登入Di sisi lain, Tuan dan Nyonya Abimanyu langsung meluncur ke rumah Salsa. Mereka berdua bergegas setelah mendapat kabar langsung dari Nathan kalau Salsa sedang hamil. Nathan sengaja meminta orang tuanya datang untuk menemani Salsa sekaligus menjaga si kembar.“Mama di mana, Sayang?” tanya Nyonya Abimanyu begitu langkah kakinya terhenti di ruang tengah. Beliau melihat kedua cucu kembarnya berdiri gelisah tepat di depan pintu kamar Salsa yang terbuka sedikit.“Mama lagi muntah, Grandma,” jawab salah satu dari mereka.Sejak tadi, dua anak kecil itu tidak mau menjauh. Mereka telaten memijat kaki dan tangan mamanya yang lemas. Baru saat mendengar suara Nyonya dan Tuan Abimanyu sampai di rumah, mereka mengintip sebentar dari atas tangga.Mendengar ucapan si kembar, raut wajah Nyonya Abimanyu berubah cemas. Beliau langsung buru-buru melangkah naik ke lantai atas, sementara Tuan Abimanyu memilih menunggu di ruang tamu.“Sini, Sayang, sama Grandpa dulu di bawah,” panggil Tuan Abimanyu dari bawa
“Jangan panggil aku Aditya kalau kamu bisa menemukan bukti dari ruang kerja Nathan maupun di dalam mobilnya. Aku yakin seribu persen bukti itu tidak akan pernah kamu dapatkan dari sana. Dia itu bukan orang bodoh, Clara. Perumahannya saja super canggih, apalagi ruang kerjanya atau mobilnya. Pasti sudah dipasangi alat pendeteksi penyadap atau kamera tersembunyi. Kamu sama papamu benar-benar nggak mikir sampai sejauh itu, ya?” ucap Aditya lagi, menyindir secara terang-terangan hingga membuat Clara langsung bungkam.Tatapan Aditya begitu sinis. Dia menikmati perubahan wajah Clara yang seketika itu juga langsung pucat dan linglung.“Buktikan saja dalam seminggu ke depan. Kalau sampai ada bukti yang berhasil kamu dapatkan dari kamera tersembunyi dan alat penyadap konyol itu, aku bakal sembah kaki kamu sama papamu setiap hari,” tambah Aditya penuh keyakinan.Clara masih terdiam tapi telinganya terus mendengarkan ucapan Aditya. Setiap patah kata yang keluar dari mulut Aditya sepertinya sangat
“Tutup mulutmu, jangan sampai ada yang dengar,” ucap Clara marah, suaranya terdengar sedang menahan emosi. Dia melangkah makin dekat lalu mendudukkan dirinya tepat di samping pria itu. Dia tak ingin sama sekali ada siapapun yang mengetahui hubungan mereka. Jangan sampai Nathan tahu karena Clara tidak mau kehilangan pria itu.Tak lama, seorang pelayan melangkah masuk membawakan beberapa piring makanan hangat yang sudah dipesan lebih dulu sebelum Clara menginjakkan kaki di restoran ini.“Tidak akan ada yang tahu selagi kamu gak buka mulut,” jawab pria itu dengan senyum menyeringai di bibirnya.Nekat sekali dirinya berani menyentuh dan tidur dengan putri seorang bos mafia besar. Tapi lagipula, bukan dia yang mengejar atau memohon-mohon. Wanita di sampingnya inilah yang selalu datang sendiri, meminta tubuhnya dipuaskan setiap kali rasa haus akan sentuhan laki-laki tak bisa ditahan oleh Clara. Dan yang paling menyenangkan dari semua ini adalah bayarannya. Setiap kali dia berhasil membuat C
Clara melangkah keluar dari gedung Abimanyu Group dengan hati yang tidak tenang. Pikiran dan perasaannya benar-benar berantakan. Di satu sisi, ada bagian dalam dirinya yang masih berusaha membela Nathan—berusaha meyakinkan hati kalau sikap dingin dan acuh tak acuh pria itu memang murni karena wataknya, bukan karena ada perempuan lain yang disembunyikan. Namun di sisi lain, bayangan kecurigaan papanya terus terngiang-ngiang di benaknya, membuatnya cemas.Dia merasa puas karena berhasil meletakkan kamera dan alat penyadap itu tepat di tempat yang strategis di ruang kerja Nathan tanpa ketahuan sedikit pun oleh sang calon suami. Tapi rasa puas itu langsung menguap, berganti ketakutan yang terlihat sangat nyata. Bagaimana kalau dugaan papanya benar? Bagaimana kalau kamera itu nanti justru merekam hal yang paling tidak ingin dia lihat? Clara tahu betul tabiatnya sendiri, dia gila, dia obsesif, dan dia tidak akan pernah sudi—juga tidak akan pernah sanggup—berbagi Nathan dengan perempuan mana
“Belum juga kita nafas sudah diancam aja,” ucap dokter itu. “Cari aman saja, dok. Anggap kita tidak pernah melihat apapun. Anggap mereka tak pernah datang kontrol ke sini,” ujar suster yang tadinya berniat mengadukan soal ini pada Clara. “Iya. Ayo mulai lagi, antrean udah banyak kayaknya.” Mereka pun mulai fokus pada pekerjaannya lagi. Di sisi lain, Salsa dan Nathan benar-benar membisu seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Salsa berusaha untuk kuat agar tidak mendapat bantuan sedikitpun dari laki-laki ini. Di benak Salsa, mereka tidak akan pernah akur lagi hanya karena kesalahan kecil yang dibuat olehnya. Tapi di mata Nathan itu adalah kesalahan paling fatal yang tak bisa dimaafkan. Menurut Nathan, Salsa terlalu memanfaatkan besarnya cinta yang pria itu punya sehingga Salsa berbuat semena-mena. Mobil mewahnya pun terparkir di depan rumah itu. Suster Anggun sudah berdiri di sana karena tadi di jalan memang Nathan yang kirim pesan padanya untuk menjemput Salsa di
Salsa menatap Nathan dengan raut wajah kecewa. Dia tak pernah menyangka selain sikap dinginnya yang melukai perasaan Salsa, tapi ucapannya kali ini bener-bener menyakitkan. “Ini anak kamu!” desis Salsa penuh amarah. Harga dirinya sebagai seorang perempuan diinjak-injak ketika anak dalam kandungannya diragukan. “Asal kamu tahu, seumur hidupku aku tidak pernah berhubungan badan dengan laki-laki lain selain denganmu. Apa kau pikir aku ini pelacur?” tambahnya marah.Nathan mendengus meremehkan, “Dulu, berbohong pun kamu pasti aku percayai. Tapi sejak kejadian kemarin kepercayaanku sama kamu benar-benar sudah hilang,” balas Nathan tanpa perasaan.Demi apapun dokter dan suster yang ada di sana berusaha sekuat tenaga untuk menahan nafas. Yang mereka tahu Nathan ini adalah tunangan Clara, dan pemberitaan itu nyaris setiap bulan memenuhi halaman majalah bisnis. Di sosial media juga setiap kali Nathan dan Clara keluar bersama pasti kebersamaan mereka langsung viral di sosial media. Lalu sekara
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r







