Share

02. Si cantik sebelah rumah

Sinar matahari langsung menyorot Ayers ketika ia baru saja membuka pintu rumah, membuat matanya menyipit. Sejenak pria itu mengamati penduduk desa yang sedang beraktivitas.

Tak lama berselang pintu di sebelah rumahnya terbuka. Seorang gadis muncul setelahnya. Pakaiannya rapi dan rambutnya disanggul asal, namun tetap cantik. Gadis itu tersenyum pada Ayers saat melewatinya, yang tanpa sungkan Ayers pun membalasnya.

Namun, itu bukan gadis yang ia lihat tadi malam. Ayers ingat betul jika rambut gadis itu hitam dan lurus—meski hanya terlihat sepintas. Tapi yang ini memiliki warna rambut kecokelatan.

Ayers tersenyum kecil. "Kalau bisa dapat dua, kenapa harus satu." Melirik ke arah jendela kamar gadis bersuara merdu itu, sebelum akhirnya melangkah untuk berkeliling desa. Tak lupa dengan kamera yang selalu menggantung di lehernya.

Sesekali Ayers berhenti ketika menemukan pusat menarik untuk fotonya. Kemudian melanjutkan perjalanannya hingga tiba di sebuah jalan di mana kanan kirinya ditumbuhi banyak pohon anggur. Pria itu melihat seorang wanita paruh baya yang dikenalnya sedang memetik anggur, segera Ayers menghampirinya.

"Bibi Marthe!"

Wanita yang dipanggil Marthe itu menoleh. "Ayers? Sedang apa di sini?"

"Hanya jalan-jalan," jawab Ayers seadanya. "Jadi kau bekerja di sini?"

"Ya, kau bisa lihat sendiri." Wanita yang memakai topi bundar itu kembali memetik anggur. Sementara Ayers sibuk mengamati sekitar. "Oh ya, Ayers. Bagaimana rumahnya? Apa kau merasa nyaman? Maaf, kau sudah membayarku lebih tapi aku hanya bisa menyediakan yang seperti itu."

"Apa yang Bibi katakan. Rumahmu sudah lebih dari cukup untuk membuatku nyaman." Ayers tersenyum cerah. 'Apalagi bisa punya tetangga seperti gadis-gadis cantik itu.' Lanjutnya membatin.

"Syukurlah kalau begitu. Omong-omong, kau mau mencicipi anggur ini?"

"Mau." Ayers mengangguk antusias.

Marthe memetik satu tangkai yang dipenuhi beberapa anggur. "Ini, cepat sembunyikan sebelum penjaga di sini tahu dan kita akan dimarahi."

Ayers menyambut anggur tersebut dengan senang hati, lalu menyembunyikannya di kantong jaket. "Terima kasih, Bibi. Kalau begitu aku pergi dulu."

Sebelum pergi Ayers menyempatkan diri untuk memotret Marthe. Wanita itu terlihat malu dan langsung mendorong Ayers pelan agar segera pergi. "Dah," pamit Ayers.

"Jangan lupa mencucinya lebih dulu sebelum kau makan!"

"Oke."

Ayers berlari pelan keluar dari kebun. Mengabaikan perkataan Marthe, Ayers mencomoti anggur di dalam kantongnya sembari berjalan. Anggur di sini memang memiliki cita rasa yang berbeda. Lebih manis dan sedikit rasa asam. Tidak heran kalau anggur dari Mittelbergheim adalah yang terbaik.

Tidak terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala. Pun Ayers memutuskan untuk mencari restoran sebab sedari tadi ia sudah kelaparan.

"Excuse me," sapa Ayers ramah pada sekumpulan gadis yang baru saja melewatinya. Ketiga gadis itu menoleh.

"Ya?" sahut gadis yang memiliki rambut curly. Sangat menggemaskan.

"Aku baru tiba di Mittelbergheim kemarin, bisa kalian rekomendasikan restoran mana yang menyajikan makanan enak di sini?" Ayers tersenyum memandangi satu per satu dari mereka. Sejujurnya ia tahu restoran mana yang paling populer di sini dengan banyak menyajikan makanan lezat. Tapi, bukan Ayers namanya jika tidak selalu modus dalam setiap kesempatan.

