LOGIN
Kehadiran seorang buah hati di tengah keluarga merupakan sebuah anugerah terindah dari Tuhan. Meski begitu, nyatanya tak semua pasangan menginginkan datangnya sosok Sang pelita jiwa. Entah karena belum ada kesiapan, atau memang tidak berniat memiliki keturunan.
Diandra Maharani Adiwijaya adalah salah satu orang yang menganut Childfree. Ia dan suaminya, dr. Jonathan Alvaro memutuskan untuk tidak menghadirkan seorang anak pun di dalam pernikahan mereka. Menjadi seorang pesohor di negara maju menuntut Diandra untuk selalu menjaga penampilan dan bentuk tubuhnya. Ia takut bahwa tubuhnya akan berubah jika dirinya hamil atau bahkan melahirkan seorang bayi. Bayi mungil itu masih merah, baru beberapa hari yang lalu dilahirkan ke dunia. Dengan kain bedong biru membalut tubuhnya yang mungil, ia sangat nyaman terlelap di dalam gendongan salah seorang wanita yang sedang mengunjunginya. "Astaga, dia sangat lucu! Pipinya merah, tampan sekali!" pekik pujian teralun diiringi cubitan main-main pada pipi tembam Si bayi berjenis kelamin laki-laki itu. Melani, wanita bermata sipit khas keturunan Tiongkok itu begitu gemas pada putra dari temannya, Elizabeth Marthadinata. "Kau benar-benar beruntung, Liz, putramu begitu mirip denganmu." Nancy Ayudia, Si wanita berambut lebat bergelombang yang menggendong Si bayi menimpali. Ia sedikit mengayunkan gendongannya, membuat bayi laki-laki itu semakin terlelap dalam buaiannya. Diandra, wanita yang memiliki postur tubuh nyaris sempurna bak gitar Spanyol, rambutnya dicat cukup cerah; ash brown, dan bermata hazel memikat itu hanya tersenyum dari tempat duduknya. Sedangkan Sang suami yang duduk di sisinya terus saja memperhatikan buntalan kain berisi Si bayi mungil dalam diam. Entah apa yang ada dalam kepala tampannya saat ini. Dilihat dari sisi mana pun sepasang suami-istri itu tampak begitu serasi. Diandra adalah wanita yang cantik paripurna, sedangkan suaminya merupakan seorang pria blasteran berdarah Indonesia-Jerman yang tampan rupawan. Pria itu bertubuh tinggi menjulang, berambut pirang dengan kedua mata biru terang. Rahangnya yang tegas membuatnya terlihat bak pria bangsawan. Andai mereka berencana untuk memiliki keturunan, tak terbayang akan sesempurna apa anak mereka. "Jika kelak ia akan mengikuti jejakmu menjadi seorang model, aku yakin ia akan lebih bersinar daripada ibunya." Melani kembali berucap, sesuatu yang berhasil membuat Si ibu bayi tersenyum simpul. Elizabeth, wanita yang baru beberapa hari lalu melahirkan melalui operasi caesar itu memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada tumpukan bantal di belakang punggungnya. Gurat lelah tampak di wajahnya yang sayu, namun tetap terlihat cantik menawan. Rambut lembut nan terawatnya diikat ke belakang. Untuk saat ini wanita yang berprofesi sebagai model itu abai terhadap penampilan. "Yah, aku merasa bahwa karierku akan terancam olehnya. Tapi, aku memang berharap demikian. Terima kasih atas doa baik kalian." Samuel Marthadinata, suami Elizabeth kedapatan membelai rambut istrinya setelah wanita itu selesai berbicara. Meski tak terkata, pria keturunan Korea Selatan sekaligus pemilik sebuah label rekaman yang cukup ternama di ibu kota itu terlihat begitu mencintai Sang istri. Tak berbeda dengan Diandra Maharani, Elizabeth Marthadinata pun seorang model yang cukup ternama. Pergelaran busana Jakarta Fashion Week tidak pernah absen dirinya meriahkan. Namun, ia memilih untuk mematikan egonya demi melahirkan seorang putra untuk suaminya. "Kau ingin menggendongnya, Diandra?" Nancy pada akhirnya menatap ke arah Diandra yang hanya diam dan memperhatikan, ia menawarkan bayi yang berada dalam buaiannya. "Aku tidak yakin bisa melakukannya dengan baik." Bibir tipis berwarna merah jambu itu tersenyum canggung, namun di detik selanjutnya wanita itu