Share

Rayuan Desa Wanita
Rayuan Desa Wanita
Penulis: Falisha Ashia

Terjebak Di Desa

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 15:13:48

Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.

Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok.

"Sial! Kenapa harus mogok di tempat antah berantah begini?!" umpatnya sambil menepi.

Leo baru saja menyelesaikan pendidikan dokter spesialis bedahnya yang sangat menguras kewarasan. Niat hatinya melakukan solo touring keliling daerah untuk melepas penat dan lari dari rutinitas rumah sakit kota yang serba steril dan membosankan.

Namun, GPS-nya mati total sejak dua jam lalu. Kini, ia malah terdampar di tengah hamparan kebun teh yang sepi.

"Nggak ada sinyal, nggak ada bengkel, sial!" keluhnya.

Satu-satunya benda berharga yang ia bawa hanyalah motor yang kini mogok dan uang tunai seratus juta di dalam tas ranselnya, kebiasaan pria kaya yang tak mau repot-repot mencari ATM jika sedang berada di pelosok.

Leo menuntun motornya perlahan, berharap setidaknya bisa menemukan rumah warga. Namun, pendengarannya yang tajam tiba-tiba menangkap sebuah suara dari arah gang sempit, tak jauh dari area yang tampak seperti pasar desa yang terbengkalai.

“Tolong! Lepaskan aku!”

Terdengar jeritan seorang wanita. Suaranya melengking penuh ketakutan.

Leo segera menyandarkan motornya. Dari balik tembok, dia melihat tiga pria berwajah beringas sedang mengerubungi seorang gadis muda. Aroma tajam tuak murahan tercium menyengat hingga ke tempat Leo berada.

Mata tajam Leo menyipit. Fokusnya sama sekali bukan pada ketiga preman mabuk itu, melainkan pada sang gadis.

Gadis itu tampak baru berusia dua puluhan awal. Kulitnya putih bersih dan mulus, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berdebu. Dia mengenakan kain jarik dan atasan kemben batik yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat. Lekuk tubuhnya sempurna bagaikan gitar spanyol, mengundang imajinasi liar siapa pun yang melihatnya.

“Ayo main sebentar, Neng. Jangan jual mahal,” goda salah satu preman dengan senyum menjijikkan sambil mencolek bahu gadis itu.

“Jangan sentuh aku, Bangsat! Pergi kalian!” maki gadis itu sambil memberontak keras.

Leo mendengus dingin. Sebagai seorang dokter, sumpah jabatannya adalah menyelamatkan nyawa. Namun sebagai seorang pria normal, insting primalnya langsung berteriak untuk melindungi wanita secantik dan semenggoda itu dari tangan-tangan kotor sampah masyarakat.

Langkah kakinya yang tegap dan terbalut sepatu bot kulit mahal mendarat kokoh mendekati mereka.

“Woi, singkirkan tangan kotor kalian darinya!” seru Leo.

Ketiga preman itu serempak menoleh. Tatapan aneh sekaligus meremehkan terlihat jelas saat memindai penampilan rapi Leo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jelas sekali dia orang kota yang tersesat.

“Siapa kau, hah?! Bocah kota, mending kau balik sebelum muka mulus kau ini, aku hancurin!” bentak preman bertubuh paling besar sambil meludah ke tanah.

Leo tidak membalas. Dia benci membuang ludah untuk berbicara dengan orang-orang dari kelas bawah sepertinya.

Hanya dalam hitungan detik, tubuh Leo melesat maju.

Buuuk!

Satu pukulan mentah dan bertenaga bersarang tepat di rahang preman raksasa itu. Gigi-giginya rontok seketika sebelum tubuhnya ambruk ke tanah tanpa ampun.

Dua preman lainnya terbelalak kaget. Namun, sebelum otak mabuk mereka sempat mencerna apa yang terjadi, tendangan memutar Leo menyapu telak tulang rusuk mereka berdua.

Kraak!

Terdengar bunyi tulang patah disusul jeritan kesakitan yang memilukan. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik untuk membuat ketiga preman beringas itu bergulingan di tanah dan kalang kabut dalam ketakutan.

“Ampun… ampun, Bos!” rintih salah satu dari mereka sambil memegangi perutnya yang mual.

“Pergi sebelum aku mematahkan leher kalian,” desis Leo tajam. Sebagai seorang ahli bedah, dia tahu betul letak titik-titik mematikan di anatomi tubuh manusia.

Ketiga preman itu tertatih-tatih berdiri. Dengan sisa tenaga, mereka bercerai-berai melarikan diri terbirit-birit. Sambil menahan sakit, preman bertubuh besar itu menyempatkan diri bergumam ke arah Leo.

“Awas kau, Bocah! Kami akan balas dendam!” ancamnya dengan suara bergetar sebelum menghilang di tikungan gang.

Leo membersihkan debu di jaket kulitnya dengan santai. Lalu, dia membalikkan badan, menatap gadis muda yang masih gemetar ketakutan di sudut tembok.

“Kamu nggak apa-apa? Ada yang terluka?” tanya Leo. Suaranya kini melunak, menggemakan nada seorang dokter yang sedang menenangkan pasiennya.

“Sa-saya nggak apa-apa. Terima kasih banyak, Tuan,” ucap gadis itu terbata-bata, napasnya masih memburu.

Saat gadis itu menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih, ikatan kemben yang sedari tadi ditarik-tarik secara paksa oleh para preman itu sedikit melonggar. Kain batik yang menutupi bagian atasnya merosot turun hingga nyaris terlepas.

Mata Leo refleks tertuju pada pemandangan di depannya. Bagian tubuh yang putih, penuh, dan menggugah itu kini terekspos jelas. Pemandangan itu begitu ranum dan menggoda, seolah sengaja menantangnya untuk menyentuh.

Aroma keringat dari tubuh gadis itu justru menguar masuk ke indra penciuman Leo, membangunkan insting lelakinya yang selama ini terkubur oleh padatnya jadwal rumah sakit.

Napas Leo seketika menjadi lebih berat. Darahnya berdesir panas mengalir ke seluruh tubuh. Matanya terpukau tanpa bisa dialihkan.

Ada dorongan gila yang tiba-tiba meledak di benaknya. Sensasi ini… sangat berbeda dengan kehidupannya di kota.

‘Sialan. Sepertinya tersesat di tempat ini bukan hal yang buruk,’ batin Leo.

Sudut bibir Leo melengkung ke atas, membentuk senyuman nakal. Matanya menatap lekat-lekat pada pesona gadis desa di depannya itu, seakan siap menelannya bulat-bulat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Kebutaan Sang Pemborong

    Ujung pisau bedah titanium Leo mencongkel celah sempit panel elektronik di dinding ruang isolasi.Logam perak itu merusak susunan kabel sirkuit utama dalam satu putaran presisi mekanik.Lampu indikator merah di atas pintu baja padam seketika menyisakan bunyi dengungan pendek akibat korsleting."Sistem pengunci magnetiknya sudah terputus dari sumber daya sentral," lapor Leo mencabut pisaunya perlahan.​Citra menarik napas panjang mengatur ulang ritme jantungnya yang masih berpacu liar tak terkendali.Janda muda itu menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari tangan kirinya yang berkeringat."Mereka pasti menunggu kita di luar pintu ini, Dokter," bisik Citra membetulkan kerah seragam perawatnya."Senjata tumpul jalanan tidak akan pernah bisa mengalahkan kecepatan instrumen bedah klinis," balas Leo santai.​Leo mendorong pelat baja tebal itu menggunakan bahu kanannya secara paksa hingga engselnya bergeser.Engsel pintu berderit pelan membuka akses menuju lorong utama panti rehabi

  • Rayuan Desa Wanita   Ruang Isolasi Kedap Suara

    Balok kayu sepanjang satu meter melayang membelah udara mengincar persendian lutut Leo.Preman bayaran terdepan mengayunkan senjatanya dengan tenaga penuh berniat meremukkan tulang sang dokter.Leo memutar tumit pantofelnya menolak aspal panas halaman panti dengan kelenturan ekstrem.Tubuhnya melesat menyamping memotong lintasan serangan lawan sebelum kayu itu menyentuh sasarannya.​Tangan kanan Leo keluar dari saku celana kargo dalam satu gerakan kilat yang tidak terdeteksi mata normal.Pisau bedah titanium murni memantulkan cahaya matahari siang di sela jemari sang dewa bedah."Hancurkan kaki dokter sombong ini sekarang juga!" perintah Rahmat mundur menjauhi barisan depan.Leo sama sekali tidak membuang tenaga untuk menangkis pukulan preman jalanan tersebut secara frontal.Bilah logam perak itu meluncur tajam menyasar celah mesin eskavator yang beroperasi tepat di sebelahnya.​Pisau titanium Leo memotong selang penyalur oli hidrolik ekskavator dalam satu sayatan presisi absolut.Sis

  • Rayuan Desa Wanita   Alat Berat di Halaman Panti

    Cahaya matahari siang menyengat tajam memantul di kaca bangunan Puskesmas Elite tanpa awan penghalang.Sektor pangan dan medis distrik kini beroperasi sempurna di bawah kendali Leo.Distribusi beras bersih dan air tanah telah terjamin mutlak tanpa campur tangan lintah darat.Leo melangkah keluar dari lobi puskesmas mengusap keringat tipis di dahinya dengan saputangan linen.​Ponsel satelit di saku kargonya bergetar panjang memecah keheningan pelataran aspal yang mulai sepi.Layar ponsel itu menampilkan nomor panggilan darurat dari Bidan Ayu yang sedang bertugas di luar puskesmas."Tiga alat berat baru saja merangsek masuk merusak pagar depan Panti Rehabilitasi Harapan," lapor Ayu dengan napas terengah."Mereka mengusir paksa semua pasien gangguan saraf untuk mengosongkan lahan panti siang ini juga."​Leo segera melompat masuk ke dalam Jeep hitamnya dan menghidupkan mesin berkapasitas besar tersebut.Mobil tangguh itu melaju membelah jalanan desa menuju bangunan panti yang terletak di

