LOGIN“Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.
Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.
Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.
“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.
Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.
Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.
“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya menjauh.
“JANGAN SENTUH AKU!”
Xavier bangkit dengan satu gerakan kasar, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding baja di samping kepala Ayla hingga logam tebal itu penyok sedalam lima sentimeter. Napasnya memburu, dan mengeluarkan uap panas di udara yang dingin.
“Kau pikir ini permainan? Kau pikir kau bisa menyelamatkanku dengan belas kasihanmu?” Xavier berbalik menatap Ayla dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh kebencian yang dipaksakan.
“Kau hanya manusia, Ayla. Kau tidak lebih dari sekadar gangguan. Lihat dirimu ... kau gemetar seperti kelinci di depan serigala.”
Ayla bangkit perlahan, lalu tangannya memegangi bahunya yang perih karena tekanan kuku Xavier. “Aku hanya ingin membantu—"
“Membantu?” Xavier tertawa sinis, sebuah suara yang lebih mirip gonggongan kasar.
“Kau hanya ingin memuaskan rasa penasaranmu yang bodoh. Kau melanggar perintahku. Kau masuk ke sini tanpa izin. Sekarang keluar dari ruanganku, atau aku tidak menjamin kau akan bisa berjalan keluar dari sini besok pagi!”
“Kenapa kau jadi begini? Di kantor kau membelaku, tapi di sini kau memperlakukanku seperti sampah!” tangis Ayla pecah.
Xavier melangkah mendekat, auranya begitu mengintimidasi hingga Ayla mundur teratur menaiki tangga.
“Karena di kantor kau adalah asetku. Di sini, kau hanya mangsa. Keluar, Ayla! Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali dan merobek tenggorokanmu!”
Xavier memberikan satu dorongan keras pada pintu baja, nyaris menjepit jari Ayla.
BRAK!
Pintu itu tertutup rapat, diikuti suara kunci digital yang berbunyi tajam.
Ayla berdiri di balik pintu, tangisnya tergugu. Kemudian memukul pintu baja itu dengan tangan kosong. “Xavier! Buka! Aku membencimu! Aku membencimu karena kau tidak pernah membiarkanku masuk!”
Di balik pintu, Xavier jatuh berlutut. Dia mencengkeram dadanya yang terasa seperti dibakar api.
Dia mendengar tangisan Ayla, dan setiap isakan gadis itu terasa lebih menyakitkan daripada transformasi tulang-tulangnya.
Dia harus mengusirnya. Jika Ayla tetap di sana, aroma stres gadis itu akan membuat sisi serigalanya mengoyak Ayla menjadi serpihan.
“Maafkan aku, Luna,” gumam Xavier pelan, suaranya hilang ditelan raungan yang kembali pecah di ruang bawah tanah.
Ayla berlari menuju kamarnya di lantai atas, mengunci pintu, dan melemparkan dirinya ke atas ranjang. Dia menangis hingga sesak, merasa terhina dan tidak berarti.
Lima miliar itu terasa seperti rantai yang mencekik lehernya. Dia merasa Xavier hanya menganggapnya sebagai benda yang bisa dibuang saat pria itu sedang dalam kondisi buruk.
Dia kemudian bangkit, berjalan menuju balkon untuk mencari udara segar. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan rambutnya yang masih lembap. Bulan purnama di atas sana tampak begitu besar dan mengancam.
Tiba-tiba, bulu kuduk Ayla berdiri tegak. Ia merasa tidak sendirian.
“Malam yang indah untuk menangis, bukan?”
Ayla tersentak dan berputar cepat. Di atas pagar balkon kamarnya, sesosok pria asing sedang duduk dengan santai.
Pria itu mengenakan jaket kulit hitam, rambutnya perak pucat, dan yang paling mengerikan adalah matanya. Matanya menyala dengan warna merah darah yang pekat di kegelapan malam.
“Siapa ... siapa Anda? Bagaimana Anda bisa naik ke lantai empat puluh?” suara Ayla tercekat.
Pria itu melompat turun dari pagar tanpa suara, mendarat dengan kelincahan seekor kucing. Dia lalu melangkah mendekati Ayla, dengan senyum tipis dan licik.
“Lantai empat puluh bukan masalah bagi jenis seperti kami, Manusia Manis,” pria itu memiringkan kepalanya, dan menghirup udara di sekitar Ayla.
“Ah, baunya sangat kuat. Bau Xavier Alexander. Dia sudah mengklaimmu, tapi belum menandaimu. Betul?”
Ayla mundur hingga punggungnya menempel pada pintu kaca balkon. “Pergi! Atau saya akan panggil keamanan!”
Pria itu tertawa pelan, suara tawanya dingin dan kering. “Keamanan? Kau pikir manusia-manusia dengan pistol mainan itu bisa menghentikanku? Xavier sedang sibuk merangkak di bawah tanah sana, berjuang dengan sisi binatangnya yang menjijikkan. Dia tidak akan mendengarmu.”
Ayla sontak mengerutkan keningnya. “Apa maksud Anda, Tuan?” tanyanya dengan pelan.
Pria asing itu mengulurkan tangan, lalu ujung jarinya yang pucat menyentuh helai rambut Ayla. Ayla membeku, merasa seolah ada es yang merambat di kulitnya.
“Jadi, ini mainan baru sang Alpha?” tanya pria itu, dengan tatapan mata yang berkilat merah lebih terang.
“Xavier Alexander yang agung, bersembunyi di balik kontrak pernikahan dengan seorang manusia lemah hanya untuk menipu Dewan Klan. Sangat menyedihkan.”
“Apa maksud Anda? Klan apa? Siapa Xavier sebenarnya?” tanya Ayla yang semakin bingung dengan ucapan pria tua itu.
“Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.“Ikutlah,
“Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya m
Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.Ayla tersentak. Tanp
Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik.
Lantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.Wan
“Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turu







