登入“Jadi gimana ini, Pak?” tanya salah satu polisi yang berada di lokasi, bingung melihat penabrak mobil mewah itu dibiarkan kabur begitu saja oleh Nathan Abimanyu.“Ya sudah, terima kasih, Pak. Biar jadi urusan saya dengan orang itu. Kebetulan saya kenal dengan orangnya,” sahut Nathan, mencoba menetralkan raut wajahnya.“Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu,” pamit petugas kepolisian, yang dibalas anggukan dan acungan jempol dari Nathan.Nathan lalu menoleh ke arah tim mekanik langganannya. “Bawa mobilnya ke bengkel. Ganti semua komponen yang rusak. Nanti biaya perbaikannya langsung saya transfer.”“Baik, Pak,” jawab mekanik senior itu.Bersamaan dengan itu, sebuah mobil hitam lain berhenti tepat di samping Nathan. Raka, asisten pribadinya, keluar dari pintu kemudi. Padahal Nathan sama sekali tidak menghubungi anak buahnya itu. Tapi karena status Nathan Abimanyu sebagai pengusaha tersohor di kota ini, kabar kecelakaan yang menimpanya langsung viral di media sosial dalam hitungan me
Saat Salsa hendak memutar tubuh untuk menutup pintu mobil, tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram oleh Nathan. Sentuhan yang sudah lima tahun tak pernah dirasakannya itu seketika menghantarkan sengatan seperti ada aliran arus listrik tegangan tinggi yang membuat seluruh saraf Salsa tegang, pun dengan Nathan.“Masuk lagi, Sayang,” bisik Salsa setengah panik, berusaha menahan agar anak-anaknya tidak sampai keluar dari mobil.Namun, anak-anak itu rupanya mewarisi sifat papanya yang keras kepala. Mana mau mereka menurut kalau belum berhasil membawa mamanya pergi dari tempat itu. Tanpa rasa takut, keduanya tetap memaksakan diri turun dari mobil.Di sisinya, Nathan berusaha menahan napas. Dadanya bergemuruh hebat, dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa wanita yang dicari-carinya selama ini ternyata sudah dimiliki orang lain. Matanya membulat sempurna saat melihat dua makhluk kecil tampak saling bantu menuruni pijakan mobil.“Jadi kamu sudah menikah?” suara Nathan terdengar berat, berus
Kalimat permohonan maaf itu cuma empat kata, tapi sukses membuat lidah Nathan mendadak kelu. Amarah yang sudah di ujung bibirnya hilang begitu saja, berganti dengan rasa syok yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Bahkan jantungnya seperti berhenti berdetak.Ia kenal betul suara ini. Suara yang lima tahun belakangan ini terus menari-nari di benaknya. Suara yang membuatnya memiliki satu-satunya alasan selalu mengulur-ngulur waktu setiap kali Papanya Clara menanyakan kapan mereka akan menikah.Nathan membeku menatap wanita yang menunduk gemetar di depannya. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk langsung menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya—menumpahkan rasa rindu gila yang menyiksanya tiap detik dalam hidupnya. Tapi di detik berikutnya, rasa benci tiba-tiba menguasai pikiran pria itu. Rasa sakit hati karena merasa dibuang saat ia terpuruk kembali membakar dirinya. Pria itu sama sekali tidak tahu kalau Salsa sebenarnya dipaksa pergi dan diusir secara kejam. Yang dia tahu, Sa
****Lima Tahun KemudianWaktu ternyata berjalan tanpa pernah peduli pada siapa pun yang tertinggal di belakang. Lima tahun berlalu, namun sisa-sisa badai masa lalu itu masih meninggalkan bekas yang amat dalam.Tahun pertama adalah masa-masa paling berat bagi Nathan. Hampir tiga ratus enam puluh lima hari hidupnya dipertaruhkan di atas tempat tidur rumah sakit di luar negeri, berjuang di antara hidup dan mati. Di masa-masa kelam itu, tak ada hari tanpa tangisan Alea. Anak gadisnya itu seolah kehabisan air mata karena terus meratapi kondisi papanya yang tak kunjung melek. Di sisi lain, ada Clara yang setia mendampingi—menjadi sosok yang selalu ada di setiap helaan napas berat Nathan selama masa pemulihan.Sementara itu di tanah air, roda bisnis Abimanyu Group tetap berputar pincang di bawah kendali Raka. Harus diakui, tanpa kehadiran Nathan, perusahaan itu tak lantas langsung meroket seperti sedia kala. Raka berjuang mati-matian menjaga agar fondasi yang tersisa tidak runtuh sepenuhnya.
“Alea gak mau,” tolaknya sambil menggeleng.“Kamu mau lihat Papamu mati, huh?” balas Nyonya Abimanyu menatap cucunya dengan penuh amarah, bahkan matanya melotot saking keselnya pada Alea.Entah kenapa akhir-akhir ini sang cucu menjadi anak yang sangat menyebalkan. Nyatanya tadi sudah jelas-jelas dirinya menyuruh Alea bicara kasar pada Salsa agar wanita miskin itu membenci Alea dan tidak berani lagi menghubungi cucunya. Tapi lihatlah, cucu yang sudah ia rawat dari kecil ini malah memeluk Salsa dan menangis meminta maaf menjelang kepergian wanita itu. Sungguh Nyonya Abimanyu dibuat geram oleh kelakuan Alea yang terus-menerus membantah ucapannya.Beberapa hari yang lalu, sang cucu juga sempat bertengkar hebat dengan Clara. Di saat Nyonya Abimanyu dan suaminya rela merendahkan harga diri demi memohon bantuan untuk Nathan, Alea dengan sombongnya justru menyulut amarah Clara. Akibatnya, Clara murka dan tidak mau lagi datang ke rumah sakit menunggui Nathan sampai pria itu pulih.“Non, please
Mendengar ucapan Alea, Raka langsung berlari menuju ruang ICU. Jantungnya berdegup kencang takut jika Nathan benar-benar pergi untuk selamanya. Ucapan dokter semalam masih terngiang-ngiang di benaknya dan Raka berharap semua ketakutan dokter itu tidak akan pernah terjadi. “Bangun, Pak. Ayo sembuh biar Bapak bisa melindungi Salsa. Bangun, Pak,” ucap Raka dalam hati. Alea menyusul Raka dari belakang. Gadis itu tak ingin kehilangan sang papa. Tidak ada ada orang yang menyayanginya melebihi sang papa.Sementara di depan ruang ICU, suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi kekacauan yang sangat menakutkan. Suara peringatan dari alat medis di dalam ruangan seketika berbunyi nyaring nggak bisa didengar sampai di depan ruang ICU, memutus keheningan dan membuat hati siapa pun yang mendengarnya makin sakit.Pintu ruang ICU dibuka paksa dari luar. Beberapa dokter dan perawat berlari kencang menerobos masuk sambil mendorong troli darurat yang penuh dengan alat-alat medis, cairan obat,
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu







