เข้าสู่ระบบKeesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.
Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias.
"Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa.
"Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain.
"Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.
Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.
Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.
Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa samar di udara.
Serena cukup menyukainya. Tidak banyak orang, tidak banyak tatapan menyebalkan, dan tidak banyak bangsawan sok hebat yang merasa hidup mereka menarik hanya karena bisa menyalakan api di ujung jari.
Saat ia sedang berjalan menaiki tangga batu menuju lantai atas, seseorang tiba-tiba menabraknya dari belakang.
"Ah—!” Serena langsung kehilangan keseimbangan. Untung refleksnya cukup cepat untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh terlalu parah.
"Maaf,” suara pria terdengar tepat di depannya. Serena mendongak dan melihat pria itu dari dekat. Rambut perak, kulit pucat, wajah tampan yang terlalu sempurna sampai terasa tidak manusiawi, dan mata merah gelap yang menatap lurus ke arahnya.
Pria itu mengulurkan tangan. “Tidak terluka?” Serena menatap tangannya beberapa detik sebelum menerima bantuan itu. “Iya, gapapa."
Begitu berdiri, tatapan Serena justru tertuju pada kanvas besar di punggung pria itu. “Kamu dari kelas seni?” Pria itu mengikuti arah pandang Serena lalu tersenyum kecil. “Yah, begitulah."
Senyumnya terlihat sopan, namun anehnya… matanya tetap terasa dingin. Tapi Serena tidak terlalu memikirkannya.
"Kamu juga?” tanya pria itu. “Iya,” jawab Serena santai. “Hari pertamaku.” “Hm,” pria itu mengangguk kecil. “Kalau begitu ayo berangkat bareng."
Serena sedikit ragu, tapi karena mereka menuju tempat yang sama, ia akhirnya mengangguk juga. Mereka berjalan berdampingan melewati lorong gedung seni yang mulai sepi.
Beberapa kali Serena diam-diam melirik pria itu. Aneh, ia merasa pernah melihatnya sebelumnya. Tapi di mana?
"Ngomong-ngomong…” Pria itu akhirnya membuka suara. “Aku Lucifer… dan kamu Serena Ashworth kan?” Langkah Serena sedikit melambat. “Huh? Kamu kenal aku?” Lucifer tersenyum tipis sambil tetap berjalan santai. “Pangeran Oliver sering membicarakanmu."
Serena langsung mengangguk paham. “Kamu temannya?” “Bukan,” jawaban Lucifer cepat. “Hanya teman sekelas.” “Begitu ya,” Serena tidak terlalu terkejut. Oliver memang tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja.
Dan pria bernama Lucifer ini jelas sedikit aneh. Terlalu tenang, terlalu sulit dibaca. Tapi setidaknya dia tidak menatap Serena dengan kasihan seperti kebanyakan orang di akademi.
"Kamu suka melukis?” tanya Serena lagi. “Lumayan,” jawab Lucifer.
Mereka akhirnya sampai di depan ruang kelas seni. Lucifer melangkah lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Serena. “Silakan.” “Terima kasih."
Begitu masuk, Serena langsung sedikit bingung. Ruangan itu kosong, tidak ada siswa lain. Padahal ukuran kelasnya cukup besar. Kanvas kosong berdiri rapi di beberapa sudut ruangan, sementara cahaya sore masuk lewat jendela tinggi yang memenuhi dinding sebelah kiri.
"Memangnya tidak ada yang minat kelas seni?” gumam Serena pelan. Lucifer masuk setelahnya sambil meletakkan kanvas besarnya ke dekat dinding. “Mungkin mereka punya kelas lain.” “Oh…” Serena mengangguk kecil.
Masuk akal juga. Akademi ini memang lebih terkenal karena kelas sihirnya dibanding seni. Serena berjalan perlahan mengelilingi ruangan sambil melihat beberapa lukisan lama yang dipajang di dinding.
Lukisan pegunungan, laut, hutan, dan monster. “Hm…” Serena berhenti di depan satu lukisan monster bersayap hitam. “Lumayan bagus."
Namun ia tidak menyadari sesuatu. Klik. Suara kecil itu terdengar pelan dari belakangnya. Lucifer baru saja mengunci pintu kelas. Tatapan merah pria itu perlahan tertuju pada punggung Serena.
Dan senyum kecil muncul di wajah tampannya. Karena sebenarnya… sejak awal… semua ini memang bagian dari rencananya.
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm
"Bagaimana? Mau disingkirkan saja?” tanya suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliver.Oliver langsung menoleh dan mendapati seorang pria berdiri santai tidak jauh darinya, bersandar di dinding koridor. Rambut pria itu berwarna perak, kulitnya pucat, dan matanya merah darah. Menyala tajam bahkan di bawah cahaya sore koridor akademi."Ah, Lucifer?” Oliver mengernyit bingung. “Apa maksudmu disingkirkan?"Lucifer terkekeh pelan. “Tolong jangan pura-pura polos, Pangeran.” Ia melirik ke arah koridor tempat Serena pergi beberapa saat lalu. “Kau kesal karena si bangsat itu mencoba mendekati Serena, kan?"Oliver langsung menghela napas kasar. “Tentu saja aku kesal.” Lucifer mengangkat bahu santai dan berkata, “Kalau begitu bunuh saja dia."Oliver menatapnya datar. “Kau ngomong seperti membunuh putra mahkota kerajaan lain itu hal biasa.” Lucifer mengangkat bahu lagi. “Memang bukan hal besar."Oliver kadang heran bagaimana Lucifer bisa bicara sesantai itu tentang pembunuhan. Wajahnya tampa
Setelah makan siang, Oliver mengantar Serena kembali ke kelasnya. Koridor akademi masih ramai dengan siswa yang berlalu-lalang sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-teman mereka. Oliver berjalan santai di samping Serena, sesekali menguap kecil. “Aku masih heran kenapa orang-orang bisa semangat belajar sampai sore begini,” katanya dengan gerutu."Kau sendiri pangeran kerajaan dan malah malas belajar,” jawab Serena. Oliver tertawa puas. “Aku tampan, itu cukup,” katanya dengan bangga. Serena menatap Oliver datar. “Kau benar-benar tidak tahu malu,” katanya dengan nada datar. Oliver justru tertawa puas mendengar itu.Untuk sesaat, Serena merasa sedikit lebih ringan. Setidaknya bersama Oliver, ia tidak perlu berpura-pura menjadi bangsawan sempurna yang anggun setiap waktu. Sesampainya di depan kelas, Oliver melambaikan tangan santai. “Nanti aku jemput lagi,” katanya. “Aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. “Aku tahu, tapi tetap akan kujemput,” kata Oliver dengan senyum.Sebelum S
“Serena Ashworth.”Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangannya kembali turun tanpa drama apa pun. Ia menghela napas panjang pelan, rupanya ia masih teringat ucapan ayah. “Jangan mempermalukanku,” kata ayahnya sebelum ia dikirim ke akademi ini.Serena menatap papan tulis di depan kelas, tapi tidak benar-benar fokus mendengarkan penjelasan guru. Tangannya mengetuk meja pelan, masih ingat tatapan dingin ayahnya. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan hati-hati, hanya satu kalimat itu. “Jangan mempermalukanku.” Seolah keberadaannya memang hanya sebatas ancaman bagi nama keluarga mereka.Pelajaran berjalan lambat. Guru menjelaskan teori sihir dasar, sementara beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Api kecil muncul di ujung jari,







