เข้าสู่ระบบKananta menyelesaikan urusannya dengan Maya di stasiun televisi itu dengan cara yang bahkan penulis naskah infotainment pun tidak berani menulis.Maya datang dengan dress merah menyala, makeup tebal, dan air mata buatan yang sudah ia latih selama 3 hari di depan kaca. Ia berencana playing victim. Ia mau bilang di depan kamera bahwa Kananta adalah suami yang lemah, tidak bisa memberikan keturunan, dan meninggalkannya demi dokter andrologi cantik bernama Zinia.Tapi Kananta datang dengan gaya yang sangat absurd. Ia tidak datang dengan jas mahal. Ia datang dengan kaos oblong putih, celana pendek, dan di tangannya ada satu potong semangka utuh yang masih dingin.Semua penonton di studio bengong."Maya, kamu mau playing victim? Silakan. Tapi sebelum itu, aku mau makan semangka dulu. Cuaca panas, hati juga panas. Semangka ini bisa mendinginkan."Ia mengambil sendok besar, menyendok semangka itu, dan memakannya dengan suara yang sangat keras sampai mikrofon menangkap bunyi _srup_ yang membua
"Sudah, lupakan Papa dan Mama. Sekarang, suhuku kayaknya naik, Dokter. Kamu nggak mau periksa aku?"Zinia langsung menepuk jidatnya. "Nanta, kamu ini baru saja dijewer Papa kamu, baru saja hampir ketahuan bohong soal CEO, masih sempat-sempatnya minta diperiksa?"Kananta langsung berbaring di sofa dengan gaya paling dramatis se-Indonesia. Tangannya ditaruh di dahi, matanya setengah tertutup, seperti aktor sinetron yang sedang sekarat di episode 200."Zin, aku serius. Aku merasa demam. Mungkin karena tadi aku terlalu lama berdiri di depan Mama Papa menahan malu. Malu itu bisa bikin meriang, tahu? Ini penyakit yang cuma bisa disembuhkan sama dokter andrologi yang cantik."Zinia mengambil termometer dari kotak obatnya dengan gerakan yang sangat profesional, tapi mulutnya tidak berhenti mengomel."Buka mulut. Jangan ngomong."Kananta membuka mulut, termometer masuk, tapi matanya tetap menatap Zinia dengan tatapan yang sangat tidak sopan untuk ukuran pasien."36,5. Normal." Zinia menunjukka
Atmosfer di dalam apartemen itu sudah melampaui titik didih. Kananta bisa merasakan deru napas Zinia yang memburu di ceruk lehernya, sementara tangannya sudah mulai menjelajah lekuk pinggang yang terbalut kain sutra maroon yang tipis itu. Hasrat yang terkubur selama bertahun-tahun sejak mereka berpisah di masa kuliah kini meledak layaknya bendungan yang jebol. Zinia, dengan tatapan sayu dan bibir yang sedikit terbuka, benar-benar menjadi ujian terakhir bagi kewarasan Kananta.Namun, tepat saat Kananta hendak menunduk untuk mengklaim bibir merah itu, sebuah suara parau dan berat memecah keheningan dengan sangat tidak sopan."Ekhem!"Kananta mendengus kesal. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama Rey. Si pengusik galak itu pasti kembali lagi untuk mengacaukan suasana. Tanpa menoleh, masih dengan posisi mendekap Zinia, Kananta membentak dengan nada tinggi."Rey! Diem dulu! Pergi sana, jangan ganggu konsentrasi orang!"Hening sejenak. Tapi sedetik kemudian, sebuah tangan dengan cengke
Brak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u
Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.
Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak
Ketua komite baru saja selesai melempar-lempar kode, aroma manja-mautnya masih beterbangan di udara ketika Kananta akhirnya menyerah pada kondisi. Ia mengangkat kedua tangan seperti tahanan yang baru ketangkap.“Baik, Bu Komite. Saya minta maaf,” katanya hati-hati, menjaga intonasi supaya tidak men
Namun, saat Kananta semakin terbawa suasana, tiba-tiba Zinia menghentikannya.“Stop.”Suaranya terdengar seperti rem tangan ditarik mendadak di tikungan. Kananta berhenti freeze dengan pose tangan masih nemplok di dada si manekin—pose yang kalau difoto, bisa masuk grup WA keluarga dan bikin Mama pi
Kali ini pulang fisioterapi membuat kananta sedikit lebih tenang, walaupun tadi ada sedikit gangguan dari sang mantan yang benar-benar tidak diharapkan. Seperti jelangkung yang datang tidak diundang, tapi berperawakan seperti kuyang! "Ayah!"Monster kecil itu berlari memeluknya. Bumi, putra semat
Kananta dirinya langsung saja menggenggam lengan Maya untuk segera keluar dari ruangan. Dia tidak peduli tatapan orang-orang di luar—untung saja keadaan sudah sepi karena memang dia pasien terakhir hari itu. Tak menyangka si ratu nyinyir dunia daring, kembali lagi hadir untuk mengobrak-abrik hatiny







