Home / Sci-Fi / Reality Reloaded / Chapter 7: Pemahaman Baru

Share

Chapter 7: Pemahaman Baru

Author: odead
last update Last Updated: 2024-12-01 02:42:23

Aldo dan Sita meninggalkan ruangan pelatihan dengan langkah hati-hati, menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu biru redup. Meskipun suasana terasa hening, pikiran mereka dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Apa sebenarnya tujuan dari sistem ini? Mengapa mereka dipilih untuk berinteraksi dengan sesuatu yang jelas-jelas lebih besar dari diri mereka?

"Do," Sita memecah keheningan, "Gue nggak bisa berhenti mikirin soal ini. Kalau sistem ini bisa mengendalikan energi di seluruh Arkavia, kenapa nggak ada yang tahu tentang keberadaannya?"

Aldo mengangguk. "Gue juga mikir begitu. Kayaknya sistem ini sengaja dirahasiakan. Tapi pertanyaannya, kenapa baru sekarang muncul? Dan kenapa kita yang terlibat?"

Mereka akhirnya sampai di pintu keluar koridor, yang membawa mereka kembali ke Zona Awal. Dinding-dinding kaca memantulkan bayangan mereka, sementara hologram peta Arkavia tetap menyala di tengah ruangan. Titik-titik bercahaya di peta masih ada, dengan satu titik besar yang tampaknya menjadi lokasi utama.

"Apa kita harus langsung pergi ke titik itu?" tanya Sita, matanya memandang peta dengan ragu.

Aldo menatap layar holografik dengan serius. "Gue rasa nggak. Sebelum kita bergerak lebih jauh, kita harus benar-benar ngerti sistem ini. Kalau kita salah langkah, bisa aja ada konsekuensi besar."


Aldo mendekati konsol utama di ruangan itu, yang menampilkan data tentang aliran energi di Arkavia. Kali ini, ia mencoba menggunakan kemampuan baru yang ia dapatkan: Interaksi Sistem Lanjutan. Begitu ia mengaktifkannya, layar holografik berubah, menampilkan antarmuka yang lebih kompleks.

Garis-garis energi bercahaya menyebar di seluruh peta, seperti nadi yang memompa kehidupan ke setiap sudut kota. Namun, Aldo melihat beberapa bagian peta yang redup, seolah-olah tidak menerima aliran energi yang cukup.

"Ini kayak sistem distribusi energi," kata Aldo, menunjukkan bagian peta yang redup kepada Sita. "Sepertinya ada area-area tertentu di kota yang nggak dapat energi dengan optimal."

Sita memiringkan kepalanya. "Kalau ini benar, berarti sistem ini bisa memperbaiki distribusi energi di kota. Tapi gimana cara kerjanya?"

Aldo mencoba berinteraksi dengan salah satu titik redup di peta. Begitu ia mengetuknya dengan jari, layar menampilkan data lebih detail: "Area: Distrik Selatan. Status: Energi Terbatas. Penyebab: Jalur Energi Tertutup."

"Penyebabnya jalur energi tertutup," gumam Aldo. "Mungkin ada sesuatu yang menghalangi aliran energi ke distrik itu."

Sita menunjuk ikon kecil di layar. "Coba lihat itu, Do. Sepertinya ada opsi buat membuka jalur energi."

Aldo menyentuh ikon itu, dan layar menampilkan pesan: "Misi: Buka Jalur Energi Distrik Selatan. Hadiah: Peningkatan Sistem."

"Sepertinya ini bagian dari sistemnya," kata Aldo. "Kita bisa membantu mengoptimalkan energi di kota dengan menyelesaikan misi-misi ini."

Sita mengangkat alisnya. "Jadi, ini semacam misi sampingan? Tapi kenapa rasanya ini kayak tanggung jawab yang terlalu besar buat kita?"


Mereka memutuskan untuk mencoba menyelesaikan misi pertama itu. Sistem memberikan koordinat ke lokasi fisik yang harus mereka kunjungi: sebuah stasiun energi tua di Distrik Selatan. Stasiun itu tampaknya menjadi kunci untuk membuka jalur energi yang tertutup.

"Kalau ini berhasil, mungkin kita bisa lebih ngerti bagaimana sistem ini bekerja," kata Aldo sambil mempersiapkan diri untuk pergi.

Setelah meninggalkan Zona Awal, mereka kembali ke jalanan kota Arkavia. Malam sudah larut, tetapi hiruk-pikuk kota belum sepenuhnya mati. Lampu-lampu jalan dan kendaraan yang lewat menciptakan suasana yang menenangkan, meskipun pikiran Aldo terus berputar tentang apa yang mereka hadapi.

Distrik Selatan adalah salah satu bagian kota yang kurang berkembang. Gedung-gedung tua, jalanan sempit, dan suasana yang suram menyambut mereka ketika mereka tiba. Stasiun energi yang mereka cari tampak seperti bangunan kecil yang sudah lama tidak digunakan.

Aldo menggunakan kemampuan Analisis Sistem untuk memeriksa stasiun itu. Begitu ia mengaktifkan kemampuannya, layar virtual muncul, menampilkan jalur energi yang tersumbat di dalam stasiun.

