แชร์

CHAPTER 6

ผู้เขียน: syffftrly
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-11 16:28:20

Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.

Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. 

“Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.

"Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, 

“Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu tergambar sosok Draven Ashworth mengenakan full armor hitam, pedang besar berada di tangannya sementara salju dan api memenuhi latar belakang lukisan. Di depannya berdiri sosok monster besar bertanduk hitam dengan aura menyeramkan, namun wajah monster itu tidak terlihat jelas, tertutup bayangan gelap.

"Ya,” jawab Lucifer santai, “aku melukis Grand Duke Ashworth.” Serena terus menatap lukisan itu beberapa detik, jujur saja, bagus, sangat bagus. Cara Lucifer melukis terasa hidup, bahkan aura dingin Draven terasa keluar dari lukisan itu sendiri. Dan entah kenapa, sosok ayahnya terlihat jauh lebih mengintimidasi di sana. 

“Ohhh...” gumam Serena pelan, “keren banget ya lukisanmu.” Lucifer menoleh sedikit, “Aku suka artstyle-mu.” “Terima kasih,” jawabnya singkat, namun matanya masih terus memperhatikan Serena, mengamati setiap reaksi kecil gadis itu.

Serena sendiri terlalu sibuk melihat lukisan untuk sadar, tatapannya perlahan turun ke sosok monster di depan Draven, aneh, monster itu terasa familiar, padahal wajahnya bahkan tidak terlihat. “Tapi kenapa ayah?” tanya Serena akhirnya sambil menoleh ke Lucifer. 

Pria itu bersandar santai di kursinya, “Hm... karena beliau satu-satunya manusia yang pantas bertarung denganku.” Serena langsung berkedip bingung, “Denganmu?” Lucifer hanya tersenyum tipis, “Aku bercanda.” “Terdengar tidak lucu,” kata Serena. “Memang bukan untuk lucu,” jawab Lucifer.

Serena mendecih pelan lalu kembali melihat lukisan itu, kalau dipikir-pikir, aneh juga, kebanyakan orang takut pada Draven Ashworth, bahkan para bangsawan sering bicara hati-hati saat menyebut namanya, Grand Duke Utara, Pedang kerajaan, Monster perang Elarion, tapi Lucifer malah melukisnya seperti rival, bukan seperti pahlawan. Dan anehnya, Serena tidak merasa pria itu sedang berbohong. 

“Kamu aneh,” gumam Serena pelan. Lucifer tertawa kecil, “Aku sering dengar itu.” “Harusnya kamu introspeksi,” kata Serena. “Tidak tertarik,” jawab Lucifer.

Serena memutar matanya malas lalu mulai membuka kotak cat di dekatnya, namun saat ia sedang memilih kuas, “Serena,” panggil Lucifer. “Hm?” “Kau benar-benar tidak bisa menggunakan sihir?” 

Pertanyaan itu membuat gerakan Serena berhenti sebentar, ruangan mendadak terasa lebih sunyi, sebagian besar orang biasanya menghindari topik itu di depannya, atau malah membicarakannya diam-diam di belakang, Lucifer justru menanyakannya langsung tanpa ragu. 

“Tidak bisa,” jawab Serena santai setelah beberapa detik, “mengecewakan ya?” “Tidak juga,” jawab Lucifer. “Bohong,” kata Serena.

Lucifer menatap Serena beberapa saat, lalu tersenyum kecil lagi, “Kau lebih menarik seperti ini.” Serena mengernyit, “Hah?” 

Namun Lucifer tidak menjelaskan, ia justru berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar di sisi ruangan, cahaya matahari sore menyinari rambut peraknya yang bergerak pelan tertiup angin. Dan untuk sesaat, siluet pria itu terlihat sangat tidak manusiawi, membuat Serena sedikit merinding tanpa alasan jelas. 

“Lucifer,” panggil Serena pelan. “Hm?” “Kita pernah ketemu sebelumnya?” Lucifer terdiam beberapa detik, lalu perlahan menoleh, mata merahnya menatap lurus ke arah Serena, dan senyum kecil kembali muncul di wajah tampannya. “Itu tergantung.” 

“Tergantung apa?” 

“Tergantung seberapa banyak yang sebenarnya kau ingat."

Jawaban itu membuat Serena langsung mengernyit bingung, namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar koridor kelas, dan senyum Lucifer perlahan memudar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 6

    Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 5

    Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 4

    Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 3

    "Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahkan di bawah cahaya sore koridor akademi."Ah, Lucifer?” Oliver mengernyit bingung. “Apa maksudmu disingkirkan?"Lucifer terkekeh pelan. “Tolong jangan pura-pura polos, Pangeran.” Ia melirik ke arah koridor tempat Serena pergi beberapa saat lalu. “Kau kesal karena si bangsat itu mencoba mendekati Serena, kan?"Oliver langsung menghela napas kasar. “Tentu saja aku kesal.” Lucifer mengangkat bahu santai dan berkata, “Kalau begitu bunuh saja dia."Oliver menatapnya datar. “Kau ngomong seperti membunuh putra mahkota kerajaan lain itu hal biasa.” Lucifer mengangkat bahu lagi. “Memang bukan hal besar."Oliver kadang heran bagaimana Lucifer bisa bicara sesantai itu tentang pembunuhan. Wajahnya tampa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 2

    Setelah makan siang, Oliver mengantar Serena kembali ke kelasnya. Koridor akademi masih ramai dengan siswa yang berlalu-lalang sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-teman mereka. Oliver berjalan santai di samping Serena, sesekali menguap kecil. “Aku masih heran kenapa orang-orang bisa semangat belajar sampai sore begini,” katanya dengan gerutu."Kau sendiri pangeran kerajaan dan malah malas belajar,” jawab Serena. Oliver tertawa puas. “Aku tampan, itu cukup,” katanya dengan bangga. Serena menatap Oliver datar. “Kau benar-benar tidak tahu malu,” katanya dengan nada datar. Oliver justru tertawa puas mendengar itu.Untuk sesaat, Serena merasa sedikit lebih ringan. Setidaknya bersama Oliver, ia tidak perlu berpura-pura menjadi bangsawan sempurna yang anggun setiap waktu. Sesampainya di depan kelas, Oliver melambaikan tangan santai. “Nanti aku jemput lagi,” katanya. “Aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. “Aku tahu, tapi tetap akan kujemput,” kata Oliver dengan senyum.Sebelum S

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 1

    “Serena Ashworth.”Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangannya kembali turun tanpa drama apa pun. Ia menghela napas panjang pelan, rupanya ia masih teringat ucapan ayah. “Jangan mempermalukanku,” kata ayahnya sebelum ia dikirim ke akademi ini.Serena menatap papan tulis di depan kelas, tapi tidak benar-benar fokus mendengarkan penjelasan guru. Tangannya mengetuk meja pelan, masih ingat tatapan dingin ayahnya. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan hati-hati, hanya satu kalimat itu. “Jangan mempermalukanku.” Seolah keberadaannya memang hanya sebatas ancaman bagi nama keluarga mereka.Pelajaran berjalan lambat. Guru menjelaskan teori sihir dasar, sementara beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Api kecil muncul di ujung jari,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status