MasukSerena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.
Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya.
“Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.
"Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat,
“Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu tergambar sosok Draven Ashworth mengenakan full armor hitam, pedang besar berada di tangannya sementara salju dan api memenuhi latar belakang lukisan. Di depannya berdiri sosok monster besar bertanduk hitam dengan aura menyeramkan, namun wajah monster itu tidak terlihat jelas, tertutup bayangan gelap.
"Ya,” jawab Lucifer santai, “aku melukis Grand Duke Ashworth.” Serena terus menatap lukisan itu beberapa detik, jujur saja, bagus, sangat bagus. Cara Lucifer melukis terasa hidup, bahkan aura dingin Draven terasa keluar dari lukisan itu sendiri. Dan entah kenapa, sosok ayahnya terlihat jauh lebih mengintimidasi di sana.
“Ohhh...” gumam Serena pelan, “keren banget ya lukisanmu.” Lucifer menoleh sedikit, “Aku suka artstyle-mu.” “Terima kasih,” jawabnya singkat, namun matanya masih terus memperhatikan Serena, mengamati setiap reaksi kecil gadis itu.
Serena sendiri terlalu sibuk melihat lukisan untuk sadar, tatapannya perlahan turun ke sosok monster di depan Draven, aneh, monster itu terasa familiar, padahal wajahnya bahkan tidak terlihat. “Tapi kenapa ayah?” tanya Serena akhirnya sambil menoleh ke Lucifer.
Pria itu bersandar santai di kursinya, “Hm... karena beliau satu-satunya manusia yang pantas bertarung denganku.” Serena langsung berkedip bingung, “Denganmu?” Lucifer hanya tersenyum tipis, “Aku bercanda.” “Terdengar tidak lucu,” kata Serena. “Memang bukan untuk lucu,” jawab Lucifer.
Serena mendecih pelan lalu kembali melihat lukisan itu, kalau dipikir-pikir, aneh juga, kebanyakan orang takut pada Draven Ashworth, bahkan para bangsawan sering bicara hati-hati saat menyebut namanya, Grand Duke Utara, Pedang kerajaan, Monster perang Elarion, tapi Lucifer malah melukisnya seperti rival, bukan seperti pahlawan. Dan anehnya, Serena tidak merasa pria itu sedang berbohong.
“Kamu aneh,” gumam Serena pelan. Lucifer tertawa kecil, “Aku sering dengar itu.” “Harusnya kamu introspeksi,” kata Serena. “Tidak tertarik,” jawab Lucifer.
Serena memutar matanya malas lalu mulai membuka kotak cat di dekatnya, namun saat ia sedang memilih kuas, “Serena,” panggil Lucifer. “Hm?” “Kau benar-benar tidak bisa menggunakan sihir?”
Pertanyaan itu membuat gerakan Serena berhenti sebentar, ruangan mendadak terasa lebih sunyi, sebagian besar orang biasanya menghindari topik itu di depannya, atau malah membicarakannya diam-diam di belakang, Lucifer justru menanyakannya langsung tanpa ragu.
“Tidak bisa,” jawab Serena santai setelah beberapa detik, “mengecewakan ya?” “Tidak juga,” jawab Lucifer. “Bohong,” kata Serena.
Lucifer menatap Serena beberapa saat, lalu tersenyum kecil lagi, “Kau lebih menarik seperti ini.” Serena mengernyit, “Hah?”
Namun Lucifer tidak menjelaskan, ia justru berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar di sisi ruangan, cahaya matahari sore menyinari rambut peraknya yang bergerak pelan tertiup angin. Dan untuk sesaat, siluet pria itu terlihat sangat tidak manusiawi, membuat Serena sedikit merinding tanpa alasan jelas.
“Lucifer,” panggil Serena pelan. “Hm?” “Kita pernah ketemu sebelumnya?” Lucifer terdiam beberapa detik, lalu perlahan menoleh, mata merahnya menatap lurus ke arah Serena, dan senyum kecil kembali muncul di wajah tampannya. “Itu tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung seberapa banyak yang sebenarnya kau ingat."
Jawaban itu membuat Serena langsung mengernyit bingung, namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar koridor kelas, dan senyum Lucifer perlahan memudar.
Hari-hari di akademi berlalu dengan cukup tenang. Setidaknya bagi Serena. Beberapa hari terakhir ini dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lucifer semakin sering muncul dalam kehidupannya. Mereka memang berada di kelas seni yang sama, tetapi pria itu seolah sengaja mencari alasan untuk selalu berada di dekatnya.Kadang Lucifer menunggunya di depan kelas. Kadang pria itu muncul di perpustakaan. Kadang bahkan sudah berdiri di depan asrama sebelum Serena selesai bersiap. Hari ini pun sama. Mereka sedang makan siang bersama di kantin akademi. Serena sibuk memotong steak di piringnya. Sementara Lucifer hanya duduk santai di hadapannya. Makanan di depannya hampir tidak tersentuh. Tatapan merahnya justru tertuju pada Serena. Memperhatikan setiap gerakan gadis itu."Jadi?” tanyanya. Serena mengangkat kepala. “Hm?” Lucifer menopang dagunya. “Kamu terlihat banyak berpikir.” Serena menusukkan garpu ke steaknya. “Oliver aneh banget akhir-akhir ini.” Lucifer tidak menjawab.
