Share

Salah Paham

Penulis: Dara Karinda
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 14:32:34

Rawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana. 

Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memudar dan menghilang dari sana. Barisan sudah bubar menyisakan lingkaran besar tempat mereka berempat ada di tengah-tengahnya. 

Ketiga orang itu bangkit dari jatuhnya. Sambil meringis memegang punggung, mereka kembali mendekati Rawi. Mereka semakin tidak terima. 

“Heh! Kamu main ilmu hitam ya!” teriak Haris menambah keruh suasana. 

Rawi menggeleng. 

“Kalau tidak, kok kami bisa terlempar begitu saja. Hah?” tambah Pram. 

Tetap saja, Rawi menggeleng. 

“Jawab! Jangan hanya menggeleng dan mengangguk, kamu bisa omong gak?” Damian tersulut juga amarahnya. 

Rawi masih terdiam, walaupun juga timbul sedikit ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. 

“Ayo, jawab!” desak Pram. 

Rawi berdehem perlahan. 

“Maaf, Kak. Aku juga tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba saja terjadi demikian. Kakak tahu sendiri, aku tadi cuma diam saja.” Rawi mencoba menjelaskan. 

“Alasan saja!” 

Mereka bertiga kembali meringsek ke arah Rawi. Amarah semakin tertulis di wajah mereka. Kali ini Rawi siapkan kuda-kuda. 

Dia mencoba tidak menyerang terlebih dahulu. Namun, dia tetap waspada. Lagi-lagi mereka bertiga seperti tertahan sekitar satu meter di sekitar Rawi. 

Ada semacam gelembung panas tak kasat mata kembali muncul di antara mereka. Gelembung panas itu melindungi Rawi dari serangan mereka. Pram, Haris, dan Damian menatap satu sama lain dan saling memberi kode untuk mencoba lebih keras mendekati Rawi. 

Lagi, dengan sekali sentak, ketiga pemuda kembali terpental. 

“Aaaarrgghhh!!!” teriakan mereka semakin membahana. 

Kali ini mereka sepertinya kesulitan untuk bangkit. Beberapa orang mencoba membantu mereka tapi ditepis dengan kasar. Pram, Haris, Damian sepertinya mengalami lecet-lecet di berbagai tempat. Mereka meringis menahan perih. 

Bukan hanya perih di badan, tapi juga perih di hati karena selama ini mereka bertiga terkenal menjadi jagoan di kampus. Oleh karena itu juga, mereka dipercaya seksi keamanan selama MABA tahun ini. 

Saat ini mereka merasa dipermalukan. Jagoan kok gampang dijatuhkan dan dikalahkan. Dengan tertatih, mereka masih mencoba untuk mendekati Rawi. 

Rawi sendiri merasa semakin kaget dan percaya pada apa yang terjadi. Muncul banyak pertanyaan dalam benaknya menyangkut kejadian yang baru saja terjadi. 

“Stop! Apa yang terjadi di sini?” sebuah suara bariton memecah suasana. 

Pram, Haris, dan Damian yang hendak menghujat Rawi lagi segera menutup mulut mereka. Mereka melihat Brama berlari mendekat ke arah mereka. Ada juga beberapa panitia yang berlari mengikuti di belakang Brama. 

“Rawi, ini baru hari pertama. Kamu kok bisa bikin ulah. Sampai ketua panitia MABA turun tangan,” kata-kata muncul di otak Rawi.  Rawi sedikit gelisah. 

“Ada apa, Pram?” Brama mulai menginterogasi. 

Pram, Haris, dan Damian sudah berada di dekat Rawi dan Brama. 

“Mahasiswa baru ini cari perkara. Kami hanya mau bercanda supaya hubungan kakak dan adek tingkat lebih erat, eh … malah dia main kasar. Bahkan main ilmu hitam,” jawab Pram sambil memberi kode pada Haris dan Damian. Tak lupa Pram menunjuk wajah Rawi supaya aktingnya lebih dapat. Mereka berdua pun mengangguk-angguk. 

Mendengar jawaban itu, Brama menatap Rawi dengan penuh selidik. Pemuda yang hari ini mengenakan jas almamater warna coklat muda itu melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki Rawi. Tatapannya tajam di balik bingkai kacamatanya. Aura tegas tampak jelas memenuhi Brama. 

“Benar begitu? Siapa namamu?” tanya Brama pelan. 

“Rawi, Kak.” 

“Apakah benar seperti itu yang terjadi, Rawi?” sekali lagi Brama bertanya. 

Rawi melihat ketiga pemuda yang tadi merundungnya. Dia yakin kalau dia memberikan jawaban yang salah maka habislah dia. Sudah selesai kehidupan kampusnya bahkan di hari pertama. Namun, dia juga tak ingin mengakui kalau mereka bertiga hanya bercanda. Mereka sudah merundungnya sejak awal kehadirannya di MABA. 

