Home / Rumah Tangga / Ranjang Panas Suamiku / Bab 4. Undangan Makan Malam

Share

Bab 4. Undangan Makan Malam

Author: Kak Gojo
last update Huling Na-update: 2025-08-07 14:37:25

Sore ini, Daffa mengajak Nindi ke rumah orang tuanya untuk menghadiri undangan makan malam khusus merayakan keberhasilan proyek Wijaya Group.

Sesampainya di kediaman Wijaya, mereka disambut oleh suasana ruang tamu yang megah. Nindi mendadak terlihat gugup, Daffa pun menyadari hal itu.

"Sayang, rileks," bisik Daffa sambil menggenggam tangan Nindi.

Nindi menarik napas panjang. Ia memang selalu gugup setiap kali akan bertemu dengan mertuanya. Meskipun sudah lima tahun menyandang status menantu, ketakutan itu tak pernah hilang.

“Kalau Mama berkata sesuatu yang menyakitimu, abaikan saja,” kata Daffa.

Nindi mencoba menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia tahu betul bagaimana sifat Yunita. Ibu mertuanya itu memiliki lidah yang tajam, selalu ada saja perkataan tak terduga yang meluncur dari bibirnya, menusuk perasaan Nindi hingga ke ulu hati.

Tak lama, Yunita bergabung di ruang tamu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat pandangannya beralih dari Daffa ke Nindi. “Kalian datang lebih awal,” sapanya anggun. “Tapi tak apa, sambil menunggu, bagaimana kalau kita minum teh dulu?”

Yunita mengajak mereka ke ruang keluarga.

Di sana, percakapan akan terasa lebih intim, dan pertanyaan-pertanyaan Yunita akan semakin menusuk. Hal ini membuat Nindi semakin gugup.

Pelayan segera menyajikan teh dan camilan. Setelah semua duduk dan menikmati teh, Yunita memulai percakapan. “Jadi, bagaimana pernikahan kalian? Ada kabar baik untukku? Atau masih sama?”

Seperti dugaan Nindi, pertanyaan itu langsung mengarah pada topik yang sering Yunita bahas: cucu. Nindi hanya bisa menggeleng pelan, rasa bersalah menyelimuti hatinya.

Yunita mendesah kecewa. “Mau sampai kapan? Kalian sudah lima tahun menikah loh! Umur kamu dan Daffa juga sudah 28 tahun! Sudah terlalu tua untuk menunda momongan!”

Dulu, Nindi memang pernah menunda kehamilannya di awal tahun pernikahan. Nindi berkata kepada keluarga besar mereka bahwa Nindi ingin menikmati momen pernikahannya berduaan saja dengan Daffa tanpa kehadiran anak. Selain itu, Nindi juga berpikir jika memiliki anak akan mengganggu karirnya sebagai perawat baru kala itu.

Namun siapa sangka, hingga di tahun kelima pernikahannya, Nindi belum juga diberi momongan.

Nindi membela diri, “Ma, kami sudah nggak menunda momongan. Kami bahkan ikut program kehamilan, hanya saja memang belum rezeki.”

“Kalian masih sering melakukan itu, kan?” tanya Yunita tanpa basa-basi.

Nindi bingung. “Maksudnya, Ma?”

“Berhubungan seks! Kalian masih sering melakukannya, kan?”

Nindi dan Daffa bertukar tatapan kaget.

Daffa geram. “Ma! Apa tidak ada pembahasan lain?”

“Mama harus tau semuanya, Daffa! Jangan bilang kalian udah nggak pernah berhubungan seks karena Nindi selalu sibuk! Mama kan udah sering bilang, mendingan kamu itu berhenti saja dari kerjaanmu itu, Nindi! Karena kerjaanmu itu, Daffa jadi nggak terurus lahir dan batin!”

Daffa memelotot ke ibunya, lalu menatap Nindi yang sudah menunduk dan terlihat murung. “Mama jangan sok tau soal rumah tangga kami! Nindi tidak pernah mengabaikan kebutuhanku sesibuk apapun dia. Lagian, di rumah sudah ada ART, jadi Mama tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.”

“Ya, bagus! Sekalian saja suruh ART-mu itu melayanimu di ranjang! Jangan hanya memasak dan mencuci baju!”

“Mama!” teriak Daffa. “Mama sudah kelewat batas!”

Nindi tersentak melihat Daffa membentak Yunita. Pikiran buruk mulai merayap di benaknya. Apakah Daffa marah karena tersinggung? Apa Mila pernah melayaninya di ranjang?

'Tidak! Kenapa aku selalu berpikiran buruk pada suamiku sendiri?' batin Nindi cepat-cepat menepis. 'Mas Daffa pasti marah demi membelaku!'

Daffa langsung menarik tangan Nindi dan membawanya keluar dari rumah.

“Mas, kenapa kita pergi? Makan malamnya bahkan belum dimulai!” tanya Nindi heran.

“Kita makan di restoran saja,” jawab Daffa singkat sambil membukakan pintu mobil.

Nindi menolak masuk. Ada keraguan di wajahnya. “Bukan masalah makan malamnya, Mas. Tapi... keluargamu. Ini kan perayaan keberhasilan Wijaya Group. Apa kamu nggak masalah melewatkannya?"

“Itu tidak penting. Aku bukan lagi bagian dari Wijaya Group. Apa kamu lupa, Sayang? Aku sudah mendirikan perusahaanku sendiri.” Daffa meyakinkan. “Ayolah, Sayang. Naik! Apa kamu mau bertahan di sana dan mendengar omongan pedas Mama sepanjang malam?”

Nindi akhirnya luluh.

Sepanjang perjalanan, Nindi menatap suaminya dengan haru. Hingga saat ini, Daffa masih mempertahankan statusnya sebagai suami yang baik, pria yang berdiri di garda terdepan untuk membelanya di depan ibunya sendiri.

“Mas Daffa,” panggil Nindi lirih. Matanya berkaca-kaca.

Daffa melirik sejenak. Ia terlihat cemas. “Sayang? Apa yang membuatmu bersedih?”

Nindi menatap suaminya cukup lama.

“I love you, Mas,” ucap Nindi akhirnya. Suaranya terdengar gemetar penuh haru. Ia bahkan tak bisa menahan air matanya.

Daffa masih cemas. Namun ia berusaha menenangkan Nindi dengan mencium punggung tangan sang istri.

“I love you too, Sayangku,” balasnya lembut.

***

Setibanya di restoran, Daffa langsung memesan menu kesukaan Nindi.

“Kamu masih inget juga ya, Mas, kesukaan aku apa, padahal kita udah lama nggak makan di sini,” ucap Nindi terharu.

Nindi merasakan gelombang nostalgia, teringat masa pacaran mereka dulu. Daffa selalu mengajaknya makan malam di tempat ini.

Daffa terkekeh, tangannya meraih dan mengelus tangan Nindi. “Tentu saja, Sayang. Mana mungkin aku lupa menu favoritmu.” Ia menatap Nindi dalam-dalam. “Jangan pikirin ucapan Mama lagi, ya. Sekarang, ayo kita nikmati momen ini.”

Nindi mengangguk. Hatinya menghangat, mengingat betapa langkanya momen berdua mereka belakangan ini karena Daffa hampir lembur tiap malam.

Di saat Nindi dan Daffa menikmati santapan, sebuah deringan ponsel mengganggu ketenangan mereka.

“Sebentar, Mas. Dari rumah sakit.”

Sesaat setelah menjawab panggilan itu, wajah Nindi berubah pias. Ia buru-buru menutup telepon, lalu menatap Daffa dengan rasa tak enak.

“Maaf, Mas. Aku harus pergi.” Nindi bergegas mengambil tasnya. “IGD kelebihan pasien, dan jumlah perawat yang jaga enggak banyak. Aku harus bantu.”

Daffa mendengus kesal. “Aku kira hari ini kamu izin. Kenapa masih dipanggil kerja? Aku bahkan sudah mengosongkan seluruh jadwalku hari ini. Apa tidak bisa sekali saja kamu abaikan kerjaanmu itu, Sayang?”

Nindi terdiam, berpikir sejenak. Akhirnya, ia menghubungi rumah sakit kembali dan mengutarakan bahwa ia tidak bisa datang. Ia lalu kembali duduk.

“Udah, Mas. Jangan cemberut. Aku enggak jadi pergi, kok. Kita makan lagi, ya?”

Wajah Daffa masih terlihat masam hingga ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, dan senyum lebar langsung mengembang di wajahnya.

“Dari siapa, Mas? Kok senyum-senyum?” tanya Nindi penasaran.

“Klien,” jawab Daffa riang. “Proposalku akhirnya disetujui!”

Nindi ikut tersenyum. “Selamat, Mas. Aku ikut senang dengarnya.”

Namun, senyuman Nindi perlahan memudar saat Daffa justru berpamitan.

“Ini tidak bisa ditinggal, Sayang. Kamu tahu sendiri perusahaanku belum stabil. Proyek ini satu-satunya jalan untukku,” Daffa menjelaskan, “Kamu harus mengerti, ya? Oh, ya. Kalau kamu mau berjaga di rumah sakit, gapapa. Kayaknya aku pulangnya juga larut malam.”

Nindi hanya bisa menghela napas, melihat Daffa yang pergi terburu-buru. Ia duduk sendirian di restoran itu, membiarkan pikirannya berkecamuk, sebelum akhirnya pergi ke rumah sakit

***

Pukul satu malam, Nindi sudah tiba di rumah.

“Loh, Mas Daffa belum balik?” gumam Nindi saat melihat hanya ada satu mobil di garasinya.

Nindi mengernyit. Ia mengira Daffa sudah pulang. Ia pun melangkah masuk ke rumah.

Perut Nindi tiba-tiba keroncongan. Nindi langsung menuju dapur, berharap ada lauk di balik tudung saji. Tapi sial, tidak ada apa-apa di sana.

“Mila rupanya enggak masak,” gerutunya.

Nindi akhirnya mengambil sebungkus mi instan—makanan yang selalu ia hindari—dari lemari penyimpanan.

Saat membuang kemasan mi, matanya terpaku pada sesuatu di dalam tong sampah. Jantungnya berdebar kencang.

Sebuah kondom bekas berisi cairan sperma, terselip di antara tumpukan tisu.

“S-siapa... yang membuang ini?” gumam Nindi, suaranya bergetar.

Pikirannya langsung dipenuhi kabut. Perkataan ibu mertua kembali terngiang. “Jangan-jangan...”

Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke kamar Mila.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 129. Belilah Baju Baru

    Daffa langsung menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa.” Atensinya pun langsung beralih pada Arkana."Aduh, jagoan Papa makannya lahap sekali ya," goda Daffa, mencondongkan badan untuk mencium kening Arkana. "Lihat, Ma, dia senang sekali dibelikan biskuit baru."Wilona tersenyum, senyum yang terasa sedikit kaku. "Tentu saja. Dia senang karena biskuit itu kita belikan dari hasil keringatmu, Daffa. Bukan dari uang hasil merampas."Mendengar kata-kata itu, Daffa terdiam. Ia tahu Wilona masih memendam amarah atas kunjungan Nindi kemarin. Ia meletakkan sendoknya, meraih tangan Wilona yang bebas."Aku tau kamu masih marah, Wil, karena Nindi kemarin," kata Daffa pelan. "Tapi kita sudah sepakat, kan? Kita gak akan membiarkan mereka merusak kedamaian kita. Biarlah mereka hidup bahagia, dan kita pun harus fokus pada kebahagiaan kita juga.”Wilona menarik tangannya perlahan, kembali fokus pada Arkana. "Aku gak marah, Daffa. Aku hanya... memikirkan biaya hidup kita. Kau harus kembali ke pasar sebentar

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 128. Rencana Gila Wilona

    Malam harinya, Daffa dan Wilona berbaring di kasur tipis mereka. Arkana sudah tertidur pulas di antara keduanya.Tak lama, Daffa pun ikut ke alam mimpi, ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di pasar.Namun, Wilona tidak bisa memejamkan mata. Otaknya terus memutar kembali setiap ucapan Nindi: “Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang.” dan “Kami ingin kalian melihat bagaimana rasanya menjadi pemenang.”Darah Wilona kembali mendidih. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang mereka alami.Ia teringat bagaimana Nindi dan Rexa bekerja sama menjebak Baskara, ayahnya, dan bagaimana mereka mencuri semua aset perusahaan milik Daffa, Zenith Corp.Dendam yang selama ini ia tahan, yang ia pendam demi kebahagiaan sederhana, kini meledak kembali. Mereka berhak menderita, pikir Wilona.Wilona pun perlahan bangkit dari kasur, bergerak hati-hati agar tidak membangunkan Daffa. Ia lalu menyelinap keluar dari kamar, menuju kamar kecil Nanik yang ber

