuhnya ke arah Lucifer. "Aku juga mau baca,” tambahnya, dengan mata amber yang berbinar penuh harapan.Lucifer tersenyum santai, namun jawabannya membuat Serena terkejut. “Yahh, sayangnya sudah kumakan." "Apa?” Serena berkedip bingung, tidak percaya apa yang didengarnya."Dimakan?” tanyanya lagi, dengan nada yang lebih tinggi. "Iya,” Lucifer mengangguk, seolah itu hal normal. “Aku ingat waktu naik tahta, aku mendapatkan buku itu. Tapi karena aku malas membaca, jadi langsung kumakan saja."Serena membeku, tidak percaya apa yang did

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 12

    Serena menelan ludah pelan. Jantungnya masih terasa tidak nyaman sejak Lucifer mengaku sebagai raja iblis. "Ya…” jawabnya lirih.Lucifer tersenyum tipis. Lalu, ia mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya sekali. Seketika, lingkaran hitam transparan muncul mengelilingi mereka. Lingkaran itu tipis dan hampir seperti kabut. Namun, Serena bisa merasakan udara di sekitar mereka berubah aneh. Suara perpustakaan mendadak terasa jauh, seolah mereka dipisahkan dari dunia luar. "Apa itu?” tanya Serena pelan."Penghalang kecil,” jawab Lucifer santai. “Supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kita." Serena langsung terdiam lagi. Pria ini benar-benar menggunakan sihir sesuka hati. Dan yang lebih menyeramkan… tidak ada seorang pun di perpustakaan yang menyadarinya.Lucifer menatap Serena cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi. “Yahh, aku diberitahu oleh seseorang.""Tentang apa?” tanya Serena. "Tentang kehidupan,” jawab Lucifer pelan. “Bahwa kehidupan ini tidak hanya ada satu." Tatapan me

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 11

    "Dimana?” tanya Serena dengan penuh antusiasme. Ia condongkan tubuhnya ke depan, setelah membaca buku yang membosankan selama hampir dua jam. Akhirnya, ia menemukan seseorang yang tahu sesuatu, meskipun hanya tentang tempat penyimpanan buku.Delara, pria elf itu, hanya mengangkat alis tipis dan berkata, “Heh.” Ia menyandarkan dagunya di tangan dan bertanya, “Kenapa aku harus memberitahumu?” Antusiasme Serena langsung turun setengah. Benar juga, kenapa dia berharap banyak pada pria menyebalkan ini?"Tak perlu,” kata suara familiar dari belakang Serena. Tubuhnya langsung menegang karena ia mengenali suara itu. Dan benar saja, Lucifer berdiri di belakang kursinya, dengan mata merah yang menatap tajam ke arah Delara. Aura dingin memenuhi meja kecil perpustakaan itu."Biar aku saja,” kata Lucifer santai sebelum duduk di samping Serena tanpa diminta. Serena membeku, kapan pria ini datang? Dan kenapa dia selalu muncul tiba-tiba seperti hantu kurang kerjaan?Delara menegang sesaat, dengan tat

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 10

    Keesokan harinya, Serena pergi ke perpustakaan akademi setelah selesai kelas. Kepalanya masih dipenuhi oleh ucapan Lucifer kemarin. Pria itu menyebutkan “Bumi” dengan sangat spesifik. Jika Lucifer hanya mengatakan “dunia lain", Serena mungkin bisa berpikir bahwa Lucifer sedang bercanda atau menebak secara asal. Tapi tidak, Lucifer menyebut “Bumi” secara langsung. Hal itu membuat Serena tidak bisa tenang.Serena sekarang berada di bagian paling belakang perpustakaan akademi, tempat yang jarang didatangi murid lain. Rak-rak kayu tinggi memenuhi ruangan besar itu, sementara aroma buku tua dan debu bercampur di udara. Sunyi, tenang, dan sedikit menyeramkan. Tempat ini persis seperti favorit kutu buku dan orang depresi memikirkan hidupnya.Serena membawa enam buku tua sekaligus ke mejanya, sebagian besar membahas tentang teori dunia lain, legenda kuno, dan fenomena reinkarnasi. Namun setelah hampir satu jam membaca, hasilnya nol besar. “Tidak ada…” gumam Serena pelan sambil membalik halam

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 9

    “Lalu aku harus bantu apa?”Serena meletakkan cangkir tehnya di atas meja kopi kecil di depan sofa.“Aku tidak bisa apa-apa kalau itu keputusan paman,” katanya dengan nada santai.Oliver menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan gerakan yang agak dramatis. Rambut pir

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 8

    "Yah, cukup untuk hari ini,” kata Lucifer sambil menjauh dari Serena.Tekanan aneh di udara perlahan menghilang, meskipun jantung Serena masih berdetak tidak nyaman. Pria itu kembali terlihat santai, seolah tidak pernah mengancam Serena dengan wajah dingin seperti iblis sungguhan."Mari,” kata Luci

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 7

    Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kec

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 1

    “Serena Ashworth.”Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status