Beranda / Fantasi / Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha / Bab 2. Malam Pertama yang 'Panas'

Share

Bab 2. Malam Pertama yang 'Panas'

Penulis: Senja Berpena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-02 23:52:16

“Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”

Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.

Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.

Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”

Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.

“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”

Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”

“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turun. “Ikut aku.”

Mereka memasuki kamar utama. Tempat tidur berukuran super king berada di tengah ruangan yang minimalis.

Ayla menggigil karena hawa dingin dari dinding kaca itu menyentuh kulitnya yang terbuka. Namun, saat Xavier berjalan mendekat, suhu di sekitarnya mendadak berubah.

Xavier berdiri hanya beberapa senti di belakangnya. Ayla bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu, panas yang tidak masuk akal, seolah-olah Xavier adalah tungku api yang berjalan.

“Kenapa tubuhmu begitu panas?” bisik Ayla spontan lalu menoleh sedikit ke belakang.

Xavier tidak menjawab. Dia hanya menatap tengkuk Ayla yang terpapar cahaya bulan dari balik jendela. “Kau merasa dingin? Mendekatlah padaku.”

Xavier melingkarkan lengannya di pinggang Ayla dan menarik punggung gadis itu untuk menempel pada dadanya. Ayla langsung terkesiap. Melalui lapisan tipis pakaian mereka, kulit Xavier terasa membara.

Jika suhu manusia normal adalah 37 derajat, Xavier terasa seperti ribuan derajat yang sanggup melelehkan apa pun.

“Lepaskan ... ini terlalu sesak,” rintih Ayla, namun anehnya, tubuhnya justru mengkhianati kata-katanya. Ada kerinduan purba yang mendadak muncul dari dalam sel darahnya, sebuah dorongan untuk terus menempel pada sumber panas itu.

Xavier tidak membiarkannya pergi. Dia justru memutar tubuh Ayla hingga mereka berhadapan. Matanya yang biasanya tajam kini tampak lebih pekat, hampir menyerupai obsidian yang berkilau di kegelapan.

“Kau bergetar, Ayla. Apakah kau membenciku, atau kau mendambakanku?” tanya Xavier dengan nada rendah yang menggetarkan tulang rusuk Ayla.

“Saya ... saya tidak tahu,” bisik Ayla jujur. Pikirannya berkata lari, tapi instingnya berkata bertahan.

Xavier menyunggingkan senyum seram, lalu jemari panjangnya yang kasar mulai menelusuri garis rahang Ayla, turun ke leher, lalu berhenti tepat di denyut nadi gadis itu yang berpacu liar. Ujung jarinya seolah mencari titik terlemah di sana.

“Kau beraroma sangat manis,” gumam Xavier lalu menunduk, dan menyapukan hidungnya di sepanjang garis rahang Ayla, menghirup aroma tubuh gadis itu seolah sedang memetakan wilayah buruannya.

Ayla mencengkeram kemeja Xavier. “Tuan Alexander, tolong ….”

“Panggil namaku,” perintahnya dengan suara bisikan yang kasar.

“Xa-Xavier …,” desah Ayla tanpa sadar.

Reaksi tubuh Ayla semakin aneh. Perutnya terasa mulas, dan rasa panas dari Xavier mulai menjalar ke dalam dirinya, membuat kepalanya pening karena gairah yang tidak masuk akal.

Ini bukan sekadar nafsu; ini seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang sedang berusaha bangkit dan menjawab panggilan pria di hadapannya.

Xavier mengangkat Ayla dengan mudah, seolah berat tubuh gadis itu tidak lebih dari sehelai bulu, lalu membaringkannya di atas ranjang yang dingin.

Dia menindih Ayla, namun tetap menjaga jarak beberapa milimeter agar kulit mereka tidak sepenuhnya bersentuhan, menciptakan ketegangan yang menyiksa.

“Satu tahun, Ayla,” Xavier mengulang kalimatnya di kantor tadi pagi, tapi kali ini dengan intonasi yang jauh lebih berbahaya. “Tapi aku ragu kau akan bisa bertahan sejauh itu tanpa memohon padaku untuk tidak pernah melepaskanmu.”

Xavier menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ayla dan mulai mengecup kulit sensitif itu dengan perlahan, sangat perlahan, seolah sedang menikmati setiap detik ketakutan dan keinginan korbannya.

Sementara Ayla hanya bisa memejamkan matanya dan merasakan bibir Xavier yang membara menyentuh nadinya.

Tiba-tiba, tubuh Xavier menegang. Napasnya menjadi sangat berat dan memburu, lebih menyerupai embusan udara dari makhluk besar daripada manusia biasa.

Ayla merasakan tangan Xavier mencengkeram sprei di samping kepalanya hingga kain itu robek seketika. Gadis itu membuka mata dengan panik, mencoba melihat wajah Xavier yang tersembunyi di balik rambutnya yang berantakan.

Tepat saat bibir Xavier menyentuh kulit lembut di bawah telinga Ayla, sebuah suara keluar dari tenggorokan pria itu. Itu bukan suara rintihan, bukan pula suara bisikan rayuan.

Grrrrrrrr ….

Ayla membeku. Itu adalah geraman rendah, dalam, dan mengancam, sebuah suara yang biasanya terdengar di hutan liar dari balik semak-semak, bukan dari tenggorokan seorang CEO di sebuah penthouse mewah.

“Xavier?” panggil Ayla dengan suara bergetar hebat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 7. Berubah Wujud (?)

    “Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.“Ikutlah,

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 6. Sosok Pria Tua Menghampiri

    “Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya m

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 5. Bulan Purnama Hampir Tiba

    Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.Ayla tersentak. Tanp

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 4. Tidak Bisa Menahan Diri lagi

    Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik.

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 3. Sedikit Curiga, tapi Terhalang Aturan sang Alpha

    Lantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.Wan

  • Ranjang Panas Istri Kontrak sang Alpha   Bab 2. Malam Pertama yang 'Panas'

    “Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status