MasukLantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.
Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.
Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.
Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.
Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.
“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”
Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.
Wanita itu menatap Ayla dengan tatapan yang aneh, campuran antara jijik dan rasa lapar yang tidak bisa dijelaskan.
“Saya hanya kurang tidur, Nona Elena,” jawab Ayla pendek, dan kembali memfokuskan matanya pada layar komputer.
Elena tertawa, suara tawa yang terdengar tajam dan menusuk telinga. “Kurang tidur? Atau kau sedang mencoba menahan rasa panas di darahmu? Aku mencium baumu dari jarak sepuluh meter, bodoh. Bau keputusasaan dan bau Xavier yang tertinggal di kulitmu.”
Ayla mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Bau parfum Tuan Xavier memang kuat, dan itu wajar.”
“Bukan parfum, Bodoh,” Elena membungkuk lalu wajahnya mendekat ke arah Ayla. Matanya seolah berkilat kuning sesaat di bawah lampu neon kantor.
“Kau itu hanya manusia sampah. Kau tidak punya tempat di sini, apalagi di sampingnya. Kau hanya alat pemuas sementara sebelum dia menemukan yang sepadan.”
Ayla terdiam, sementara tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Saya di sini karena kontrak kerja dan pernikahan sah. Jika Anda punya masalah dengan itu, silakan bicara pada Tuan Xavier.”
“Pernikahan?” Elena mendengus kasar. “Kau pikir secarik kertas bisa mengikat makhluk seperti dia? Kau hanyalah daging segar di tengah kawanan yang kelaparan. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian dari kami.”
BRAK!
Pintu ruang CEO terbuka dengan bantingan keras. Xavier Alexander berdiri di sana, tanpa jas, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Urat-urat di lengannya menonjol, dan hawa panas yang familiar itu seketika memenuhi lorong kantor.
“Elena. Masuk ke ruanganku. Sekarang,” perintah Xavier dengan suara rendah, namun memiliki daya tekan yang membuat nyali siapa pun menciut.
Elena seketika tegak, lalu wajah angkuhnya berubah menjadi pucat pasi. “Baik, Tuan Alexander.”
Xavier melirik Ayla sekilas. Tatapannya tertuju pada kerah kemeja Ayla yang tinggi.
“Ayla, bawa semua berkas audit lima tahun terakhir ke mejaku dalam sepuluh menit. Aku ingin kau sendiri yang meringkasnya. Jangan beranjak dari ruanganku sampai semuanya selesai.”
“Lima tahun? Tapi Tuan, itu ribuan halaman,” protes Ayla.
“Dua belas menit kalau kau masih membantah,” potong Xavier dingin, lalu berbalik masuk.
Ayla menghela napas panjang. Dia tahu ini adalah cara Xavier untuk mengurungnya. Pria itu ingin Ayla tetap berada dalam jangkauan penglihatannya, dalam jangkauan indranya.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Ayla menyusun tumpukan map tebal itu dan melangkah masuk ke ruangan yang terasa seperti kandang singa tersebut.
Di dalam ruangan, Elena berdiri mematung di depan meja mahoni. Xavier duduk di kursinya, namun auranya begitu gelap hingga Ayla merasa ingin segera berbalik keluar.
“Tadi kau bilang apa pada istriku, Elena?” tanya Xavier, memang tidak berteriak, tapi nada bicaranya jauh lebih menakutkan daripada bentakan.
“Aku … aku hanya mengingatkannya tentang posisinya, Tuan,” Elena terbata.
Xavier berdiri perlahan lalu berjalan mendekati Elena, melewati Ayla yang baru saja meletakkan tumpukan berkas. Saat Xavier melewati Ayla, pria itu sengaja menyentuhkan lengannya ke bahu Ayla.
Rasa panas itu kembali menyengat, membuat Ayla hampir menjatuhkan map yang dia pegang.
“Posisinya?” Xavier berhenti tepat di depan Elena. “Posisinya adalah di atasku. Di ranjangku. Di dalam perlindunganku.”
“Tapi dia hanya manusia, Tuan! Dia sampah yang tidak tahu apa-apa tentang klan kita! Dia akan menghambat Anda!” teriak Elena, frustrasi yang terpendam akhirnya meledak.
