Masuk“Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.
Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.
Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”
Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”
“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”
Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.
“Ikutlah, dan aku akan menunjukkan wujud asli 'Xavier Alexander' yang agung itu. Kau akan melihat betapa menjijikkannya dia.”
Ayla tertegun. Kata-kata itu menghantam bagian terdalam dari keraguannya. Benar, Xavier menyembunyikan sesuatu yang besar.
Sesuatu yang membuat tubuhnya terbakar dan suaranya berubah menjadi raungan binatang. Namun, melihat tatapan Julian yang predator, insting Ayla berteriak bahwa pria ini jauh lebih berbahaya.
“Tidakkah kau penasaran, Ayla? Siapa suamimu sebenarnya?” bisik Julian lagi, lalu tangannya terulur, hanya beberapa senti dari wajah Ayla.
“Tidak,” jawab Ayla dengan gemetar namun tegas. “Aku tidak mau ikut denganmu!”
Julian mendengus, lalu senyumnya menghilang. “Sayang sekali. Jika kau tidak mau ikut secara sukarela, maka aku akan membawamu sebagai umpan.”
Tangan Julian bergerak cepat secepat kilat menuju leher Ayla. Ayla memejamkan matanya, bersiap untuk dampak yang akan terjadi.
Namun, sebelum jemari dingin Julian menyentuh kulitnya, sebuah raungan dahsyat membelah kesunyian malam, suara yang begitu kuat hingga kaca-kaca jendela di kamar itu retak serentak.
GRAAAAARRRRRRRRRR!
Sebuah bayangan hitam raksasa melompat dari kegelapan di bawah balkon, meluncur seperti peluru kendali. Makhluk itu menghantam Julian dengan kekuatan yang luar biasa. Suara benturan tubuh mereka terdengar seperti tabrakan dua mobil.
Ayla terlempar ke samping akibat gelombang tekanan dari terjangan itu. Ia terjatuh di lantai marmer, kepalanya membentur kaki ranjang. Pandangannya mulai kabur, namun ia masih bisa melihat siluet yang mengerikan di depannya.
Sesosok makhluk berbulu hitam pekat, setinggi hampir dua meter jika berdiri dengan dua kaki, kini sedang menindih Julian di lantai balkon. Itu bukan manusia.
Itu adalah serigala, namun ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari serigala mana pun yang pernah ada di ensiklopedia. Otot-otot di bawah bulu kasarnya berkedut penuh tenaga, dan taring-taringnya yang panjang berkilau terkena cahaya bulan.
“A-apa itu …?” bisik Ayla parau.
Julian mengerang, sembari mencoba menahan rahang raksasa itu yang hendak mengoyak lehernya. “Kau ... kau berubah sepenuhnya demi manusia ini, Xavier? Kau gila!”
Serigala hitam itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memberikan geraman rendah yang menggetarkan lantai di bawah tubuh Ayla. Panas yang memancar dari makhluk itu terasa begitu menyengat, memenuhi seluruh kamar.
Ayla berusaha bangkit, namun rasa pening di kepalanya semakin menjadi. Matanya mulai memberat. Hal terakhir yang dia rasakan adalah makhluk raksasa itu berbalik ke arahnya setelah berhasil melempar Julian keluar dari balkon.
Makhluk itu mendekat. Langkah kakinya berat namun anggun. Ayla bisa mencium aroma hutan, tanah basah, dan bau maskulin Xavier yang sangat pekat.
Saat pandangannya hampir gelap sepenuhnya, ia merasakan sesuatu yang besar dan hangat mendekat ke wajahnya.
Bulu hitam yang kasar menyentuh pipinya yang basah karena air mata. Napas panas yang memburu menerpa wajahnya, memberikan sensasi terbakar yang anehnya terasa akrab.
“Xavier ... tolong ….” Ayla menggumamkan nama itu untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar menelannya.
Dia pingsan, tak sempat melihat bagaimana serigala itu mengeluarkan suara rintihan yang sangat manusiawi, seolah menyesali wujud yang terpaksa ia tunjukkan.
“Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.“Ikutlah,
“Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya m
Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.Ayla tersentak. Tanp
Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik.
Lantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.Wan
“Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turu