"Ayah masih di perbatasan, kan? Kenapa tiba-tiba dia mau ke akademi?” Serena bertanya pada Alisa sambil memegang surat itu. Alisa mengangkat bahu. “Hm? Saya juga kurang tahu. Apa isi suratnya?"Serena tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkannya pada Alisa. “Baca saja sendiri."Alisa menerima surat itu dengan hati-hati. Matanya bergerak mengikuti barisan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan milik Grand Duke Draven Ashworth memang selalu terlihat tegas dan rapi, hampir seperti laporan militer daripada surat untuk putrinya sendiri.Beberapa saat kemudian Alisa mulai membacanya dengan suara pelan. “Bagaimana sekolahmu? Kuharap kamu tidak membuat masalah dan mempermalukan nama Ashworth.” Serena langsung memutar matanya. “Nah kan. Baru kalimat kedua sudah mulai menyebalkan."Alisa mengabaikan komentar itu dan melanjutkan membaca. “Apa kamu sudah bertemu para pewaris keluarga Grand Duke? Secara pribadi aku menyaranka
Suara sayap gagak membuat Serena kaget. Seekor gagak hitam baru saja hinggap di jendela perpustakaan yang terbuka sedikit. Burung itu memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan ruangan.Serena yang masih membeku karena ucapan Lucifer akhirnya menoleh ke arah jendela. Saat itu, dia menyadari sesuatu. Langit sudah mulai gelap. Cahaya jingga matahari sore hampir menghilang sepenuhnya, digantikan warna biru tua yang perlahan menyelimuti langit akademi.Jantung Serena berdegup tidak nyaman. Terlambat. Kalau dia tidak segera kembali, Alisa pasti khawatir. Memikirkan Alisa membuat Serena sedikit merasa bersalah. Alisa selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tidak peduli berapa kali Serena mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, Alisa tetap menganggapnya gadis kecil yang perlu dijaga.Serena segera menarik tangannya dari genggaman Lucifer. Gerakannya cukup mendadak hingga pria itu sedikit terdiam. “Aku harus segera kembali ke asrama,”
"Tidak, bagaimana kamu tahu tentang bumi?” Serena bertanya dengan nada penasaran. Dia menatap Lucifer dengan serius, tanpa mempedulikan bahwa pria di depannya adalah raja iblis. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.Lucifer hanya bersandar santai di kursinya, tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Hm?” jawabnya dengan santai. "Aku membaca buku,” tambahnya, membuat Serena semakin penasaran."Buku apa?” Serena bertanya dengan antusias, mendekatkan tubuhnya ke arah Lucifer. "Aku juga mau baca,” tambahnya, dengan mata amber yang berbinar penuh harapan.Lucifer tersenyum santai, namun jawabannya membuat Serena terkejut. “Yahh, sayangnya sudah kumakan." "Apa?” Serena berkedip bingung, tidak percaya apa yang didengarnya."Dimakan?” tanyanya lagi, dengan nada yang lebih tinggi. "Iya,” Lucifer mengangguk, seolah itu hal normal. “Aku ingat waktu naik tahta, aku mendapatkan buku itu. Tapi karena aku malas membaca, jadi langsung kumakan saja."Serena membeku, tidak percaya apa yang did
Serena menelan ludah pelan. Jantungnya masih terasa tidak nyaman sejak Lucifer mengaku sebagai raja iblis. "Ya…” jawabnya lirih.Lucifer tersenyum tipis. Lalu, ia mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya sekali. Seketika, lingkaran hitam transparan muncul mengelilingi mereka. Lingkaran itu tipis dan hampir seperti kabut. Namun, Serena bisa merasakan udara di sekitar mereka berubah aneh. Suara perpustakaan mendadak terasa jauh, seolah mereka dipisahkan dari dunia luar. "Apa itu?” tanya Serena pelan."Penghalang kecil,” jawab Lucifer santai. “Supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kita." Serena langsung terdiam lagi. Pria ini benar-benar menggunakan sihir sesuka hati. Dan yang lebih menyeramkan… tidak ada seorang pun di perpustakaan yang menyadarinya.Lucifer menatap Serena cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi. “Yahh, aku diberitahu oleh seseorang.""Tentang apa?” tanya Serena. "Tentang kehidupan,” jawab Lucifer pelan. “Bahwa kehidupan ini tidak hanya ada satu." Tatapan me
"Dimana?” tanya Serena dengan penuh antusiasme. Ia condongkan tubuhnya ke depan, setelah membaca buku yang membosankan selama hampir dua jam. Akhirnya, ia menemukan seseorang yang tahu sesuatu, meskipun hanya tentang tempat penyimpanan buku.Delara, pria elf itu, hanya mengangkat alis tipis dan berkata, “Heh.” Ia menyandarkan dagunya di tangan dan bertanya, “Kenapa aku harus memberitahumu?” Antusiasme Serena langsung turun setengah. Benar juga, kenapa dia berharap banyak pada pria menyebalkan ini?"Tak perlu,” kata suara familiar dari belakang Serena. Tubuhnya langsung menegang karena ia mengenali suara itu. Dan benar saja, Lucifer berdiri di belakang kursinya, dengan mata merah yang menatap tajam ke arah Delara. Aura dingin memenuhi meja kecil perpustakaan itu."Biar aku saja,” kata Lucifer santai sebelum duduk di samping Serena tanpa diminta. Serena membeku, kapan pria ini datang? Dan kenapa dia selalu muncul tiba-tiba seperti hantu kurang kerjaan?Delara menegang sesaat, dengan tat
Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kec
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masin
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain
"Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahk







