MasukSuara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.
Serena langsung mengernyit kecil. Ia mendengar suara samar seseorang mendecih pelan di luar sebelum langkah kaki itu kembali menjauh dari koridor.
Entah orang itu pergi mengambil kunci. Atau menyerah begitu saja. Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, Serena mulai merasa ada yang aneh.
Tatapannya perlahan berpindah ke arah Lucifer. Pria itu masih berdiri santai di dekat jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Apa pria ini yang mengunci pintunya? Pikir Serena dalam hati.
Namun sebelum ia sempat menanyakannya, Lucifer lebih dulu membuka suara. “Bumi itu…” Suara rendah pria itu membuat Serena refleks menoleh. “...tempat seperti apa?”
Dunia seolah langsung membeku. Tubuh Serena menegang. Jantungnya berhenti berdetak sesaat sebelum kembali berdegup terlalu cepat. Bumi? Bagaimana dia tahu soal itu? Serena yakin. Sangat yakin.
Ia tidak pernah mengatakan tentang bumi kepada siapa pun di dunia ini. Tidak pada Alisa. Tidak pada Oliver. Tidak bahkan pada dirinya sendiri dengan suara keras. Karena itu rahasia. Rahasia paling mustahil yang bahkan terdengar gila.
Namun sekarang, pria di depannya mengucapkannya begitu saja. Mata merah Lucifer bertemu dengan mata amber Serena. Tatapannya tenang. Namun terasa terlalu tajam. Seolah sedang melihat jauh melewati tubuh Serena. Melihat sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat manusia biasa.
Pria ini jelas tahu sesuatu. Pikiran itu membuat tengkuk Serena merinding. Ia buru-buru membuang muka. “Aku tidak tahu apa maksudmu.” Jawabannya keluar terlalu cepat. Dan Serena sadar itu.
Sial. Jantungnya berdetak semakin tidak nyaman. Lucifer terdiam beberapa detik. Lalu terdengar gumaman pelan darinya. “Begitu…” Nada suaranya terdengar aneh. Tidak kecewa. Tidak marah. Malah seperti seseorang yang baru memastikan dugaannya benar.
Lucifer mulai berjalan mendekati Serena dengan langkah santai. Sementara Serena refleks mundur setengah langkah.
Pria itu berhenti tepat di dekat meja kanvas Serena. “Mau melukis apa?” tanyanya santai. Seolah pertanyaannya barusan tidak membuat Serena hampir terkena serangan jantung. “Aku... tidak tahu.” Jawaban Serena terdengar jauh lebih lirih dari biasanya. Ia berusaha terlihat normal. Namun pikirannya kacau. Siapa sebenarnya pria ini? Bagaimana dia tahu tentang bumi? Dan kenapa tatapannya terasa begitu menyeramkan sekarang?
Lucifer mengambil salah satu kuas di meja lalu memutarnya pelan di jarinya. “Jangan takut.” Serena langsung menatapnya lagi. “Aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada siapa pun.” Nada suara Lucifer rendah. Terlalu tenang. Dan justru itu yang membuat Serena semakin tidak nyaman.
Pria itu melangkah mendekat lagi. Satu langkah. Dua langkah. Sampai akhirnya Serena refleks menahan napas.
Wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa senti. Serena bisa melihat jelas mata merah Lucifer dari dekat. Indah. Namun dingin. Sangat dingin sampai terasa tidak manusiawi. “Aku hanya ingin kau mengingat satu hal,” bisik Lucifer pelan.
Suara rendahnya terdengar jauh lebih mengintimidasi dibanding teriakan. “Jika kau mencoba menghindariku…” Tatapan merah itu menatap lurus ke mata Serena. “...atau kabur dariku…” Jari Lucifer perlahan menyentuh ujung rambut hitam Serena. “...aku akan selalu menemukanmu, Serena.”
Dingin. Itu bukan peringatan biasa. Itu ancaman. Ancaman yang entah kenapa terasa sangat nyata. Tubuh Serena membeku. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan napasnya menjadi pendek. Lucifer tersenyum kecil melihat ekspresi Serena.
Lalu perlahan menjauh seolah tidak terjadi apa-apa. “Aneh sekali,” gumamnya santai sambil mengambil kuas lain. “padahal biasanya manusia langsung pingsan saat melihatku seperti itu.” “Hah?” Lucifer menoleh setengah. Namun kali ini senyumnya terlihat jauh lebih menyeramkan. “Tidak ada.”
Serena mengepalkan tangannya pelan. Naluri dalam dirinya berteriak untuk pergi dari ruangan ini sekarang juga. Namun anehnya, kakinya tidak bergerak sama sekali. Dan saat itu juga, untuk pertama kalinya sejak datang ke akademi, Serena benar-benar merasa dirinya berada dalam bahaya.
Hari-hari di akademi berlalu dengan cukup tenang. Setidaknya bagi Serena. Beberapa hari terakhir ini dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lucifer semakin sering muncul dalam kehidupannya. Mereka memang berada di kelas seni yang sama, tetapi pria itu seolah sengaja mencari alasan untuk selalu berada di dekatnya.Kadang Lucifer menunggunya di depan kelas. Kadang pria itu muncul di perpustakaan. Kadang bahkan sudah berdiri di depan asrama sebelum Serena selesai bersiap. Hari ini pun sama. Mereka sedang makan siang bersama di kantin akademi. Serena sibuk memotong steak di piringnya. Sementara Lucifer hanya duduk santai di hadapannya. Makanan di depannya hampir tidak tersentuh. Tatapan merahnya justru tertuju pada Serena. Memperhatikan setiap gerakan gadis itu."Jadi?” tanyanya. Serena mengangkat kepala. “Hm?” Lucifer menopang dagunya. “Kamu terlihat banyak berpikir.” Serena menusukkan garpu ke steaknya. “Oliver aneh banget akhir-akhir ini.” Lucifer tidak menjawab.
"Ayah masih di perbatasan, kan? Kenapa tiba-tiba dia mau ke akademi?” Serena bertanya pada Alisa sambil memegang surat itu. Alisa mengangkat bahu. “Hm? Saya juga kurang tahu. Apa isi suratnya?"Serena tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkannya pada Alisa. “Baca saja sendiri."Alisa menerima surat itu dengan hati-hati. Matanya bergerak mengikuti barisan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan milik Grand Duke Draven Ashworth memang selalu terlihat tegas dan rapi, hampir seperti laporan militer daripada surat untuk putrinya sendiri.Beberapa saat kemudian Alisa mulai membacanya dengan suara pelan. “Bagaimana sekolahmu? Kuharap kamu tidak membuat masalah dan mempermalukan nama Ashworth.” Serena langsung memutar matanya. “Nah kan. Baru kalimat kedua sudah mulai menyebalkan."Alisa mengabaikan komentar itu dan melanjutkan membaca. “Apa kamu sudah bertemu para pewaris keluarga Grand Duke? Secara pribadi aku menyaranka
Suara sayap gagak membuat Serena kaget. Seekor gagak hitam baru saja hinggap di jendela perpustakaan yang terbuka sedikit. Burung itu memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan ruangan.Serena yang masih membeku karena ucapan Lucifer akhirnya menoleh ke arah jendela. Saat itu, dia menyadari sesuatu. Langit sudah mulai gelap. Cahaya jingga matahari sore hampir menghilang sepenuhnya, digantikan warna biru tua yang perlahan menyelimuti langit akademi.Jantung Serena berdegup tidak nyaman. Terlambat. Kalau dia tidak segera kembali, Alisa pasti khawatir. Memikirkan Alisa membuat Serena sedikit merasa bersalah. Alisa selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tidak peduli berapa kali Serena mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, Alisa tetap menganggapnya gadis kecil yang perlu dijaga.Serena segera menarik tangannya dari genggaman Lucifer. Gerakannya cukup mendadak hingga pria itu sedikit terdiam. “Aku harus segera kembali ke asrama,”
"Tidak, bagaimana kamu tahu tentang bumi?” Serena bertanya dengan nada penasaran. Dia menatap Lucifer dengan serius, tanpa mempedulikan bahwa pria di depannya adalah raja iblis. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.Lucifer hanya bersandar santai di kursinya, tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Hm?” jawabnya dengan santai. "Aku membaca buku,” tambahnya, membuat Serena semakin penasaran."Buku apa?” Serena bertanya dengan antusias, mendekatkan tubuhnya ke arah Lucifer. "Aku juga mau baca,” tambahnya, dengan mata amber yang berbinar penuh harapan.Lucifer tersenyum santai, namun jawabannya membuat Serena terkejut. “Yahh, sayangnya sudah kumakan." "Apa?” Serena berkedip bingung, tidak percaya apa yang didengarnya."Dimakan?” tanyanya lagi, dengan nada yang lebih tinggi. "Iya,” Lucifer mengangguk, seolah itu hal normal. “Aku ingat waktu naik tahta, aku mendapatkan buku itu. Tapi karena aku malas membaca, jadi langsung kumakan saja."Serena membeku, tidak percaya apa yang did
Serena menelan ludah pelan. Jantungnya masih terasa tidak nyaman sejak Lucifer mengaku sebagai raja iblis. "Ya…” jawabnya lirih.Lucifer tersenyum tipis. Lalu, ia mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya sekali. Seketika, lingkaran hitam transparan muncul mengelilingi mereka. Lingkaran itu tipis dan hampir seperti kabut. Namun, Serena bisa merasakan udara di sekitar mereka berubah aneh. Suara perpustakaan mendadak terasa jauh, seolah mereka dipisahkan dari dunia luar. "Apa itu?” tanya Serena pelan."Penghalang kecil,” jawab Lucifer santai. “Supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kita." Serena langsung terdiam lagi. Pria ini benar-benar menggunakan sihir sesuka hati. Dan yang lebih menyeramkan… tidak ada seorang pun di perpustakaan yang menyadarinya.Lucifer menatap Serena cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi. “Yahh, aku diberitahu oleh seseorang.""Tentang apa?” tanya Serena. "Tentang kehidupan,” jawab Lucifer pelan. “Bahwa kehidupan ini tidak hanya ada satu." Tatapan me
"Dimana?” tanya Serena dengan penuh antusiasme. Ia condongkan tubuhnya ke depan, setelah membaca buku yang membosankan selama hampir dua jam. Akhirnya, ia menemukan seseorang yang tahu sesuatu, meskipun hanya tentang tempat penyimpanan buku.Delara, pria elf itu, hanya mengangkat alis tipis dan berkata, “Heh.” Ia menyandarkan dagunya di tangan dan bertanya, “Kenapa aku harus memberitahumu?” Antusiasme Serena langsung turun setengah. Benar juga, kenapa dia berharap banyak pada pria menyebalkan ini?"Tak perlu,” kata suara familiar dari belakang Serena. Tubuhnya langsung menegang karena ia mengenali suara itu. Dan benar saja, Lucifer berdiri di belakang kursinya, dengan mata merah yang menatap tajam ke arah Delara. Aura dingin memenuhi meja kecil perpustakaan itu."Biar aku saja,” kata Lucifer santai sebelum duduk di samping Serena tanpa diminta. Serena membeku, kapan pria ini datang? Dan kenapa dia selalu muncul tiba-tiba seperti hantu kurang kerjaan?Delara menegang sesaat, dengan tat
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasa
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masin
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain
"Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahk







