Beranda / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Singgasana Sang Raja

Share

Singgasana Sang Raja

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-31 12:23:28

Leo melemparkan kemeja linennya ke atas kursi rotan. Otot punggungnya yang tegap terpapar udara malam yang berhembus membawa uap belerang.

Pria itu melangkah turun menapaki undakan batu alam. Ia membenamkan tubuh bagian bawahnya ke dalam kolam air panas.

"Kalian membuang waktuku lima detik," tegur Leo bersandar di tepi kolam.

Nadia menjadi orang pertama yang bergerak. Inspektur tata ruang itu membuka kancing blazernya tanpa ragu sedikit pun.

Kain abu-abu itu jatuh menumpuk di atas lantai teras
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Tirai Besi Ruang Interogasi

    127Rantai borgol baja bergesekan kasar dengan meja besi. Leo duduk bersandar tenang di kursi baja ruang interogasi markas kejaksaan.Ruangan berukuran empat meter persegi itu hanya diterangi lampu neon putih di langit-langit. Dinding sisi kanan terbuat dari kaca gelap satu arah berukuran raksasa.Pintu logam tebal didorong terbuka secara kasar dari luar.Valeria melangkah masuk memegang sebuah map kulit hitam. Jaksa wanita itu mempertahankan ekspresi wajah yang sangat kaku."Keluar dari ruangan ini," perintah Valeria melirik dua petugas jaga di sudut ruangan. "Kunci pintu baja ini dari luar dan matikan kamera pengawas sekarang juga.""Sesuai prosedur keamanan interogasi, kamera harus tetap menyala, Nyonya," bantah salah satu petugas ragu."Lakukan perintahku atau kalian kehilangan lencana hari ini juga!" bentak Valeria mutlak tanpa toleransi.Kedua petugas itu menunduk dan bergegas keluar. Bunyi putaran slot logam dari luar mengunci mereka berdua di dalam ruangan kedap suara tersebut

  • Rayuan Desa Wanita   Pita Kuning di Gerbang Resor

    Tangan Leo meraih kemeja linen putih dari atas kursi rotan di tepi kolam. Pria itu melangkah naik meninggalkan air belerang yang mengepulkan uap panas ke udara.Delapan pelayan elitnya tertidur lemas tanpa busana menutupi tubuh di atas dipan bambu lantai kayu vila VIP.Leo mengancingkan kemejanya perlahan dari bawah ke atas. Pria itu berjalan santai menyusuri undakan batu menuruni lereng bukit menuju bangunan utama puskesmas.Sepatu pantofelnya baru saja menyentuh ubin lobi belakang saat suara decitan ban memekakkan telinga terdengar di luar.Lima truk lapis baja hitam mengerem mendadak di pelataran tanah Puskesmas Elite.Sepatu bot lars hitam menghancurkan pot keramik besar di depan anak tangga utama. Puluhan pria berseragam taktis merangsek masuk membawa senapan otomatis.Mereka bergerak cepat mengamankan setiap sudut ruangan. Garis polisi kuning ditarik paksa melingkari pilar-pilar kayu jati di teras depan."Kosongkan area ini sekarang juga! Kami menyita seluruh bangunan ini atas n

  • Rayuan Desa Wanita   Singgasana Sang Raja

    Leo melemparkan kemeja linennya ke atas kursi rotan. Otot punggungnya yang tegap terpapar udara malam yang berhembus membawa uap belerang.Pria itu melangkah turun menapaki undakan batu alam. Ia membenamkan tubuh bagian bawahnya ke dalam kolam air panas."Kalian membuang waktuku lima detik," tegur Leo bersandar di tepi kolam.Nadia menjadi orang pertama yang bergerak. Inspektur tata ruang itu membuka kancing blazernya tanpa ragu sedikit pun.Kain abu-abu itu jatuh menumpuk di atas lantai teras bambu. Setelan rok ketatnya menyusul terlepas ke tanah."Maafkan keterlambatan kami, Rajaku," ucap Nadia melangkah masuk ke dalam air belerang.Elara tidak mau kalah. Istri bupati itu menarik ritsleting gaun sutra birunya dari arah punggung.Gaun mahal itu meluncur jatuh mengekspos kulit putihnya. Ia segera turun menyusul Nadia mendekati tubuh sang dokter."Beri kami kesempatan menebus kesalahan itu," tawar Elara menempelkan dada polosnya ke bahu kiri Leo.Wulan melepas sepatu hak tingginya deng