Xavier mencengkeram leher Elena dengan satu tangan dan mendorongnya hingga punggung wanita itu menghantam dinding kaca dengan keras. Bunyi benturan itu membuat Ayla memekik tertahan.
“Dengarkan aku baik-baik, Elena,” bisik Xavier, dengan jarak wajahnya hanya beberapa senti dari Elena yang mulai kehabisan napas.
“Sekali lagi kau menyebutnya 'sampah' atau menyentuhnya dengan kata-katamu yang beracun, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa mencium bau matahari lagi. Kau tahu aku tidak pernah bermain-main dengan ancamanku,” bisik Xavier dengan geraman tajamnya.
Xavier melepaskan cengkeramannya lalu Elena jatuh terduduk, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang memerah.
“Keluar. Kau dipecat. Bereskan barangmu dalam lima menit atau aku akan menyuruh keamanan melemparmu keluar dari jendela ini,” ujar Xavier datar.
Elena menatap Xavier dengan ketakutan luar biasa, lalu melirik Ayla dengan kebencian yang lebih dalam sebelum akhirnya lari keluar ruangan.
Ruangan itu mendadak sunyi. Ayla berdiri terpaku di dekat meja, dan jantungnya berdegup kencang. Dia tampak bingung. Xavier membelanya, tapi dengan cara yang begitu kasar dan intimidatif.
“Kenapa Anda melakukannya?” tanya Ayla lirih. “Dia sudah bekerja lama untuk Anda, Tuan.”
Xavier berbalik dengan tatapan mata yang masih tampak gelap, sisa-sisa kemarahan masih tertinggal di sana. Lalu melangkah mendekati Ayla, dan membuat Ayla mundur hingga terbentur meja kerja.
“Tidak ada yang boleh menghinamu, Ayla. Hanya aku yang boleh menekankan posisimu di sini,” jawab Xavier.
Lalu mengulurkan tangan, dan menarik kerah kemeja Ayla hingga kancing paling atasnya terlepas. Ayla terengah, sembari mencoba menahan tangan Xavier, tapi tenaga pria itu seperti baja.
Xavier menatap leher Ayla yang penuh dengan tanda kemerahan hasil perbuatannya semalam.
“Sakit?” tanya Xavier dengan nada yang mendadak lembut.
“Sedikit,” bisik Ayla lirih. “Tuan. Ada yang ingin saya tanyakan mengenai—"
“Kerjakan tugasmu, Ayla,” potong Xavier di kulit lehernya. “Jangan banyak bertanya jika kau ingin ibumu tetap mendapatkan perawatan terbaik.”
“Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan gemetar.Julian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Kau tidak mengenalku, tapi kau juga tidak mengenal pria yang tidur di ranjangmu setiap malam. Kau pikir panas tubuhnya itu normal? Kau pikir geraman yang kau dengar di lift itu hanya halusinasi?”Ayla menggeleng kuat, sementara tangannya mencengkeram jubah mandinya hingga buku jarinya memutih. “Dia suamiku. Kami punya kontrak yang sah dan legal!”“Kontrak? Kau menjual dirimu pada monster, Ayla. Tidakkah kau ingin tahu apa yang dia lakukan di bawah tanah saat bulan purnama? Tidakkah kau ingin tahu kenapa sekretarisnya menyebutmu sampah?”Julian memiringkan kepalanya, matanya merah menyala, mengunci pandangan Ayla.“Ikutlah,
“Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier melebar, kuku-kukunya yang memanjang seperti belati hitam menekan bahu Ayla hingga kain jubah mandinya robek.“Xavier ... kau menyakitiku,” bisik Ayla, dengan air mata mulai menggenang di pelupisnya.Mendengar suara itu, tubuh Xavier tersentak hebat. Otot-otot punggungnya yang tebal tampak bergejolak, seolah ada sesuatu di bawah kulitnya yang memaksa ingin keluar.Mata emasnya yang menyala berkedip, berjuang melawan kabut insting predator yang hampir menelan kesadarannya.“Pergi ... Ayla ... kubilang pergi!” raung Xavier. Suaranya pecah, antara geraman binatang dan rintihan manusia.“Aku tidak bisa meninggalkanmu begini!” Ayla mencoba meraih wajah Xavier, namun pria itu menyentakkan kepalanya m
Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya masih naik turun karena kejadian di lift tadi. “Xavier? Kita sudah sampai. Kenapa tidak turun?” tanyanya kemudian.Xavier tidak menyahut. Matanya terpaku pada jendela kecil di sudut basement yang memperlihatkan secuil langit malam.Di sana, bulan tampak hampir bulat sempurna, bersinar dengan intensitas yang seolah menarik paksa sesuatu dari dalam dada Xavier.“Turunlah, Ayla. Masuk ke kamar,” suara Xavier terdengar berbeda, lebih parau, seperti ada kerikil yang bergesekan di tenggorokannya.“Kau tidak ikut?” tanyanya kembali.“Masuk sekarang!” bentak Xavier tiba-tiba. Wajahnya kini memerah, keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya meski AC mobil menyala dingin.Ayla tersentak. Tanp
Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas tali tasnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.Stres karena tumpukan dokumen audit dan konfrontasi dengan Elena tadi siang membuat aroma tubuhnya berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam dan mengundang bagi indra penciuman Xavier.“Kau gelisah, Ayla,” ucap Xavier dengan suara beratnya.“Siapa yang tidak gelisah setelah melihat Anda hampir mencekik sekretaris Anda sendiri?” sahut Ayla tanpa menoleh.“Dia melampaui batasnya. Dan kau ... kau melampaui kesabaranku.”Tiba-tiba, lift tersentak. Lampu indikator lantai mati, digantikan oleh cahaya merah remang-remang dari lampu darurat. Lift itu berhenti mendadak di antara lantai 20 dan 21.“Macet?” Ayla menekan tombol interkom dengan panik.
Lantai 40 Alexander Group terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, atau mungkin hanya tubuh Ayla yang sedang tidak beres.Dia tengah menyesuaikan kerah kemeja putihnya, untuk memastikannya menutupi setiap inci kulit lehernya.Cermin di toilet tadi memperlihatkan pemandangan yang mengerikan: kulitnya merah padam, bukan karena memar hantaman, tapi karena isapan dan lumatan liar Xavier semalam.Ayla kini duduk di meja sekretarisnya dengan kaku. Sendi-sendinya terasa linu, seolah dia baru saja melakukan lari maraton sejauh puluhan kilometer.Padahal, Xavier tidak melakukan penetrasi. Pria itu hanya mengurungnya, menghirup aromanya, dan menjilati lehernya seolah sedang mencicipi hidangan utama. Namun, rasanya bagi Ayla, dia merasa telah dibobol habis-habisan secara mental dan fisik.“Kau terlihat begitu berantakan, Ayla. Apa Xavier terlalu keras padamu semalam?”Ayla mendongak. Di hadapannya berdiri Elena, sekretaris senior Xavier yang selalu tampil sempurna dengan gaun merah ketat.Wan
“Masuk, Ayla. Ini rumahmu sekarang, atau lebih tepatnya penjara barumu.”Xavier Alexander mendorong pintu ganda penthouse pribadinya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.Ruangannya sangat luas, didominasi warna abu-abu arang dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota. Namun, udara di sana terasa ganjil. Meski pendingin ruangan menderu pelan, suasana terasa dingin sekaligus mencekam.Ayla melangkah ragu, sambil memeluk tas kecilnya erat-erat. “Kamar saya di mana, Tuan Alexander?”Xavier berhenti melangkah, lalu menoleh dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya.“Tuan Alexander? Kita sudah menandatangani kontrak itu, Ayla. Di depan publik, kau istriku. Di sini, kau adalah milikku. Dan milikku tidak tidur di kamar terpisah.”Ayla menelan ludah. “Tapi dalam perjanjian tidak disebutkan kita harus—”“Perjanjian itu mengatakan kau harus patuh,” potong Xavier cepat sambil melonggarkan dasinya, dan memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turu







