Home / Romansa / Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian! / Bab 74 Detik-Detik di Ujung Maut

Share

Bab 74 Detik-Detik di Ujung Maut

Author: Irbapiko
last update Last Updated: 2026-01-30 08:05:57

Suasana di dalam penthouse Hotel Majapahit yang mewah itu mendadak berubah menjadi neraka yang mencekam. Bau harum cerutu dan wine mahal seketika tertutup oleh aroma keringat dingin dan ketegangan yang mematikan. Santi berdiri di ambang pintu dengan rambut acak-acakan, matanya melotot penuh kegilaan, dan tangannya gemetar hebat saat menggenggam sebuah granat nanas yang pinnya sudah ia lepas.

"Santi! Jangan gila kamu! Taruh itu sekarang!" teriak Dion sembari merentangkan tangannya, mencoba menghalangi pandangan Santi dari bayi mungil yang ada di pelukan Maya.

"Jangan panggil namaku dengan mulut kotor itu, Dion!" jerit Santi, suaranya melengking pecah. "Aku sudah kasih segalanya! Aku hianati adikku sendiri, aku kasih tubuhku, aku kasih rahasia keluargaku. Tapi apa balasannya? Kamu malah asyik bercumbu dengan Clarissa di depan mataku?! Kamu benar-benar monster!".

Clarissa mundur perlahan, wajahnya yang biasanya angkuh kini pucat pasi. Ia menyadari

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 75 Pelabuhan Hangat di Tengah Puing-Puing

    Asap tebal masih mengepul dari jendela penthouse Hotel Majapahit yang hancur berantakan. Di dalam ruangan yang kini porak-poranda itu, pemandangan nampak mengerikan. Santi tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan dengan bahu yang bersimbah darah akibat timah panas dari senjata Bram. Wajahnya yang dulu selalu angkuh kini pucat, seolah sisa-sisa kegilaannya ikut menguap bersama ledakan granat yang hampir merenggut nyawa mereka semua.Clarissa nampak terduduk lemas di balik meja marmer yang pecah. Wajah cantiknya tergores serpihan kaca, dan gaun mahalnya robek di beberapa bagian. Ia menatap kosong ke arah brankasnya yang kosong—Wina telah membawa lari segalanya. Bram mendekati Clarissa dengan pistol yang masih terhunus, memastikan rival dari Surabaya itu tidak melakukan gerakan tambahan sebelum polisi benar-benar mengamankan lokasi.Sementara itu, Dion sudah berhasil menyelinap keluar

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 74 Detik-Detik di Ujung Maut

    Suasana di dalam penthouse Hotel Majapahit yang mewah itu mendadak berubah menjadi neraka yang mencekam. Bau harum cerutu dan wine mahal seketika tertutup oleh aroma keringat dingin dan ketegangan yang mematikan. Santi berdiri di ambang pintu dengan rambut acak-acakan, matanya melotot penuh kegilaan, dan tangannya gemetar hebat saat menggenggam sebuah granat nanas yang pinnya sudah ia lepas."Santi! Jangan gila kamu! Taruh itu sekarang!" teriak Dion sembari merentangkan tangannya, mencoba menghalangi pandangan Santi dari bayi mungil yang ada di pelukan Maya."Jangan panggil namaku dengan mulut kotor itu, Dion!" jerit Santi, suaranya melengking pecah. "Aku sudah kasih segalanya! Aku hianati adikku sendiri, aku kasih tubuhku, aku kasih rahasia keluargaku. Tapi apa balasannya? Kamu malah asyik bercumbu dengan Clarissa di depan mataku?! Kamu benar-benar monster!".Clarissa mundur perlahan, wajahnya yang biasanya angkuh kini pucat pasi. Ia menyadari

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 73 Barter Nyawa di Kota Pahlawan