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 127. Undangan dari Mantan

    “Wah, jadi ini ya rumah baru kalian? Selamat ya,” sapa Nindi dengan nada merendahkan, menyapu pandangan ke kontrakan kecil itu. Ia menatap Daffa, yang mengenakan kaus oblong lusuh, lalu ke Wilona yang sedang menggendong bayi mereka. "Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang. Sangat... membumi."Darah Wilona terasa mendidih. Ia ingin sekali menjambak rambut Nindi, melampiaskan semua rasa sakit, pengkhianatan, dan penghinaan yang telah ia dan ayahnya alami. Namun, tatapan mata Daffa, yang berdiri di sampingnya, menyampaikan sebuah peringatan dingin.Daffa menggelengkan kepalanya sedikit, isyarat tanpa suara, mengingatkannya bahwa mereka tidak punya kuasa apa-apa lagi untuk melawan.Wilona menarik napas tajam, menahan semua amarah itu di balik ekspresi datarnya. "Mau apa kau kemari, Nindi?""Aku ingin mengantarkan undangan pernikahan." Nindi menyerahkan amplop itu ke tangan Daffa. "Kami tau kalian ingin melihatnya. Rexa dan aku mengundang kalian untuk menjadi saks

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 126. Bertemu Lagi

    Sementara itu, di belahan lain, Nindi dan Rexa tenggelam dalam kesibukan persiapan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.Di salah satu suite mewah hotel bintang lima di Jakarta, Nindi duduk di sofa beludru, jarinya mengetuk-ngetuk layar tablet, menyempurnakan daftar tamu.Di sudut ruangan, Rexa, calon suami Nindi, tengah bertelepon dengan pihak catering dan WO, ingin memastikan dekorasi aula besar sudah sesuai dengan tema mewah yang Nindi inginkan.Rexa terlihat tegang, tetapi bahagia. Ia akhirnya akan mengikat janji dengan Nindi, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari perusahaan Zenith Corp yang sudah Nindi pegang."Rexa! Sini sebentar," panggil Nindi tanpa mengalihkan pandangan dari tablet.Rexa segera menghampiri, duduk di sebelah Nindi. "Ada apa, Sayang? Sudah final untuk bunga mawar putihnya?""Bunga sudah beres, sudah pasti yang paling mahal dan paling segar. Ini tentang daftar tamu," kata Nindi, menyunggingkan senyum tipis. "Ada satu nama lagi yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 125. Keluarga Kecil

    "Dia tau kalau Papanya kini wangi kopi dan keringat, bukan wangi parfum mahal lagi," balas Daffa, mencium pipi Arkana yang gembil. "Begini jauh lebih jujur, Wil. Kebahagiaan kita gak lagi perlu dibeli."Setelah selesai, Arkana dibungkus handuk dan dibawa ke kamar. Daffa dengan cekatan memakaikan popok dan pakaian pada putranya, sementara Wilona bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Dapur kontrakan itu sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang bergerak leluasa. Wilona sedang mengiris tipis tempe dan bawang putih untuk memasak orak-arik tempe— menu andalan mereka karena murah dan bergizi.Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkari pinggang Wilona dari belakang. Daffa menyandarkan dagunya di bahu Wilona, menghirup aroma masakan yang bercampur dengan aroma minyak kayu putih dari bahu Wilona."Wanginya enak sekali," bisik Daffa, suaranya serak. "Aku jadi lapar.""Jangan peluk-peluk, Daffa. Tubuhku kotor," ujar Wilona, tersenyum kecil."Aku gak peduli," Daffa mengeratkan pelukannya

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 124. Hukuman Untuknya

    Beberapa bulan berlalu. Daffa dan Wilona bertahan hidup dengan menjual sisa perabotan kecil di rumah peristirahatan, sementara dunia sibuk menyorot skandal korupsi terbesar tahun ini.Tibalah hari yang menentukan. Daffa dan Wilona, bersama Nanik yang didorong di kursi roda, duduk di ruang tengah. Mereka menatap layar televisi 14 inci yang bersemut, menyaksikan siaran langsung pembacaan vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.Hakim Ketua membacakan putusan untuk terdakwa pertama: Baskara Hadikusuma.Udara di ruangan itu terasa berat."Menimbang seluruh alat bukti, keterangan saksi, dan pengakuan, Majelis Hakim menyatakan Terdakwa Baskara Hadikusuma terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut, serta tindak pidana pencucian uang, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status