Beranda / Romansa / Rasa Dari Keremajaan / Mencari Kebenaran Ketua OSIS (2)

Share

Mencari Kebenaran Ketua OSIS (2)

Penulis: JayK
last update Terakhir Diperbarui: 2021-10-23 12:16:17

Apa yang aku dengar tadi tidak salah, bukan? Aku tidak salah mendengar itu, bukan?

Tidak tunggu! Ini bukan waktunya untuk pikiranku saling bertengkar, jika Bu Annisa memang mengatakan hal itu seharusnya benar seperti itu, bukan?

Mengapa aku menjadi ragu kembali?! Jika kau memang ragu seharusnya kau pastikan itu sendiri Raihan!

“A-apakah itu benar, Bu Annisa?” kataku dengan suara tidak percaya diri.

Bu Annisa masih mengetik laptopnya, namun Bu Annisa menjawab pertanyaanku. “Hmm? Apanya?”

“Apakah benar Ibu adalah pembimbing OSIS untuk tahun ini?”

“Jika iya memangnya kenapa?”

Mendengar itu dari Bu Annisa hatiku sedikit menjadi tenang, namun perasaan yang menggangguku selama ini masih belum hilang.

“K-kalau begitu, apakah saya boleh menanyakan sesuatu?”

Dengan cepat Bu Annisa menjawab “Maaf Raihan, sekarang tidak bisa. Aku masih harus mengurus ini. Lagi pula untuk apa? Kau tidak ada sangkut pautnya dengan OSIS, bukan?”

“TENTU ADA! KAK CLARRISA MEMAKSAKU UNTUK MENJADI WAKIL KETUANYA!”

Tanpa sadar, walau bukan teriakan, aku meninggikan suaraku. Dan mendengar itu, Bu Annisa terdiam dan wajahnya begitu terkejut.

Ah, aku mengacaukannya.

Dengan itu, aku segera menghadapkan wajahku ke bawah.

“Maaf, Bu.”

Apa yang kau lakukan diriku?!

“Temui ibu besok sepulang sekolah. Ibu tunggu di tempat parkir sekolah. Ini sudah lewat dari jam pulang bukan? Lebih baik kau pulang sekarang, kau mengerti?”

Bu Annisa mengatakan itu dengan lembut dan halus. Dengan caranya yang berbicara seperti itu, itu... Entah mengapa membuat hatiku menjadi lebih sakit.

Aku menganggukkan kepalaku yang masih menghadap ke arah lantai, “Baik.” Kataku lalu pergi meninggalkan ruang guru.

Dengan masih perasaan ketidakpercayaan tindakanku yang telah aku buat tadi, aku pergi mengambil tasku yang ada di kelas lalu pergi berjalan ke arah halaman sekolah dengan tempo yang lambat.

Aku melihat ada sebuah bangku di bawah pohon di dekatku, aku menjatuhkan setengah badanku di kursi lalu duduk di sana.

Aku menatap ke arah atas. Langit berwarna oranye dengan beberapa awan putih yang diselimuti oleh cahaya sore langsung terpampang di mataku.

Aku hanya terdiam memandangi apa yang aku lihat sekarang. Rasa ketidakpercayaan yang aku rasakan sangat bertabrakan dengan apa yang aku lihat.

Pemandangan yang indah ini... Sangat tidak cocok dengan keadaanku saat ini.

“Apakah kau tidak apa-apa?”

Tiba-tiba terdengar suara wanita, apakah dia memanggilku?

Aku membenarkan lagi pandanganku juga kacamataku lalu melihat ke arah sumber suara yang berada di sebelah kiri ku.

Setelah sudah dengan jelas melihat aku benar-benar terkejut. Aku melihat dua orang perempuan berdiri bersebelahan.

Di sebelah kanan merupakan perempuan yang bersemangat dengan rambut medium dengan gaya ponytail, sedangkan di sebelahnya ada perempuan yang tenang dengan rambut panjang dengan gaya wavy.

Itu adalah Kak Vania dan juga Kak Nirmala.

“Huh? Raihan?”

Mengapa dia kebingungan?

“Selamat sore, Kak.” Sapaku.

“”Selamat sore.”” Mereka berdua menjawab sapaanku.

“Apakah Kak Vania dan Kak Nirmala belum pulang?”

“Ya, ada sesuatu yang harus dikerjakan di kelas. Apakah kau juga ada urusan, Raihan?” Kak Vania yang menjawab pertanyaanku.

