LOGINLampu gantung rotan di atas meja mereka bergoyang pelan tiap kali angin laut memasuki ruangan restoran. Di luar, ombak menghantam batu karang. Konstan. Seperti suara detak jantung yang tenang. "Di sini cukup sepi, ya?" Lily berucap setelah duduk di kursi kayu, menghadap sebuah meja bundar. Mata indahnya telah selesai menatap sekeliling. Hanya ada beberapa meja yang terisi, berpasang-pasangan. "Itu salah satu alasanku memilih tempat ini. Di sini cukup privat, tidak akan ada yang mengenali kita." Jonathan menjawab, pria itu duduk tepat di depannya, hanya bersekat meja dengan vas berisi bunga mawar merah di atasnya. Aneka makanan laut sudah tersaji. Masih hangat, mengepulkan asap tipis. Aromanya menggugah selera. "Oh, pantas saja." Kepala Lily mengangguk beberapa kali tanda paham. Hubungan mereka memang selalu dirahasiakan, bahkan sebuah keharusan. Ada saat di mana Lily sangat ingin diakui. Ia ingin dunia tahu bahwa Jonathan adalah miliknya. Bukankah itu hal yang wajar? Seorang yang
Angin Bali sore itu tidak bohong. Tidak seperti di Bandung yang berisik, bau asap, pula lampu neon yang tidak pernah mati. Di sini ... sepi. Pasir Pantai Nusa Dua begitu putih. Putih bersih, lembut setiap kali terinjak. Lautnya biru. Bukan biru biasa, tapi biru kaca. Jernih sampai batu karang di dasarnya terlihat jelas, bergoyang pelan ketika terkena arus. Anginnya terasa hangat. Membawa bau garam dan bunga kamboja yang sedang mekar di pinggir jalan, serta bau sate ikan yang dibakar dari warung nelayan di ujung pantai. Sesekali ada burung camar lewat, berteriak, lalu melayang jauh. Di sini hanya ada suara ombak. Bergulung-gulung naik, pecah di bibir pantai, kemudian mundur lagi. Seperti napas. Panjang, tenang, teratur. Tidak ada suara klakson. Tidak ada suara notifikasi ponsel. Berbicara tentang ponsel, bahkan sampai saat ini Jonathan belum mengganti mode pesawat di ponselnya. Alat komunikasi canggih miliknya itu ia tinggal di kamar resort. Masih tergeletak di atas nakas. "Langi
Jonathan duduk di tepi ranjang, menatap hamparan lautan yang tampak jelas melalui jendela kaca besar kamar resort yang ia sewa bersama Lily. Mata birunya melirik pada ponsel di atas nakas, ponsel yang masih dalam mode pesawat, mode yang ia pasang ketika masih terbang di atas ketinggian. Dan ia ada di sini, kurang lebih sudah dua puluh lima menit yang lalu, di Bali dan bukan Bandung. Ia telah sukses membohongi istrinya. Rasa bersalah itu sejenak hinggap, namun ia tepis dengan gelengan kepala. Tangannya yang bertaut di atas lutut mengepal kuat dengan jari menyentuh permukaan cincin pernikahannya dengan Diandra. Detik berikutnya ia memejamkan erat kedua mata ketika hatinya bergejolak gusar. Tidak! Ini sudah menjadi keputusannya, dan tidak boleh ada penyesalan. Jika Diandra bisa bepergian dengan leluasa bersama Javier, maka ia pun berhak pergi bersama Lily dengan hati tenang, bukan? Itulah yang dinamakan impas. Ia pergi dengan Lily karena Diandra sering bepergian dengan Javier. M
Mentari belum terlalu tinggi saat mobil Hatchback itu berhenti di halaman luas rumah Diandra dan Jonathan. Wanita cantik dengan riasan yang hampir setiap saat terpoles sempurna itu membuka pintu rumahnya, langkah anggun itu menjejak turun dari undakan, perlahan, menuju mobil yang sudah menunggunya. "Langsung ke lokasi saja, Javier." Itu adalah ucapan pertama Diandra ketika baru saja duduk di kursi penumpang depan sebelum menutup pintu mobil di sisinya. Tak ada yang berubah, wanita itu tetaplah cantik memesona kendati hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Baiklah. Pakai sabuk pengamanmu kalau begitu." Javier memerintah dengan lembut, kembali menginjak pedal gas dengan pelan. Sedangkan Diandra menurut tanpa kata. Setelah sabuk pengaman berhasil ia pasang, ia kembali fokus pada ponsel yang semula tergenggam. Lalu, embus napas berat terlepas. [Sayang, sudah sampai di Bandung?] Pesan itu telah ia kirim lebih dari tiga jam yang lalu, ketika suaminya telah dua puluh menit meninggalkan
Jam kerja selesai, itu tandanya Jonathan harus pulang. Bukan ke rumahnya, melainkan rumah Lily. Rumah kedua yang selalu mampu membuatnya merasa nyaman. Meskipun itu bukan rumahnya sendiri. Jam di dashboard menunjukkan pukul setengah enam sore, di mana mentari sudah mulai terbenam. Jingga itu masih tersisa sedikit sebelum kegelapan menyelimuti langit di atas sana. Jonathan baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Lily. Ia menjejak turun pada paving, memasukkan kunci mobilnya ke dalam saku celana kemudian berjalan dengan sedikit bersiul menuju teras. Belum apa-apa, aroma gurih masakan rumahan sudah mulai tercium ketika tangannya memutar gagang pintu. Senyumnya mengembang tanpa sadar. "Aku pulang." Lily yang sedang menata makan malam di meja segera menoleh ke arah pintu. Senyuman terukir lebar saat menangkap sosok jangkung yang sudah ia tunggu kedatangannya. Ia mengusap tangannya pada celemek sebelum akhirnya berjalan pelan menuju posisi pria itu. Rambut panjangnya yang
Wajah pedih serta mata sembab Diandra terus saja terbayang ketika Jonathan melangkah menuruni anak tangga dari lantai dua. Semalam saat dirinya pulang, istrinya itu telah tertidur nyenyak dengan jejak air mata yang mengering di pipi. Jujur ia khawatir, ia hanya takut terjadi hal yang buruk pada wanita yang telah ia persunting lebih dari sepuluh tahun lamanya itu. Apalagi hari masih begitu pagi, bahkan mentari belum menampakkan diri. Tetapi, wanita itu telah menghilang dari sisinya. Apalagi dengan keadaan yang sangat ia yakini sedang tidak baik-baik saja. Ini kali kedua ia mendapati Diandra menangis ketika hendak terlelap di malam hari. Dan tebakannya tak mungkin salah; lagi-lagi istrinya itu menangis jelas karena dirinya. Kali ini karena ia yang telah menggagalkan rencana bulan madu kedua mereka. Langkah panjangnya mengantarkan pria itu pada ambang pintu dapur. Hela napas lega terembus spontan ketika sepasang mata birunya menangkap presensi seseorang yang ia cari. Ya, ternyata







