เข้าสู่ระบบ"Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.
Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahkan di bawah cahaya sore koridor akademi.
"Ah, Lucifer?” Oliver mengernyit bingung. “Apa maksudmu disingkirkan?"
Lucifer terkekeh pelan. “Tolong jangan pura-pura polos, Pangeran.” Ia melirik ke arah koridor tempat Serena pergi beberapa saat lalu. “Kau kesal karena si bangsat itu mencoba mendekati Serena, kan?"
Oliver langsung menghela napas kasar. “Tentu saja aku kesal.” Lucifer mengangkat bahu santai dan berkata, “Kalau begitu bunuh saja dia."
Oliver menatapnya datar. “Kau ngomong seperti membunuh putra mahkota kerajaan lain itu hal biasa.” Lucifer mengangkat bahu lagi. “Memang bukan hal besar."
Oliver kadang heran bagaimana Lucifer bisa bicara sesantai itu tentang pembunuhan. Wajahnya tampan dan sikapnya terlihat tenang, tapi isi kepalanya jelas bermasalah. Yang lebih aneh lagi, Lucifer cukup populer di akademi, entah karena wajahnya atau karena aura misterius yang selalu mengelilinginya.
"Kau serius?” tanya Oliver pelan. “Selalu,” jawab Lucifer.
Oliver berdecak kecil lalu bersandar di dinding koridor. “Seth itu putra mahkota Albagard. Kalau dia tiba-tiba mati di akademi, hubungan antar kerajaan bisa kacau.” Lucifer menyipitkan mata merahnya sedikit. “Dan?” tanyanya.
Oliver langsung menoleh. “Kau sengaja membuatku pusing, ya?” Lucifer malah tersenyum tipis. Tatapan merahnya kembali mengarah ke arah Serena pergi tadi. Diam beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat kecil. “Lagipula... aku juga tidak suka cara dia melihat Serena."
Oliver mengangkat alis. “Hm?” “Tidak ada,” jawab Lucifer terlalu cepat. Mencurigakan. Namun sebelum Oliver sempat bertanya lagi, Lucifer sudah mendorong tubuhnya dari dinding dan berjalan melewati Oliver begitu saja.
"Ke kelas,” kata Lucifer. “Kelas sudah selesai,” jawab Oliver. “Kalau begitu aku mau tidur,” kata Lucifer. “Kau benar-benar tidak punya masa depan,” Oliver menyindir. Lucifer hanya melambaikan tangan tanpa menoleh lagi.
Oliver memperhatikan punggung pria itu menjauh sambil menghela napas panjang. Teman sekelasnya itu memang aneh, sulit ditebak, dan kadang sedikit menyeramkan. Namun Oliver tidak tahu bahwa pria yang baru saja berbicara santai dengannya itu bukan manusia.
Di sisi lain akademi, Serena akhirnya sampai di area asrama bangsawan. Langit mulai berubah jingga. Udara dingin sore menyapu halaman akademi pelan saat Serena menaiki tangga menuju kamarnya. Begitu pintu kamar dibuka, aroma teh hangat langsung menyambutnya.
"Selamat datang kembali, tuan putri,” kata Alisa, maid pribadi Serena, dengan tersenyum lembut. Alisa berjalan mendekat lalu mengambil tas dari tangan Serena dengan gerakan terbiasa. “Bagaimana hari pertama anda?” tanyanya.
Serena langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil dekat jendela. “Melelahkan,” jawabnya. Alisa terkekeh kecil. “Sepertinya akademi tidak seburuk itu.” “Karena aku belum membakar siapa-siapa,” kata Serena dengan tersenyum.
Alisa tersenyum. “Itu perkembangan bagus.” Serena mendengus pelan lalu menyandarkan kepalanya ke sofa. Rasanya aneh. Hari pertamanya di akademi belum genap selesai, tapi terlalu banyak hal terjadi. Tatapan orang-orang, bisik-bisik soal dirinya, Seth yang tiba-tiba muncul.