“Benar, Bu Annisa menyuruhku untuk mengantarkan beberapa berkas ke ruang OSIS.”

Mereka berdua saling menatap.

“Apakah kau ada urusan setelah ini, Raihan?”

“Umm... Kupikir tidak ada. Apakah ada sesuatu, Kak Nirmala?”

“Bagaimana kalau kita bertiga pergi ke cafe?”

Kak Nirmala tersenyum sambil mengangkat jari telunjuk kanannya dan sedikit dimiringkan.

Aku menyetujui tawaran mereka dan pergi ke cafe terdekat bersama.

Cafe yang aku kunjungi bersama dengan Kak Vania juga Kak Nirmala adalah cafe yang sering aku dan ketua OSIS kunjungi. Cafe ini adalah cafe terdekat yang ada di sekitar sekolah, hanya butuh waktu 7 menit dari sekolah. Juga tepat berada di arah jalan pulang para murid. Jadi keadaan di sini masih terdapat banyak murid yang memakai seragam yang sama denganku juga dengan Kak Vania dan Kak Nirmala.

“Aku minta maaf, ya, Raihan. Mendadak membawamu ke sini.” Kak Nirmala membuka percakapan.

“Ah, tidak apa-apa. Lagi pula tidak ada yang harus aku kerjakan nanti.”

“Kalau begitu makanlah.”

“Maaf sudah merepotkan.”

Kak Vania memesan Creamy Pasta Mozarella dan segelas Lemon Tea. Kak Nirmala memesan Blueberry Short Cake dengan segelas Ice Choco Blend.

Sedangkan aku memesan minuman soda yang dicampur dengan ekstrak lemon dan roti panggang dengan isian keju dan pisang.

“Bagaimana keadaanmu di sekolah ini, Raihan?” Kak Nirmala bertanya.

“Aku baik-baik saja, Kak. Aku mendapatkan kelas yang cocok untukku.”

“Maaf, ya, sudah memarahi dirimu saat itu.”

“A-ah, tidak apa-apa. Seharusnya akulah yang harus meminta maaf kepada kalian karena yang sudah bertindak tidak sopan. Maafkan aku.” Kataku sambil menundukkan kepalaku. “Terlebih Kak Vania dan Kak Nirmala sudah banyak membantuku di sekolah. Seperti yang Kak Vania lakukan minggu lalu yang membantuku membawa beberapa peralatan olahraga, atau Kak Nirmala sendiri yang sudah membantuku beberapa kali di perpustakaan. Tolong jangan meminta maaf kepadaku, aku tidak layak untuk menerima hal itu dari kalian.”

Kak Nirmala memegangi salah satu pipinya, “Apakah seperti itu?”

“Ya! Kalian benar-benar membantu. Lain kali akan aku balas, tapi jika kalian memintanya langsung kepadaku maka akan langsung melakukannya. Pasti.”

“Fufu, aku senang mendengar hal itu. Apa itu bisa kau laksanakan?”

“Tentu! Aku benar-benar merepotkan kalian.”

Mereka berdua menatap lalu tersenyum satu sama lain.

Kami bertiga lalu kembali menyantap pesanan kami masing-masing. Di saat itu pun kami masih sering untuk bertukar kata. Aku tidak menyangka bahwa aku akan dekat dengan mereka berdua.

Tapi apa yang paling aku kagetkan ialah sebera dekat mereka berdua dengan sifat mereka yang benar-benar berbeda jauh.

Kak Vania adalah tipe orang yang selalu bersemangat dan penuh energi, seperti sangat menikmati apa yang ia jalani.

Sedangkan untuk Kak Nirmala adalah seorang yang tenang dan terlihat menarik dengan seperti itu.

Kak Nirmala dimataku itu seperti ibu yang penyayang dan baik hati.

Bahkan gaya berbicaranya pun masing-masing berbeda-beda. Mungkin itu adalah ‘efek’ dari sifat mereka berdua.

Gaya bicara Kak Nirmala tenang, lembut, dan sopan. Dan Kak Vania adalah kebalikannya, tapi dengan gaya bicara Kak Vania, dia lebih banyak didekati orang karena sangat mudah untuk berbicara dengannya.

Jika kita bertiga saling bertemu, kita selalu membicarakan hal apa saja yang difavoritkan. Namun begitu, mereka juga selalu membawa topik-topik yang bisa aku terima. Itu bahkan dilakukan sekarang untuk menghabiskan makanan yang sudah dipesan.

Setelah aku selesai menyantap pesananku, aku bertanya alasan mereka mengundangku untuk apa.

“Umm... Kak, jika boleh tahu mengapa Kakak mengajakku ke sini?”

“Oh, Benar! Kita berdua benar-benar lupa akan hal itu! Maaf-maaf.”

Aku hanya tertawa kecil.

“Apakah kau sudah menerima tawaran yang diajukan oleh ketua OSIS?”

“... Belum. Sama sekali belum.”

“Maka dari itu mungkin kau akan bertanya kepada kita entah itu kapan. Sebelum itu kita ingin memberitahu sesuatu kalau kita itu tidak dekat dengan ketua OSIS.”

Aku hanya diam dan menganggukkan kepalaku memberi tanda untuk melanjutkan.

“Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku ditunjuk sebagai bendahara dan Nirmala menjadi sekretaris.”

“Benar, dia adalah orang yang sangat dikagumi di sekolah. Dia juga meminta kita berdua untuk akrab dengannya. Tapi kita tidak melakukan hal itu. Tentu kita ‘mengenal’ Clarissa, tapi tidak dengan dia. Bagaimanapun, ada jarak yang terbangun. Kehadirannya membuat kita tidak bisa melakukan hal itu, alasannya adalah karena dinding yang dibuat oleh dia sendiri.”

“Kita benar-benar tidak tahu harus bagaimana, huh.”

Jadi begitu, aku mengerti sekarang. Alasan kenapa mereka selalu menyebut Kak Clarissa dengan sebutan ketua OSIS adalah karena mereka berdua tidak saling kenal.

Tapi kenapa? Bukankah Kak Clarissa dekat denganku? Apakah dia benar-benar dekat denganku?

“Dan juga, Raihan. Kita sering melihatmu berdua dengan Ketua OSIS dan begitu akrab. Aku harap kau tidak terlalu memikirkan hal itu.”

“Hal itu?”

“Bukankah dia dekat denganku? Atau apakah dia benar-benar dekat denganku? Hal yang seperti itu.”

Eh?! Apa?! Kenapa Kak Vania mengetahui apa yang aku pikirkan?! Tunggu-tunggu!

“Ada apa, Raihan? Mukamu memerah. Apakah kau sakit?” tanya Kak Nirmala dengan wajah cemasnya.

“A-ah tidak ada. Aku baik-baik saja! Sungguh.” Kataku sambil membenarkan kacamataku.

Jangan terlalu dipikirkan, yah. Tapi mengapa mereka sangat percaya akan hal itu? Aku sama sekali tidak mengerti.

Apa pun itu, aku tahu bahwa Kak Vania dan juga Kak Nirmala hannyalah orang yang terseret saja. Walaupun begitu, aku sangat bersyukur bertemu lalu dekat dengan mereka.

Setelah selesai, kita bertiga lalu pulang. Aku dan mereka berdua berpisah di stasiun, mereka pergi ke arah Pondok Gede, sedangkan aku sebaliknya ke arah Jati Asih.

Hari sudah malam. Sesampainya di rumah dan mengunci pintu, aku langsung pergi menuju kamarku lalu dengan segera menjatuhkan diriku di atas kasur.

Aku menutup mataku sambil bertanya: pilihan apa yang aku buat untuk lusa nanti.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rasa Dari Keremajaan   Pidato Terakhir Dan Bunga Mawar Hitam

    Satu hari sebelum hari H. Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah. Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang. Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana. Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu. Kak Clarissa. Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh. Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya per

  • Rasa Dari Keremajaan   Pidato Terakhir Dan Bunga Mawar Hitam

    Satu hari sebelum hari H.Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah.Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang.Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana.Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu.Kak Clarissa.Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh.Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya percaya di