“Sebenarnya kami sudah saling kenal, Kak. Karena mereka bertiga adalah kakak tingkat aku juga di sekolah menengah dulu. Namun, karena sudah lama kami tidak bertemu, jadi aku lupa, Kak,” jawab Rawi mencari kata-kata yang netral dan tepat. 

“Oh, begitu. Lalu yang kata mereka kamu main ilmu hitam maksudnya apa ya?” kata-kata Bram lebih lembut sekarang. 

“Hmmm … kalau yang itu, aku juga kurang paham, Kak. Mungkin kakak bertiga itu bisa memberi penjelasan.” Rawi bukan ingin mencari aman, tapi terus terang dia tidak apa yang mereka maksud. 

Mendengar jawaban itu, Pram dkk terlihat pias. Mereka bingung memberi jawaban apa. Mereka saling lirik satu sama lain. Selain itu Bram yang tadinya menghadap ke arah Rawi, sekarang posisinya di hadapan mereka bertiga menunggu jawaban masuk akal mereka. 

“Maksud kami main ilmu hitam itu … rambut Rawi itu menurutku hitam banget, kayak tidak wajar. Jadi kami yakin dia cat rambut jadi warna hitam agak berlebihan. Maka tadi kami hanya mau meyakinkan saja apakah tebakan kami tepat atau tidak,” jawab Pram mencari alasan.

Dia tidak mau memberi alasan sebenarnya. Dia tidak ingin diberhentikan dari seksi keamanan acara MABA di hari pertama pula. Walaupun banyak mata melihat mereka tak percaya. Namun, mereka tak peduli. 

Brama melihat ke arah ketiga temannya, dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Rawi untuk mencari konfirmasi. Rawi mengangguk kecil dan berharap semuanya segera berakhir. 

“Jadi semua ini hanya salah paham saja?” Bram meminta kepastian dari mereka berempat. Walaupun tentu saja dia tidak percaya begitu saja dengan penuturan Pram dkk yang terkenal sok jago dan kadang bicara tidak sesuai fakta. 

Namun, dia masih mencoba untuk memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa dipercaya. 

“Ya, begitulah kira-kira, Bram,” jawab mereka serempak. 

“Baik. Karena ini hanya salah paham, sekarang kalian berempat berjabat tangan. Setelah ini aku gak mau dengar ada teriakan tidak jelas atau apapun yang berkaitan dengan kalian, terutama kalian bertiga. Jangan lupa kalian masih punya kerjaan yang lebih penting daripada meributkan masalah cat rambut.”

Mereka segera berjabat tangan, setelah itu masih saja diam di tempat. Begitu juga dengan mahasiswa yang lain. 

“Sekarang, BUBAAARRRRRRRR,” teriak Brama. 

Mendengar itu, semua anak berpencar mencari tempat istirahat, termasuk Rawi. Walaupun sudut matanya masih memperhatikan Pram dkk, namun dia melanjutkan langkah ke tempat teduh. 

Pram dkk berlari kecil menuju tempat koordinasi panitia untuk kegiatan selanjutnya, namun tentu saja dia tidak akan begitu saja meninggalkan Rawi dengan tenang. Dia menggerakkan tangannya membuat huruf V dengan telunjuk dan jari tengahnya, dan mendekatkan kedua jarinya ke arah mata, kemudian menunjuk ke arah Rawi. 

Gerakan itu terlihat jelas oleh Rawi. Apa maksudnyaa??

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Mak Kerti Kaget

    AAAAAAAAA!Sebuah teriakan dan sebuah suara terjatuh terdengar menggemparkan pagi ini. Tubuh Rawi menegang. Rawi segera bangkit dari duduknya dan melongok dari jendela kamarnya melihat ke sekitar. Rawi takut kalau suara itu membangunkan Bapak dan Ibunya sehingga akan makin banyak muncul pertanyaan. Rawi menghela nafas lega ketika tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sekitarnya. Tiba-tiba wajah keriput Mak Kerti muncul kurang lebih 100 meter di depan jendelanya. Dia memegang dadanya yang terbalut kebaya kembang-kembang coklat yang terlihat menambah tua penampilannya. “Heh! Rawi … pagi-pagi begini jangan buat kaget orang tua. Kamu sedang apa tadi?” Mak Kerti membentak Rawi. Memang begitu perangainya. Selalu sinis dan kasar kepada orang lain. Terkadang juga main tuduh. Pokoknya dia selalu menjadi yang paling benar. "Hah!" Rawi terkesiap mendengarnya. Jantungnya terlonjak karena rasa kaget luar biasa. “Eh … Mak Kerti ya. Maaf … maaf ya Mak. Tapi, Mak Kerti juga membuatku kag

