LOGIN
Rawi berlari cepat-cepat ketika mendengar peluit pendek-pendek ditiup berulang kali. Itu tandanya semua mahasiswa baru diminta berkumpul.
Tanpa sadar Rawi menabrak salah satu kakak angkatan yang juga panitia penerimaan mahasiswa baru.
Mereka berdua sama-sama berhenti dan saling mengamati. Setelah Rawi menganggukkan kepala dan menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf, dia segera menuju tempat berkumpulnya mahasiswa baru. Sambil berlari dia merasa sudah pernah melihat wajah orang yang baru saja ditabraknya. Namun, segera dia hilangkan pikiran itu, dia ingin mengikuti kegiatan ini dengan baik.
Rawi merasa bangga akhirnya dia bisa melanjutkan kuliah di Universitas Manunggal. Walaupun dia harus bekerja keras memenangkan sayembara membuat logo dan menjadi juara utama untuk bisa berada di sini. Tak mengapa, kerja kerasnya terbayar sudah.
“Wohhhh!!! Ada anak petani masuk ke Universitas kita rupanya!” teriak Pram keras-keras sambil melihat kalung nama sebesar laptop yang ada di dada Rawi.
Pram memang sengaja mencari dan mendekati Rawi. Dia masih tidak terima dengan kejadian tadi pagi. Anggukan dan permintaan maaf saja tidak cukup baginya. Dia ingin lebih dari itu.
“Woi, teman-teman! Lihat ke sini!”
Pram kembali mencari perhatian dari teman-teman panitia, tapi hanya Haris dan Damian yang mendekat. Sedangkan panitia yang lain menyebar ke seluruh barisan untuk memberikan ujian mental pada mahasiswa baru.
Sesi ini memang sesi untuk panitia menguji ketahanan mental adik angkatan baru. Apakah mental mereka cukup kuat untuk menghadapi dunia ataukah hanya seperti kerupuk yang ketika kena sedikit air akan mengkerut dan tidak enak dimakan lagi.
Pram, Haris dan Damian mengerubungi mahasiswa baru itu. Rambutnya lurus hitam pekat. Poni rambutnya menutupi dahinya yang agak lebar. Hidungnya yang lumayan mancung menambah daya tarik mahasiswa itu.
“Rawi Indraloka! Kok bisa ya ketemu kamu di sini!” Pram memulai serangannya.
“Dia ini anak buruh tani itu kan? Yang rumahnya reyot itu kan?” sambung Haris, disambut gelak tawa mengiyakan dari Pram dan Damian.
“Apa katamu? Rumah? Kalau menurutku sih itu bukan rumah. Lebih tepatnya gubug yang sekali angin besar bertiup bisa rubuh.” Damian tak kalah dalam menyambung kata-kata teman-temannya. Ketiga orang itu masih saja tertawa, dan Rawi tetap diam walaupun tangannya sudah kebas karena mengepal terlalu keras.
“Siapa sih mereka ini? Kok mereka sepertinya sengaja menyerangku secara verbal?” pikir Rawi sambil menahan emosinya. “Ya ampun … kok bisa lupa. Kakak gondrong itu yang tadi pagi aku tabrak. Jangan-jangan dia mau cari gara-gara sama aku … hmmm.”
“Tenang, Rawi. Tenang. Ini hanya bagian dari acara MABA. Tidak mungkin mereka sengaja memojokkan dan mengolok-olok,” sambung Rawi dalam pikirannya mencoba untuk tetap positif dalam keadaan yang tidak mengenakkan baginya.
“Pram, sepertinya anak ini lupa!” Damian berbisik kepada Pram ketika dia menarik Pram agak menjauh dari Rawi.
“Masak, sih? Kita sudah ejek dia, lho. Kamu tahu dari mana kalau dia tidak ingat?”
“Lihat saja tatapan matanya!”
Pram memandang Rawi dari depan sehingga bisa menatap matanya yang masih fokus. Perlahan Pram kembali mendekati Rawi dan berbisik di dekat telinganya.
“Anak buruh tani saja sok-sokan kuliah di universitas mahal. Memang sanggup bayar?”
Kata-kata pelan menembus gendang telinga Rawi dan segera diproses di otaknya.
“Kata-kata ini sepertinya aku pernah dengar.”
Tiba-tiba rasa sakit menghunjam kepalanya, tapi Rawi tetap bertahan untuk berdiri. Di otaknya berkelebatan bayang-bayang dari masa lalunya saat kata-kata yang sama terucap dari mulut yang sama.
Saat itu Rawi masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama yang cukup populer di kota. Tentu saja sekolah itu membutuhkan biaya yang besar karena termasuk sekolah swasta mahal. Rawi bisa melanjutkan sekolah di situ karena beasiswa siswa pintar.
Tiga orang yang mengelilinginya itu adalah tiga orang kakak kelas di sekolahnya dulu. Tiga orang yang setiap hari menghujaninya dengan hujatan dan sindiran keras. Tiga orang yang juga selalu menunggunya di gerbang sekolah setiap dia datang di pagi hari dan pulang di sore hari. Untung saja mereka segera lulus, dan dia terlepas dari mereka bertiga. Rawi bisa menyelesaikan pendidikannya dengan nyaman tanpa gangguan lagi pada tahun kedua dan ketiga.
Rawi mulai ingat sekarang. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat daripada sebelum dia ingat semua itu. Tangannya mengepal lebih keras daripada sebelumnya.
“Heh! Bapakmu jual apa untuk bayar biaya masuk ke Universitas ini?” Bisikan Pram kembali memasuki gendang telinganya.
Tanpa aba-aba, Rawi menghadapkan badannya ke arah Pram. Gerakan yang tiba-tiba ini tentu saja mengejutkan Pram, Damian, dan Haris. Hal ini juga membuat mereka bertiga tiba-tiba terhuyung ke belakang sehingga menabrak mahasiswa baru yang lain.
Pram dkk kembali mendekati Rawi dengan lebih galak. Tangan mereka di pinggang. Mata mereka melotot. Wajahnya mereka penuh amarah.
“Apa yang sudah kamu lakukan?” Damian berteriak.
“Kau dorong kami ya!” Suara Haris tak kalah nyaring.
“Mau dipukul rupanya kamu ya!” Pram tambah dikuasai amarah.
Rawi diam. Bukan hanya karena ada peraturan mahasiswa dilarang menjawab ketika dibentak oleh kakak angkatan. Namun, dia sendiri tidak mengerti mengapa hal itu terjadi. Dia hanya menghadap ke arah mereka, dan mereka terhuyung. Orang banyak bisa menjadi saksi kalau dia tidak melakukan apapun.
“Diam saja kau!” bentak Haris.
“Kalau ditanya jawab! Pram takkalah galak.
Rawi tetap diam. Hanya matanya saja tetap waspada. Ya, walaupun tidak begitu ahli tapi dia sekarang sudah bisa sedikit ilmu bela diri. Itu yang dia siapkan untuk menghadapi tiga orang kakak angkatannya ini.
Mereka melangkah lebih dekat lagi ke arah Rawi. Namun, baru dua langkah, mereka terkejut. Ada halangan tak tembus pandang ada di antara mereka dan Rawi. Mereka melihat Rawi hanya mengerutkan dahi saja tanpa ada gerakan lainnya.
Mereka mundur dengan wajah bingung. Lalu dalam hitungan ketiga mereka bertiga bergerak maju dengan cepat. Namun, hal yang sama terulang. Ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mendekati Rawi.
“Ahhhh …,” erang Pram, Haris dan Damian ketika berusaha lebih keras mendekati Rawi.
Barisan yang lain sudah mulai berpencar, bahkan ada yang sudah bubar. Mereka semua melihat ada apa sebenarnya di antara mereka berempat. Namun, tidak ada yagn berniat untuk melerai mereka. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi kemudian.
“Haaaahhhhh ….,” teriakan demi teriakan Pram, Haris, dan Damian bergema di seluruh lapangan. Mereka tetap berusaha untuk mendekat tapi tidak bisa. Bahkan sekarang halangan itu diselimuti hawa panas yang membuat mereka melepaskan jas almamater.
Rawi masih berdiri. Sekarang matanya terpejam dan masih mengerutkan dahinya. Dia dapat merasakan amarahnya sampai ke ubun-ubun. Kalau saja orang dapat melihat amarahnya, pasti kepalanya sudah mengeluarkan kepulan asap yang luar biasa. Dia juga dapat merasakan ketiga orang itu masih ada di sekelilingnya berusaha untuk memberikan serangan fisik jarak dekat. Dan dia sudah siap akan hal itu.
Kepalang tanggung mereka bertiga enggan mundur. Apa jadinya nanti? Mereka tidak mau menangung malu hanya karena berhadapan dengan mahasiswa baru saja sudah kalah. Mereka sudah terkenal menjadi jagoan di Universitas Manunggal ini.
Wajah dan tubuh mereka bersimbah peluh. Suara mereka semakin serak. Badan mereka semakin terhuyung ke depan. Tangan mereka berusaha menggapai Rawi yang masih saja diam. Orang-orang yang memperhatikan mereka segera menjaga jarak. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu. Entah itu ledakan atau baku hantam.
Tanpa disadarinya, hawa panas juga menyerang badan Rawi, tiba-tiba Rawi membuka mata dan menggelengkan kepala dengan sentakan yang kuat karena dia tidak kuasa menahan hawa panas yang muncul.
Dyaaaarrr!!!!
“Arrrgghhhhh!!!”
Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga
Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin
Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka
Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei
[Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang
Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu
Suara sorak sorai itu masih terdengar sampai beberapa saat kemudian. Tentu saja itu bagi mereka yang mendukung Rawi. Lain halnya dengan Pram, Damian, Haris, juga pak Salam yang semakin mendendam. Mereka memandang penuh amarah pada Rawi. Pak Salam juga segera melarikan diri dari tempat itu setelah
Wajah pucat Pram, Damian, dan Haris terlihat jelas ketika mereka duduk di kursi. Mereka berhadapan langsung dengan Kak Brama yang ditunjuk secara resmi oleh pihak kampus untuk kasus Rawi. Kak Brama sedang sibuk membolak-balik kertas-kertas yang ada di atas meja sambil sesekali melihat ke arah mer
Rawi melangkah meninggalkan ruang asdos. Walaupun kini dia ada harapan untuk bebas dari segala tuduhan dari kampus, tapi dia masih belum bisa lega sepenuhnya. Dia harus bisa mencari bukti dan saksi supaya tuduhan itu bisa terjawab tanpa sangsi sedikitpun.
Rawi baru saja bernafas lega ketika dia mendengar gawainya berbunyi keras. Nada panggil yang lumayan keras. Dia segera berlari ke kamar untuk memeriksanya. Pak Bagaskara dan Bu Krisan juga kembali ke dalam rumah. Mereka berjalan santai. Namun, langkah mereka terhenti di ruang keluarga. Mereka meli