  • Rasa Dari Keremajaan   Transisi Musim

    Minggu-minggu menjelang Ujian Nasional (atau asesmen penggantinya) adalah masa-masa tergelap bagi siswa kelas 3, dan masa-masa tersunyi bagi siswa kelas 1 dan 2 karena kakak kelas mereka menghilang ditelan Try Out. Aku menyibukkan diri dengan program kerja baru. Digitalisasi perpustakaan, perbaikan sanitasi toilet (janji kampanye yang paling ditunggu siswa putri), dan restrukturisasi ulang sistem poin pelanggaran. Aku bekerja seperti mesin. Efisien. Cepat. Tanpa ampun. "Raihan, istirahatlah," tegur Shinta suatu sore. "Matamu sudah seperti panda. Kau mau menyaingi rekor begadang mantan ketua OSIS yang dikeluarkan itu?" "Aku baik-baik saja, Shinta. Masih banyak yang harus diurus." "Kau tidak baik-baik saja," Fachri menimpali sambil melempar bola basket ke arahku (yang untungnya berhasil kutangkap, refleksku membaik). "Kau merindukan Kak Clarissa, kan?" "Jangan bicara sembarangan." "Kelihatan jelas, Bung. Kau jadi lebih galak dari biasanya. Kemarin kau memarahi ketua ekskul Paskib

  • Rasa Dari Keremajaan   Residu Pesta

    Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat berubah bentuk.Aku berdiri di tengah lapangan sekolah yang sunyi pada pukul tujuh pagi di hari Minggu. Sampah plastik bekas botol minuman, sisa-sisa konfeti, dan jejak lumpur kering memenuhi aspal yang kemarin malam dipadati ribuan manusia.Energi euforia semalam kini telah berubah bentuk menjadi energi kinetik yang harus kami keluarkan untuk menyapu semua kekacauan ini."Kenapa..." Fachri merengek sambil menyeret kantong sampah hitam besar di belakangnya. "...kenapa bagian terburuk dari pesta selalu jatuh pada panitia inti?""Karena kita adalah pemimpin, Fachri," jawab Shinta yang sedang memungut sampah dengan penjepit besi, lengkap dengan sarung tangan karet dan masker medis (dia terlihat seperti tim forensik CSI). "Pemimpin yang baik tidak meninggalkan kotorannya untuk orang lain.""Teori yang bagus," gumamku sambil melipat terpal bekas stan Pak Wijaya. "Tapi secara praktis, ini nam

  • Rasa Dari Keremajaan   Panggung yang sesungguhnya

    Hari H.Kekacauan adalah kata yang terlalu halus. Ini adalah zona perang.Sejak gerbang dibuka pukul 8 pagi, ribuan siswa dan pengunjung umum membanjiri area sekolah. Musik berdentum keras. Stan makanan dipenuhi antrean. Dan stan properti Pak Wijaya?Ramai. Sangat ramai.Strategi booth foto instagramable berhasil total. Tia mendesain backdrop foto yang luar biasa estetik, membuat para siswa rela mengantre demi konten media sosial. Dan syaratnya? Follow akun dan isi data. Staf Pak Wijaya terlihat kewalahan namun tersenyum lebar melihat tumpukan data calon pembeli.Aku berdiri di ruang kontrol (sebenarnya cuma tenda kecil di samping panggung) sambil memegang walkie-talkie."Cek, Raihan. Stok konsumsi panitia menipis. Anak basket makan seperti monster," suara Shinta terdengar di earpiece."Kirim Fachri untuk beli nasi padang di depan. Pakai dana darurat. Jangan biarkan mereka kelaparan atau mereka akan memakan pengunjung," instruksiku."Copy that."Aku menghela napas lega. Sejauh ini, se

  • Rasa Dari Keremajaan   Diplomasi Meja Hijau

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah ventilasi ruang kesiswaan, menciptakan garis-garis cahaya yang menyinari debu-debu beterbangan. Tapi bagi diriku yang sedang duduk di kursi kayu keras ini, sinar itu terasa seperti lampu interogasi polisi.Di hadapanku duduk Pak Teguh. Pria paruh baya dengan kumis tebal yang menjadi ciri khas kedisiplinannya. Di meja, tergeletak proposal revisi dan fotokopi cek senilai 30 juta rupiah yang baru saja kuserahkan.Di sudut ruangan, duduk Bu Annisa yang sedang pura-pura sibuk membaca koran, namun aku tahu telinganya terpasang tajam. Dan di sampingku—berdiri dengan pose santai seolah ini adalah rumah neneknya—adalah Kak Clarissa."Raihan," suara Pak Teguh berat, menekan setiap suku kata. "Bisa kau jelaskan apa arti dari 'Stan Promosi Eksklusif' dan 'Pengumpulan Data Wali Murid' ini? Sejak kapan sekolah kita menjadi agen pemasaran properti?""Sejak Bapak menantang saya untuk mengadakan acara megah tanpa anggaran sekolah, Pak," jawabku tenang. Seti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status