Share

Kananta VS Rey

Author: AgilRizkiani
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-02 19:49:29

Kananta berdiri di ambang pintu seperti orang yang baru saja diseret ke realitas yang terlalu HD untuk kepalanya. Tanktop tipis Zinia? Ya Tuhan. Ini bukan cuma HD-ini 4K tanpa sensor.

Zinia, santai banget, menyibak rambutnya ke samping. "AC-nya rusak," gumamnya sambil mengibaskan tangan ke arah wajah.

Kananta mengatupkan rahang. "Eh ... aku- maksudnya saya ...."

"Kananta," potong Zinia sambil berjalan ke meja kerja, pinggulnya bergerak dengan percaya diri khas perempuan yang tau persis efek vis
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    pembalasan

    Kananta menyelesaikan urusannya dengan Maya di stasiun televisi itu dengan cara yang bahkan penulis naskah infotainment pun tidak berani menulis.Maya datang dengan dress merah menyala, makeup tebal, dan air mata buatan yang sudah ia latih selama 3 hari di depan kaca. Ia berencana playing victim. Ia mau bilang di depan kamera bahwa Kananta adalah suami yang lemah, tidak bisa memberikan keturunan, dan meninggalkannya demi dokter andrologi cantik bernama Zinia.Tapi Kananta datang dengan gaya yang sangat absurd. Ia tidak datang dengan jas mahal. Ia datang dengan kaos oblong putih, celana pendek, dan di tangannya ada satu potong semangka utuh yang masih dingin.Semua penonton di studio bengong."Maya, kamu mau playing victim? Silakan. Tapi sebelum itu, aku mau makan semangka dulu. Cuaca panas, hati juga panas. Semangka ini bisa mendinginkan."Ia mengambil sendok besar, menyendok semangka itu, dan memakannya dengan suara yang sangat keras sampai mikrofon menangkap bunyi _srup_ yang membua

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    interogasi

    "Sudah, lupakan Papa dan Mama. Sekarang, suhuku kayaknya naik, Dokter. Kamu nggak mau periksa aku?"Zinia langsung menepuk jidatnya. "Nanta, kamu ini baru saja dijewer Papa kamu, baru saja hampir ketahuan bohong soal CEO, masih sempat-sempatnya minta diperiksa?"Kananta langsung berbaring di sofa dengan gaya paling dramatis se-Indonesia. Tangannya ditaruh di dahi, matanya setengah tertutup, seperti aktor sinetron yang sedang sekarat di episode 200."Zin, aku serius. Aku merasa demam. Mungkin karena tadi aku terlalu lama berdiri di depan Mama Papa menahan malu. Malu itu bisa bikin meriang, tahu? Ini penyakit yang cuma bisa disembuhkan sama dokter andrologi yang cantik."Zinia mengambil termometer dari kotak obatnya dengan gerakan yang sangat profesional, tapi mulutnya tidak berhenti mengomel."Buka mulut. Jangan ngomong."Kananta membuka mulut, termometer masuk, tapi matanya tetap menatap Zinia dengan tatapan yang sangat tidak sopan untuk ukuran pasien."36,5. Normal." Zinia menunjukka

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Orang Tua Kananta

    Atmosfer di dalam apartemen itu sudah melampaui titik didih. Kananta bisa merasakan deru napas Zinia yang memburu di ceruk lehernya, sementara tangannya sudah mulai menjelajah lekuk pinggang yang terbalut kain sutra maroon yang tipis itu. Hasrat yang terkubur selama bertahun-tahun sejak mereka berpisah di masa kuliah kini meledak layaknya bendungan yang jebol. Zinia, dengan tatapan sayu dan bibir yang sedikit terbuka, benar-benar menjadi ujian terakhir bagi kewarasan Kananta.Namun, tepat saat Kananta hendak menunduk untuk mengklaim bibir merah itu, sebuah suara parau dan berat memecah keheningan dengan sangat tidak sopan."Ekhem!"Kananta mendengus kesal. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama Rey. Si pengusik galak itu pasti kembali lagi untuk mengacaukan suasana. Tanpa menoleh, masih dengan posisi mendekap Zinia, Kananta membentak dengan nada tinggi."Rey! Diem dulu! Pergi sana, jangan ganggu konsentrasi orang!"Hening sejenak. Tapi sedetik kemudian, sebuah tangan dengan cengke

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Malam Panas

    Brak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Penawar Kananta

    Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Pria Bokek

    Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Kejadian Di Ruang Terapi

    Kananta tersentak, keringat dingin keluar di keningnya. “Dokter aku harus siap mental dulu?” “Sangat. Tapi waktu sudah habis.” Dia merinding sampai badan gemetar. “Apakah aku akan selamat dari terapi ini?” Zinia tersenyum tipis—senyum yang bikin hati berdebar lebih kencang, seperti ada getaran l

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Terapi Pertama

    Kananta keluar dari ruang pemeriksaan seperti orang yang habis disodok kenyataan pahit. Pintu menutup klik, dan semua kepala di ruang tunggu langsung menoleh ke arahnya.Termasuk kakek tadi—yang senyumnya lebarnya kayak baru menikah lima kali.“Gimana, Nak?” Kakek itu mencolek lengannya dengan jari

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Ternyata Seorang CEO

    Kali ini pulang fisioterapi membuat kananta sedikit lebih tenang, walaupun tadi ada sedikit gangguan dari sang mantan yang benar-benar tidak diharapkan. Seperti jelangkung yang datang tidak diundang, tapi berperawakan seperti kuyang! "Ayah!"Monster kecil itu berlari memeluknya. Bumi, putra semat

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Terapi Sentuhan

    Kananta dirinya langsung saja menggenggam lengan Maya untuk segera keluar dari ruangan. Dia tidak peduli tatapan orang-orang di luar—untung saja keadaan sudah sepi karena memang dia pasien terakhir hari itu. Tak menyangka si ratu nyinyir dunia daring, kembali lagi hadir untuk mengobrak-abrik hatiny

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status