LOGINSemuanya berawal ketika dua orang pria tak dikenal itu datang. Meneriaki ibunya tentang sebuah fakta yang membuat Randu tercengang. Dan, kemudian. Satu-persatu kebenaran mulai terungkap. Siapa Randu sebenarnya, juga siapa jati diri ibunya sebenarnya. Yang ternyata, bukan seorang wanita biasa. Akankah Randu bisa menerima? Atau justru pemuda itu membenci ibunya?
View MoreSenja setia menatap layar laptopnya. Ia tersenyum senang ketika mengingat peristiwa tadi siang. Skripsinya sudah masuk ke bab dua, bibirnya tak berhenti mengulum senyum bahagia, tak sabar menunggu mamahnya pulang untuk mengabari berita bahagia ini. Senja sejak kecil sudah mandiri karena mamahnya sibuk bekerja. Senja anak yatim, ayahnya meninggal ketika ia berusia lima tahun.
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Gadis berambut lurus itu mengintip dari tirai jendela kamar. Nampaknya Mamanya Helen di antar lagi oleh Om Adam. Helen begitu gembira ketika keluar mobil, Senyum Helen tak surut walau mobil Adam sudah berjalan pergi. Senja tak menyukai Adam, menurutnya pria paruh baya itu Cuma pura-pura baik. Namun ia juga bingung, hendak melarang hubungan sang mamah rasanya seperti menghalangi mamahnya untuk mendapatkan kehidupan baru. Setelah papahnya meninggal, mamahnya sibuk mencari nafkah dan mengurusinya. Rasanya egois jika membiarkan Helen terus sendirian tanpa suami hingga tua.
Senja cukup tahu bagaimana susahnya Helen membesarkannya, maka dari itu ia belajar dengan giat agar dapat membanggakan Helen. Kini pun Senja yang mengambil alih tugas rumah karena tak mau mamahnya kelelahan. Bahkan ia ikut kelas akselerasi ketika SMU, agar sekolahnya tidak memakan biaya. Senja menuju pintu, membukakannya lalu menyambut mamanya yang pulang. Helen bekerja di perusahaan ekspedisi pengiriman barang. Jabatan ibunya sudah menanjak naik, karena Helen termasuk senior dan telah bekerja lama.
"Mau aku bikinin teh mah?" tawarnya manis. Helen yang sedang memeijit lehernya, mengangguk sembari tersenyum. Senja memang anak yang berbakti.
"Iya sayang,” jawab Helen lalu merebahkan tubuh ke sofa. Seharian banyak data yang harus ia masukkan.
Senja datang tak lama kemudian dengan membawakan secangkir teh."Mamah dah makan belum? Aku angetin masakannya.” Ia selalu duduk di samping mamanya lalu mengambil kaki beliau untuk di pijat. Benar-benar anak berbakti. Kadang Helen merasa bersalah karena tak bisa memberi putrinya kehidupan yang layak.
"Mamah dah makan tadi sama Om adam. Kamu masak apa hari ini?"
"Gulai ayam mah. Tapi gulainya bisa di angetin buat sarapan besok pagi," jawab Senja kecewa.
Suatu saat ia harus membiasakan diri untuk merepotkan sang mamah. Mamanya dan Om Adam pasti akan menikah pada akhirnya. Mamahnya akan punya tanggung jawab baru dan Senja bukan prioritasnya lagi.
"Oh ya mamah punya dua kabar bagus buat kamu."
"Tapi Senja juga punya kabar bagus."
"Mamah dulu yang ngasih tahu." Mata Helen berbinar indah. Ia meraih tangan putrinya sembari menarik nafas. "Mamah dilamar om Adam." ungkap Helen dengan semangat sambil menunjukkan cincin dengan berlian kecil di jari manisnya. Hari itu ternyata datangnya kecepetan. Senja jelas murung tapi ia mati-matian tutupi dengan tersenyum palsu. Kabar baik bagi Helen seperti berita vonis hukuman untuknya.
"Selamat ya Ma."
"Kenapa sayang? Kamu kayak gak senang denger kabar ini?"
Sejujurnya Senja tak setuju. Adam itu menurut penglihatannya adalah tipe pria genit. Tapi sudahlah mana mau mamanya mendengar pendapatnya kalau sedang di mabuk asmara. Yang penting mamahnya bahagia, masalah perangai Adam yang menurutnya buruk bisa dipikirkannya nanti.
"Siapa yang bilang? Senja seneng kok kalau mamah seneng. Berita keduanya apa mah?" Karena bagi Senja berita pertama itu termasuk berita buruk. Mungkin yang kedua bisa mengobati rasa kecewanya.
"Tadi mamah ketemu Om Hermawan. Temen lama papah kamu. Dia sekarang udah jadi pengusaha sukses." Mata Senja berbinar cerah ketika nama ayahnya disinggung. Kenangan papahnya hanya berupa foto. Setelah kecelakaan yang merenggut nyawa papahnya, Senja kehilangan ingatannya jadi kenangannya dengan sang papah ikut hilang juga. "Dia ngajakin kita makan malam sama keluarganya. Dia mau berterima kasih karena bantuan dari papah kamu. Dia bisa sukses." Setidaknya berita ini lumayan baik dari yang pertama.
"Makan malam aja kan?"
Helen menegang. Tentu saja bukan hanya makan malam biasa. Mereka akan membahas hal penting demi kesejahteraan dua keluarga. Namun itu tetap akan menjadi rahasia samapai makan malam dilaksanakan.
