LOGINMoncong baja Jeep hitam itu menabrak keras gerbang besi berkarat berlambang naga patah.Engsel gerbang itu hancur berantakan. Kendaraan besar itu terus melaju hingga berhenti tepat di tengah halaman pabrik pengolahan limbah. Debu tebal mengepul dari bawah ban yang bergesekan dengan kerikil."Habisi dia! Jangan biarkan dia keluar dari mobil!" teriak seorang pria bertelanjang dada dari atas balkon beton.Belasan pria berpakaian hitam berlarian keluar dari balik drum-drum kosong. Tangan mereka menggenggam parang panjang, tongkat pemukul besi, dan rantai tajam.Leo menendang pintu kemudi hingga terbuka lebar. Ia melangkah turun menginjak tanah berbatu."Di mana Anton?" tanya Leo datar. Matanya menatap pria bertelanjang dada di balkon."Lu nggak punya hak nyebut nama bos kami, Dokter kampung!" maki pria itu. "Bantai dia sekarang juga!"Tiga orang pertama menerjang maju secara bersamaan. Ayunan parang mereka mengincar leher dan perut Leo dari arah yang berbeda.Leo melangkah miring menghind
Ban Jeep hitam itu berderit menggesek aspal panas Kota Nanggala. Leo memutar kemudi ke arah kiri. Kendaraan itu berhenti tepat di depan deretan gudang distributor alat kesehatan.Kania melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Tangannya memegang erat daftar spesifikasi mesin medis yang ditulis oleh Leo satu jam yang lalu."Masuk ke dalam Gudang Blok C. Cari mesin USG portabel seri terbaru dan periksa nomor serinya," perintah Leo. Matanya menatap lurus ke arah pintu besi gudang yang setengah terbuka di ujung jalan."Saya mengerti, Tuan Leo," jawab Kania. "Bagaimana dengan Anda?""Aku harus mampir ke Bank Sentral Nanggala di persimpangan jalan ini," kata Leo. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemeja linennya. "Aku harus mengambil dokumen sertifikat pabrik teh kita dari brankas penitipan. Tunggu aku di dalam gudang."Kania mengangguk cepat. Ia membuka pintu Jeep dan melangkah turun menginjak trotoar.Gadis itu berjalan cepat melintasi jalanan beton. Leo menyalakan korek apinya. Ia
Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas papan meja kayu. Asap tipis mengepul dari sisa cairan di dasar cangkir. Tangannya bergerak membuka gulungan kertas cetak biru di hadapannya."Pengecoran lantai dasar sudah mengering pagi ini," lapor Sekar. Tangannya menunjuk lurus ke barisan tiang beton di ujung proyek. "Tukang kayu mulai merangkai atap untuk ruang bedah utama."Leo menatap garis demi garis pada cetak biru itu. Jarinya menelusuri denah tata letak ruangan operasi."Kapan mesin X-Ray dan perangkat USG tiba dari Kota Nanggala?" tanya Leo tanpa menoleh.Ayu melangkah mendekati meja sambil memeluk erat papan jalan plastik merah. Wajah bidan itu terlihat tegang."Itu masalahnya, Tuan Leo," jawab Ayu pelan. Ia menyodorkan selembar kertas putih dengan stempel pudar. "Pemasok alat medis membatalkan pesanan kita secara sepihak satu jam yang lalu."Leo menoleh. Ia menarik kertas itu dari tangan Ayu."Semua tagihan sudah ditransfer lunas kemarin sore," ucap Leo datar. Matanya membaca t
Komandan polisi itu melangkah maju. Laras senjatanya terarah lurus ke dada Leo. Jari telunjuknya menempel erat pada pelatuk logam yang dingin.Leo tidak membuang waktu sedetik pun. Tangannya bergerak menyamping dengan kecepatan kilat. Ia menepis keras pergelangan tangan komandan itu dari arah bawah. Moncong senjata terlempar ke arah langit, diikuti suara langkah kaki polisi yang terhuyung mundur karena kehilangan keseimbangan."Simpan mainanmu sebelum aku mematahkan jari telunjukmu," ucap Leo. Nada suaranya sangat berat dan stabil.Tanpa memedulikan barisan aparat penegak hukum yang tertegun, Leo berjalan lurus membelah kerumunan. Ia menghampiri tubuh pekerja proyek yang tergeletak diam di atas terpal plastik berdebu."Singkirkan tangan Anda dari jenazah itu!" seru Clara. Ia menjulurkan tangannya, berusaha menarik bahu jaket Leo dari belakang. "Saya sudah menyatakan waktu kematiannya! Anda hanya merusak tempat kejadian perkara!"Leo menepis tangan wanita berkacamata itu tanpa menoleh.
Polisi itu menjerit tertahan. Borgol besi terlepas dari tangannya, jatuh bergemerincing menghantam tanah berbatu."Tangan... tanganku mati rasa!" rintih polisi tersebut. Ia mundur dua langkah sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang gemetar hebat, otot lengannya menegang seperti ditarik paksa.Leo melepaskan cengkeramannya perlahan. Ia menepis debu dari lengan kemejanya."Aku sudah memperingatkanmu," kata Leo. Matanya melirik lurus ke arah komandan polisi yang kini memegang gagang senjatanya makin erat. "Jangan memaksa masuk ke wilayahku."Clara menggigit bibir bawahnya. Jari-jari tangannya mengepal erat di sisi rok pensilnya. Postur tubuhnya tetap tegak, tapi napasnya sedikit tertahan melihat anak buahnya dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti."Tindakan kekerasan pada aparat negara! Ini bukti nyata perlawanan hukum!” seru Herman dari balik punggung komandan polisi. Ia menunjuk Leo dengan jari bergetar. "Dokter Clara, catat ini dalam laporan audit Anda!""Tuan Leo! Tolong kami
Leo menendang ban truk rampasan berlogo naga itu dengan ujung sepatunya. Pagi ini, enam armada truk berat dan puluhan motor terparkir rapi di samping balai desa. Pak Joko sibuk mencatat pelat nomor kendaraan tersebut di buku tulis bersampul cokelat miliknya."Semua mesinnya masih bagus, Tuan Leo," lapor Pak Joko. "Kita bisa pakai armada ini untuk mengangkut material pasir dari sungai.""Isi penuh tangkinya. Pengecoran fondasi mulai hari ini," perintah Leo, melangkah menuju tumpukan baja proyek yang dijaga ketat oleh para pemuda desa.Sekar berjalan menghampiri Leo sambil membawa papan dada berisi catatan logistik. Perban putih masih melingkar di balik kemejanya akibat sabetan rantai semalam, tapi gerakannya tetap gesit."Semen sudah mulai diaduk di sektor barat, Tuan. Kita butuh tambahan air," kata Sekar."Gunakan pompa dari sumur utama balai desa," jawab Leo tanpa menoleh, matanya mengawasi para pekerja yang sedang menggali tanah.Suara sirene polisi melolong keras dari kejauhan. Tig