bangkit berdiri menuju kedua rekannya. "Kau hanya perlu rileks. Biarkan dia nyaman berada dalam dekapanmu." Elizabeth yang masih merasakan nyeri pada bekas jahitan di perutnya berucap tanpa berpindah posisi, tetap duduk bersandar pada sofa. Dengan menekan rasa ragu, Diandra mengambil alih bayi newborn itu dari gendongan Nancy, meletakkannya dengan begitu hati-hati pada lengan kiri. "Begini?" "Ya, seperti itu." Si ibu bayi mengangguk, lengkap dengan senyum manis. Yang tak Diandra sangka, bayi dalam gendongannya tiba-tiba membuka mata, menampakkan mata polos yang mengerjap-ngerjap menatap wanita cantik itu. "Wah, dia bangun!" Diandra berseru riang. Dia berjalan menuju suaminya demi menunjukkan wajah bayi yang ia gendong. "Sayang, lihatlah! Dia membuka mata!" "Dia sangat menggemaskan." Jonathan berkomentar setelah melihat Si bayi, dan ia tersenyum tulus. Pria yang tahun ini akan genap berusia kepala empat yang berprofesi sebagai dokter keluarga itu menatap antusias. Dadanya menghangat saat melihat Sang istri terlihat begitu pantas menggendong seorang bayi. "Omong-omong, kau tidak ingin memiliki satu yang seperti itu? Kalian sudah menikah lebih dari satu dekade, bukan? Sepertinya suamimu sudah sangat ingin memilikinya." Elizabeth menggoda Diandra, hanya sekedar bercanda. Tentu mereka berempat sudah mengetahui bahwa temannya yang satu itu tidak ingin memiliki anak. Mereka bekerja di bidang yang sama, yang hampir setiap hari bertemu muka. "Kurasa kau salah, Liz. Suamiku tidak pernah mempermasalahkan perihal keturunan. Memiliki anak bukanlah prioritas kami, atau mungkin tidak akan pernah menjadi prioritas?" Diandra terkekeh merdu sebelum kembali meneruskan kalimatnya. "Untuk saat ini kami nyaman hanya dengan berdua saja. Bukan begitu, Sayang?" dan berakhir dirinya menatap wajah tampan suaminya, meminta pembenaran. "Jangan selalu menunda-nunda, Diandra. Wanita memiliki batasan usia yang ideal untuk hamil dan melahirkan. Usiamu genap tiga puluh lima tahun ini, bukan? Jangan sampai kau menyesal di masa tua nanti." Melani menyahut. Wanita yang sudah memiliki seorang anak balita itu mendudukkan diri pada kursi yang sebelumnya ia duduki seraya menyesap secangkir teh yang disajikan untuknya. "Terima kasih karena sudah mencemaskanku. Tapi, kami benar-benar baik-baik saja dengan kehidupan kami." Meski sedikit merasa tak nyaman mendengar ucapan Melani, Diandra masih mampu tersenyum manis. "Setiap orang memiliki pilihan hidup masing-masing, bukan? Dan untuk tidak memiliki keturunan sudah menjadi kesepakatan kami, bahkan sebelum janji suci pernikahan terucap. Kami bahagia dengan pernikahan kami. Dan orang luar hanya perlu melihatnya saja, tanpa perlu menghakimi." Seketika itu pula, atmosfer di ruang keluarga itu berubah kaku. *** Tbc...Langit di luar sana belum sepenuhnya terang. Jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Warna biru keabu-abuan masih menggantung di jendela, tapi Lily sudah sibuk di dapur kecil di rumahnya. Dapurnya sempit. Kompornya cuma satu tungku. Meja kayunya sudah agak lapuk di pojok. Tapi hangat. Hangat karena di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktunya sejak nenek meninggal. Tumis sayuran yang ia masak sudah matang. Aroma gurih bawang putih yang ditumis bersama saus tiram menguar dari wajan, bercampur dengan wangi ikan goreng. Aroma itu membuatnya tersenyum senang. Senyum yang tulus, bukan senyum saat bekerja di kafe. "Sebaiknya kukoreksi dulu rasanya!" Tangan kanannya meraih sendok, kemudian mengambil sedikit hasil masakannya untuk ia cicipi. Panas. Lidahnya sampai sedikit kelu. Dan ketika ia merasa bahwa rasanya telah sesuai, kepala dengan rambut panjang itu terangguk puas. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar tidak terkena minyak. Beberapa helai jatuh ke pipi, tapi ia biarkan.