  • Rayuan Desa Wanita   Barisan Penguasa Tak Terlihat

    Seorang wanita melangkah keluar mengenakan seragam pelayan hitam putih. Tangannya memegang gagang sapu lidi yang kasar.Kacamata tebal menutupi separuh wajahnya. Rambut panjangnya diikat sangat berantakan ke bagian belakang kepala."Itu dia!" tunjuk Kevin mengenali postur sang artis seketika. "Seret wanita itu kemari sekarang!"Dua pengawal Kevin bergegas maju menaiki undakan teras bambu. Laras senapan mereka berayun mengancam secara agresif.Pelayan wanita itu mendongak lalu melemparkan sapunya ke tanah. Wajah cantik Bella terekspos jelas di bawah cahaya lampion."Jangan berani menyentuh pelayanku," cegah Leo membiarkan tangannya tetap bersarang di dalam saku celana."Persetan dengan laranganmu!" bentak Kevin tertawa buas. "Dia aset hiburan milik jaringan keluargaku!"Pengawal pertama menjulurkan tangannya berniat mencengkeram kerah seragam Bella secara paksa.Langkah sepatu hak tinggi berderap tegas dari balik bayangan pintu vila yang sama.Nadia melangkah keluar mendahului posisi B

  • Rayuan Desa Wanita   Pemburu Skandal di Area Eksklusif

    Lampu lampion kuning menyala menerangi jalan setapak berbatu menuju lereng bukit belerang.Tujuh unit vila VIP berdiri kokoh dengan arsitektur bambu modern yang elegan.Leo duduk di kursi rotan utama menghadap kolam air panas utama. Pria itu mengenakan kemeja linen hitam dengan kerah terbuka.Diana berjalan mendekat membawa nampan berisi gelas kristal. Arsitek elit itu mengenakan gaun malam merah ketat yang mencetak lekuk tubuhnya."Seluruh sistem sirkulasi air panas sudah berjalan sempurna, Rajaku," lapor Diana menundukkan kepalanya.Leo mengambil gelas kristal itu tanpa menoleh. "Kerja bagus," puji Leo menyesap minumannya pelan.Suara musik klasik mengalun lembut dari pengeras suara tersembunyi di balik susunan bambu. Maya dan Kania menata hidangan malam di atas meja panjang di sudut teras.Ketenangan malam peresmian itu tidak berlangsung lama.Suara ledakan keras terdengar dari arah gerbang utama bukit. Pintu pagar kayu jati hancur ditabrak bumper mobil SUV berwarna hitam pekat.Du

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Gengsi Metropolitan

    Clarissa meraup oksigen rakus. Rongga dadanya kembang kempis menyerap udara segar dalam tarikan napas panjang.Bercak ruam merah di leher dan dadanya memudar perlahan. Sengatan gatal itu lenyap tak berbekas dari permukaan kulitnya."Sistem imun tubuhmu sudah kembali berfungsi normal," ucap Leo menarik tangannya dari perut bawah wanita itu dengan gerakan tenang."Kau menghancurkan akal sehatku," rintih Clarissa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar hebat.Tubuh putih pewaris farmasi itu tergeletak lemas di atas tumpukan karung goni kasar tanpa tenaga tersisa.Leo meraih kemeja sutra milik Clarissa dari lantai tanah yang kotor. Ia melempar pakaian mahal itu ke wajah sang konglomerat."Pakai bajumu," perintah Leo tanpa memedulikan kondisi mental pasiennya. "Waktumu untuk menangisi gengsi sudah habis malam ini."Clarissa menurunkan tangannya perlahan. Matanya menatap pria tinggi besar di depannya dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.Tidak ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status