MasukSeperti yang dikatakan Nayara, Sambara wajib memenuhi panggilan dari pihak kepolisian. Pagi itu, pria itu sudah tampil rapi dengan pakaian sederhana yang jarang ia kenakan.Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara sorot matanya yang tajam telah kembali seperti semula. Namun, ada satu hal yang berbeda. Kali ini, Sambara harus duduk di atas kursi roda karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih."Kau yakin akan datang?" tanya Agnira untuk kesekian kalinya, sambil merapikan sweater yang membungkus tubuh suaminya."Tentu saja. Ini panggilan dari pihak berwajib," jawab Sambara tenang.Meski demikian, tatapannya sempat beralih ke Nayara dengan sorot mata yang penuh arti. Tentu saja ia akan datang.Bagaimana mungkin ia melewatkan momen ketika musuh-musuhnya akhirnya menerima kekalahan yang pantas mereka dapatkan?Sudut bibir Sambara terangkat tipis. Setelah semua yang terjadi, akhirnya ia akan melihat mereka jatuh dengan matanya sendiri. Bukankah sudah ia katakan, bahwa dirinya tidak akan
Setelah pengakuan perasaan itu, keduanya sama-sama terdiam dalam kecanggungan yang sulit dijelaskan. Tidak ada percakapan yang terjalin di antara mereka.Sambara terlihat sibuk membaca jurnal yang berada di tangannya, sementara Agnira berpura-pura fokus pada ponsel yang sejak tadi ia pegang. Namun, sesekali keduanya diam-diam saling melirik.Setiap kali tatapan mereka bertemu, baik Sambara maupun Agnira akan segera mengalihkan pandangan dengan gugup, seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu, sudut bibir keduanya beberapa kali terlihat terangkat tipis tanpa sadar.Suasana hening itu terasa aneh, tetapi juga menenangkan. Mereka tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan pertengkaran atau sindiran seperti biasanya. Hanya duduk bersama dalam ruangan yang sama sudah cukup membuat jantung keduanya berdebar dengan cara yang berbeda.Ini gila dan itulah kenyataannya. Bibir mereka mungkin saling bungkam, namun takdir Tuhan sedang bekerja di dalamnya. "Agnira," panggil Sambara pelan.Agnir
"Kau tahu sesuatu tentang mereka?" selidik Agnira sambil memicingkan mata.Sambara mendelik tajam. Pria itu meringis kecil saat berusaha mengubah posisi duduknya. Bagian perutnya masih terasa nyeri karena jahitan yang belum benar-benar kering, belum lagi kakinya yang mulai merasakan efek dari luka yang ia terima."Lagipula, untuk apa mengurusi kisah cinta mereka? Kisah cinta kita saja sudah cukup rumit," gerutu Sambara pelan.Agnira yang mendengar itu hanya mampu menelan ludah dengan susah payah. Tidak salah memang, hanya saja kurang tepat. Sampai sekarang, Agnira bahkan masih tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri terhadap Sambara."Setidaknya bantu saya duduk. Jangan malah termenung seperti itu," sentak Sambara mulai kesal."Ck, iya, iya. Kau ini baru bangun sudah mengomel terus. Giliran tidur, bikin orang khawatir setengah mati," gerutu Agnira balik.Wanita itu segera meraih bahu Sambara dan membantunya duduk dengan hati-hat
"Kakak pamit dulu, ya. Kamu yang baik sama Robi, jangan nakal," pesan Agnira sambil memeluk Nana singkat.Setelah itu, tatapannya beralih kepada Robi yang berdiri sigap di belakang gadis tersebut."Robi, jagain adik saya!" perintah Agnira tegas."Siap, Bu!" jawab Robi mantap.Agnira mengangguk puas, atas jawaban asisten Sambara itu. "Baiklah, Kakak pamit, ya."Nana melambaikan tangan dengan senyum lebar, sementara Agnira berjalan menuju mobil sambil membawa tote bag di tangannya. Setelah masuk ke dalam kendaraan, pintu mobil tertutup perlahan.Tak lama kemudian, mesin mobil menyala dan kendaraan itu melaju pelan meninggalkan kediaman Lakeswara, menyisakan Nana dan Robi yang masih berdiri di halaman rumah."Semoga Kak Sambara dan Kak Naya bisa bertahan dari makanan itu," bisik Nana pelan. Ia melirik pada Robi yang masih berkaca-kaca.Keduanya sama-sama menutup mulut dan berlari masuk ke dalam rumah. Aroma yang tertinggal dari bekas cireng isi durian itu masih mereka rasakan, membuat ke
Agnira memutuskan untuk pulang bersama Nana. Wanita itu akan kembali saat malam hari dan membawa beberapa pakaian ganti, rumah Lakeswara terlihat sepi dan hening saat Agnira menginjakkan kaki. "Nyonya," sapa Nurma dengan wajah cemas, "bagiamana keadaan Tuan?" Agnira tersenyum samar, lalu menarik napas dalam. "Dia baik, Bi. Jangan khawatir, dia kan jagoan, mana mungkin cepat inalillahi." "Nyonya, bercandanya ngeri sekali," timpal Nurma meringis kecil.Agnira terkekeh pelan, lalu terduduk di sofa panjang dan menengadah kepala menatap langit-langit ruangan. Badannya lelah, pikirannya pun sama. Wanita itu memejamkan mata, menikmati semilir AC ruangan yang menerpa tubuhnya."Nyonya," panggil Nurma pelan. "Apa Anda menginginkan sesuatu?" Mata Agnira kembali terbuka, dia menegakkan tubuhnya dan menatap Nurma. "Buatkan cake strawberry, ayam goreng bawang putih, nasi hangat, ayam bakar juga, sama ... cireng isi durian." "Hah!" Bibir Nurma berkedut pelan, untuk makanan lainnya ia masih bis
Semua terdiam. Tatapan mereka serempak tertuju pada Sambara yang masih terlihat tenang di atas ranjang rumah sakit. Tidak ada keterkejutan ataupun kepanikan di wajah pria itu. Ia hanya mengangkat pandangannya dan menatap Nayara, seolah meminta penjelasan yang lebih rinci."Polisi memanggil Anda sebagai korban, Tuan," jelas Nayara. Wanita itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar surat yang terselip di dalam map berwarna hitam. Sambara menerima dokumen itu tanpa banyak bicara."Anda diminta memberikan keterangan lebih lanjut terkait kasus penyekapan yang dilakukan oleh saudara Panji," lanjut Nayara. "Termasuk tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap Anda selama berada di gudang."Ruangan kembali hening. Sambara membuka surat tersebut dan membaca setiap kalimat yang tercetak di atas kertas itu dengan seksama. Setelah beberapa saat, pria itu menurunkan dokumen itu dan mengalihkan pandangannya kepada Nayara yang berdiri di ujung ranjang."Kapan?" tanyanya singkat."Jika kondisi
"Kalian benar-benar harus menginap malam ini," ucap Kenan sambil menatap sendu ban mobil Sambara yang terlihat kempes.Kini keempat orang dewasa itu berdiri di halaman rumah. Angin malam berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Hujan memang sudah reda sejak setenga
"Aaahhh ..." Sambara mendesah saat Agnira mempercepat gerakan tangannya.Pria itu mendongak dengan mata terpejam, menikmati sensasi hangat yang membuat hasratnya memuncak. Satu tangannya bertumpu pada bahu Agnira. Meremat perlahan karena gelombang kenikmatan yang akan datang."Ah ... Sstt ... ahh .
Udara semakin dingin saat Agnira dan Sambara mengikuti langkah Kenan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Rumah bergaya kayu itu tampak elegan di bawah cahaya lampu yang meneranginya.Rumah Kenan memang terlihat sederhana dari luar, tetapi begitu memasuki bagian dalam, ukurannya ternyata sangat l
Pria yang biasanya selalu terlihat dingin dan sulit ditebak itu kini tampak berusaha menahan senyum. Meski wajahnya tetap tenang, sorot matanya tidak mampu menyembunyikan kebahagiaan yang perlahan memenuhi dadanya. Suapan demi suapan yang diberikan Agnira ia terima tanpa protes, menikmati setiap mo







