MasukSuara tarikan rantai leher anjing terdengar menjauh menyusuri lorong utama pabrik.Anjing penjaga berjenis doberman itu ditarik oleh pawangnya menuju area pemuatan kargo di sayap barat. Langkah sepatu bot penjaga itu perlahan hilang tertelan bisingnya deru mesin pendingin ruangan.Leo melepaskan tekanan jarinya dari area dada atas Sari secara perlahan. Janda muda itu menarik napas panjang meraup sisa oksigen di udara berdebu. Kulit Sari masih memerah akibat guncangan hormon yang baru saja mereda."Tetap diam di tempatmu dan atur pernapasanmu," perintah Leo melangkah keluar dari celah sempit tersebut.Pria itu mengangkat kaki kanannya dan menendang tumpukan gulungan kain denim di depannya.Gulungan seberat puluhan kilogram itu rubuh menghantam dua preman patroli yang sedang menyisir lorong."Tolong! Kain ini menjepit kakiku!" teriak salah satu preman yang tertindih tumpukan tekstil tebal tanpa bisa bangkit berdiri.Langkah kaki menyeret terdengar mendekati area pemotongan kain mal
Sari memalingkan wajahnya menahan rasa takut melihat kepalan tangan pria tersebut bersiap melayang. Kepalanya tertunduk menghindari kontak mata dengan sang algojo. Tangan wanita itu gemetar mencengkeram tepi meja potong."Kalian menyiksa pekerja wanita hanya demi menghemat biaya produksi linen murah," suara Leo memecah ketegangan di ruangan itu.Sepatu pantofel Leo melangkah memotong jarak dari arah pintu belakang dalam hitungan detik."Siapa kau berani masuk ke area pabrik ini?!" bentak preman itu menoleh ke arah sumber suara dengan dahi berkerut."Lepaskan tangan kotor itu dari pakaiannya sekarang!" seru Leo dengan nada datar tanpa menghentikan langkah.Belum sempat pria itu mengeluarkan makian balasan, lengan kiri Leo menepis tangan preman itu dari kerah Sari. Dua jari kanan Leo melesat cepat dan menancap presisi di sisi kiri leher lawan.Tekanan tajam mengenai titik saraf radialis memutus aliran darah ke otak pria bertubuh kekar itu secara instan.Mata preman itu mendelik
Langkah kaki perawat terdengar berlarian menyusuri lorong Puskesmas Elite pagi itu. Bidan Ayu berdiri di ambang pintu bangsal perawatan membawa papan catatan medis dengan wajah tegang."Dokter, delapan pasien di bangsal timur mendadak mengalami ruam kulit melepuh secara serentak," lapor Bidan Ayu saat Leo melintas.Leo memutar arah langkahnya memasuki bangsal perawatan beraroma karbol tersebut. Suara erangan pasien terdengar bersahutan menahan rasa gatal dan perih di permukaan kulit mereka. Beberapa pasien lansia juga menunjukkan gejala batuk kering disertai napas pendek.Leo menghampiri ranjang terdekat dan mengamati kulit lengan seorang pasien pria paruh baya.Bercak kemerahan membentuk pola cetakan kain terlihat jelas di sepanjang area punggung dan lengan pasien tersebut."Lepaskan semua seprai dan selimut merah dari ranjang pasien sekarang juga," perintah Leo tanpa membuang waktu.Bidan Ayu dan dua perawat lain segera menarik kain-kain tersebut dari atas kasur. Mereka mengga
Leo memiringkan kepalanya menghindari bilah celurit yang menembus dinding bambu. Ujung baja berkarat itu hanya berjarak dua sentimeter dari pelipis kirinya. Suara gesekan logam pada bilah bambu terdengar nyaring memekakkan telinga.Tangan kiri Leo merampas gagang kayu senjata itu dari luar melalui celah robekan dinding. Pria itu menarik celurit beserta lengan preman penyerangnya dengan sentakan keras tak terduga. Tenaga tarikan itu membuat preman di luar kehilangan keseimbangan pijakan pada tanah berlumpur.Bahu penyerang itu membentur anyaman bambu gubuk sangat kuat. Terdengar suara tulang hidung patah diiringi erangan kesakitan dari balik dinding.Leo melepaskan gagang celurit itu dan membiarkan tubuh preman di luar merosot jatuh ke genangan lumpur."Asap di luar mulai menipis tertiup angin dari arah utara," ucap Leo melepaskan tekanan jarinya dari ulu hati Ratri. "Kita keluar dari gubuk ini sekarang."Ratri menarik napas panjang mengisi paru-parunya dengan pasokan udara bersih
Lidah api membesar menyapu barisan batang tanaman tebu sejauh sepuluh meter dalam hitungan detik. Asap hitam berbau karbon merayap naik menutupi jarak pandang secara total di sektor selatan.Darman menekan ibu jarinya ke atas kertas dokumen itu dengan tangan gemetar. Noda darah dan keringat mengotori bagian bawah surat perjanjian pemindahan hak milik lahan."Urusan tanah ini selesai," ucap Leo menarik kertas bermaterai itu dari tanah.Leo melipat dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemeja linennya.Preman-preman bayaran Darman berlarian panik menabrak satu sama lain di tengah kebutaan asap. Mereka terbatuk keras membuang senjata tajam ke tanah berdebu.Suara derak batang tebu yang hangus mendominasi pendengaran di seluruh area perkebunan. Suhu udara meningkat drastis mengeringkan permukaan kulit dalam sekejap.Ratri terbatuk hebat menghirup udara beracun di sekitarnya. Mandor wanita itu kehilangan tenaga penyangga di lututnya dan nyaris tersungkur ke depan.Leo mel
Leo menggeser tombol merah di layar ponselnya memutus panggilan Sekar secara sepihak. "Kirim pasukan keamanan ke perbatasan," instruksi Leo memasukkan ponsel ke saku celana. "Aku memiliki urusan di sektor lain."Asap hitam pekat membubung menutupi cerobong Pabrik Gula Mini desa siang itu. Sumber kepulan asap tersebut bukan berasal dari mesin pembakaran tebu yang sedang beroperasi. Titik api merambat dari tengah lahan perkebunan tebu di sektor selatan.Leo menekan pedal rem Jeep hitamnya memasuki batas lahan perkebunan tebu. Pria itu mematikan mesin kendaraan dan melompat turun membawa tas medisnya.Lima pria berwajah kasar berdiri melingkar menghalangi akses jalan menuju titik kobaran api. Mereka menggenggam celurit panjang bersiap menyerang.Bos Darman berdiri di belakang mereka sambil menghisap sebatang rokok kretek murahan. Mafia tanah itu tersenyum meremehkan melihat api menghancurkan suplai gula merah distrik.Ratri berlari menerobos barikade preman itu membawa dua ember air
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog







