แชร์

CHAPTER 4

ผู้เขียน: syffftrly
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-31 21:25:18

Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. 

Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.

Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. 

Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.

Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” 

Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri."

"Guru-guru itu berniat mempermalukanku ya?” Serena menggigit rotinya pelan. “Karena aku masuk lewat orang dalam? Paman Donovan?” 

Alisa menatap Serena datar beberapa detik. “Tuan putri... Anda tetap membayar biaya akademi.” “Yah, ayah sih yang bayar.” “Itu masih tetap membayar."

Serena mendecih kecil. Tetap saja menyebalkan. Praktik sihir di hari pertama jelas bukan kabar baik untuk seseorang yang bahkan tidak bisa menggunakan mana dengan normal seperti dirinya. 

Akademi itu dipenuhi murid berbakat dari berbagai kerajaan. Lalu di tengah mereka... ada Serena Ashworth, putri Grand Duke, keponakan raja, dan bangsawan gagal yang tidak bisa memakai sihir. Benar-benar kombinasi yang suka dijadikan bahan gosip manusia tidak sibuk.

"Awal semester memang lebih fokus ke teori dasar dan praktik sihir,” jelas Alisa sambil meletakkan teh di depan Serena. “Tujuannya untuk mengukur kemampuan siswa supaya lebih mudah menentukan sistem pembelajaran berikutnya.” 

Serena berhenti makan sejenak, lalu menatap Alisa. “Lah iya juga.” “Hm?” “Kamu juga lulusan akademi."

Alisa tersenyum kecil. “Tepat sekali.” 

Setelah dipikir-pikir, Alisa Laurence memang wanita hebat. Dia bangsawan, cantik, pintar, lulusan akademi bergengsi, dan bahkan punya kemampuan sihir yang bagus. Namun, wanita itu malah memilih tinggal di wilayah utara yang penuh salju demi merawat anak sahabatnya. Serena terkadang masih sulit memahami keputusan itu.

"Kalau dipikir-pikir,” gumam Serena sambil menopang dagunya, “kamu sebenarnya bisa hidup lebih enak.” Alisa mengangkat alis. 

“Dan meninggalkan tuan putri sendirian?” Serena langsung diam. “Tidak lucu,” lanjut Alisa santai. Serena mendengus kecil, lalu kembali menggigit rotinya.

Namun beberapa detik kemudian, wajahnya kembali kesal. “Tapi tetap saja! Aku ini putri Grand Duke Ashworth.” Alisa sudah mulai bisa menebak arah omelan Serena. “Keponakan Raja Elarion!” lanjut gadis itu. “Kenapa para bangsawan rendahan itu berani sekali membicarakanku seperti itu?” Nada suaranya terdengar sangat tidak terima. Benar-benar seperti bangsawan manja.

Dan jujur saja... Serena sendiri sadar dirinya berubah. Kalau Serena kehidupan lamanya diperlakukan buruk sedikit saja, pasti langsung minta maaf sambil panik. Sekarang? Ia malah ingin melempar kursi ke kepala orang yang mengganggunya. Lingkungan memang mengerikan.

"Tuan putri,” kata Alisa sambil menahan tawa, “anda benar-benar terdengar seperti nona muda bangsawan sekarang.” “Aku memang bangsawan.” “Dan sangat sadar status.” “Tentu.” Jawaban Serena terlalu cepat sampai Alisa akhirnya benar-benar tertawa kecil.

"Memangnya kenapa kalau aku tidak punya sihir?” lanjut Serena sambil menyilangkan lengan. “Paman Donovan juga bilang tidak masalah selama aku tumbuh dengan baik.” 

“Itu karena yang mulia sangat menyayangi anda.” “Hm.” Serena terdiam sebentar, lalu kembali menggigit rotinya dengan kesal kecil yang belum hilang.

Melihat itu, Alisa tiba-tiba tersenyum lembut. “Kalau begitu tunjukkan saja bakat anda yang lain.” Serena menoleh. “Bakat lain?” “Anda pandai melukis.” Serena sedikit berkedip. “Kenapa tidak ikut kelas seni?” lanjut Alisa. “Anda selalu terlihat paling tenang saat melukis."

Serena terdiam beberapa detik. Melukis... Ia memang menyukainya. Baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang. Saat pikirannya berisik, tangannya selalu terasa lebih ringan kalau memegang kuas. 

“Hm...” Serena menyandar ke kursinya. “Kalau dipikir-pikir tidak buruk juga.” “Nah, benar kan?” “Daripada dipaksa praktik sihir lalu mempermalukan diri sendiri." Alisa terkekeh kecil lagi. 

Namun, tanpa Serena sadari Lucifer duduk santai di tepi atap dengan satu kaki menggantung. Angin malam membuat rambut peraknya bergerak pelan. Mata merahnya tertuju lurus pada jendela kamar Serena.

Dan sejak tadi... ia mendengar semuanya. “Melukis, ya...” gumamnya pelan. Lalu perlahan... senyum licik muncul di wajah tampannya. Seolah sebuah ide menarik baru saja muncul di kepalanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 6

    Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 5

    Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 4

    Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 3

    "Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahkan di bawah cahaya sore koridor akademi."Ah, Lucifer?” Oliver mengernyit bingung. “Apa maksudmu disingkirkan?"Lucifer terkekeh pelan. “Tolong jangan pura-pura polos, Pangeran.” Ia melirik ke arah koridor tempat Serena pergi beberapa saat lalu. “Kau kesal karena si bangsat itu mencoba mendekati Serena, kan?"Oliver langsung menghela napas kasar. “Tentu saja aku kesal.” Lucifer mengangkat bahu santai dan berkata, “Kalau begitu bunuh saja dia."Oliver menatapnya datar. “Kau ngomong seperti membunuh putra mahkota kerajaan lain itu hal biasa.” Lucifer mengangkat bahu lagi. “Memang bukan hal besar."Oliver kadang heran bagaimana Lucifer bisa bicara sesantai itu tentang pembunuhan. Wajahnya tampa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 2

    Setelah makan siang, Oliver mengantar Serena kembali ke kelasnya. Koridor akademi masih ramai dengan siswa yang berlalu-lalang sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-teman mereka. Oliver berjalan santai di samping Serena, sesekali menguap kecil. “Aku masih heran kenapa orang-orang bisa semangat belajar sampai sore begini,” katanya dengan gerutu."Kau sendiri pangeran kerajaan dan malah malas belajar,” jawab Serena. Oliver tertawa puas. “Aku tampan, itu cukup,” katanya dengan bangga. Serena menatap Oliver datar. “Kau benar-benar tidak tahu malu,” katanya dengan nada datar. Oliver justru tertawa puas mendengar itu.Untuk sesaat, Serena merasa sedikit lebih ringan. Setidaknya bersama Oliver, ia tidak perlu berpura-pura menjadi bangsawan sempurna yang anggun setiap waktu. Sesampainya di depan kelas, Oliver melambaikan tangan santai. “Nanti aku jemput lagi,” katanya. “Aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. “Aku tahu, tapi tetap akan kujemput,” kata Oliver dengan senyum.Sebelum S

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 1

    “Serena Ashworth.”Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangannya kembali turun tanpa drama apa pun. Ia menghela napas panjang pelan, rupanya ia masih teringat ucapan ayah. “Jangan mempermalukanku,” kata ayahnya sebelum ia dikirim ke akademi ini.Serena menatap papan tulis di depan kelas, tapi tidak benar-benar fokus mendengarkan penjelasan guru. Tangannya mengetuk meja pelan, masih ingat tatapan dingin ayahnya. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan hati-hati, hanya satu kalimat itu. “Jangan mempermalukanku.” Seolah keberadaannya memang hanya sebatas ancaman bagi nama keluarga mereka.Pelajaran berjalan lambat. Guru menjelaskan teori sihir dasar, sementara beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Api kecil muncul di ujung jari,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status