  • Rayuan Desa Wanita   Saraf Pencernaan yang Lumpuh

    Debu dedak padi yang beterbangan perlahan mulai mengendap menyentuh lantai beton gudang penggilingan.Leo merangkak keluar dari persembunyian menarik tubuh Niken yang kehilangan tenaga motoriknya.Wanita berseragam dinas cokelat itu melangkah terhuyung menyeret sepatunya di atas lantai.Tangan kanannya terus bertumpu pada lengan sang dokter bedah mencari titik keseimbangan absolut.​"Buka kelopak matamu dan bersandarlah pada tumpukan karung ini," perintah Leo melepaskan cengkeramannya.​Niken menjatuhkan bahunya ke susunan karung menahan sisa guncangan hormon di jaringan otaknya.Raut wajah inspektur wanita itu masih memerah pekat dengan napas yang memburu pelan.Bunyi kokangan mekanik senjata api mendadak memecah deru mesin giling yang mulai mereda.​Gondo menodongkan senapan angin rakitan lurus ke arah bidang dada Leo dari jarak dekat.Moncong besi gelap itu tidak bergetar sama sekali mengunci target di depan mata.Ujung jari telunjuk pria tambun itu menekan pelatuk tanpa sedikit pu

  • Rayuan Desa Wanita   Hawa Panas Lumbung Padi

    Bilah pengait besi berkarat meluncur deras mengincar tulang selangka kiri Leo.Pemuda itu tidak menarik tangannya dari saku untuk menahan benturan senjata tajam tersebut.Pundaknya merendah memotong sudut serang, membiarkan besi itu membentur udara kosong.​"Pukul dari arah belakang!" teriak salah satu kuli sambil mengayunkan tongkat bambu panjang.Leo memutar tumit pantofelnya menolak lantai beton gudang yang dipenuhi sekam padi.Tubuhnya melesat maju menembus pertahanan kasar lawan layaknya bayangan yang tak tersentuh.Kedua tangannya keluar dari saku celana kargo dalam gerakan presisi tingkat tinggi.​Dua jari telunjuk Leo menancap kuat pada titik saraf brakialis di bawah ketiak kuli pertama.Sinyal motorik yang mengalir ke seluruh otot lengan pria kekar itu langsung terputus seketika.Tongkat bambu terlepas dari genggamannya, berdebum jatuh membentur lantai gudang.​"Tarik mundur lengan kalian atau sendinya patah!" perintah kuli lain mencoba menghindar.Nasihat itu datang terlamba

  • Rayuan Desa Wanita   Karung Pemutih Beracun

    Biji beras putih di atas meja kerja kayu jati itu hancur menjadi bubuk halus.Ujung jari telunjuk Leo menekan pelan bulir karbohidrat itu tanpa mengerahkan tenaga yang berarti.Bau bahan kimia pemutih sintetis langsung menguar tajam menyengat sistem penciuman sang dokter bedah itu"Pasokan beras distrik dioplos menggunakan klorin pemutih mematikan untuk menutupi jamur," observasi Leo datar.Bidan Ayu berdiri di depan meja dengan raut wajah memucat pasi melihat bubuk beras tersebut."Karena ini, ratusan balita desa terancam gagal ginjal akut kalau pasokan beras ini terus dikonsumsi setiap harinya," lapor Ayu dengan kondisi yang tegang.​Leo membersihkan sisa bubuk putih dari ujung jarinya menggunakan saputangan linen bersih."Cuma ada satu pemain besar yang memonopoli seluruh pasokan pangan mentah di wilayah ini," ucap Leo seraya berdiri.Juragan Gondo adalah penguasa absolut tunggal seluruh gudang penggilingan padi di perbatasan timur distrik.Pria itu menekan harga beli gabah petani

  • Rayuan Desa Wanita   Sentuhan Sang Dokter

    Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

  • Rayuan Desa Wanita   Oksigen Terbatas

    Bilah pintu baja menabrak kusen logam menghasilkan dentuman keras yang merobek telinga.Bunyi selot hidrolik bergeser menutup rapat dari berbagai sisi kusen.Ruang brankas itu kini tersegel, memisahkan mereka berdua dari dunia luar.Suara putaran baling-baling kipas ventilasi di langit-langit menda

  • Rayuan Desa Wanita   Pembajakan Truk

    Ban sedan dinas kejaksaan berdecit keras menabrak aspal beton. Mobil berplat merah itu melaju membelah kepadatan jalan tol lintas provinsi dengan kecepatan tinggi.Valeria mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya yang berkeringat dingin. Jaksa wanita itu memacu laju kendaraan menuruti instruksi m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status