LOGINRawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana.
Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memudar dan menghilang dari sana. Barisan sudah bubar menyisakan lingkaran besar tempat mereka berempat ada di tengah-tengahnya.
Ketiga orang itu bangkit dari jatuhnya. Sambil meringis memegang punggung, mereka kembali mendekati Rawi. Mereka semakin tidak terima.
“Heh! Kamu main ilmu hitam ya!” teriak Haris menambah keruh suasana.
Rawi menggeleng.
“Kalau tidak, kok kami bisa terlempar begitu saja. Hah?” tambah Pram.
Tetap saja, Rawi menggeleng.
“Jawab! Jangan hanya menggeleng dan mengangguk, kamu bisa omong gak?” Damian tersulut juga amarahnya.
Rawi masih terdiam, walaupun juga timbul sedikit ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya.
“Ayo, jawab!” desak Pram.
Rawi berdehem perlahan.
“Maaf, Kak. Aku juga tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba saja terjadi demikian. Kakak tahu sendiri, aku tadi cuma diam saja.” Rawi mencoba menjelaskan.
“Alasan saja!”
Mereka bertiga kembali meringsek ke arah Rawi. Amarah semakin tertulis di wajah mereka. Kali ini Rawi siapkan kuda-kuda.
Dia mencoba tidak menyerang terlebih dahulu. Namun, dia tetap waspada. Lagi-lagi mereka bertiga seperti tertahan sekitar satu meter di sekitar Rawi.
Ada semacam gelembung panas tak kasat mata kembali muncul di antara mereka. Gelembung panas itu melindungi Rawi dari serangan mereka. Pram, Haris, dan Damian menatap satu sama lain dan saling memberi kode untuk mencoba lebih keras mendekati Rawi.
Lagi, dengan sekali sentak, ketiga pemuda kembali terpental.
“Aaaarrgghhh!!!” teriakan mereka semakin membahana.
Kali ini mereka sepertinya kesulitan untuk bangkit. Beberapa orang mencoba membantu mereka tapi ditepis dengan kasar. Pram, Haris, Damian sepertinya mengalami lecet-lecet di berbagai tempat. Mereka meringis menahan perih.
Bukan hanya perih di badan, tapi juga perih di hati karena selama ini mereka bertiga terkenal menjadi jagoan di kampus. Oleh karena itu juga, mereka dipercaya seksi keamanan selama MABA tahun ini.
Saat ini mereka merasa dipermalukan. Jagoan kok gampang dijatuhkan dan dikalahkan. Dengan tertatih, mereka masih mencoba untuk mendekati Rawi.
Rawi sendiri merasa semakin kaget dan percaya pada apa yang terjadi. Muncul banyak pertanyaan dalam benaknya menyangkut kejadian yang baru saja terjadi.
“Stop! Apa yang terjadi di sini?” sebuah suara bariton memecah suasana.
Pram, Haris, dan Damian yang hendak menghujat Rawi lagi segera menutup mulut mereka. Mereka melihat Brama berlari mendekat ke arah mereka. Ada juga beberapa panitia yang berlari mengikuti di belakang Brama.
“Rawi, ini baru hari pertama. Kamu kok bisa bikin ulah. Sampai ketua panitia MABA turun tangan,” kata-kata muncul di otak Rawi. Rawi sedikit gelisah.
“Ada apa, Pram?” Brama mulai menginterogasi.
Pram, Haris, dan Damian sudah berada di dekat Rawi dan Brama.
“Mahasiswa baru ini cari perkara. Kami hanya mau bercanda supaya hubungan kakak dan adek tingkat lebih erat, eh … malah dia main kasar. Bahkan main ilmu hitam,” jawab Pram sambil memberi kode pada Haris dan Damian. Tak lupa Pram menunjuk wajah Rawi supaya aktingnya lebih dapat. Mereka berdua pun mengangguk-angguk.
Mendengar jawaban itu, Brama menatap Rawi dengan penuh selidik. Pemuda yang hari ini mengenakan jas almamater warna coklat muda itu melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki Rawi. Tatapannya tajam di balik bingkai kacamatanya. Aura tegas tampak jelas memenuhi Brama.
“Benar begitu? Siapa namamu?” tanya Brama pelan.
“Rawi, Kak.”
“Apakah benar seperti itu yang terjadi, Rawi?” sekali lagi Brama bertanya.
Rawi melihat ketiga pemuda yang tadi merundungnya. Dia yakin kalau dia memberikan jawaban yang salah maka habislah dia. Sudah selesai kehidupan kampusnya bahkan di hari pertama. Namun, dia juga tak ingin mengakui kalau mereka bertiga hanya bercanda. Mereka sudah merundungnya sejak awal kehadirannya di MABA.
“Sebenarnya kami sudah saling kenal, Kak. Karena mereka bertiga adalah kakak tingkat aku juga di sekolah menengah dulu. Namun, karena sudah lama kami tidak bertemu, jadi aku lupa, Kak,” jawab Rawi mencari kata-kata yang netral dan tepat.
“Oh, begitu. Lalu yang kata mereka kamu main ilmu hitam maksudnya apa ya?” kata-kata Bram lebih lembut sekarang.
“Hmmm … kalau yang itu, aku juga kurang paham, Kak. Mungkin kakak bertiga itu bisa memberi penjelasan.” Rawi bukan ingin mencari aman, tapi terus terang dia tidak apa yang mereka maksud.
Mendengar jawaban itu, Pram dkk terlihat pias. Mereka bingung memberi jawaban apa. Mereka saling lirik satu sama lain. Selain itu Bram yang tadinya menghadap ke arah Rawi, sekarang posisinya di hadapan mereka bertiga menunggu jawaban masuk akal mereka.
“Maksud kami main ilmu hitam itu … rambut Rawi itu menurutku hitam banget, kayak tidak wajar. Jadi kami yakin dia cat rambut jadi warna hitam agak berlebihan. Maka tadi kami hanya mau meyakinkan saja apakah tebakan kami tepat atau tidak,” jawab Pram mencari alasan.
Dia tidak mau memberi alasan sebenarnya. Dia tidak ingin diberhentikan dari seksi keamanan acara MABA di hari pertama pula. Walaupun banyak mata melihat mereka tak percaya. Namun, mereka tak peduli.
Brama melihat ke arah ketiga temannya, dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Rawi untuk mencari konfirmasi. Rawi mengangguk kecil dan berharap semuanya segera berakhir.
“Jadi semua ini hanya salah paham saja?” Bram meminta kepastian dari mereka berempat. Walaupun tentu saja dia tidak percaya begitu saja dengan penuturan Pram dkk yang terkenal sok jago dan kadang bicara tidak sesuai fakta.
Namun, dia masih mencoba untuk memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa dipercaya.
“Ya, begitulah kira-kira, Bram,” jawab mereka serempak.
“Baik. Karena ini hanya salah paham, sekarang kalian berempat berjabat tangan. Setelah ini aku gak mau dengar ada teriakan tidak jelas atau apapun yang berkaitan dengan kalian, terutama kalian bertiga. Jangan lupa kalian masih punya kerjaan yang lebih penting daripada meributkan masalah cat rambut.”
Mereka segera berjabat tangan, setelah itu masih saja diam di tempat. Begitu juga dengan mahasiswa yang lain.
“Sekarang, BUBAAARRRRRRRR,” teriak Brama.
Mendengar itu, semua anak berpencar mencari tempat istirahat, termasuk Rawi. Walaupun sudut matanya masih memperhatikan Pram dkk, namun dia melanjutkan langkah ke tempat teduh.
Pram dkk berlari kecil menuju tempat koordinasi panitia untuk kegiatan selanjutnya, namun tentu saja dia tidak akan begitu saja meninggalkan Rawi dengan tenang. Dia menggerakkan tangannya membuat huruf V dengan telunjuk dan jari tengahnya, dan mendekatkan kedua jarinya ke arah mata, kemudian menunjuk ke arah Rawi.
Gerakan itu terlihat jelas oleh Rawi. Apa maksudnyaa??
Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga
Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin
Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka
Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei
[Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang
Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu
“Tunggu, Rawi. Sabar!” Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris membuka paksa pintu ruang asdos sehingga Rawi dan Kak Brama menengok ke arah mereka berlima. Mereka berlima segera mendekati Rawi dan Kak Brama“Tenang. Tenang!” seru Pram memegang pundak Rawi. “Ada apa ini, Brama?” Kinanthi bertany
Rawi menengok ke arah teman-temannya dengan penuh keyakinan. Dia memasuki ruang asdos. Kelima temannya langsung melihat semuanya lewat jendela kaca. Mereka saling berdesakan untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Bahkan Kinanthipun yang sedari tidak peduli dengan rasa penasaran teman-temannya,
Rawi dan Dahayu berjalan menuju perpustakaan dengan langkah ringan. Sesekali mereka bercanda kecil tanpa bersentuhan. Memasuki perpustakaan, mereka segera ke rak buku dan mencari buku yang ingin mereka baca. Setelah beberapa menit berjalan di antara rak-rak buku dan merasa bingung akan memilih bu
Dahayu memandang Kinanthi dengan rasa ingin tahu yang besar. Bola matanya fokus kepada gadis itu. “Bagaimana, Kinan?” “Hmmm … kalau kamu … hmmm.” Kinanthi berjalan memutari Dahayu seperti menilai karya seni. Dia memandang dari atas sampai ke bawah. Dia tersenyum sambil melakukannya di sekitar Dah







