Beranda / Romansa / Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian! / Bab 112 Aliansi yang Terluka dan Benang Merah Singapura

Share

Bab 112 Aliansi yang Terluka dan Benang Merah Singapura

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 08:00:57

Malam di Jakarta selalu menyimpan sisi yang lebih dingin bagi mereka yang sedang memikul rahasia besar. Setelah menyembunyikan Bram di sebuah apartemen rahasia, Dion tidak bisa memejamkan mata. Informasi bahwa Papa Hendra adalah sosok yang menghancurkan kebahagiaan Ibu Ratna dan Tuan Wijaya demi obsesi gilanya, membuat Dion merasa seperti sedang memelihara seekor naga di dalam rumahnya sendiri.

Ia duduk di ruang kerja pribadinya di rumah Limo, menatap layar monitor yan

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 140 Cahaya Baru di Rumah Limo

    Matahari sore merambat perlahan melalui celah gorden sutra di ruang tengah rumah Limo, menciptakan garis-garis emas yang hangat di atas lantai marmer. Setelah rangkaian badai yang nyaris menghancurkan pondasi keluarga mereka, suasana rumah ini kini terasa jauh lebih lapang, seolah-olah oksigen yang mereka hirup telah dimurnikan dari racun-racun manipulasi masa lalu. Fokus Dion kini bukan lagi pada strategi menjatuhkan musuh, melainkan pada pembangunan kembali kepercayaan Maya yang sempat hancur akibat hasutan Santi."May, kamu sudah siap? Bram dan tim keamanan sudah berjaga di butik untuk fitting terakhir sore ini," teriak Dion dari lantai atas sembari merapikan kancing kemeja kasualnya.Maya muncul dari arah dapur, membawa botol susu Bintang. Wajahnya yang dulu sering nampak tegang dan penuh kecurigaan kini telah kembali memancarkan ketenangan yang murni. "Sebentar, Yon. Bintang baru saja tertidur pulas. Aku titipkan sebentar ke Mama Diana dulu ya."Di

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 139 Maaf yang Tak Terucap

    Pagi itu, suasana di kediaman Limo terasa jauh lebih ringan. Setelah pembersihan sisa-sisa duri seperti Santi dan Lisa berhasil diselesaikan secara permanen di bab sebelumnya, Dion Pradana merasa seolah-olah separuh beban di pundaknya telah luruh. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya—sebuah utang rasa kepada pria yang telah menjadi mata dan telinganya selama masa-masa tersulit: Bram.Dion berdiri di beranda samping, memperhatikan Bintang yang sedang berlari kecil mengejar kupu-kupu di bawah pengawasan Bu Diana. Di tangannya terdapat dua gelas kopi hitam pekat yang uapnya masih mengepul. Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan pagar. Sosok pria dengan jaket kulit hitam yang selalu nampak waspada keluar dari sana. Itu adalah Bram.***Bram melangkah mendekat dengan langkah santai, meskipun sorot matanya tetap tajam memindai sekitar—kebiasaan lama sebagai ahli intelijen yang sulit dihilangkan."Ngopi pagi-pagi b

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 138 Pembersihan Sisa Duri

    Fajar di Jakarta belum sepenuhnya menyapu sisa kabut saat Dion Pradana sudah berdiri di depan dinding kaca ruang kerjanya yang baru. Meskipun Papa Hendra telah resmi mendekam di balik jeruji besi dan bersiap untuk pengasingan permanen ke Swiss, Dion tahu bahwa kedamaian di Rumah Limo belum sepenuhnya terjaga. Masih ada dua duri tajam yang berpotensi meracuni kemenangannya: Santi, sang psikolog gadungan yang licik, dan Lisa, selir yang sempat ia gunakan namun kini menyimpan agenda sendiri."Bos, tim Anto sudah mengepung vila pribadi di pinggiran Puncak," lapor Doni yang masuk dengan langkah sigap. "Santi bersembunyi di sana. Dia mencoba menghancurkan beberapa hard drive yang berisi rekaman sesi manipulasi terhadap Bu Maya."Dion merapikan jam tangannya, sorot matanya dingin bak pedang yang baru diasah. "Jangan biarkan dia menghapus satu byte pun, Don. Aku ingin semua bukti itu menjadi paku terakhir di peti matanya. Bagaimana dengan Lisa?""Lisa sudah dalam pengaw