"Kayaknya kita harus buka jalur ini secara manual," kata Aldo.

Sita memegang pintu stasiun dan mencoba membukanya, tetapi pintu itu terkunci. "Seperti biasa, ada tantangan dulu sebelum kita bisa masuk."

Aldo memeriksa panel kecil di samping pintu. Dengan kemampuannya, ia menemukan bahwa panel itu memiliki mekanisme penguncian elektronik yang bisa ia bypass. Setelah beberapa menit mencoba, ia berhasil membuka pintu.

Di dalam, mereka menemukan ruangan yang dipenuhi mesin-mesin tua yang berkarat. Di sudut ruangan, ada sebuah konsol utama yang tampaknya masih berfungsi meskipun lampu-lampunya redup.

Aldo mendekati konsol itu dan mencoba mengaktifkannya. Layar menyala perlahan, menampilkan antarmuka yang mirip dengan yang ada di Zona Awal. Sebuah pesan muncul:

"Jalur Energi: Tertutup. Solusi: Perbaiki Modul Energi Utama."

Mereka mengikuti petunjuk di layar dan menemukan modul energi utama di bagian belakang ruangan. Modul itu terlihat rusak, dengan kabel-kabel yang terputus dan panel yang retak. Aldo memeriksa modul itu dengan cermat.

"Gue bisa perbaiki ini," katanya. "Tapi gue butuh waktu."

Sita mengangguk. "Gue bakal jaga pintu. Siapa tahu ada yang datang."

Aldo mulai bekerja, menghubungkan kembali kabel-kabel dan memperbaiki bagian yang rusak dengan peralatan sederhana yang ia temukan di ruangan itu. Setelah sekitar setengah jam, modul itu kembali menyala, dan suara dengungan halus memenuhi ruangan.

"Jalur energi terbuka," kata Aldo dengan lega.

Layar holografik di konsol utama menampilkan pesan baru:

"Misi Selesai. Hadiah: Peningkatan Sistem. Sinkronisasi Energi Distrik Selatan 100%."

Aldo merasa bangga dengan pencapaian mereka, tetapi ia tahu ini baru awal. "Sistem ini lebih dari sekadar distribusi energi. Kayaknya ada tujuan lain yang belum kita pahami."

Sita menatapnya dengan serius. "Kalau kita mau lanjut, kita harus lebih hati-hati. Gue rasa apa yang kita hadapi ini bisa jauh lebih besar dari yang kita bayangin."

Aldo mengangguk. Ia tahu apa yang Sita katakan benar. Perjalanan mereka baru saja dimulai, dan ada banyak yang harus mereka pelajari sebelum mereka benar-benar memahami sistem ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Reality Reloaded   Chapter 40: Data dalam Gelap

    Suara helikopter yang menderu di atas langit Distrik Barat perlahan menjauh, namun ketegangan di dalam basemen tua sebuah toko perbaikan jam yang terbengkalai itu sama sekali tidak memudar. Cahaya hanya berasal dari pendar biru layar holografik Aldo dan senter kecil yang dipegang Sita. Di ruangan sempit yang berbau minyak pelumas dan debu itu, Aldo, Bima, dan Sita berusaha mengatur napas, menyadari bahwa hidup mereka sebagai warga negara biasa telah berakhir tepat saat Menara Jam itu runtuh.“Bim, kau masih punya sisa energi?” tanya Aldo pelan. Matanya tidak lepas dari data yang mengalir deras di hadapannya.Bima mendengus, sambil mengusap sisa debu di wajahnya. “Level 11 membuatku merasa seperti monster, Do. Luka-lukaku sembuh total, tapi mental duniaku masih kacau. Aku merasa bukan lagi manusia biasa.” Bima segera membuka layar statusnya, menyadari ia memiliki 5 poin statistik bebas dari kenaikan levelnya barusan. Tanpa banyak bicara, ia memasukkan seluruh poin itu ke Kekuatan, memb

  • Reality Reloaded   Chapter 39: Realitas yang Terungkap

    Suara gemuruh dari bawah tanah Distrik Barat terdengar seperti raungan raksasa yang terbangun dari tidur panjangnya. Tanah bergetar hebat, meretakkan aspal jalanan tua di sekitar Menara Jam. Aldo, Bima, dan Sita berhasil melompat keluar dari pintu rahasia tepat sebelum tangga spiral di belakang mereka runtuh tertimbun puing beton. Debu tebal menyelimuti udara, bercampur dengan uap panas dari pipa-pipa yang pecah di bawah sana."Lari! Jangan menoleh!" teriak Aldo sambil menarik lengan Sita.Ledakan besar akhirnya pecah. Menara Jam yang telah berdiri selama puluhan tahun itu miring perlahan sebelum akhirnya ambruk ke arah komplek pasar yang kosong. Hantaman bangunannya menciptakan gelombang debu yang menyapu jalanan. Laboratorium rahasia Nexora Tech kini terkubur selamanya, namun rahasia yang mereka temukan di sana baru saja memulai badai yang lebih besar.Setelah berlari beberapa blok jauhnya, ketiganya berhenti di sebuah gang sempit untuk mengatur napas. Aldo menyandarkan punggungnya

  • Reality Reloaded   Chapter 38: Protokol Pemusnahan

    Alpha Glitch tidak memberikan waktu bagi Bima dan Sita untuk sekadar memikirkan strategi. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, lantai laboratorium yang terbuat dari logam sintetis retak, memancarkan gelombang energi ungu yang menyapu ruangan. Sosok setinggi tiga meter itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi ukurannya, mengayunkan pedang kembar energinya tepat ke arah terminal tempat Aldo sedang bekerja."Bima, hadang dia!" teriak Aldo tanpa mengalihkan pandangan dari layar holografik. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, menyuntikkan baris-baris kode virus ke dalam inti server Nexora.Bima meraung, mengaktifkan seluruh poin statistik bebas yang ia miliki dari kenaikan level sebelumnya. Ia mengalokasikan 5 poin tersebut ke Kekuatan, membuat otot-ototnya menegang hingga batas maksimal.[Bima Sakti - Distribusi Poin Statistik Terkonfirmasi:]Kekuatan: 26 -> 31Dengan pipa baja yang berpendar biru terang, Bima menghantamkan senjatanya ke salah satu pedang Alpha Glitch. Be

  • Reality Reloaded   Chapter 37: Bayang-Bayang di Balik Inti

    Tangga spiral yang tersembunyi di bawah fondasi Menara Jam itu terasa seperti lorong menuju perut bumi yang dingin dan lembap. Dindingnya tidak lagi terbuat dari bata kuno yang kasar, melainkan dilapisi oleh polimer sintetis berwarna abu-abu metalik yang mampu meredam getaran suara dan radiasi energi. Saat Aldo, Bima, dan Sita menuruni undakan demi undakan, lampu-lampu sensor di langit-langit menyala satu per satu, memancarkan cahaya putih steril yang menciptakan kontras tajam dengan kegelapan di atas sana."Tempat ini terlalu canggih untuk sekadar gudang rahasia di distrik tua," bisik Bima. Ia mencengkeram pipa bajunya erat-erat, matanya yang tajam terus waspada. Sebagai pengguna Level 9, ia merasakan kekuatan fisiknya jauh lebih solid, namun ketidakpastian di bawah sini membuatnya tetap tegang.Aldo memimpin di depan, matanya yang memiliki [Kecerdasan: 33] terus memindai aliran data yang merayap di sirkuit dinding. Ia bisa merasakan sisa resonansi energi dari inti Chronos-01 yang ma

  • Reality Reloaded   Chapter 36: Inti dari Waktu

    Putaran bilah energi di punggung Chronos-01 menciptakan badai statis yang menyayat udara. Setiap pedang cahaya itu bergetar pada frekuensi tinggi, sanggup membelah beton semudah memotong kertas. Udara di dalam menara jam terasa semakin tipis, terionisasi oleh radiasi energi ungu yang meluap dari tubuh sang penjaga."Bertahan di posisi!" seru Aldo, suaranya bergema melalui tautan mental Sinkronisasi Grup.Chronos-01 melesat. Gerakannya bukan lagi sekadar mekanis, melainkan perpaduan antara kecepatan mesin dan manipulasi ruang. Dalam sekejap, ia sudah berada di hadapan Bima, mengayunkan dua bilah energi secara menyilang.Bima bereaksi dengan insting yang tajam. Berkat bonus 15\% dari kemampuan Aldo, Kekuatan fisiknya kini terasa seperti mesin hidrolik. Ia mengangkat pipa baja berpendar biru miliknya, menahan hantaman pedang energi tersebut.CRAAAK!Percikan api digital memenuhi ruangan. Bima terdorong mundur, kaki-kakinya meninggalkan parit di lantai kayu tua menara. "Aldo! Bilahnya ter

  • Reality Reloaded   Chapter 35: Harmoni di Ambang Batas

    Chronos-01 tidak memberikan kesempatan bagi Aldo dan timnya untuk sekadar menarik napas. Begitu protokol pembersihan dinyatakan aktif, mata merah di wajah logamnya berpendar terang. Seluruh menara jam kembali bergetar, namun kali ini bukan karena roda gigi yang berputar, melainkan karena frekuensi energi yang dipancarkan langsung dari tubuh sang penjaga. Gelombang elektromagnetik yang sangat kuat menyapu ruangan, membuat rambut Aldo berdiri dan kulitnya terasa kesemutan."Sita, Bima! Bersiap!" Aldo berteriak sambil membuka antarmuka sistemnya dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh seseorang dengan [Kecerdasan: 31].Aldo tahu bahwa melawan musuh Level 15 dengan statistik dasar Level 10 adalah bunuh diri. Ia harus bertindak strategis. Masih ada lima poin statistik bebas yang tersisa dari kenaikan levelnya barusan. Tanpa ragu, ia mengalokasikan tiga poin ke Kelincahan untuk memastikan ia bisa menghindari serangan mematikan Chronos, dan dua poin sisanya ke Kecerdasan untuk memperku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status