Home / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 257. Tertabrak mobil

Share

Bab 257. Tertabrak mobil

last update Last Updated: 2026-02-16 22:11:44

Aku pun menceritakan tentang kemampuan baruku alat indra yang tajam, ilmu dalam yang membuat tubuhku sekeras baja, dan gerakan yang jauh lebih cepat dari manusia biasa. Aku bilang semua itu berkat latihan keras dari Kakek selama di desa, tanpa menyinggung soal bunga sakti atau ritual di hutan.

Ardi menatapku tidak percaya, tapi setelah aku mendemonstrasikan dengan meremas sebuah kaleng soda hingga menjadi serpihan kecil hanya dengan dua jari, dia langsung pucat dan mengangguk setuju.

"Gila... l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 259. Ketagihan

    Clarissa akhirnya bangkit dan memesankan taksi online untukku lewat ponselnya. Sebelum aku melangkah keluar, dia memegang tanganku."Bima, aku minta nomor ponsel kamu ya. Biar aku bisa hubungi kamu nanti," pintanya manja.Aku menghela napas. "Ponselku hilang saat kejadian beberapa bulan lalu, Clar. Sekarang aku benar-benar tidak punya alat komunikasi."Clarissa terbelalak. "Apa? Pantesan, oh jadi karena itu kamu jarang online lagi. Gini deh, besok kamu datang lagi ke sini jam satu siangan. Aku bakal belikan kamu ponsel baru, sekaligus kartu sim-nya. Pokoknya kami jangan nolak!"Aku mencoba menolaknya lagi, namun Clarissa memaksa dengan sangat gigih. Dia bilang itu adalah bagian dari kompensasi karena sudah menabrakku.Akhirnya, aku pun mengalah dan berjanji akan datang lagi besok siang. Aku merasa beruntung, bisa bertemu orang baik seperti dia.Walaupun orangnya memang agak "nakal", tapi setidaknya bisa aku manfaatkan untuk melampiaskan hasratku.Clarissa sempat memintaku memotong ram

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 258. Hasrat di apartemen mewah

    Aroma masakan Italia yang berkelas memenuhi restoran tempat Clarissa membawaku. Di bawah lampu kristal yang berpijar mewah, Clarissa tampak jauh lebih mempesona.Dia bukan wanita biasa; dari cara bicaranya yang lugas dan berwibawa, aku tahu dia terbiasa memimpin.Ternyata, dia adalah putri seorang pengusaha besar dan saat ini menjabat sebagai direktur di butik fesyen ternama miliknya sendiri.Sambil menyantap hidangan, aku mulai menceritakan sedikit tentang diriku. Aku mengaku sebagai seorang personal trainer gym dan konten kreator yang sedang mengambil masa jeda karena urusan pribadi yang mendesak.Aku sengaja tidak menyinggung soal kecelakaan, amnesia, apalagi soal "tugas" biologisku di desa antah-berantah itu."Tunggu dulu," Clarissa tiba-tiba memotong, matanya menyipit menatap wajahku di balik kumis dan jenggot lebat ini. "Nama kamu Bima Perwira? Konten kreator?"Aku mengangguk pelan."Iya benar, kamu tahu ternyata." kataku, tidak percaya.Clarissa dengan cepat merogoh ponsel pint

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 257. Tertabrak mobil

    Aku pun menceritakan tentang kemampuan baruku alat indra yang tajam, ilmu dalam yang membuat tubuhku sekeras baja, dan gerakan yang jauh lebih cepat dari manusia biasa. Aku bilang semua itu berkat latihan keras dari Kakek selama di desa, tanpa menyinggung soal bunga sakti atau ritual di hutan.Ardi menatapku tidak percaya, tapi setelah aku mendemonstrasikan dengan meremas sebuah kaleng soda hingga menjadi serpihan kecil hanya dengan dua jari, dia langsung pucat dan mengangguk setuju."Gila... lu beneran jadi manusia super, Bim.""Satu lagi, Di. Besok tolong bantu gue beli ponsel baru. Gue harus hubungi Ibu dan Alisa di kampung. Gue kangen banget, tapi gue belum berani pulang ke Bandung langsung. Risikonya terlalu besar buat mereka kalau musuh tahu gue masih hidup."Ardi mengangguk paham. "Siap. Besok pulang kantor gue anterin beli HP. Terus, gue juga bakal mampir ke apartemen lu dulu buat cek keadaan. Gue mau lihat apakah unit lu masih kosong atau udah ada yang nempati."Malam itu, ka