"Kau seorang turis?" Gadis paling pendek di antara mereka bertanya.

"Ya, aku datang dari Lyon."

"Astaga, bukankah itu kota besar?" pekik gadis satunya.

Ayers tersenyum lebar sebagai respons. Sesaat mereka semua diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.

"Jadi?" Ayers menaikkan alisnya.

"Mh, kau bisa datang ke restoran Viande & Passion, jaraknya hanya beberapa mil dari sini," ujar si curly, "para turis yang datang ke sini biasanya makan di tempat itu. Beef Steak Blackpaper adalah menu andalan mereka. Kau harus mencobanya."

"Tentu. Terima kasih untuk rekomendasinya. Aku permisi." Ayers menampilkan senyum terbaiknya sebelum berlalu dari gadis-gadis tersebut.

Dan tak jauh dari sekumpulan para gadis tadi, Ayers bisa menemukan restoran yang dimaksud. Tanpa basa-basi ia langsung masuk. Pria itu duduk di salah satu meja. Kemudian, datang seorang wanita berseragam pelayan.

"Silakan, Sir," katanya sembari memberikan buku menu.

Ayers menaikkan pandangannya untuk melihat si pelayan. "Kau? Kalau tidak salah tadi pagi kita sempat bertemu."

Gadis itu tersenyum canggung. "Ya ... kau orang yang menyewa rumah Bibi Marthe, kan?"

"Dan kau yang tinggal di sebelah rumahnya?" balas Ayers. Gadis itu mengangguk. Ayers semakin melebarkan senyumnya, lalu mengulurkan tangan. "Perkenalkan, aku Ayers."

Sang gadis menyambut tangan Ayers. "Isabelle."

"Nama yang indah," puji Ayers memulai aksi playersnya.

Isabelle tertawa kecil. "Kau ingin pesan apa?"

"Apa yang menurutmu paling enak di sini?"

"Beef Steak Blackpaper?" Isabelle menjawab ragu. "Entahlah, kebanyakan orang memesan itu saat datang kemari."

"Aku pesan dua kalau begitu. Dan sebotol anggur dengan dua gelas."

Alis Isabelle berkerut samar. Heran mengapa Ayers memesan dua. Namun, tak urung gadis cantik itu mengiyakan. "Baiklah, tunggu sebentar."

Ayers memandangi Isabelle yang semakin menjauh, seulas senyum tipis tercetak di bibir pria itu. Menurutnya Isabelle adalah gadis yang ideal. Tubuhnya tinggi semampai, wajah cantiknya sangat menggoda. Dan jangan lupakan mata serta bibirnya yang seksi. Ah, Ayers suka bagian yang itu.

Tiba-tiba ponsel Ayers bergetar. Satu pesan dari Noela masuk.

Noela :

[Aku merindukanmu, honey.]

Ayers membalas pesan tersebut, sampai percakapan mereka berlanjut dengan ungkapan-ungkapan cinta Ayers yang hanya omong kosong belaka. Wajahnya berubah memasang eskpresi jijik saat Noela membalas pesannya menggunakan emoji cium.

"Memuakkan. Permainan ranjangnya juga sudah tidak menyenangkan. Setelah menidurinya sekali lagi aku akan mencampakkannya." Memilih mengabaikan, Ayers lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celana.

Beberapa menit berselang, Isabelle datang bersama pesanan Ayers. "Ini pesananmu."

Mata Ayers bersinar melihat makanan yang sudah tersusun di atas meja. "Woah, kelihatannya sangat lezat. Aku jadi tidak sabar ingin mencobanya."

Isabelle tertawa pelan. "Selamat menikmati."

"Isabelle," panggil Ayers.

Gadis yang semula akan pergi itu jadi mengurungkan niatnya. "Ya?"

"Apa kau pikir aku bisa menghabiskan makanan ini sendirian? Ayo, temani aku makan." Tidak ada jawaban dari Isabelle. "Tidak perlu sungkan. Aku yang akan bicara pada bosmu jika dia marah," lanjut Ayers seakan mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. "C'mon, hanya sebentar," bujuknya terus, hingga akhirnya Isabelle mengangguk setuju.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status