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Berselancar

    Pakkk!Tangan Bapak menepuk pundak Rawi. Rawi terkejut dan segera menyembunyikan gawainya. Dia menoleh ke arah Bapak dan mencoba tersenyum. "Ada apa, Pak?" "Kaget ya? Maaf ya. Bapak lihat dari tadi kamu seperti orang bingung. Ada apa sebenarnya?" Pak Bagaskara mulai bertanya.Rawi sedikit tersentak. Dia tidak menyangka Bapak memperhatikan dirinya. "Kamu tidak ada masalah di kampus, kan?" "Tidak ada, Pak." Rawi menggelengkan kepalanya. Dia berharap dengan begitu Bapak tidak ragu akan jawabannya. "Itu tadi ... sibuk apa?" "Ohh ... tadi mencari bahan untuk materi minggu pertama, Pak." "Hmmm ... yakin hanya itu?""Iya, pak. Ini coba Bapak lihat sendiri." Rawi menyodorkan gawainya ke arah bapak. Gawainya sedang terpampang google dan hasil pencariannya. Bapak melihatnya sekilas, dan mengangguk. Bapak terpaksa percaya dengan perkataan Rawi walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Setelah itu, Bapak meninggalkan Rawi. Sepeninggal bapak, Rawi kembali menatap gawainya dengan

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rana Kena Getahnya

    “Kakak!!!”Sebuah suara manja memanggilnya ketika dia membuka pagar rumah. Rana namanya. Gadis dengan rambut sedikit berombak sepanjang bahu adalah adik kesayangannya. akhirnya Rawi kembali ke rumah setelah seminggu jauh dari keluarganya. Bapak dan Ibunya mendengar teriakan Rana segera keluar menyambut Rawi. Rawi mencium tangan bapak, kemudian ibu, tak lupa mengacak-acak rambut Rana. “Capek, Rawi?” tanya Ibu Rawi mengangguk sambil tersenyum. “Ya, sana. Istirahat dulu saja,” sambut Bapak. “Baik, Pak. Rawi istirahat dulu di kamar,” pamit Rawi. Rawi melangkah menuju kamarnya, mengaitkan tas di balik pintu kamarnya, setelah itu dia melepas jaketnya dan menggantungnya di dekat tas. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Dia menutup mata. Nyaman, dan itu yang dia butuhkan. Perlahan Rawi mendengar langkah kaki ringan. Pasti Rana. “Kak, acara MABA kemarin menyenangkan?” Suara Rana

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Kabar Menyebar

    “Aaaarrggghhh … baru juga satu hari. Besok-besok bagaimana ya aku harus menghadapi mereka? Ya … bukan hanya mereka bertiga itu, tapi juga orang-orang si kampus lainnya?Matahari tertelan bumi dan gelap menyiram taman kota ketika Rawi melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Di depan gerbang, dia tersadar tidak ada angkot ke arah tempat tinggalnya lewat selepas pukul enam sore.Terpaksa dia melangkah perlahan sambil mengkhayalkan kasur empuk di kamarnya dan semangkok mie rebus untuk mengisi perut yang sedari siang belum terisi lagi. Namun, sepertinya dia harus bersabar karena perjalanan pulang masih cukup panjang.Keesokan paginya, Rawi berangkat ke kampus. Ketika turun dari angkot yang dinaikinya, berpasang-pasang mata melihatnya, tapi mereka diam. Ada juga mencuri pandang ke arahnya. Rawi menghela nafas panjang dan berjalan dengan mantap ke arah acara MABA hari kedua akan dilaksanakan. Teman-teman seangkatan segera memberi jalan ketika dia melewati mereka. Mereka merasa lebih baik

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Bingung

    Sudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasukkan papan nama yang sedari tadi mengalung di lehernya, dan segera menjejalkan ke dalam tas ransel berwarna hitam yang dibawanya. Sesampai di gerbang, Rawi terdiam. Dia naik angkot yang lewat di depannya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa menit berjalan, baru dia tersadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari petunjuk ke arah mana angkot ini membawanya. “Ternyata angkot ini melewati taman kota. Baiklah. Aku akan kesana sebentar. Pusing kepalaku kalau ingat kejadian hari ini,” pikir Rawi. Rawi berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah berpaving menuju area taman kota. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan ijin kepada petugas yang ada di pos penjagaan. Masuk ke taman ko

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Salah Paham

    Rawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana. Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memudar dan menghilang dari sana. Barisan sudah bubar menyisakan lingkaran besar tempat mereka berempat ada di tengah-tengahnya. Ketiga orang itu bangkit dari jatuhnya. Sambil meringis memegang punggung, mereka kembali mendekati Rawi. Mereka semakin tidak terima. “Heh! Kamu main ilmu hitam ya!” teriak Haris menambah keruh suasana. Rawi menggeleng. “Kalau tidak, kok kami bisa terlempar begitu saja. Hah?” tambah Pram. Tetap saja, Rawi menggeleng. “Jawab! Jangan hanya menggeleng dan mengangguk, kamu bisa omong gak?” Damian tersulut juga amarahnya. Rawi masih terdiam, walaupun juga timbul sedikit ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. “Ayo, jawab!” desak Pram. Rawi berdehem p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status