Jonathan baru saja selesai mandi ketika Diandra memasuki kamar mereka dengan secangkir kopi di tangan kanan. Rambut wanita itu masih tampak lembab, sebab ia memang belum sempat mengeringkannya. Namun, gaun panjang tanpa lengan berwarna marun sudah terpasang rapi membalut tubuhnya yang ramping. Meski tanpa riasan, Diandra masih tetap terlihat cantik menawan. Ini akhir pekan, namun istrinya tetap berangkat bekerja. Sangat berbeda dengan Jonathan, biasanya ketika libur bekerja ia memilih menghabiskan waktunya dengan membakar kalori di salah satu gedung pusat kebugaran terdekat. Tetap memiliki tubuh atletis di usianya yang menginjak kepala empat tentu bukanlah hasil yang instan, bukan? Pria itu gemar berolahraga bukan hanya untuk menjaga bentuk tubuhnya, namun untuk menjaga stamina dan kesehatannya juga. Apalagi profesinya sebagai dokter menuntut tenaga ekstra. Tapi, hari ini ia harus berangkat bekerja, sebab ia mendapatkan shift darurat di rumah sakit. Ada pasien kecelakaan berunt
"Aku pulang." Jonathan melepas senyuman. Penatnya seolah luntur seketika. Ia menarik Diandra ke dalam pelukannya, memberikan ciuman di kening istrinya ketika wanita itu sudah berdiri di hadapan. Kecupan itu lama. Tulus. Seolah untuk membayar semua hari-hari yang mereka lewatkan. "Selamat datang, Sayang." Sedangkan Diandra memeluknya, menenggelamkan diri dalam dekapan hangat tubuh Sang suami. Tangannya melingkar di punggung Jonathan, menepuk-nepuk pelan. "Kau tahu, aku sangat merindukanmu!" napas ia tarik dalam-dalam demi mencium aroma parfum di bagian dada. Aroma antiseptik bercampur parfum kayu yang khas milik Jonathan. Mata hazel menawan itu terpejam menikmati. Rumah akhirnya terasa seperti rumah lagi. "Aku juga merindukanmu." Ciuman Jonathan berpindah pada ubun-ubun kepala. Ia menghirup aroma sampo Diandra. "Kapan kau sampai?" tanyanya kemudian. Diandra melepas pelukan kemudian mendongak untuk mencari mata biru suaminya. Ada kantung mata di bawah mata itu, tapi tetap tampan. "Em
Kembali bertemu dengan seseorang yang membuat kita jatuh cinta tentu memberikan efek bahagia yang luar biasa. Senyuman Lily tak pernah padam dari mentari terbit bahkan hingga bulan menampakkan sinar redupnya. Pertemuan itu benar-benar mempengaruhi suasana hati gadis itu. Jarum pendek pada jam dinding itu telah menyentuh angka sembilan malam, kesibukan di kafe Serenade berjalan seperti biasanya. Meja-meja itu hampir sepenuhnya terisi, sebab para muda-mudi kerap menghabiskan waktu di kafe pada akhir pekan begini. Entah sekedar untuk bersosialisasi dengan teman, atau sengaja menghabiskan waktu bersama pasangan. Lily baru saja selesai mengantarkan pesanan pada meja terakhir. Dan ketika ia kembali ke area dapur, ia tersenyum cerah saat melihat presensi Jasmine. Wanita berusia awal tiga puluhan itu tampak sedang mencuci peralatan makan di wastafel. "Aku membawakanmu minuman dingin, Kak. Terimalah." Lily meletakkan nampan berbahan kayu di atas meja kemudian berdiri di sisi Jasmine. Tangan
"Kalau begitu, makanlah yang banyak, Lily. Pesan apa pun yang kau inginkan. Jangan memikirkan soal harga, saya yang akan membayarnya." Suara Jonathan terdengar rendah dan hangat, seperti biasa. Tapi malam ini ada nada lembut yang tidak biasa di dalamnya. Matanya yang biru menatap Lily tanpa berkedip, seolah ingin memastikan gadis itu benar-benar makan dengan tenang. Alis gadis itu tampak menukik secara spontan, pertanda ketidaksetujuan. Pipinya sedikit mengembung karena kesal. "Tapi, seharusnya saya yang mentraktir Anda. Kenapa justru Anda yang membayarnya?" Lily bukan tipe gadis yang suka merepotkan orang. Sejak kecil ia sudah diajarkan neneknya untuk mandiri. Menerima kebaikan orang lain, apalagi dari seorang pria, membuatnya merasa berhutang. Dan ia paling benci merasa berhutang budi. Jonathan terkekeh pelan. Tawa itu membuat kerutan halus di sudut matanya semakin terlihat. Godaan maut untuk jantung Lily. "Tidak apa-apa, itu sebagai tanda terima kasih dari saya karena kau mau
"Jadi, dengan siapa kau tinggal, Nak? Dua kali saya melihat rumahmu, selalu saja tampak sepi." Tanya itu terlepas setelah sesendok nasi hangat memasuki mulut pria itu. Iringan musik akustik melingkupi suasana kafe tempat mereka singgah, mengubah setitik rasa canggung yang sempat mampir berubah menjadi cukup santai. Semakin malam, kafe The Cozy Cup justru semakin ramai. "Dulunya saya tinggal bersama nenek saya, Tuan. Setelah Beliau tiada, saya tinggal sendirian." Lily mengukir senyum singkat, senyuman yang tak sampai ke mata. Tangan-tangannya yang memegang sendok dan garpu sejenak berhenti bergerak di atas piringnya. "Maaf, bukankah ayahmu masih ada? Kenapa kau tidak tinggal bersamanya saja? Saya rasa kau akan aman jika tinggal bersama orang dewasa." Jonathan turut menghentikan gerakan tangannya untuk kembali menyuap makanan, matanya menatap penuh pada wajah cantik di hadapannya yang kini menundukkan kepala. Lily tampak menatap kosong spaghetti bolognese yang tersaji di atas meja.







