Compartilhar

Komandan Lumpuh

last update Data de publicação: 2026-07-16 18:29:11

Leo menarik kedua jarinya dari leher Rina saat suara derap langkah menjauh.

Polisi wanita itu merosot lemas menghirup sisa oksigen dengan rakus.

"Ambil map merahmu dari lantai baja itu sekarang," perintah Leo membenarkan kerahnya.

Rina merangkak cepat memungut dokumen tersebut dengan tangan bergetar.

Leo memutar tubuhnya menghadap pintu brankas setebal lima belas sentimeter.

Pria itu memusatkan tenaga murni ke ujung sepatu pantofel kanannya.

​Leo menendang engsel baja pintu brankas tersebut men
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Rayuan Desa Wanita   Asap Hitam Perbatasan

    Tabung oksigen portabel berbenturan keras dengan lantai keramik lorong Puskesmas Elite.Bidan Ayu mendorong ranjang dorong dengan napas tersengal membelah antrean pasien.Layar monitor medis di tangannya berkedip merah memancarkan bunyi peringatan darurat.​"Dua lansia tambahan baru saja kehilangan kesadaran di ruang tunggu depan, Dokter!" lapor Ayu panik.​Wanita itu menarik masker oksigen dan memasangkannya ke wajah keriput seorang pasien pria.Leo melangkah keluar dari ruang kerjanya membawa stetoskop di leher kemeja linennya.Pria itu memeriksa pupil mata pasien dan mencium aroma tajam dari pakaian mereka.​"Bau amonia pekat bercampur sisa pembakaran klorin basah," observasi Leo datar."Pasien-pasien ini tidak mengalami wabah penyakit menular biasa.""Mereka keracunan partikel udara beracun dalam durasi lebih dari empat jam berturut-turut," jelas Leo menarik stetoskopnya.​Jadwal sarapan pagi warga perbatasan barat hancur total oleh serangan gas kimia mematikan tersebut.​"Dari ma

  • Rayuan Desa Wanita   Saraf Ginjal Hancur

    Ujung sepatu bot preman itu berputar arah menjauhi pelat baja rongga turbin.Suara langkah kakinya perlahan meredup tenggelam oleh deru bising putaran mesin air raksasa di atas mereka.Leo melepaskan tekanan ibu jarinya dari ulu hati Amel secara perlahan."Mereka sudah bergerak menuju blok generator cadangan di sisi timur," lapor Leo datar menatap celah pelat.Amel melepaskan gigitannya dari kerah kemeja linen pria itu dengan napas terengah-engah.Wajah insinyur wanita itu memerah pekat menahan sisa guncangan biologis di sekujur saraf motoriknya."K-kita harus segera keluar sebelum mereka menyisir ulang tempat ini," bisik Amel merapikan letak kacamatanya.Leo merangkak keluar dari rongga sempit itu dan berdiri tegak menepis debu dari celananya.Dia mengulurkan tangan kanannya menarik tubuh Amel hingga berdiri stabil di atas kakinya.Mata sang dokter bedah tertuju pada deretan panel hidrolik penggerak pintu bendungan utama."Sistem elektronik mereka mungkin terkunci rapat dari pusat ko

  • Rayuan Desa Wanita   Rongga Turbin Panas

    ​Amel berdiri mengetik cepat di atas papan ketik terminal kendali hidrolik stasiun pompa air.Wanita berkacamata itu mencoba membobol sistem keamanan untuk membuka kunci pintu bendungan desa secara manual."Kode enkripsinya sudah diubah ulang secara sepihak siang tadi," gumam Amel membetulkan letak kacamatanya.Keringat dingin menetes dari dahi sang insinyur menyadari risiko tinggi dari tindakan sabotase tersebut.​Tiga preman penjaga mendadak melangkah masuk ke dalam ruang kontrol menodongkan senjata mereka."Jadi kau mau mencoba menjadi pahlawan kemanusiaan untuk warga desa ya, Nona Insinyur?" tegur preman pertama.Amel terlonjak mundur menabrak meja kontrol menjatuhkan gulungan peta topografinya ke lantai."Bos Tirta sudah menduga kau akan mencoba berkhianat dengan membuka pintu bendungan itu malam ini," lanjut preman kedua.Pria berbadan gempal itu melangkah maju berniat mencengkeram rambut panjang Amel yang diikat kuda.​Leo melesat masuk dari balik bayangan pintu memotong jarak

  • Rayuan Desa Wanita   Katup Bendungan Kering

    Debu kering beterbangan tertiup angin panas menyapu pelataran aspal Puskesmas Elite.Musim kemarau ekstrem melanda seluruh wilayah perbatasan distrik tanpa tanda-tanda awan mendung.Daun-daun pohon jati di pinggir jalan raya menguning dan berguguran layu menahan suhu tinggi.Layar monitor tangki air utama puskesmas berkedip merah menampilkan angka debit yang terus menurun.​Bidan Ayu berlari keluar dari lorong ruang sterilisasi alat medis dengan wajah tegang."Pasokan air bersih untuk mesin sterilisasi uap panas mengalami penyusutan drastis pagi ini, Dokter," lapor Ayu dengan wajah yang tampak panik."Kita tidak bisa melakukan tindakan operasi minor siang nanti tanpa instrumen yang disterilkan secara absolut itu."Leo meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kerja kayu jati di ruang VIP.​"Debit air tanah tidak akan turun drastis dalam semalam hanya karena cuaca panas," observasi Leo datar.Suara deru mesin mobil SUV mewah memecah percakapan mereka dari arah gerbang depan.Sebuah

  • Rayuan Desa Wanita   Hancurnya Sindikat Plasma

    Engsel pintu insulasi perak itu berderit pelan merespons dorongan bahu kanan Leo.Hawa beku berhembus keluar berbenturan langsung dengan udara pengap bekas pabrik tekstil.Leo melangkah keluar dari ruang pendingin raksasa menenteng kemeja linennya di tangan kiri.Sinta berjalan mengekor tepat di belakang sang dokter bedah dengan langkah kaki yang menapak stabil.Suhu inti tubuh perawat muda itu telah kembali normal sepenuhnya pasca terapi termal di dalam mesin pembeku.Rona kemerahan menghiasi wajah dan leher Sinta menyisakan jejak guncangan biologis barusan.Napas wanita itu masih sedikit tersengal menahan lonjakan hormon endorfin yang memabukkan jaringan otaknya.Sembilan penjaga bayaran mengerang parau memegangi pergelangan kaki mereka yang cacat permanen.​"Berhenti melangkah sekarang juga, Dokter keparat!" bentak Frans dari ujung lorong timur.Mantan ahli anatomi itu mengangkat sebuah pistol pembius bertekanan gas pneumatik tinggi.Laras hitam berlubang besar itu mengarah lurus m

  • Rayuan Desa Wanita   Suhu Minus Derajat

    Ujung tongkat baja pertama melayang lurus mengincar pelipis kanan Leo.Pemuda itu merendahkan bahunya membiarkan besi tumpul tersebut melewati kepalanya.Pisau titanium di tangan sang dokter bedah berputar memantulkan cahaya neon."Pukul kepalanya dari belakang!" perintah seorang preman berwajah parut.Leo melangkah mundur memotong lintasan serangan lawan dengan presisi geometris.Bilah perak murni itu menyayat bagian belakang pergelangan kaki preman pertama.Tendon Achilles pria tersebut terputus rapi dalam satu tarikan garis lurus.Preman berwajah parut itu menjerit keras kehilangan fungsi tumpuan kakinya seketika.Dia ambruk menghantam lantai tanpa kesempatan untuk berdiri tegak kembali."Kalian terlalu membebani otot betis saat mengayunkan senjata," evaluasi Leo datar."Potong lidahnya biar dia bungkam!" teriak preman lain melompat maju.Tiga penjaga bayaran lainnya merangsek serentak dari arah samping.Leo memutar tubuhnya menggunakan poros tumit kiri dengan kelenturan efisien.S

  • Rayuan Desa Wanita   Blokade Jalan

    Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh.

  • Rayuan Desa Wanita   Bidan Ayu Yang Keras Kepala

    Ancaman yang dibisikkan Leo dengan nada sangat pelan itu sukses membuat napas Bidan Ayu tercekat. Jantung sang lulusan akademi berdegup satu ketukan lebih cepat.Di balik lensa kacamatanya, mata cokelat Ayu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Leo yang sedingin dasar lautan.‘Mata ini... ini

  • Rayuan Desa Wanita   Membayar Hutang Seluruh Warga Desa

    Sofa reyot di ruang tamu itu seakan menjadi saksi bisu runtuhnya moral dan akal sehat. Udara pagi yang mulai menyusup dari celah jendela tak mampu mengusir aroma pekat percintaan liar yang masih menggantung di ruangan tersebut.Leo bersandar dengan dada telanjang yang dipenuhi bekas cakaran dan gig

  • Rayuan Desa Wanita   Raja Teh Yang Baru

    Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status