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 137 Eksekusi Finansial

    Pagi itu, atmosfer di ruang rapat utama lantai 40 Menara D-Next terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan akibat intimidasi Papa Hendra. Ruangan itu kini dipenuhi oleh tim auditor independen, pengacara internasional bentukan Bu Diana, serta perwakilan dari otoritas bursa saham. Dion Pradana duduk di kursi pimpinan, mengenakan setelan jas navy yang pas di tubuh tegapnya, nampak tenang namun memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan."Semua berkas sudah diverifikasi, Pak Dion," ujar kepala auditor sembari menyerahkan dokumen digital terakhir. "Seluruh aset yang selama ini disamarkan oleh Hendra Wijaya melalui firma bayangan di Singapura dan Panama telah berhasil ditarik kembali ke dalam konsolidasi keluarga Wijaya Kusuma.".Dion mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja mahoni yang kini benar-benar menjadi miliknya. "Bagaimana dengan sisa saham milik loyalis Hendra?"."Setelah kesaksian Bu Diana dan bukti korupsi yang terungk

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 136 Pelarian Terakhir Sang Ular

    Langit di atas Pelabuhan Tanjung Priok nampak kelam, tertutup awan mendung yang siap menumpahkan hujan deras. Di tengah hiruk-pikuk deru mesin kontainer, sebuah mobil sedan perak melaju dengan kecepatan tinggi menuju dermaga pribadi. Di dalamnya, Wina mencengkeram erat sebuah tas kulit berukuran sedang yang berisi perhiasan dan tumpukan uang tunai hasil jarahan terakhirnya dari brankas rahasia Hendra.Wajahnya nampak pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tahu Dion bukan pria yang bisa dikelabui dua kali. Meskipun ia telah mendapatkan dokumen aset di Singapura, ketamakan Wina membuatnya nekat mengambil sisa-sisa harta Hendra yang seharusnya sudah disita oleh tim Dion."Sial! Kenapa jalannya macet begini!" teriak Wina pada sopir bayarannya."Ada pemeriksaan ketat di depan, Mbak. Sepertinya semua jalur keluar sudah ditutup oleh polisi dan tim keamanan swasta," jawab sang sopir dengan nada panik.Wina melihat ke arah spion. Dua mobil SUV hitam mulai

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 135 Kesaksian Bu Diana

    Ruang konferensi pers di lantai dasar Menara D-Next nampak seperti lautan manusia. Ratusan jurnalis dari media nasional hingga internasional memenuhi ruangan, kamera-kamera siap membidik, dan bisik-bisik spekulasi memenuhi udara. Di atas panggung utama, sebuah kursi kosong menanti sosok yang akan mengubah wajah dunia bisnis Indonesia hari ini. Namun, di balik tirai panggung, Dion Pradana sedang menggenggam erat tangan Bu Diana."Ibu yakin ingin melakukan ini di depan publik? Ini akan menjadi konsumsi dunia, Bu," bisik Dion dengan nada khawatir namun penuh rasa hormat.Bu Diana, yang nampak anggun dalam setelan blazer hitamnya, tersenyum tenang. "Tiga puluh tahun saya menyimpan duri ini dalam hati, Dion. Menjaga rahasia seorang pria yang aku pikir adalah pahlawan, ternyata hanyalah seorang pencuri identitas. Sudah saatnya dunia tahu siapa sebenarnya Hendra Wijaya dan apa yang dia lakukan pada keluarga Wijaya Kusuma.".Dion mengangguk mantap. Ia memberi isyarat ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status