LOGINPagi hari di kantor D-Next dimulai dengan rutinitas yang tampak sempurna. Dion duduk di balik meja kerja mahoninya, menatap deretan grafik pertumbuhan saham yang terus merangkak naik sejak Papa Hendra mengambil alih kendali di balik layar. Namun, ketenangan itu terusik ketika asisten barunya masuk dengan wajah sedikit pucat, membawa sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim.
"Pak, ini baru saja sampai melalui kurir instan. Katanya sangat mendesak," ujar asisten itu sembari meletakkan a
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui sela-sela gorden di rumah Limo, memberikan kehangatan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi deru jantung yang berpacu karena ketakutan akan penyadapan, tidak ada lagi bisik-bisik manipulasi dari psikolog gadungan, dan tidak ada lagi bayang-bayah selir yang mengganggu kedamaian. Setelah pesta kemenangan besar semalam, Dion Pradana Kusuma terbangun dengan perasaan yang paling merdeka dalam hidupnya.Dion menoleh ke samping, melihat Maya yang masih tertidur pulas dengan sisa senyum kedamaian di wajahnya. Ia beranjak pelan dari tempat tidur, mengenakan kaos santai, dan melangkah menuju balkon kamar. Dari sana, ia melihat Bintang yang sedang asyik bermain di taman bawah bersama Bu Diana. Seluruh aset keluarga Wijaya Kusuma dan D-Next kini telah kembali ke pelukannya secara utuh dan sah.***Beberapa saat kemudian, Dion turun ke lantai bawah. Aroma nasi goreng dan kopi segar memenuhi ruangan. Maya sudah berada di san
Malam itu, Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta disulap menjadi sebuah istana cahaya yang megah. Karpet merah membentang luas, menyambut para tokoh bisnis, pejabat pemerintahan, hingga relasi internasional yang hadir untuk menyaksikan peristiwa bersejarah: pengukuhan resmi Dion Pradana Kusuma sebagai pemimpin tertinggi D-Next dan pewaris tunggal kekayaan Wijaya Kusuma. Sesuai dengan rencana Arka Final, pesta kemenangan ini adalah momen pengakuan publik atas status baru Dion setelah berhasil menyapu bersih musuh-musuhnya.Dion berdiri di depan cermin besar ruang VIP, menyesuaikan dasi kupu-kupunya. Tuksedo hitam yang dipesan khusus oleh Maya nampak melekat sempurna di tubuh tegapnya. Di belakangnya, Doni dan Anto berdiri dengan setelan formal, namun tetap dengan kewaspadaan yang terjaga."Semua tamu sudah hadir, Bos. Termasuk tim hukum dari Singapura dan rekan-rekan media," lapor Doni sambil memeriksa arlojinya. "Wartawan sudah gatal ingin mendapatkan pernyataan resmi per
Matahari sore merambat perlahan melalui celah gorden sutra di ruang tengah rumah Limo, menciptakan garis-garis emas yang hangat di atas lantai marmer. Setelah rangkaian badai yang nyaris menghancurkan pondasi keluarga mereka, suasana rumah ini kini terasa jauh lebih lapang, seolah-olah oksigen yang mereka hirup telah dimurnikan dari racun-racun manipulasi masa lalu. Fokus Dion kini bukan lagi pada strategi menjatuhkan musuh, melainkan pada pembangunan kembali kepercayaan Maya yang sempat hancur akibat hasutan Santi."May, kamu sudah siap? Bram dan tim keamanan sudah berjaga di butik untuk fitting terakhir sore ini," teriak Dion dari lantai atas sembari merapikan kancing kemeja kasualnya.Maya muncul dari arah dapur, membawa botol susu Bintang. Wajahnya yang dulu sering nampak tegang dan penuh kecurigaan kini telah kembali memancarkan ketenangan yang murni. "Sebentar, Yon. Bintang baru saja tertidur pulas. Aku titipkan sebentar ke Mama Diana dulu ya."Di
Pagi itu, suasana di kediaman Limo terasa jauh lebih ringan. Setelah pembersihan sisa-sisa duri seperti Santi dan Lisa berhasil diselesaikan secara permanen di bab sebelumnya, Dion Pradana merasa seolah-olah separuh beban di pundaknya telah luruh. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya—sebuah utang rasa kepada pria yang telah menjadi mata dan telinganya selama masa-masa tersulit: Bram.Dion berdiri di beranda samping, memperhatikan Bintang yang sedang berlari kecil mengejar kupu-kupu di bawah pengawasan Bu Diana. Di tangannya terdapat dua gelas kopi hitam pekat yang uapnya masih mengepul. Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan pagar. Sosok pria dengan jaket kulit hitam yang selalu nampak waspada keluar dari sana. Itu adalah Bram.***Bram melangkah mendekat dengan langkah santai, meskipun sorot matanya tetap tajam memindai sekitar—kebiasaan lama sebagai ahli intelijen yang sulit dihilangkan."Ngopi pagi-pagi b
Fajar di Jakarta belum sepenuhnya menyapu sisa kabut saat Dion Pradana sudah berdiri di depan dinding kaca ruang kerjanya yang baru. Meskipun Papa Hendra telah resmi mendekam di balik jeruji besi dan bersiap untuk pengasingan permanen ke Swiss, Dion tahu bahwa kedamaian di Rumah Limo belum sepenuhnya terjaga. Masih ada dua duri tajam yang berpotensi meracuni kemenangannya: Santi, sang psikolog gadungan yang licik, dan Lisa, selir yang sempat ia gunakan namun kini menyimpan agenda sendiri."Bos, tim Anto sudah mengepung vila pribadi di pinggiran Puncak," lapor Doni yang masuk dengan langkah sigap. "Santi bersembunyi di sana. Dia mencoba menghancurkan beberapa hard drive yang berisi rekaman sesi manipulasi terhadap Bu Maya."Dion merapikan jam tangannya, sorot matanya dingin bak pedang yang baru diasah. "Jangan biarkan dia menghapus satu byte pun, Don. Aku ingin semua bukti itu menjadi paku terakhir di peti matanya. Bagaimana dengan Lisa?""Lisa sudah dalam pengaw
Pagi itu, atmosfer di ruang rapat utama lantai 40 Menara D-Next terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan akibat intimidasi Papa Hendra. Ruangan itu kini dipenuhi oleh tim auditor independen, pengacara internasional bentukan Bu Diana, serta perwakilan dari otoritas bursa saham. Dion Pradana duduk di kursi pimpinan, mengenakan setelan jas navy yang pas di tubuh tegapnya, nampak tenang namun memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan."Semua berkas sudah diverifikasi, Pak Dion," ujar kepala auditor sembari menyerahkan dokumen digital terakhir. "Seluruh aset yang selama ini disamarkan oleh Hendra Wijaya melalui firma bayangan di Singapura dan Panama telah berhasil ditarik kembali ke dalam konsolidasi keluarga Wijaya Kusuma.".Dion mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja mahoni yang kini benar-benar menjadi miliknya. "Bagaimana dengan sisa saham milik loyalis Hendra?"."Setelah kesaksian Bu Diana dan bukti korupsi yang terungk







