Home / Fantasi / Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha / Bab 5. Bulan Purnama Hampir Tiba

Share

Bab 5. Bulan Purnama Hampir Tiba

Author: Senja Berpena
last update Last Updated: 2026-03-03 00:36:46

Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.

Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.

Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.

Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.

Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.

“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.

“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.

“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.

Ayla tersentak. Tanpa bertanya lagi, dia keluar dari mobil dan berlari menuju lift pribadi yang membawanya langsung ke ruang utama.

Dia bisa merasakan tatapan Xavier menghujam punggungnya, tatapan yang tidak lagi terasa seperti keinginan pria pada wanita, melainkan sesuatu yang jauh lebih lapar dan liar.

Di atas, Ayla mencoba menenangkan diri. Dia memutuskan untuk mandi, berharap air hangat bisa meluruhkan rasa panas yang ditinggalkan sentuhan Xavier di lehernya.

“Kenapa Xavier bersikap seperti itu?” gumamnya dengan pelan. “Selama ini, aku hanya mengenalnya sebagai CEO dingin dan kejam. Setelah masuk ke dalam hidupnya, banyak hal yang ingin aku ketahui tentang pria itu.”

Rasa cemas dalam dadanya tidak mau hilang. Suhu udara di penthouse terasa turun drastis, namun dia merasa diawasi oleh ribuan mata dari balik dinding.

Selesai mandi, Ayla mengenakan jubah mandi handuk yang tebal, lalu keluar ke ruang tengah, dan mencari sosok Xavier.

“Xavier? Kau sudah di atas?” panggil Ayla. Suaranya bergema di ruangan yang luas dan sunyi itu.

Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa kosong, namun ada getaran halus yang merambat di lantai marmer, seolah ada mesin besar yang bekerja di bawah sana. Ayla berjalan menuju dapur, lalu ke ruang kerja, namun Xavier tidak ada di mana pun.

“Xavier Alexander! Ini tidak lucu, berhenti menakutiku!” teriak Ayla, sembri mencoba mengusir rasa takutnya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar. Bukan suara pintu tertutup atau barang jatuh.

Sreeeeet ... Sreeeeet ….

Suara logam yang digores oleh sesuatu yang sangat tajam dan kuat. Suara itu berasal dari lorong belakang, di dekat pintu baja yang menuju ke ruang bawah tanah, ruangan yang sejak hari pertama Xavier peringatkan agar jangan pernah didekati.

Ayla melangkah perlahan dan akhirnya sampai di depan pintu baja itu. Getarannya semakin terasa di bawah telapak kakinya.

GRAAAARRRRRRR!

Ayla melompat mundur, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah raungan. Tapi itu bukan suara manusia, dan bukan pula suara anjing biasa.

Itu adalah suara penderitaan yang begitu murni, bercampur dengan kemarahan yang bisa merobek udara.

“Xavier? Kau di dalam?” bisik Ayla dengan gemetar. “Xavier, buka pintunya! Kau terluka?” teriak Ayla kemudian.

Tidak ada jawaban verbal. Yang terdengar justru suara hantaman keras pada pintu baja itu.

DUG! DUG!

Pintu setebal sepuluh sentimeter itu tampak bergetar hebat.

“Tolong, Xavier ... bicaralah padaku,” Ayla mulai menangis karena ketakutan. “Apa yang terjadi di bawah sana?” tanyanya lirih.

Dari balik celah pintu yang rapat, Ayla mendengar suara napas yang berat, seperti embusan uap dari binatang buas yang sedang sekarat.

Lalu, suara cakaran itu kembali terdengar.

Krieeeet ... bunyinya memilukan, seolah kuku-kuku tajam sedang mencoba menembus baja tersebut.

Rasa penasaran Ayla mulai mengalahkan rasa takutnya. Selama menjadi istri kontraknya, dia merasa ada yang salah dengan Xavier.

Panas tubuhnya, kekuatannya yang tidak masuk akal, geramannya di lift, dan sekarang ini. Dia butuh jawaban sekarang juga!

Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu baja. Xavier lupa mengunci pintu itu dengan kode digitalnya karena rasa sakit yang menyerangnya terlalu cepat.

“Jangan buka, Ayla!” ucap Xavier terdengar lemah, hampir seperti isakan.

“Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku?” tanya Ayla, dan jemarinya mulai menarik tuas pintu. “Kita terikat kontrak, kau bilang aku milikmu. Kalau kau terluka, itu urusanku juga!”

“Kau tidak akan sanggup melihatnya. Kau akan lari dariku selamanya,” sahut suara dari kegelapan itu.

Ayla menarik napas panjang. Dia teringat bagaimana Xavier membelanya di kantor, bagaimana pria itu meski kasar tetap menjamin keselamatan ibunya. Dia tidak bisa membiarkan pria itu menderita sendirian di dalam kegelapan.

“Aku tidak akan lari,” bisik Ayla mantap, meski lututnya lemas.

Dengan satu sentakan kuat, Ayla menarik pintu itu hingga terbuka sedikit. Hawa panas yang luar biasa menyambar wajahnya, membawa aroma maskulin yang bercampur dengan bau besi, bau darah.

Tangga menuju ruang bawah tanah itu gelap, hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip di ujung bawah.

Ayla melangkah turun satu per satu. Suara cakaran itu berhenti. Suasana menjadi sunyi senyap, jenis kesunyian yang justru lebih menakutkan daripada raungan.

“Xavier?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 7. Berubah Wujud (?)

    “Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.“Ikutlah,

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 6. Sosok Pria Tua Menghampiri

    “Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya m

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 5. Bulan Purnama Hampir Tiba

    Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.Ayla tersentak. Tanp

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 4. Tidak Bisa Menahan Diri lagi

    Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik.

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 3. Sedikit Curiga, tapi Terhalang Aturan sang Alpha

    Lantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.Wan

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 2. Malam Pertama yang 'Panas'

    “Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status