    Dion berdiri mematung di lorong rumah sakit yang dingin, menggenggam ponselnya dengan buku jari yang memutih. Di belakangnya, Maya masih terisak meratapi kepergian Wawa yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya demi memberikan kehidupan pada bayi mereka. Suara dingin Clarissa di telepon masih terngiang, sebuah ancaman yang mencampuradukkan bisnis, dendam, dan darah daging."Yon, kamu nggak mungkin beneran bawa bayi ini ke Surabaya, kan?" tanya Maya sembari menggendong bayi mungil itu yang terbungkus kain bedung biru. "Dia masih sangat lemah. Dia butuh perawatan, bukan jadi alat negosiasi kamu!"Dion berbalik, matanya yang merah karena kurang tidur dan duka nampak sangat mengerikan. "Kalau aku nggak bawa dia, Clarissa bakal kirim aku balik ke penjara besok pagi, May. Dan kalau aku dipenjara, Bu Diana bakal ambil anak ini. Kamu mau anak ini besar di tangan wanita yang sudah menghancurkan ibunya sendiri?""Tapi dia bisa mati di perjalanan, Dion!" seru Maya hist

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 72 Persimpangan Takdir dan Darah

    Deru baling-baling helikopter di pangkalan udara swasta itu memekakkan telinga, menciptakan pusaran angin yang menerbangkan debu dan aroma avtur ke wajah Dion. Di bawah temaram lampu landasan, helikopter kecil itu tampak seperti satu-satunya tiket untuk merebut kembali tahta D-Next dari tangan Wina yang kini tengah menuju Surabaya untuk bertemu Clarissa. Namun, getaran di saku celana Dion membuyarkan fokusnya. Video dari Maya di layar ponselnya memperlihatkan kondisi Wawa yang kritis pasca persalinan prematur.Dion berdiri mematung di antara dua kutub yang saling menarik jiwanya. Di satu sisi, ada ambisi dan kekuasaan mutlak yang selama ini ia bangun di atas jaring gairah. Di sisi lain, ada jeritan darah dagingnya sendiri dan wanita yang pernah ia jadikan topeng namun kini memberikan nyawa untuk anaknya."Dion! Tunggu apa lagi?! Cepet naik!" teriak Satria sembari menarik lengan Dion agar segera masuk ke kabin helikopter. Satria, yang biasanya menyimpan dendam kesumat,

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 71 Mandi Darah di Lorong Sel

    Malam di penjara biasanya hanya diisi oleh suara dengkur tahanan atau gemericik air dari pipa yang bocor. Namun kali ini, hening itu pecah oleh suara jeritan dari blok ujung yang memicu keributan massal. Dion berdiri dengan waspada di tengah selnya yang sempit, sementara Bram masih terkapar lemas dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Di depan jeruji yang terbuka, sosok Satria berdiri tegap dengan senyum yang mengerikan, jauh dari kesan pria kritis yang selama ini dilaporkan terbaring di rumah sakit."Gila... Lo bener-bener hantu, Sat," desis Dion sembari mengepalkan tangannya. "Gimana bisa lo berdiri di sini?"Satria tertawa, suaranya parau namun penuh kemenangan. "Dunia ini panggung sandiwara, Yon. Lo pikir cuma lo yang jago main drama? Wina itu sutradara yang hebat. Dia yang nyiapin 'kematian' gue di rumah sakit biar lo lengah, dan dia juga yang bukain jalan gue masuk ke sini."Dion melirik narapidana bertubuh raksasa di belakang Satria yang m

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 70 Duri Dalam Daging dan Bayang-Bayang Sang Mentor

    Dion merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat ketika melihat sosok yang baru saja didorong masuk ke dalam selnya. Pria itu ambruk di lantai semen yang dingin, napasnya tersengal-sengal, dan wajahnya nyaris tidak bisa dikenali karena bengkak dan lebam. Namun, Dion mengenal gestur tubuh dan jam tangan perak yang masih melingkar di pergelangan tangan pria itu—jam tangan yang sama yang ia berikan sebagai hadiah kesetiaan bertahun-tahun lalu."Bram?" bisik Dion tak percaya.Bram, pria yang beberapa jam lalu memborgolnya dengan bangga sebagai intelijen kepolisian, kini nampak seperti sampah yang dibuang. Ia mencoba mengangkat kepalanya, memuntahkan sedikit darah ke lantai."Yon..." Bram terbatuk, suaranya parau dan pecah. "Sialan... ternyata kita berdua cuma tikus di laboratorium yang sama."Dion berlutut di samping mantan sahabatnya itu, mengabaikan rasa benci yang sempat meluap. Di dalam momen ini, musuh bisa menjadi teman dalam sekej

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status