Padahal Serena bahkan tidak benar-benar memperhatikan siapa orang itu. Serena mengerutkan alis sedikit. “Aneh,” gumamnya. “Ada masalah?” tanya Alisa sambil menuangkan teh. “Tidak,” jawab Serena cepat. Terlalu cepat.
Alisa meliriknya sebentar, tapi tidak memaksa bertanya lebih jauh. Ia sudah merawat Serena sejak kecil dan tahu persis kapan gadis itu mulai memikirkan sesuatu sendirian. “Tuan putri,” kata Alisa. “Meskipun yang mulia grand duke terdengar dingin... beliau tetap mengkhawatirkan anda."
Serena terdiam. Lalu tertawa kecil hambar. “Kalau itu bentuk khawatirnya, cara beliau benar-benar buruk.” Alisa tidak langsung membalas. Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan ayah dan anak yang terlalu rumit itu.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara kayu perapian yang terbakar pelan terdengar memenuhi kamar. Namun jauh di luar sana, di atap tertinggi gedung akademi, sepasang mata merah sedang memperhatikan jendela kamar Serena dalam diam. Dan senyum kecil perlahan muncul di wajah Lucifer. “Menarik...” gumamnya pelan.
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm
"Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahkan di bawah cahaya sore koridor akademi."Ah, Lucifer?” Oliver mengernyit bingung. “Apa maksudmu disingkirkan?"Lucifer terkekeh pelan. “Tolong jangan pura-pura polos, Pangeran.” Ia melirik ke arah koridor tempat Serena pergi beberapa saat lalu. “Kau kesal karena si bangsat itu mencoba mendekati Serena, kan?"Oliver langsung menghela napas kasar. “Tentu saja aku kesal.” Lucifer mengangkat bahu santai dan berkata, “Kalau begitu bunuh saja dia."Oliver menatapnya datar. “Kau ngomong seperti membunuh putra mahkota kerajaan lain itu hal biasa.” Lucifer mengangkat bahu lagi. “Memang bukan hal besar."Oliver kadang heran bagaimana Lucifer bisa bicara sesantai itu tentang pembunuhan. Wajahnya tampa
Setelah makan siang, Oliver mengantar Serena kembali ke kelasnya. Koridor akademi masih ramai dengan siswa yang berlalu-lalang sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-teman mereka. Oliver berjalan santai di samping Serena, sesekali menguap kecil. “Aku masih heran kenapa orang-orang bisa semangat belajar sampai sore begini,” katanya dengan gerutu."Kau sendiri pangeran kerajaan dan malah malas belajar,” jawab Serena. Oliver tertawa puas. “Aku tampan, itu cukup,” katanya dengan bangga. Serena menatap Oliver datar. “Kau benar-benar tidak tahu malu,” katanya dengan nada datar. Oliver justru tertawa puas mendengar itu.Untuk sesaat, Serena merasa sedikit lebih ringan. Setidaknya bersama Oliver, ia tidak perlu berpura-pura menjadi bangsawan sempurna yang anggun setiap waktu. Sesampainya di depan kelas, Oliver melambaikan tangan santai. “Nanti aku jemput lagi,” katanya. “Aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. “Aku tahu, tapi tetap akan kujemput,” kata Oliver dengan senyum.Sebelum S
“Serena Ashworth.”Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangannya kembali turun tanpa drama apa pun. Ia menghela napas panjang pelan, rupanya ia masih teringat ucapan ayah. “Jangan mempermalukanku,” kata ayahnya sebelum ia dikirim ke akademi ini.Serena menatap papan tulis di depan kelas, tapi tidak benar-benar fokus mendengarkan penjelasan guru. Tangannya mengetuk meja pelan, masih ingat tatapan dingin ayahnya. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan hati-hati, hanya satu kalimat itu. “Jangan mempermalukanku.” Seolah keberadaannya memang hanya sebatas ancaman bagi nama keluarga mereka.Pelajaran berjalan lambat. Guru menjelaskan teori sihir dasar, sementara beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Api kecil muncul di ujung jari,