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 256. Cerita pada Ardi

    ​Aku tersenyum kecil di balik kumis tebalku. "Di... ini gue. Bima."Ardi terdiam. Dia menatapku dalam-dalam, memperhatikanku dengan seksama."Bima? Bima siapa? Maaf ya saya tidak kenal.""Bima Perwira. Tega banget lu sama temen sendiri lupa, gue pernah kerja di kantor arsitek sama lu juga. Masa lupa sama gua!"Mata Ardi membelalak. Helm di tangannya hampir jatuh. "Bim?! INI BENERAN LU?!"Ardi langsung memelukku erat. Suaranya bergetar. "Gila lu! Lu ke mana aja?! Gue kira kita gak akan ketemu lagi, gue seneng lu baik-baik saja."Dia segera membuka pagar rumahnya dan membawaku masuk. Begitu di dalam rumah, Ardi menyalakan televisi dan menunjukkan tumpukan koran.Ternyata benar, namaku masuk dalam daftar berita orang hilang selama tiga bulan terakhir. Ada foto-fotoku saat masih rapi, berita pencarian yang dihentikan karena tidak ada petunjuk, hingga selebaran yang ditempel Ardi sendiri di jalanan."Gue udah cari lu ke mana-mana, Bim. Katanya lu hilang di rumah sakit, ada yang bilang lu k

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 255. Kembali ke Jakarta

    Aku meletakkan Sari dengan lembut di atas tikar pandan yang aromanya sudah sangat kukenal. Aku tidak bisa menahan diri lagi.Aku bangkit, duduk menghadapnya, dan langsung melumat bibirnya. Kali ini tidak ada ragu atau takut seperti hari-hari sebelumnya.Sari langsung menyambutnya, tangannya meremas kaosku, menarikku lebih rapat seolah ingin menyatukan seluruh jiwa dan raga kami sebelum perpisahan ini benar-benar terjadi.Napas kami makin memburu di tengah keheningan gubuk yang hanya diterangi lampu minyak temaram itu. Tanganku mulai liar, masuk ke balik kebayanya, meraba kulit punggungnya yang halus dan hangat.Gejolak di perutku rasanya akan meledak.Saat aku mulai menciumi lehernya, Sari mengerang kecil, kepalanya mendongak, matanya sayu penuh nafsu bercampur haru.Hubungan kami kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada dominasi kasar atau gerakan agresif yang memburu tanpa perasaan.Aku menyentuhnya dengan kelembutan yang dalam, memastikan setiap sentuhan menjadi memori yang tak te

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 254. Permintaan terakhir Sari

    "Selama ratusan tahun kami tidak tahu cara mencabutnya," lanjut si nenek tua."Aku tahu caranya sekarang. Semuanya, ikuti aku ke bangunan tua itu. Sekarang! Sebelum matahari terbenam, kutukan ini harus musnah!"Jam menunjukkan pukul lima sore.Cahaya matahari mulai meredup, menyisakan gembur jingga yang mencekam. Ratusan warga desa, mulai dari pria, wanita, hingga anak-anak, mengikutiku berjalan menuju arah timur, menuju bangunan tua yang selama ini dianggap angker.Kami tiba di depan bangunan batu berlumut itu.Suasana mendadak sunyi, hanya suara burung malam yang mulai bersahut-sahutan. Aku melangkah masuk ke tengah ruangan tanpa atap itu, tepat di bibir sumur kering yang gelap.Di belakangku, Kakek, nenek tua tadi, dan para sesepuh desa berdiri menunggu dengan napas tertahan.Aku mengeluarkan sisa Bunga Wijaya Sukma. Bunga yang telah memberiku kembali jati diriku siapa aku sebenarnya.Aku meremas kelopak bunga itu di telapak tanganku hingga hancur, lalu melemparkannya ke dalam luba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status