MasukSore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.
Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.
Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.
“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.
“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.
“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”
Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.
“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik. “Halo? Ada orang di luar? Liftnya berhenti!”
“Berhenti menekan tombol itu,” perintah Xavier lalu melangkah maju, dengan nada suaranya kini terdengar seperti geraman tertahan.
Xavier berdiri tepat di belakang Ayla. Hawa panas dari tubuhnya merambat naik, menyentuh kulit Ayla yang mendingin karena takut.
Xavier bisa merasakan detak jantung Ayla yang tidak beraturan, irama yang memicu insting purbanya untuk menerjang.
Dia sangat tersiksa. Sebagai seorang Alpha, setiap sel di tubuhnya berteriak untuk menanamkan taringnya ke tengkuk Ayla, untuk melakukan marking yang akan mengunci jiwa mereka selamanya.
Namun, dia tidak bisa. Belum bisa. Dia hanya bisa mengklaim apa yang bisa dia sentuh secara fisik.
“Xavier, jangan sekarang ... kita sedang terjebak,” bisik Ayla, namun dia tidak sanggup melangkah menjauh.
“Aromamu ... kau membuatku gila,” Xavier mencengkeram pinggang Ayla, lalu memutar tubuh gadis itu dengan kasar hingga punggungnya menghantam dinding lift. “Kau stres, kau takut, dan itu membuatmu berbau seperti surga.”
Xavier menubrukkan tubuhnya pada Ayla. Panas tubuhnya yang mencapai suhu ekstrem membuat Ayla merasa seolah pakaiannya akan terbakar.
Xavier tidak menunggu jawaban. Dia langsung meraup bibir Ayla dengan ciuman yang menghancurkan, sebuah klaim yang penuh dengan kemarahan dan rasa lapar.
Ayla mengerang pelan. Ciuman itu membara, merampas oksigen dari paru-parunya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak.
Anehnya, rasa takut itu mulai bercampur dengan gairah yang menyengat. Tangannya yang semula mendorong dada Xavier, kini merambat naik, dan mencengkeram rambut pria itu.
“Xavier ... ah, panas,” desah Ayla di sela ciuman mereka.
Xavier melepaskan tautan bibir mereka, namun hanya untuk berpindah ke leher Ayla.
Dia menciumi jalur nadinya dengan beringas. Dia tidak sekadar mencium; dia menghisap dan melumat kulit lembut itu seolah ingin menyerap seluruh cairan di dalam tubuh Ayla.
Spontan, wanita itu mendongakkan kepalanya, untuk memberikan akses lebih luas bagi Xavier untuk menjelajahi lehernya.
Setiap sentuhan Xavier meninggalkan sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh saraf Ayla.
Dia merasa lemas, kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri, dan memaksanya untuk bergantung sepenuhnya pada lengan kekar Xavier yang melingkari pinggangnya.
Xavier menggeram rendah di ceruk lehernya. Giginya sempat bergesekan dengan kulit Ayla, hampir merobek permukaan epidermis itu untuk menanamkan tanda permanen.
Dia harus menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak benar-benar menggigitnya sekarang. Sebagai gantinya, dia memberikan isapan yang begitu kuat hingga meninggalkan noda ungu gelap yang mustahil disembunyikan.
“Sakit ... Xavier, hentikan.” Ayla mendesah, namun tubuhnya justru bergerak mendekat, menuntut lebih banyak panas.
“Jangan berbohong, Ayla. Tubuhmu menginginkanku sebanyak aku menginginkanmu,” bisik Xavier.
Tangannya mulai menjelajahi lekuk tubuh Ayla dengan posesif, mengklaim setiap jengkal yang diizinkan oleh kain pakaian mereka.
Keheningan di dalam lift itu hanya diisi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kain yang kasar. Ayla merasa dunianya menyempit hanya pada sosok Xavier.
Dia tidak peduli lagi pada lift yang macet atau pada kontrak lima miliar. Yang dia tahu, dia membutuhkan pria ini untuk memadamkan api yang dia nyalakan sendiri di dalam darahnya.
Xavier baru saja akan mengangkat rok Ayla ketika tiba-tiba suara mekanis terdengar di atas kepala mereka.
KLIK.
Lampu lift yang tadinya merah redup seketika menyala terang benderang dengan warna putih yang menyilaukan mata. Mesin lift kembali menderu, dan beban di bawah kaki mereka terasa bergerak turun dengan cepat.
“Xavier, lampu menyala!” Ayla tersentak sadar, lalu mencoba mendorong bahu Xavier yang masih sibuk di lehernya.
Xavier tidak peduli. Dia masih terjebak dalam kabut instingnya. Dia justru semakin mempererat pelukannya, dan menghirup aroma Ayla untuk terakhir kalinya sebelum lift itu berhenti.
TING!
Pintu lift terbuka perlahan di lantai lobi utama.
Ayla terbelalak. Di depan pintu lift, berdiri setidaknya sepuluh orang pria dan wanita paruh baya dengan setelan formal yang sangat mahal.
Mereka adalah jajaran direksi Alexander Group yang baru saja selesai melakukan rapat darurat sore itu.
Keadaan di dalam lift sungguh berantakan. Xavier masih menempel pada tubuh Ayla, kemeja hitamnya keluar dari celana, dan rambutnya acak-acakkan.
Sementara Ayla berdiri dengan wajah merah padam, bibir bengkak, dan kemeja putih yang tersingkap hingga memperlihatkan noda merah keunguan yang sangat jelas di sepanjang lehernya.
“Tuan Alexander?” salah satu direktur senior, Tuan Benny, membuka suara dengan nada terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
Xavier perlahan melepaskan Ayla, namun dia tidak mundur. Dia justru merangkul bahu Ayla dengan posesif, dan menariknya ke samping tubuhnya seolah menantang siapa pun untuk berkomentar.
“Rapatnya sudah selesai, bukan?” tanya Xavier dengan suara dingin dan tenang, seolah mereka tidak baru saja tertangkap basah sedang bercumbu di dalam lift.
“Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.“Ikutlah,
“Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya m
Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.Ayla tersentak. Tanp
Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik.
Lantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.Wan
“Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turu







