Share

Surat Segel

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-14 18:48:51

Leo menendang ban truk rampasan berlogo naga itu dengan ujung sepatunya. Pagi ini, enam armada truk berat dan puluhan motor terparkir rapi di samping balai desa. Pak Joko sibuk mencatat pelat nomor kendaraan tersebut di buku tulis bersampul cokelat miliknya.

"Semua mesinnya masih bagus, Tuan Leo," lapor Pak Joko. "Kita bisa pakai armada ini untuk mengangkut material pasir dari sungai."

"Isi penuh tangkinya. Pengecoran fondasi mulai hari ini," perintah Leo, melangkah menuju tumpukan baja proyek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Keajaiban Kembali Dilakukan Leo

    Komandan polisi itu melangkah maju. Laras senjatanya terarah lurus ke dada Leo. Jari telunjuknya menempel erat pada pelatuk logam yang dingin.Leo tidak membuang waktu sedetik pun. Tangannya bergerak menyamping dengan kecepatan kilat. Ia menepis keras pergelangan tangan komandan itu dari arah bawah. Moncong senjata terlempar ke arah langit, diikuti suara langkah kaki polisi yang terhuyung mundur karena kehilangan keseimbangan."Simpan mainanmu sebelum aku mematahkan jari telunjukmu," ucap Leo. Nada suaranya sangat berat dan stabil.Tanpa memedulikan barisan aparat penegak hukum yang tertegun, Leo berjalan lurus membelah kerumunan. Ia menghampiri tubuh pekerja proyek yang tergeletak diam di atas terpal plastik berdebu."Singkirkan tangan Anda dari jenazah itu!" seru Clara. Ia menjulurkan tangannya, berusaha menarik bahu jaket Leo dari belakang. "Saya sudah menyatakan waktu kematiannya! Anda hanya merusak tempat kejadian perkara!"Leo menepis tangan wanita berkacamata itu tanpa menoleh.

  • Rayuan Desa Wanita   Jarum Beracun

    Polisi itu menjerit tertahan. Borgol besi terlepas dari tangannya, jatuh bergemerincing menghantam tanah berbatu."Tangan... tanganku mati rasa!" rintih polisi tersebut. Ia mundur dua langkah sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang gemetar hebat, otot lengannya menegang seperti ditarik paksa.Leo melepaskan cengkeramannya perlahan. Ia menepis debu dari lengan kemejanya."Aku sudah memperingatkanmu," kata Leo. Matanya melirik lurus ke arah komandan polisi yang kini memegang gagang senjatanya makin erat. "Jangan memaksa masuk ke wilayahku."Clara menggigit bibir bawahnya. Jari-jari tangannya mengepal erat di sisi rok pensilnya. Postur tubuhnya tetap tegak, tapi napasnya sedikit tertahan melihat anak buahnya dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti."Tindakan kekerasan pada aparat negara! Ini bukti nyata perlawanan hukum!” seru Herman dari balik punggung komandan polisi. Ia menunjuk Leo dengan jari bergetar. "Dokter Clara, catat ini dalam laporan audit Anda!""Tuan Leo! Tolong kami

  • Rayuan Desa Wanita   Surat Segel

    Leo menendang ban truk rampasan berlogo naga itu dengan ujung sepatunya. Pagi ini, enam armada truk berat dan puluhan motor terparkir rapi di samping balai desa. Pak Joko sibuk mencatat pelat nomor kendaraan tersebut di buku tulis bersampul cokelat miliknya."Semua mesinnya masih bagus, Tuan Leo," lapor Pak Joko. "Kita bisa pakai armada ini untuk mengangkut material pasir dari sungai.""Isi penuh tangkinya. Pengecoran fondasi mulai hari ini," perintah Leo, melangkah menuju tumpukan baja proyek yang dijaga ketat oleh para pemuda desa.Sekar berjalan menghampiri Leo sambil membawa papan dada berisi catatan logistik. Perban putih masih melingkar di balik kemejanya akibat sabetan rantai semalam, tapi gerakannya tetap gesit."Semen sudah mulai diaduk di sektor barat, Tuan. Kita butuh tambahan air," kata Sekar."Gunakan pompa dari sumur utama balai desa," jawab Leo tanpa menoleh, matanya mengawasi para pekerja yang sedang menggali tanah.Suara sirene polisi melolong keras dari kejauhan. Tig

  • Rayuan Desa Wanita   Hukum Rimba

    Silau lampu sorot halogen dari Jeep hitam itu perlahan meredup, namun tekanan aura membunuh yang dibawanya justru semakin pekat mencekik udara.Kobra menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada siluet tinggi tegap yang melangkah turun dengan tenang. Pisau parangnya masih menempel di leher Sekar, namun entah mengapa telapak tangannya mulai berkeringat dingin."Kau yang bernama Dokter Leonardo?!" bentak Kobra dengan suara serak, berusaha mati-matian mempertahankan wibawanya di depan anak buahnya. "Ternyata kau punya nyali juga datang mengantarkan nyawa ke sarang serigala!""Aku menyuruhmu menjauhkan pisau karatan itu dari wanitaku, Tikus," ulang Leo dengan suara bariton yang teramat tenang namun mematikan. Langkah sepatunya terdengar berat, memecah keheningan malam yang tegang.Merasa harga dirinya sebagai eksekutor mafia diinjak-injak, Kobra menarik parangnya dari leher Sekar dan menudingkannya tepat ke arah dada sang dewa bedah."Habisi dokter sombong ini! Cincang tubuhny

  • Rayuan Desa Wanita   Kepungan di Tengah Malam

    Tengah malam menyelimuti desa teh dengan kepekatan yang mencekam. Berkat sapuan badai berdarah dingin dari sang dewa bedah di perbatasan tadi siang, sepuluh armada truk pengangkut baja dan semen kini telah terparkir aman di area proyek puskesmas."Wibawa Tuan Leo sungguh tak masuk akal. Saya dengar dari para sopir, barikade di perbatasan itu hancur hanya dalam lima belas menit," gumam Pak Joko dengan nada takjub, merapatkan jaket tebalnya di pos jaga darurat."Itulah mengapa kita harus menjaga material ini dengan nyawa kita," balas Sekar tegas. Janda sintal yang kini menjabat Kepala Operasional itu memanggul pipa besi di bahunya, menatap waspada ke arah gulita. "Sindikat Naga Hitam tidak akan menelan rasa malu itu begitu saja."Firasat tajam sang mandor rupanya sangat akurat.Belum genap Pak Joko menyesap kopinya, suara deru puluhan mesin motor bersilangan dengan langkah kaki berat memecah kesunyian malam. Dari arah hutan pinus yang berbatasan dengan jalan kabupaten, puluhan titik api

  • Rayuan Desa Wanita   Blokade Jalan

    Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh. Gadis berhijab itu memeluk tas medisnya dengan rona merah yang masih menghiasi wajah cantiknya."Pastikan suplai herbal penetralisir untuk para korban Lereng Timur tetap terjaga hari ini, Ayu," perintah Leo mutlak tanpa menoleh sedikit pun."Siap, Tuan Leonardo. Saya akan mengawasi mereka tanpa henti," jawab Ayu lembut, suaranya dipenuhi ketundukan penuh sebagai abdi setia.Leo mengangguk pelan, lalu melangkah menuju area proyek di sisi barat desa. Namun, alih-alih disambut oleh deru bising ekskavator dan pekerja yang sibuk, suasana pagi itu justru hening. Ratusan pemuda desa hanya duduk-duduk di atas gundukan tanah galian dengan wajah tegang dan tangan mengepal."Ada apa ini, Sekar? Kenapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status