INICIAR SESIÓNDiandra Maharani adalah seorang model yang kini mulai melebarkan sayapnya pada seni peran. Ini adalah syuting perdananya sebagai seorang aktris. Meskipun hanya memerankan tokoh sampingan, namun baginya hal itu merupakan awal yang baik bagi kariernya di dunia perfilman. Berakting di depan kamera sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi Diandra, namun biasanya proses syuting yang ia lakoni hanya memakan waktu yang relatif singkat; hanya memerlukan waktu beberapa hari saja, karena ia hanya membintangi sebuah iklan atau menjadi model video klip sebuah lagu. Diandra melangkah masuk ke dalam ruang ganti. Bukannya senyum yang ia tebar, justru wajah cantiknya tertekuk kesal. Kebetulan di ruangan itu hanya ada dirinya dan Sang asisten pribadi, Javier. "Arrgghh! Laras sialan!" tiba-tiba saja sebuah umpatan keluar dari mulutnya, ia mengempaskan pantatnya pada sofa dengan gerakan kasar. "Aku benar-benar kesal padanya!" Javier menatap padanya. Dengan sebotol air mineral dingin di tangannya, pri
Libur bekerja bagi Lily adalah suatu anugerah. Waktu di mana ia bisa bersantai di dalam kamarnya dan ditemani oleh tontonan drama seri asal negeri gingseng favoritnya. Yah, meskipun bila boleh jujur, ia lebih menginginkan untuk ditemani oleh Si pria jangkung berambut pirang dan bermata biru itu. Namun, sayangnya Jonathan sudah pergi hampir dua jam lalu, tepat setelah mengantarkan dirinya pulang selepas makan malam bersama di 'The Cozy Cup', sebuah restoran yang menyajikan beragam makanan tradisional dan modern yang lokasinya paling dekat dengan rumahnya. Hanya makan malam biasa, tapi berbeda bagi Lily. Baginya, makan malam tadi merupakan kencan pertama mereka. Tak lama berselang, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Lily dari layar ponselnya. Tanpa mengubah posisinya yang sedang tengkurap di atas tempat tidur, secara spontan ia menoleh pada jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah cukup larut. "Siapa yang datang di jam seperti ini?" Lily bertanya pad
Lily membeku. Hangat di pipinya hilang berganti was-was, sebab ia memang tidak membeli pil kontrasepsi sesuai perintah Si pria. Senyumnya berubah kaku. Kering. "... sudah." Ya, pada akhirnya Lily memilih berdusta, lalu menoleh ke arahnya. "Kenapa Anda bertanya?" "Hanya untuk berjaga-jaga saja. Jika kau sampai hamil, kita akan tamat. Lagipula kau masih terlalu muda untuk mengandung." Jonathan menjawab dengan ketenangan yang seakan telah terlatih. Sedangkan Lily justru mengernyit menatapnya. "Maksud Anda, jika saya sudah cukup dewasa bagi Anda, maka saya boleh mengandung anak Anda?" sungguh, jantungnya berdebar-debar. Apakah ucapan Jonathan barusan adalah sebuah sinyal bagus untuknya? Namun, Jonathan justru tampak membeku. Sejenak ia kehilangan kata-kata untuk memberikan respons atas ucapan Lily. Sejujurnya, bahkan ia tidak tahu harus ke arah mana membawa hubungan mereka nanti. Jonathan belum bisa melihat jalan di hadapan mereka, semua masih tampak abu-abu. "Pada intinya, kita haru
Langit belum sepenuhnya gelap ketika Jonathan turun dari kendaraan roda empatnya. Pria itu tampak melihat pada arlojinya sejenak sebelum menutup pintu mobil yang ia parkirkan di halaman rumah Lily. Pada akhirnya ia memilih untuk menuruti permintaan wanita itu untuk mampir ke rumahnya sepulang bekerja. Entahlah, seakan ia telah terjerat oleh mantra magis yang Lily tiupkan padanya sehingga ia tidak mampu menolak keinginannya. Kini Jonathan telah berdiri di depan pintu rumah Lily. Tangan kanannya terulur untuk mengetuk permukaan pintu berbahan kayu jati itu. Dan setelah ketukan ke tiga, pintu itu terbuka. Tentu ada sosok cantik Lily di baliknya, tersenyum begitu menawan ke arahnya. "Selamat datang, Paman." Tepat di detik itu, kedua mata biru Jonathan membeliak. Spontan pria itu segera menutup rapat pintu kemudian menguncinya. Ketika tubuh jangkung itu berbalik, ia menatap tubuh Lily dengan kening mengerut, seakan tak suka. "Mengapa kau memakai baju yang ... seperti itu?!" ucapnya. M
"Kau akan datang nanti malam?" Pertanyaan dari Marcell sukses mengalihkan perhatiannya. Sejenak menghentikan suapan makan siangnya ke dalam mulut, Jonathan menatap Si lawan bicara. Ada kernyit samar di dahi, pertanda dirinya tidak paham dengan arah pertanyaan rekan kerja sekaligus sahabat di depannya. "Datang ke mana?" tanyanya. "Pesta perayaan dr. Baskara." Selesai berucap, Marcell kembali melahap mie ayam yang menjadi menu makan siangnya kali ini. Makan siang yang terlambat, sebab jarum jam sudah menunjukkan pukul dua. Perutnya sudah meronta-ronta meminta diisi. Kafetaria rumah sakit cukup lengang, hanya beberapa meja saja yang terisi, termasuk meja yang Jonathan dan Marcell tempati. Kebetulan mereka baru saja selesai menangani seorang pasien penderita penyakit jantung kronis bersama-sama. "Wah, apakah Beliau naik jabatan?" Jonathan kembali bertanya. Ia meraih es jeruknya, meminumnya perlahan menggunakan sedotan. Dingin bercampur rasa manis dan sedikit asam mengaliri tenggoroka
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi ketika Jonathan keluar dari kamar mandi di bagian dalam kamar. Beberapa menit lalu pria itu memang terbangun ketika perasaan ingin buang air kecil mengganggu tidur lelapnya. Langkah pelan itu kembali menuju tempat tidur, kembali menyusul Sang istri yang masih dibelai mimpi. Ketika tubuhnya terbaring di sisi pendamping hidupnya, hatinya tergerak untuk meraih ponsel di atas nakas, hanya sekedar untuk mengecek notifikasi. Dan yang tidak ia sangka, ia menemukan sebuah pesan dari Lily. [Paman sudah sampai di rumah?] Jonathan tersenyum tanpa sadar. Pesan itu terkirim lebih dari tiga jam yang lalu, pesan yang ia artikan sebagai bentuk sebuah perhatian. Dulu ketika awal ia menikah dengan Diandra, istrinya pun kerap kali memberikan perhatian serupa, namun setelah bertahun-tahun berlalu, semua itu sirna. [Saya sudah sampai di rumah dengan selamat, Lily. Maaf karena baru sempat membalas pesanmu. Saya sangat lelah, dan langsung tidur ketika sampai di rumah.]