"Tentu, sekaligus menyambung silaturahmi. Kan kita dah lama gak ketemu."
Senja menyanggupi tapi kenapa perasaannya jadi tak enak. Ah memang apa yang perlu di khawatirkan. Dulu mungkin ada beberapa pria beristri yang modus pada sang bunda tapi kini kan lain. Helen sudah punya Adam dan Hermawan hanya berstatus sebagai teman lama. Kedua kabar buruk dan baik itu melupakan kabar yang akan disampaikannya.
*********
Gean menatap bingkisan yang lagi-lagi dikirim tanpa nama si pengirim. Beberapa saat lalu seseorang membunyikan bel rumah. Lalu, meninggalkan sebuah kotak berukuran kecil yang dibungkus dengan kertas coklat di depan pintu. Gean merobeknya kasar, hingga isinya berhamburan. Ada beberapa foto di dalamnya. Sama persis dengan kejadian tempo lalu saat seseorang mengirim bingkisan yang sama, juga berisi foto-foto blur di ruang kerjanya.Awalnya Gean ingin membuang semua foto itu tanpa perlu repot melihatnya. Namun, kemudian pria itu membelalak, ketika matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal dalam foto tersebut. Sosok jangkung yang tengah disekap dengan kedua tangan terikat ke belakang, juga todongan senjata di belakang kepala, adalah Randu, putranya. Gean membalik foto tersebut, mencari petunjuk. Terdapat tulisan tangan yang Gean yakini adalah sebuah alamat. Tanpa pikir panjang, gegas pria itu menyambar jaket serta kunci mobil. Belum juga Gean meraih knop pintu, getaran ponsel menghe
Dengan langkah terseok-seok, juga kondisi tubuh yang tidak benar-benar baik. Riana memaksa kakinya melangkah mencari Randu. Mendobrak setiap pintu yang ia temui. Jika tidak beruntung, Riana akan bertemu musuh, kembali bertarung alih-alih kabur, kembali terluka, kembali bangkit untuk mencari sang putra. Tidak ia pedulikan sekujur tubuhnya yang terluka, rasa nyeri yang menjalar, juga pakaiannya yang compang-camping. Pikiran Riana hanya tertuju pada satu hal, memastikan Randu keluar dari tempat ini dengan aman dan selamat. Riana kembali menemukan sebuah ruangan. Kali ini tidak dia dobrak, sesaat wanita itu berpikir, kemungkinan ini adalah ruangan terakhir di gedung ini. Jika Riana tidak menemukan mereka, maka dia harus pergi ke gedung lain. Wanita itu menarik napas panjang, kemungkinannya 50:50, jika benar ini ruangan tempat Paul dan Randu sembunyi, maka dia selamat. Tapi, jika ruangan ini berisi orang-orang Lost.... Habislah Riana! Kemudian wanita itu mengetuk pintu."Paul! Kau d
Beku, Riana hanya berdiri mematung di depan pintu, dengan senjata api yang mengacung tepat di hadapan kepala Randu. Pemuda itu baru saja membuka mata, menatap sang Ibu dengan pandangan sendu. Martin bertepuk tangan gembira seolah tujuannya sudah tercapai. Pria yang pernah menjadi rekannya itu tersenyum begitu lebar. "Aku tidak tahu bahwa ikatan batin kalian sekuat ini!" Pekiknya senang, "yang membuatku sangat senang kau tahu, Riana? Adalah, bahwa kau datang sendiri ke sini dengan senang hati tanpa aku perlu repot-repot menyusun rencana untuk memancingmu datang." Jelas Martin menyeringai. Riana hanya menatap pria itu datar tanpa minat. "Apa kau tahu apa yang membuatmu menjadi pengecut, Martin? Kenyataan bahwa kau selalu melibatkan orang-orang terdekatku hanya untuk memancingku." Balas Riana datar. Senyum Martin pudar, seiring dengan Riana yang melangkah maju semakin dekat. Wanita itu tetap mengacungkan senjatanya, namun kali ini dia arahkan pada Martin. “Maju selangkah lagi, kulub
Angin dingin berhembus, menerbangkan jaket yang Randu kenakan tanpa dikancing itu, motornya kencang membelah jalanan. Malam yang semakin larut, hanya tinggal beberapa kendaraan saja. Pikiran Randu bercabang, banyak sekali pertanyaan yang bersarang. Setelah Martin datang untuk kedua kalinya, dan mengatakan fakta lain yang lebih mengejutkan, Randu tidak bisa berpikir jernih sekarang. Sebelum Martin benar-benar pergi, Randu mengejar pria itu. Menarik tangannya hingga dia berbalik menghadap Randu. "Kau tidak mungkin ayah kandungku!" Sentak Randu. Martin memiringkan kepala, "Aku harus dapat kepercayaanmu? Fakta bahwa kau putraku itu sudah cukup." "BERHENTI!!" Randu berteriak. "Berhenti mempermainkan hidupku. Apa yang kau mau? Sebenarnya apa tujuanmu?!" Martin hanya tersenyum. "Kembalilah pada Ayahmu, putraku." Randu tidak bisa berhenti memikirkan itu. Dalam hati dia memaki orang yang mengaku sebagai Ayah kandungnya. Kenapa harus Martin? Kenapa? Laki-laki itu bajingan, dia buka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews